Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Ekstrim.


__ADS_3

"Enggak gitu, Sayang. Tadi aku dipaksa agar ikut mereka. Tapi sumpah, aku minum cuma seteguk doang. Kamu kan tau gimana usahaku buat lepas dari ketergantungan. Jadi, aku harap kamu percaya. Jangan pergi, dan juga, jangan usir aku," ucap Chandra, terdengar mengiba.


Dalam dekapan pria itu, Litania tersenyum. Ada perasaan kesal, sedih, dan bahagia dalam dada. Ternyata yang ditakutkan tak menjadi kenyataan. Namun, tetap saja otaknya harus bekerja keras untuk menghukum Chandra yang mau-mau saja diajak ke kelab.


"Kenapa gak nolak? Kan bisa pake alasan apa gitu biar gak ikutan," ucap Litania. Suara sengaja dibuat sejudes mungkin.


"Aku udah nolak. Tapi mereka maksa."


"Terus kenapa tadi bohong? Pake acara gak ngaku lagi."


Chandra lepaskan pelukan. Tatapannya sungguh sendu. "Kalau itu, aku sadar kalau salah. Maaf, ya?"


"Oke, kesalahan ini aku maafin, tapi kamu tetap harus menerima hukuman."


Senyum Chandra terlihat, tapi tak dipungkiri ada perasaan tak nyaman setelah mendengar kalimat terakhir Litania. Hukuman? Hm ....

__ADS_1


"Makasih, Sayang." Chandra genggam tangan Litania erat. "Tapi hukumannya jangan berat-berat. Terus jangan minta aku tidur di kamar tamu," lanjutnya dengan wajah yang masih mengiba.


Litania tersenyum, ulasan bibir yang terlihat ambigu. "Gak, hukuman kamu gak berat, kok. Aku juga gak bakalan nyuruh kamu tidur di luar."


"Lalu?"


"Udah, jangan banyak tanya dulu. Sekarang mending mandi. Nanti aku pikirin hukuman yang pas buat kamu," ucap Litania lagi. Smirk-nya makin terlihat jelas. Chandra bahkan gugup tanpa alasan.


Setelah prianya itu masuk ke kamar mandi, Litania mondar-mandir seraya berpikir. Entah mendapat pikiran dari mana, sebuah ide gila melintas. Cepat-cepat ia dekati lemari dan membuka sebuah tas belanjaan.


Sementara itu, Chandra yang baru selesai mandi keluar dengan tubuh setengah kering. Rambut yang basah ia lap dengan handuk kecil, dan pinggang, terlilit handuk juga.


Akan tetapi, sebuah pemandangan di depan mata membuat pria yang baru selesai mandi itu ternganga dengan bola mata membulat. Bagaimana tidak shock saat melihat istri tercinta berpakaian sungguh seksi? Bahkan bisa dikatakan tak berpakaian karena hanya mengenakan langerie G String Stocking yang super tipis. Dan tentu saja, Albert bangun tanpa pemberitahuan saat umpan menggiurkan melenggak-lenggok, menggoda.


"Sayang, kok kamu—" Ucapan Chandra terjeda karena Litania mendekat. Jemari wanita cantik itu bermain di dada bidangnya. Lantas menarik pergelangan tangan agar mengikuti.

__ADS_1


Chandra yang terhipnotis mengikut pasrah. Ludah ia telan berkali-kali dengan kasar. Sungguh tak paham apa yang akan istrinya lakukan. Namun satu hal yang pasti, si Albert sudah menegang.


"Sayang, kamu—"


Lisan Chandra terpotong lagi karena Litania mendorong tubuhnya hingga terlentang di atas kasur lantas mengungkungnya dengan gaya seksi. "Aku mau kasih kamu hukuman."


"Hukuman?" ulang Chandra tak percaya. Hukuman apa yang seistimewa itu. Namun, lagi-lagi desakan di bawah sana menumpulkan otak Chandra. Ia tak bisa berpikir jernih dan langsung ingin merengkuh tubuh menggoda Litania. Hanya saja, wanita itu begitu gesit menghindar dengan cara berguling ke samping.


"Kenapa?" tanya Chandra tak paham.


Litania tersenyum kuda lalu mengambil guling dan menyimpannya di tengah mereka.


"Loh, ini kenapa dikasih guling?" tanya Chandra lagi.


"Ini pembatas, terus jangan berani-berani buat melewati ini. Kalau berani? Hukumannya bakalan lebih kejam lagi."

__ADS_1


"Lah?" Chandra paham sekarang. Istrinya itu benar-benar menghukum dengan menyerang pusat saraf. "Tapi Sayang, bisa gak hukumannya ganti yang lain? Kasian, Albert udah horny.


__ADS_2