Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Pertarungan sengit


__ADS_3

Dafan mendekat, Dafin yang merasa tak punya salah ikut memajukan langkah tanpa rasa takut sedikitpun.


"Kenapa?" tanya Dafin. Ia terlihat tenang sedangkan wajah Dafan sudah merah padam.


"Kenapa? Kenapa kamu bilang?" Dafan begitu geram, ia lalu menarik kerah baju saudaranya dengan mata yang menatap nyalang. Napasnya bahkan terdengar kasar. Ingatan bagaimana Dafin mencium Fia membuatnya ingin sekali menelan Dafin hidup-hidup.


"Ada apa ini?" tanya Dafin yang masih belum paham. Heran karena tak biasanya Dafan berekspresi seperti itu.


"Kamu brengsek Dafin! Bukankah kamu bilang kalau kamu gak ada rasa sama Fia. Tapi apa ini! Ternyata diam-diam kamu tikung aku, Fin!" papar Dafan dengan berteriak. Cengkeraman tangannya makin kuat. Saking kuatnya kancing kemeja Dafin yang paling atas sampai terlepas.


Dafin yang baru paham langsung menepis tangan Dafan. "Lalu mau kamu apa?" tanyanya yang masih berusaha tenang.


"Lepasin Fia. Aku yang lebih dulu suka sama dia." Dafin berdengkus setelah mengatakan itu.


"Sorry. Aku gak bisa ikhlasin Fia karena aku juga suka dia," jelas Dafin penuh penekanan dan kemantapan.


"Dafin!" bentak Dafan lantas mendorong Dafin hingga terhuyung ke belakang. "Apa kamu gila?! Sisi mau kamu kemanakan? Ha!"


Dafin membenarkan posisinya. Matanya tetap nyalang. "Soal Sisi itu bukan urusan kamu, Fan. Aku bisa mengatasinya sendiri."


"Kamu brengsek, Dafin! Kamu nggak berubah sama sekali. Bukankah kamu udah janji kalau kamu bakalan berubah. Tapi apa ini? Kamu masih bermain-main dengan perempuan. Sekarang kamu makin mengecewakan. Aku saudaramu! Teganya kamu begini ke aku!" ungkap Dafan dengan nada naik satu oktaf. Ia bahkan memukul dadanya sendiri kuat-kuat Rasanya akan ada yang meledak jika berusaha menahan. Kemarahan benar-benar menguasainya.


"Tega?" ulang Dafin lantas tergelak hambar.


"Iya, tega. Fia bukan perempuan yang bisa kamu mainkan. Dia perempuan baik-baik dan gak pantes buat playboy kek kamu!"


Mendengar itu Dafin makin murka. Ia pukul pelipis Dafan hingga terhuyung ke belakang. Dafan yang kesakitan makin menatap nyalang.

__ADS_1


"Kamu berani mukul aku!" Dafan menghardik dengan tangan yang sudah terkepal erat.


"Kenapa? Kamu kira aku takut?" Dafin tergelak dengan mata yang menyipit tajam. "Beraninya kamu bicara tentang kekecewaan. Harusnya kamu gak punya alasan buat kecewa, Dafan. Harusnya aku yang kecewa. Selama ini aku selalu berkorban. Aku melakukan apa pun yang kalian mau. Aku melepaskan impian dan cita-citaku. Aku harus mengambil tanggung jawab yang seharusnya kamu pegang. Aku melakukan semua yang kamu gak suka. Seumur hidup aku terperangkap. Sedangkan kamu, kamu mendapatkan apa pun yang kamu mau," lanjut Dafin dengan nada penuh kekecewaan.


Seketika wajah Dafan berubah drastis. Matanya bergerak liar karena paham dan tahu betul pengorbanan apa yang Dafin maksud. Namun, rasa suka yang menggunung pada Fia dan kemarahan yang menyelimuti pikiran membuatnya mengesampingkan rasa bersalah yang selama ini jadi beban pikiran.


"Sekarang giliran kamu. Mengalahkan demi aku. Mengalahlah padaku yang sudah menderita karena kamu!"


"Apa maksud kamu?"


"Iklaskan, Fia. Aku suka dia dan dia juga suka aku," lanjut Dafin.


Menggeram, gigi Dafan bahkan menggeletuk setelah mendengar permintaan Dafin yang tak masuk akal itu. "Jangan kepedean kamu Dafin. Dari mana kamu tahu dia suka kamu?" pungkas Dafan.


"Terus. Dari mana kamu tahu kalau dia juga suka kamu?"


Bugh!


Dafan meninju rahang kiri Dafin. Posisi Dafin yang ada di bawah membuatnya dengan mudah melayangkan bogem mentah berkali-kali. Ia tarik kemeja Dafin hingga kepala Dafin sedikit terangkat.


"Kamu gak bisa sama Fia! Asal kamu tau, kamu udah bikin dia sakit. Dia stres bekerja sama kamu. Kamu menyiksanya Dafin! Dia tertekan karena kamu! Dia dirawat di rumah sakit dan itu semua karena kamu!"


"Apa maksud kamu?" tanya Dafin.


Apa jangan-jangan seharian ini Fia ada di rumah sakit? lanjut Dafin dalam hati. Ia tatap tajam Dafan lalu membalas menarik kerah baju Dafan. Kini dirinya yang memimpin dan tanpa permisi melayangkan pukulan.


Bugh! Tepat terkena pipi Dafan.

__ADS_1


"Kamu gak berhak mendikte aku. Coba katakan, pekerjaan apa yang gak punya tekanan. Kamu kira aku senang menuntut dia dan ngasih dia banyak pekerjaan? Enggak, Dafan. Enggak!" teriak Dafin. Ia layangkan pukulan ke tempat yang sama. Tampak darah segar keluar dari ujung bibir Dafan.


Chandra yang melihat adegan itu, menggeram. Pria tinggi dengan uban hampir di seluruh kepala itu pun mendekat lantas berteriak, "Dafan! Dafin! Apa yang kalian lakukan?"


Pergumulan antara Dafan dan Dafin pun berhenti. Dafin yang posisinya ada di atas langsung berdiri dan membenahi penampilan begitu juga Dafan. Keduanya berdiri berdekatan. Meskipun begitu tetap saja mata mereka menunjukkan kebencian.


Chandra tatap kedua anaknya yang tengah berdiri dan saling sikut. "Apa yang kalian lakukan?" hardik Chandra lagi. Begitu tegas dan terdengar nyaring.


"Dafin yang mulai. Dia merebut Fia dari aku, Yah. Bukankah dia sudah punya tunangan. Dia tahu betul kalau aku suka Fia. Tapi begini kelakuan dia. Aku gak terima. Aku sangat menyukai Fia tapi dia berani menikung dari belakang."


Mengepalkan tangan, Dafin lantas mengubah posisi. Dafan pun sama. Kini keduanya bersitatap dengan sorot mata tajam.


"Lalu apa hak kamu melarangku? Aku menyukai Fia. Aku bisa gila jika dia bersama laki-laki lain. Aku nggak bisa menolak rasa itu. Apa kau tau, aku juga gila karena itu!" teriak Dafin frustrasi.


"Lalu Sisi mau kamu kemanakan? Hubungan kalian sudah diketahui orang ramai." Dafan mengusap kasar wajahnya, memegang kedua belah pundak Dafin lalu kembali berkata, "Ayolah Dafin, jernihkan pikiran kamu, lupakan Fia, lupakan perasaanmu, iklaskan dia. Aku sangat menyukainya. Kamu tau kalau aku juga gila karena dia!" teriak Dafan.


Dafin menepis kembali tangan Dafan. Sorot matanya makin terlihat garang. "Kenapa? Kenapa aku harus nyerah? Kenapa lagi-lagi aku yang harus nyerah dan mengalah? Seharusnya kamu yang ngerti aku Dafan. Sejak dulu kamu memiliki apa pun yang kamu mau. Kamu mendapatkan apa pun yang kamu suka. Sedangkan aku! Aku selalu tidak punya pilihan! Aku selalu melakukan apa pun yang orang bilang. Sekarang aku nggak bisa lagi melakukan itu. Aku menyukainya. Aku ingin memperjuangkannya dan kamu nggak berhak menghalangi aku." Jari telunjuk Dafin terarah ke Dafan.


"Kamu gila," geram Dafan. Ia hendak melayangkan pukulan tapi Chandra dengan cepat menahan kepalan tangan yang sudah terbentuk itu.


Dafan dan Dafin tentu saja secara bersamaan melihat heran ke arah Chandra.


"Apa kamu yakin ingin memukul saudaramu?" tanya Chandra dengan suara dalam, ia melepaskan cengkeraman tangan Dafan hingga yang punya tangan terhuyung ke belakang. "Bukankah selama ini kamu mati-matian belajar untuk jadi dokter? Bukankah harusnya tangan itu seharusnya menjadi penyelamat dan bukannya melukai? Apa kau tau, tangan bagi seorang dokter adalah nyawa? Kau lihat Irwan, dia gagal dan menyerah jadi dokter hanya karena tangan. Apa kau ingin mengikuti jejaknya, melupakan cita-citamu dan menjadi pengusaha?"


Dafan terdiam, wajahnya langsung berubah. Ia mundur ke belakang lalu tertunduk. Perkataan Chandra memang benar, tangan adalah nyawa seorang dokter.


Kini mata Chandra tertuju ke arah Dafin. Anak keduanya tampak babak belur. "Dan kamu Dafin. Kenapa kamu selalu mengulangi kesalahan yang sama? Bukankah kamu sudah janji gak bakalan bikin skandal lagi. Tapi apa ini? Kamu suka sama sekertaris kamu sendiri? Lalu bagaimana dengan Sisi? Apa ini kamu mau bikin keluarga kita malu lagi?" cecar Chandra, ia tampak menggeram.

__ADS_1


__ADS_2