
Keesokan harinya.
Litania, Chandira, Chandra serta kedua orang tuanya sedang sarapan bersama. Semua anggota keluarga melingkari meja panjang, Bram duduk di ujung meja. Keluarga mereka terasa lengkap sekarang. Hanya saja tak ada Rania dan Sita di sana. Sita rencananya akan tiba siang nanti.
Sarapan berjalan sebagaimana mestinya. Tawa dan canda pun tak luput menghiasi kebersamaan mereka. Litania yang sedari kecil hanya berdua dengan sang nenek merasa bahagia. Terharu, ternyata keputusan sang kakek menjodohkannya dengan Chandra adalah keputusan tepat. Ia merasa dicintai dan dihargai di keluarga itu. Tak kesepian lagi dan yang terpenting tak kere lagi.
"Mbak, sini, dong." Litania menggerakkan tangannya, melambai ke arah Yati—babby sitter Chandira—yang kebetulan sedang menggandeng Chandira.
Yang di panggil, bergegas mendekat. "Kenapa, Non?"
"Enggak apa-apa, kok, Mbak." Litania tersenyum ramah. Matanya tertuju pada Chandira. "Caca, sini ya, sama Aunty."
Si kecil yang sudah berusia empat tahun itu pun langsung melepaskan tangannya dari genggaman sang babby sitter. Lantas mendekati Litania. Matanya yang bulat serta pipi yang tembem membuat Litania tertawa gemas lalu mengusapnya.
"Mau duduk sini?" Litania menepuk pahanya yang bersila. Ia kini sedang duduk santai di gazebo samping rumah. Sengaja menghindari rumah utama karena Chandra dan ayah mertua tengah mendekor ulang untuk kamar si kembar, kelak. Belum lagi perabot bayi yang mulai berdatangan. Bahkan ada juga beberapa tukang yang sedang bekerja. Jadi, daripada mengganggu, dirinya memilih menjauh dan duduk di taman samping rumah.
"Mau duduk sini, gak," tawar Litania lagi saat tak ada respon dari Chandira. Anak itu sepertinya bingung.
Namun, Litania langsung mengangkat gadis kecil itu dan mendudukkannya di paha sebelah kiri.
__ADS_1
"Caca mau usap ini." Menunjuk perutnya sendiri, Litania perhatikan gemas wajah lucu Chandira yang kebingungan.
Chandira mengangguk lalu mengusap, pelan. Terasa ada tendangan dari dalam perut. Gadis kecil itu berjengket dan refleks menarik tangannya. "Gerak-gerak," ucapnya takut-takut.
Litania terkekeh sekejap. Kepolosan Chandira menghiburnya. Anak kandung suaminya itu sudah bisa diajak bicara meski kadang malu-malu.
"Iya, gerak-gerak karena ada adek bayi dalam sini. Caca udah mau jadi kakak, lho. Caca seneng, gak?"
Chandira mengerjap. Masih mencerna ucapan Litania. Namun ia berakhir mengangguk dan tersenyum. "Adek bayi ... adek bayi," ucapnya berulang-ulang. Sementara tangannya yang mungil terus saja mengusap perut Litania. Gadis kecil itu tertawa saat ada pergerakan lagi dari si kembar.
Tanpa Litania sadari, Lita memperhatikan tingkahnya yang penuh kasih ketika bergurau bersama Chandira. Ketakutan wanita tua penuh energi itu tak menjadi kenyataan. Ternyata Litania menerima Chandira tanpa syarat. Bahkan terlihat lebih menyayanginya.
Berdeham sekali, Lita yang sedang membawa nampan berisi minuman dan camilan menuju gazebo tempat Litania bersantai. "Wah wah wah. Lagi main apa ini? Kok kayaknya seru." Meletakkan nampan berisi makanan, Lita raih Chandira dari pangkuan Litania lalu memangkunya.
"Beneran." Lita Pegang bahu sang cucu lantas tersenyum, "Caca siap jadi kakak?" lanjut Lita lagi.
Entah paham atau tidak, si gadis kecil berbola mata bulat itu tersenyum, mengangguk. Mulutnya berulang kali menyebut kata adek bayi dengan gembiranya.
"Mbak Rania beruntung punya anak pintar kayak Caca. Anak ini seperti malaikat. Anaknya gak rewel, pintar baget, ceria lagi. Aku jadi gemes, Ma. Rasanya mau ngajakin dia tinggal bareng." Ucapan Litania terjeda sejenak. Ada yang mengganjal di hati hingga ia menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan. "Tapi gak mungkin dikasih sama mommy-nya. Lagian aku gak mau serakah. Dia udah ikhlasin Bang Chandra buat aku. Masa iya anaknya aku ambil juga."
__ADS_1
Lita mengangguk, bagaimanapun tak ada di muka bumi ini yang rela berjauhan dengan anak sendiri. "Iya. Mama juga seneng sama bocah ini. Anaknya nggak neko-neko. Enggak rewel kayak anak lain yang manjanya gak ketulungan. Selalu bergantung sama mamanya. Kalau Caca ini, enggak. Udah kelihatan dari orok, tenang, anteng, nggak yang ngerepotin banget. Sekarang ditinggal mommy-nya pergi aja dia nggak nyariin, loh. Enggak kayak daddy-nya dulu," kenang Lita. Memorinya mendadak berputar ke 30 tahunan yang lalu. Saat Chandra seusia Chandira.
"Emang daddy-nya dulu kenapa, Ma?" Litania yang sudah penasaran mulai menatap Lita, serius.
"Wah ... daddy-nya dulu manjanya nggak ketulungan. Mama nggak bisa ke mana-mana. Gak bisa ngapa-ngapain. pokoknya nggak boleh apa pun selain nemenin dia. Harus ngurus dia. Mama ke kamar mandi aja dianya nangis kejer. Kebayangkan repotnya Mama dulu. Dia gak mau deket-deket baby sitter. Kayak ilfil gitu sama orang asing. Papanya aja suka dicemburuin loh. Merasa di nomor duakan."
"Itu beneran, Ma?" Tertawa nyaring, Litania tak bisa membayangkan betapa manjanya Chandra waktu kecil.
"Ih beneran. Pernah sekali, pas kita lagi enak-enaknya main kuda-kudaan. Tu anak buka pintu terus ngelihatin kita."
What! Mata Litania membelalak. Tawanya lenyap.
"Kebayang kan gimana malunya, gimana kelabakannya Mama sama papa waktu itu. Untung aja waktu itu Chandra usianya baru 3 tahun. Jadi ya ... nggak membekas di ingatan dia. Coba kalau udah gedean dikit. Mau ditaroh ke mana muka Mama, Litan," terang Lita tanpa ragu. Bibirnya sedikit tertarik. Malu, pasti. Tapi mau bagaimana lagi. Kenangan itu tetap membekas. "Jadi, saran Mama untuk kalian. Sebelum ritual tusuk-tusukan, pintu harus dikunci dulu. Jangan sampe lupa. Gak lucu kan pas lagi desah-desah manja jadi langsung cabut paksa. Gak enak."
"Bwahahaha ...."
Litania tak bisa menahan tawa. Biarin, deh dibilang kurang ajar. Ya, karena memang nggak bisa bersikap sok jaim lagi. Mama mertuanya itu memang sesuatu. Nyablaknya udah kaya seblak, mantul banget.
Astaga Mama! Dikira sate maen tusuk-tusuk, batin Litania seraya tersenyum malu, info dari sang mama mertua lumayan berguna. Bisa digunakan untuk menggoda suaminya kelak. Mendadak sikap jailnya mulai mencuat. Kepo menyerang, ingin mengorek informasi lanjut dari kebiasaan Chandra yang tak pernah ia tahu.
__ADS_1
"Terus, Ma. Lanjut lagi." Litania bahkan sudah menghadap Lita dengan posisi masih bersila.
Lita tersenyum sejenak. Wajah antusias sang menantu membuatnya semakin greget ingin menceritakan kenangan lama. "Satu lagi, anak itu punya kebiasaan aneh. Dia tuh sampai umur 5 tahun suka bawa-bawa terus pelukin bh-nya Mama, loh. Kalo gak peluk tu bh jamuran, dia gak mau tidur. Aneh, 'kan?" kenang Lita lagi seraya terkekeh. "Untung aja anak sendiri, coba kalau anak tetangga, pasti udah Mama kepret. Jadi abu dia."