
"Siapa kalian?" tanya Litania, menahan kesal dan sakit membuatnya makin terlihat garang.
Empat orang pria bermasker di sana tertawa. Serentak mereka membuka topeng yang menutup wajah.
"Ini kami," jawab pria yang ada di sebelah kemudi.
Litania melongo, sungguh bingung dengan situasi kacau yang menderanya sekarang.
"Kamu pasti ingat kami, 'kan?" sela seseorang yang memegang tangan kirinya.
"Kalian?" Litania melotot, ia meronta. Menarik paksa tangannya. Namun tetap saja percuma, kiri kanan tangannya terkunci. Diapit dua pria tampan berusia 20-an lumayan menjengkelkan, ditambah situasinya yang sedang genting.
Argh! Sakit ... aku ingin melahirkan. Litania membatin di sela rontaan.
"Iya ini kami. Orang yang kamu hajar waktu di klab malam dulu."
Si pria di sebelah kanan juga menimpali. Suaranya terdengar menggeram. Nyali Litania menciut sekarang. Bukan karena takut berkelahi, melainkan takut terjadi sesuatu pada kandungannya.
"Lalu apa mau kalian?" bentaknya tak kalah garang. Tak ingin terlihat lemah meski jelas sedang lemas. "Kalian jangan macam-macam sama aku. Aku orangnya pendendam. Jadi lepasin aku, sekarang! Atau ... aku bakalan buat perhitungan!"
Namun, bukannya takut, empat orang pria di dalam mobil itu malah tergelak jenaka. Pria yang mengemudi pun bersuara, "Kami ingin balas dendam. Karena kamu, kami gak bisa bergerak selama tiga bulan. Jadi, siap-siaplah. Kamu akan menyesal karna udah ngancurin reputasi kami dulu."
"Cih! Jangan mengada-ada, aku gak pernah ngancurin reputasi kalian. Kalian aja yang salah cari mangsa. Lagian bukannya tobat malah makin garong. Harusnya kalian sadar. Jangan jadi playboy yang bisanya cuma keroyokan."
Argh!
Litania mengerang, tepat setelah menyelesaikan lisan, mulas itu datang lagi. Hanya dengan satu entakan, kedua belah tangannya terlepas dari genggaman dua lelaki itu, lantas refleks tanpa permisi menjambak rambut mereka.
"Hey! Apa yang kau lakukan?" tanya pria di sebelah kiri yang bernama Erick. Erangan terdengar jelas. Sakit, panas. Rambutnya serasa copot semua.
__ADS_1
Si Refald yang ada di sebelah kanan juga meringis, tapi tak bisa bersuara karena shock melihat darah mengucur deras dari pangkal paha Litania. Merembes hingga membasahi dress. "Rick! D-dia berdarah," serunya gagap.
Si Erick terdiam, matanya membulat melihat darah itu. Kaget ditambah sakit membuatnya speechless dalam beberapa detik.
Sama halnya dengan Miko, pria yang ada di sebelah kemudi, mematung. Namun apes menderanya, belum selesai dengan keterkejutan itu, ia mendapat tendangan, tepat mengenai rahang kanan. "Gila! Perempuan ini mau melahirkan!" pekiknya panik seraya memegang pipi yang ngilu.
Suasana dalam mobil kacau, terdengar riuh karena erangan Litania dan tiga pria di dalam menggema hingga si pengemudi menepikan mobil. Ia tampak pucat kesi melihat kekacauan itu. Benar-benar melenceng dari ekspektasi. Ia sentuh pundak Miko yang kepalanya terputar ke belakang. Seperti patung, menatap tanpa berkedip sekali pun ke arah Litania.
"Mik, kita harus apa sekarang?" tanyanya pada Miko.
Miko terdiam, matanya masih melotot melihat darah.
"Aku harus apa? Apa kita tetap ke rencana awal buat nyulik dan minta tebusan," ulang Mike, si pengemudi.
Namun, Miko lagi-lagi tak menyahut hingga Litania yang kadung tak tahan menarik paksa rambut Refald dan Erick makin kuat. Dua kepala pria itu menyatu di depan dadanya. Erangan pun terdengar jelas. "Antar aku ke rumah sakit, bodoh! Aku mau lahiran sekarang!"
"T-tapi ...." Mata Mike tertuju ke Miko, seakan minta keputusan. "gimana, Ko," ulangnya lagi. "Kalau kita tetap kerencana awal, ni landak bunting bakalan mati. Aku gak mau dicap sebagai pembunuh. Tapi kalau kita berhenti di tengah-tengah begini, aku yakin kita bakalan masuk penjara tanpa ngerasa duit suaminya."
"Miko!" bentak Mike lagi, "kita harus apa?"
Kepanikan jelas terlihat di wajah Mike. Miko terlihat gelagapan. Sang otak penculik mendadak tak bisa berpikir.
Menyugar rambutnya ke belakang, Miko menatap resah pada Mike, "A-aku gak tau, Mike. Ini di luar dugaan," jawabnya terbata.
"Makanya antar aku ke rumah sakit! Please ... aku udah gak kuat. Ada bayi kembar dalam perutku. Aku minta maaf soal yang tempo hari. Aku juga bakalan nutupin kejadian ini. Tapi aku mohon, tolong antar aku ke rumah sakit. Aku takut anak-anakku kenapa-kenapa." Lelehan air mata Litania merembes. Entah mengapa menyadarkan Miko.
"Baiklah. Antar dia ke rumah sakit." Miko menatap mantap ke Mike sekilas lalu ke arah Litania. "Kami pegang janji kamu. Kalau enggak awas!" ancamnya.
Litania menggangguk. Meski tak salah, ia tetap meminta maaf. Baginya keselamatan si kembar yang utama.
__ADS_1
Di kantor.
Chandra yang baru saja keluar dari ruang meeting langsung menuju ruangan. Tangannya merogoh saku jas yang tergantung dan mengambil ponsel. Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati lima puluh dua messed call dari Sri.
Ada apa ini? Batinnya. Menggaruk pelipis, Chandra yang kebingungan langsung menekan tombol saat panggilan Sri kembali masuk.
"Iya, ada apa?" tanyanya to do point.
"Non Litan, Den. Non Litan diculik!'
Serasa mendengar geledek di tengah sawah, Chandra kebingungan hingga ponsel yang tadinya digenggaman erat melorot begitu saja hingga terlepas. Ia biarkan benda mahal itu jatuh dan isinya berhamburan, lantas menuju laptop.
Perasaanya jangan ditanya lagi. Kacau, panik dan takut. Istri tercinta yang sedang sakit perut, diculik. Ia lacak keberadaan Litania, bermodalkan GPS kecil yang terpasang di cincin ia sudah dapat gambaran ke mana si penculi membawa si nyonya negara.
Lagi, dahi Chandra mengerut setelah mendapati lokasi Litania. "I-ini kan rumah sakit?" tanyanya bermonolog.
Tanpa menunggu lama, pria yang masih menggunakan kemeja berdasi rapi itu melongos pergi melewati Ara dengan tergesa-gesa. Pikiran bercabang-cabang. Penculikan dan rumah sakit bukanlah suatu keadaan yang sinkron. Ia hampir gila, pertanyaan demi pertanyaan tak nyambung terus saja berputar-putar di benak.
Sementara Ara yang tengah membawa nampan air, terlihat bingung. "Lah, Pak. Mau ke mana? Kita masih punya satu pertemuan lagi!" teriaknya yang tak dipedulikan Chandra. Pikiran pria itu hanya tertuju pada Litania dan kedua calon anaknya.
Di rumah sakit.
Chandra langsung menuju suster jaga yang ada di depan IGD. Keringat dingin mengucur dan napas terdengar ngos-ngosan. Dua orang wanita berpakaian serba putih itu saling pandang. Heran.
"Maaf, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah seorang wanita berjilbab putih
"Saya mau nyari istri saya. Namanya Litania."
Kedua perawat itu kembali adu pandang. Wajah mereka yang bingung makin terlihat kentara. Salah satu perawat membuka buku. "Maaf, Pak. Sepertinya gak ada pasien dengan nama itu di sini."
__ADS_1
***