
Sisi Maharani, gadis muda berparas ayu yang menjadi tambatan hati terakhir seorang playboy bernama Dafin. Usia keduanya terpaut tiga tahun. Pertemuan pertama mereka tiga tahun lalu saat Dafin tak sengaja melihat Sisi yang baru selesai mengikuti ospek dikerumuni segerombol preman di samping sebuah gedung. Dafin yang kebetulan lewat menjadi tak tega dan berakhir membantu gadis itu.
Dari sana perkenalan mereka bermula. Dafin yang melihat betapa baik dan polosnya Sisi mulai jatuh hati. Pertemuan yang bermula dari ketidaksengajaan berakhir memberikan kenyamanan. Dafin pun memutuskan untuk memulai hubungan serius dengan perempuan itu.
"Sisi ...."
Senyum Dafin tampak lebar saat menyebut nama itu. Terbayang jelas paras cantik sang pemilik nama yang seakan menjadi candu. Dari fisik hingga sifat, tak ada yang membuat Dafin rela berpaling. Dafin nyaman bersamanya. Saat gadis lain akan marah jika telat membalas pesan, Sisi malah sebaliknya, ia begitu dewasa menyikapi kesibukan Dafin. Dafin berpikir akan rugi besar jika melepaskan gadis itu.
Namun, senyum Dafin sirna saat ponselnya berbunyi. Cepat-cepat ia menepikan mobil lalu menjawab panggilan vidio call yang tak lain tak bukan adalah Sisi.
"Panjang umur dia," gumam Dafin seraya menekan panel hijau. Akan tetapi senyumnya kembali lenyap saat melihat penampilan sang gadis yang ada di seberang telepon.
"Loh, Sayang, kok belum siap-siap? Aku bentar lagi nyampe kontrakan kamu, loh," ujar Dafin, dahinya mengernyit heran saat melihat wajah Sisi tak ber-make-up sama sekali. Bahkan gadisnya itu terlihat mengenakan piama pink berlapis cardigan panjang dengan posisi rebahan di ranjang.
"Kan aku sudah bilang bakalan ngajakin kamu jalan. Kita makan malam di luar," lanjut Dafin.
"Maaf, Yang. Aku lagi gak enak badan. Tadi aku udah dandan tapi mendadak meriang. Gak apa-apa kan ya kalau makan malamnya batal?" balas Sisi. Sesekali ia terdengar batuk. Dafin sampai tak tega melihatnya.
"Aku ke sana, ya. Kita ke rumah sakit."
"Gak usah. Aku cuma kecapean aja keknya. Bawa istirahat bentar pasti sembuh," papar Sisi lagi.
Dafin menghela napas panjang. Padahal sudah menyiapkan makan malam yang romantis sebelum mengatakan keinginan ayahnya.
"Oiya, katanya tadi kamu bilang ada dua hal yang mau di obrolin. Apaan emangnya?" tanya Sisi. Matanya terlihat sayu.
"Aku rencanaya mau ke Bali besok pagi. Balik lagi hari Minggu. Kamu gak apa-apa, kan ya?"
"Ya, gak apa-apalah. Kan kamu kerja. Lagian aku juga gak bisa bantu kamu kalo ikut. Sekarang aku juga lagi gak enak badan, 'kan. Oiya kamu berangkatnya sama siapa? Sama Mbak Fia, kah?"
Dafin mengangguk. Jujur, kesempatan untuk memberikan kabar bahagia pada Sisi sirna begitu saja.
"Yang, hey ... kenapa diem?" tanya Sisi. Ia tampak keheranan. Namun, Dafin tak berniat membalas, bahkan helaan napas makin terdengar panjang.
"Aku gak apa-apa, kok. Beneran. Kamu kerja aja sana. Jangan pikirin aku di sini. Aku bakalan baik-baik aja. Aku bisa jaga diri. Lagian kan di sini aku gak sendirian. Banyak temen-temen juga yang jagain aku."
Hening lagi. Dafin tampak tak semangat. Memang benar kekasihnya itu satu kontrakan dengan mahasiswi lain. Namun, tetap saja ia khawatir.
"Baiklah, tapi kalau ada apa-apa nanti bilang, ya. Terus kalau masih sakit jangan sungkan minta tolong Dafan," jelas Dafin dengan nada yang masih lesu.
"Iya, iya, kalau parah aku pasti ke rumah sakit, kok. Tenang aja." Sisi menjeda kata. Ia tampak melihat wajah lesu Dafin dengan seksama sebelum akhirnya mulai bertanya lagi, "Oiya, terus kabar yang satunya lagi apaan?"
"Begini, ulang tahun perusahaan kan seminggu lagi. Ayah bilang kita harus meresmikan hubungan. Ayah minta kita tunangan. Gimana menurut kamu?" tanya Dafin. Tak ada pilihan lain selain mengatakannya sekarang.
Sisi terdiam. Dia tampak berpikir.
"Sebenernya aku mau bilang langsung sama kamu. Tapi keknya kamu emang butuh istirahat. Terus aku juga harus ke Bali besok pagi. Pulang dari Bali aku bakalan sibuk dengan urusan pesta. Jadi keknya gak mungkin kita bisa ketemu lagi dalam waktu dekat," papar Dafin.
Akan tetapi, Sisi bergeming. Gadis itu tak bersuara hingga Dafin tak tahu harus berkata apa lagi dan memutuskan berdeham. "Gimana, Yang? Kamu setuju kan?" ulang Dafin.
Namun, lagi-lagi Sisi tak menyahut. Ia terlihat melamun hingga Dafin harus memanggilnya berulang kali.
"Kamu kenapa? Kok bengong? Gak setuju dengan pertunangan kita?" cecar Dafin. Jujur, ia merasa aneh, ekspresi Sisi ambigu menurutnya. Entah senang atau sedih ia tak tahu, tapi yang jelas diamnya Sisi membuatnya bertanya-tanya.
"Hey, Yang. Kamu ngelamun?" panggil Dafin lagi seraya melambai-lambaikan tangan. Ia bisa melihat gadis itu tersentak dan jelas sekali gelagapan. "Kamu kenapa, sih? Kamu gak seneng?"
"Eh, bukan. Bukan begitu. Aku seneng, kok," balas Sisi tergagap.
__ADS_1
Dafin tetap terdiam. Ia menelaah ekspresi Sisi. Ia merasa ada yang disembunyikan Sisi darinya. "Kamu beneran seneng, 'kan?"
Sisi mengangguk. "Aku seneng, beneran. Aku gak nyangka keluarga kamu nerima aku dan gak ngungkit-ngungkit kehidupan keluargaku yang jujur jauh dari kalian."
"Hey, jangan bicara kek gitu. Keluarga aku gak gitu, Sayang. Jadi kamu jangan minder, oke."
Sisi mengangguk, ia terlihat menyeka air mata. Dafin sampai tersenyum gemas melihatnya. Sebegitu terharunya kah?
"Kamu hati-hati, ya. Ingat makan, jangan karena kerja kamu gak makan-makan. Pokoknya kamu gak boleh sakit, karna kalau kamu sakit bakalan ada hati orang yang seneng."
Seketika ucapan Sisi membuat bola mata Dafin membola. Ia tatap lekat wajah Sisi hingga gadis itu gelagapan sendiri. "M-maksud aku, maksud aku kalau kamu sakit bakalan bikin aku tersakiti."
Sekonyong-konyong wajah tegang Dafin berubah. Ia terkekeh kecil. "Ya sudah, kamu istirahat gih. Udah malam. Aku juga mau balik. Nanti aku telpon orang tua kamu yang di Ban—"
"Jangan!"
Seruan Sisi membuat Dafan sampai berjengket. Tak pernah sekalipun Sisi berbicara sekencang itu. "Kenapa jangan?" tanya Dafin.
"Maksud aku jangan kamu yang bilang. Biar aku aja yang ngabarin mereka sekalian jemput."
"Oh, ya udah. Salam ya buat mereka. Bilang dari mantu terhebat."
Seketika tawa Sisi mengudara. Dafin juga ikutan terkekeh sebelum akhirnya mematikan panggilan.
***
"Fin, keperluan kamu udah dimasukin semuanya? Gak ada yang kelupaan, 'kan?" tanya Litania yang datang dari arah pintu.
Dafin menoleh sebentar lalu kembali memasukkan beberapa berkas ke dalam tas, tak terlupa juga mengemas laptop yang merupakan alat yang wajib ia bawa ke mana-mana.
"Sudah, Bun. Lagian kan semua keperluan Dafin sudah ada di sana. Jadi sekarang cuma bawa berkas-berkas yang Dafin perlukan aja. Sisanya bisa beli nanti."
"Oiya, Bunda dengar soal rencana pertunangan kalian dari ayah kamu. Bunda harap nanti hubungan kalian langgeng sampe pelaminan. Jadi, kalau nanti kamu bepergian kayak begini ada yang bantuin. Sukur-sukur nemenin," goda Litania. Senyumnya terukir. Tak terasa sang anak yang dulunya sering membuatnya menjerit kesal kini tak lama lagi bakalan membina rumah tangga. Waktu begitu cepat berlalunya.
Dafin mendongak. Ia yang sedari tadi sibuk memilah berkas penting langsung menghampiri Litania lalu berjongkok. Digenggamnya tangan wanita itu. "Maafin Dafin, Bun. Maaf kalau selama ini bikin Bunda sama ayah malu karena tingkah Dafin. Dafin janji gak bakalan bikin keluarga kita malu lagi. Dafin gak bakalan ngulangin lagi. Dafin ...."
Lisan Dafin terjeda, pria itu tertunduk dalam. Susah rasanya bernapas normal kala mengingat masa lalu—saat beredarnya foto-foto tak senonoh dirinya yang tengah berciuman di dalam kelab malam.
Sungguh, Dafin menyesal, karena tingkah dan pergaulannya yang liar sang bunda hampir kehilangan nyawa. Kala itu Litania yang shock tak bisa menjaga keseimbangan dan berakhir terjatuh dari tangga.
Dafin bergidik. Ia menghela napas berat.
"Fin ...." Litania memanggil dengan lirih seraya membelai pucuk kepala Dafin, "semua orang punya masa lalu, semua orang punya kesalahan. Tapi gak semua orang menyadari. Bunda bangga sama kamu. Kamu berubah banyak. Kamu kebanggaan Bunda sama ayah."
Dafin mengangkat kepala dan melihat seulas senyum tipis Litania. Ia bersyukur lahir dari rahim wanita itu hingga suara ketukan pintu membuyarkan tatapan mereka.
"Den, sekertaris Den Dafin sudah tiba," ucap Mira, sang asisten rumah tangga.
Dafin pun berdiri lalu kembali mengemas segala sesuatunya.
"Dafin berangkat, ya, Bun."
Litania mengangguk. Ia ikuti langkah Dafin hingga suara erangan mengagetkan. Anak keduanya itu mengaduh seraya memegang kening.
"Kamu kenapa, Fin?" tanya Litania seraya mendekat. Namun belum sempat menyentuh kening Dafin, erangan terdengar lagi. Anaknya itu bahkan mengusap pipi.
"Woi! Siapa nih yang iseng?" seru Dafin lantang. Mata awas melihat lantai bawah dan mendapati Anya berkostum tentara tengah menatap nyalang. Bahkan tak hanya berkostum tentara, adiknya itu juga telah memegang airsoft gun di tangan. Bak tentara sungguhan.
__ADS_1
"Anya! Kamu jangan bercan—"
Belum selesai lisan Dafin, Anya telah melayangkan tembakan. Dafin mengerang lagi, tapi Anya malah tertawa jahat.
"Nya, jangan gitu dong. Sakit itu," cegah Litania.
"Iya, tu anak cari gara-gara aja. Sakit, Nya!" kesal Dafin. Ia usap lagi pipinya. "Kalau kurang kerjaan, sana bantuin cuci baju kek tanem bunga kek. Jangan bertingkah di pagi buta begini?"
"Bodo amat. Karena Bang Dafin Nara sampe nangis-nangis. Pokoknya Bang Dafin harus tanggung jawab." Satu tembakan lagi mengenai leher Dafin.
"Lah, kamu jangan ngada-ngada. Emang aku ngapain Nara. Kan Dafan yang bikin dia nangis," elak Dafin seraya mengusap bagian yang tertembak barusan.
"Itu kan semua karna ulah Bang Dafin. Pasti Bang Dafin ini biang keladinya. Bang Dafan gak bakalan punya pacar kalau bukan Bang Dafin yang jodohin. Ayo ngaku!"
Rahang Dafin mengetat. Ia turun hendak menghampiri Anya. Namun, baru saja beberapa kali menapaki anak tangga, Anya kembali memberikan tembakan bertubi-tubi. Dafin mengerang lagi. Tubuh serasa perih, panas, dan ngilu, Dafin berakhir kembali naik ke atas.
"Anya! Jangan kayak gitu dong. Kasihan kan abang kamu!" teriak Litania yang masih berada di lantai atas.
Tak berniat berhenti, Anya makin menatap nyalang Dafin, senjata pun masih tertuju ke abangnya itu. "Biarin, Bun. Biar Abang Dafin itu tau kalau perasaan perempuan itu rapuh. Sakit fisik Bang Dafin itu nggak sebanding dengan sakit hatinya Nara. Bunda kan tahu kayak gimana perasaan Nara ke Bang Dafan?"
"Heh! Tuyulwati. Jangan ngada-ngada, aku pites beneran kamu nanti," geram Dafin dengan suara dalam. Anya melotot, ia juga sama.
"Sini, pites kalo berani," tantangnya seraya menjulurkan lidah. Darah Dafin makin berdesir dibuatnya.
Pokoknya aku harus bisa turun. Kalo gak berangkat sekarang aku bisa ketinggalan pesawat. Dafin membatin seraya menatap nyalang Anya yang ada di bawah. "Awas kamu, ya. Tunggu situ. Jangan ke mana-mana."
Dafin pun menuju kamar. Ia berputar mencari sesuatu dan selimut tebal jadi pilihan.
"Anya, jangan lari kamu!" seru Dafin setelah membalut diri dengan selimut. Anya yang panik tetap menembak, tapi tak berpengaruh. Abangnya itu telah memiliki tameng perisai yang empuk. Anya panik. Ia hendak lari tapi telinganya sudah keburu terkena cubitan Dafin.
"Ampun, Bang! Aw ampun, ampun!" teriaknya seraya memukul punggung tangan Dafin. Namun, Dafin yang masih geram makin mengapit kuat tanpa ada niat melepaskan.
"Ini loh. Telinga tuh dipakai. Kalau dibilang nggak, ya itu artinya nggak. Terus mata ini loh," kesal Dafin seraya menekan kuat pelipis Anya, "harusnya mata kamu itu bisa ngeliat mana yang baik dan mana yang enggak."
Dafin menarik napas panjang lalu kembali berucap, "Jangan karena temen kamu yang menangis, orang semuanya kamu anggap salah. Harusnya kamu bisa mikir ... mikir dari sudut pandangnya si Dafan. Gimana perasaannya dia? Kamu kan saudaranya Dafan, harusnya bisa berpihak ke saudara kamu. Bukannya ngebela temen yang jelas-jelas salah. Lagian ya, kalian itu masih kecil, enggak baik ngurusin cinta monyet kayak begitu. Buang-buang waktu. Gak berfaedah. Awas aja kamu kalau sampai ngejar-ngejar laki-laki sampai kayak gitu, aku gantung kamu di pohon mangga," ujar Dafin lantas melepaskan cubitan tangannya di telinganya Anya.
"Kan bisa ngomong baik-baik. Jangan pakai ngedrama kayak begitu. Nara sampe pindah ke luar luar negri. Gara-gara Bang Dafin aku gak bisa ketemu Nara lagi," sungut Anya seraya mengusap kuping. Marah, ia kesal, ingin membalas tapi terhenti ketika melihat pelototan tajam Litania yang berjalan menuju ke arahnya.
"Ya elah ni anak bebal juga. Telinga woi! Tolong dipake. Jangan dipaketin. Kamu kira dengan omongan Nara bakalan ngerti?" Dafin menjeda kata. Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan kata, "Enggak, Anya. Temen kamu itu harus digituin biar sadar. Hidup itu gak melulu soal cinta. Harus mikirin masa depan sama perasaan orang lain."
Namun, Anya yang merasa paling benar kembali mengangkat dagu. Ia bahkan berkacak pinggang saat menatap nyalang Dafin. "Tapi apa hak kalian melarang cintanya?"
Dafan terkekeh sejenak. Ia tatap geram Anya. "Jangan ngomongin hak. Dia berhak menyukai orang lain. Tapi orang lain juga berhak nolak cintanya. Kamu sih nggak tau. Kamu nggak pernah ngerasa di posisinya si Dafan, aku aja nih yang ngeliat itu risih apalagi Dafan. Jadi perempuan kok gak ada harga dirinya. Terus kamu! Harusnya kamu itu sebagai temen ngasih tahu dia biar sadar.
Air mata Anya meluruh, ia mengentak kaki. "Bang Dafin mah nggak ngerti perasaan Nara," sungutnya masih dengan nada kesal. Ia hapus air mata saat melihat Dafan yang turun dari lantai dua.
"Kalian itu nggak ngerti perasaan Nara, perasaan perempuan kalau lagi sayang-sayangnya," lanjut Anya lagi.
Dafin yang kesal kembali menyerang telinganya. "Kamu ini bebal banget sih."
"Argh! Sakit Bang! Sakit, lepasin!" teriak Anya lagi.
Dafin melepaskan cubitannya. "Awas aja kalau kamu sampe bilang ke Nara. Aku gantung beneran kamu. Aku kirim kamu ke asrama. Biar belajar agama. Biar otak kamu yang bebal karena kebanyakan nonton drama percintaan ini jadi suci."
"Bang Defin nyebelin," sungutnya lantas menuju tangga. Ia berhenti sebentar lalu melirik abang tertuanya. "Aku sumpahin Bang Dafan cinta mati sama Nara. Aku sumpahin Bang Dafan bucin akut sama Nara. Amin amin amin," katanya seraya menghentak kaki lalu berlalu pergi menuju kamar.
Sementara Dafan yang tak tahu perihal keributan hanya bisa menggaruk tengkuk. Ia lirik sang bunda lalu mendekati Dafin. "Kenapa dia?"
__ADS_1
"Biasa. anak labil biarin aja. Nanti juga baek lagi."