Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Ekstra part Kinar Arjun (Bekicot botak berulah)


__ADS_3

Sialan, dia mau ngejatohin imege baik aku di depan om dan tante Arjun. Awas aja kamu Meli. Pasti aku bales kamu. Dasar hantu hujan panas. Kinar menggeram. Tangannya terkepal erat. Namun, sedetik kemudian senyum manisnya tercipta. Ia eratkan rangkulan, bermanja dengan memepetkan tubuh ke lengan Arjun. Sengaja saja, ia ingin memperjelas statusnya kepada Meli sekarang.


Arjun tersenyum, Meli cemberut. Sementara Rudi, Cella dan Vina, terlihat canggung. Mereka tahu pertarungan yang tak kasatmata antara Kinar dan Meli sedang berlangsung, live tanpa jeda iklan.


Berdeham sekali, Rudi pun mempersilakan semuanya duduk.


"Kalian pesanlah. Kami sudah pesan," perintah Rudi.


Kinar mengangguk. Ia pegang buku menu dan melihat isinya. Ia teguk saliva, mendadak lapar menyerangnya sekarang.


"Arjun, kamu mau pesen apa?" tanya Kinar seraya menoleh Arjun yang duduk di sebelahnya.


"Loh, kok pake nanya. Bukankah seharusnya kamu tau ya kesukaan suami kamu?" ucap Meli.


Sumpah, senyum Kinar lenyap akibat kenyinyiran wanita jejadian itu. Ia tatap geram Meli. Namun, yang ditatap malah tersenyum, seperti mencari celah. Sengaja ingin menjatuhkan nama baik Kinar di mata Rudi dan Cella.


"Kenapa? Jangan bilang kamu gak tau kesukaan Arjun?" Meli bersedekap setelah mengatakan itu. Punggungnya tersandar angkuh di kursi. Makin terlihat menyebalkan di mata Kinar.


Sialan, Meli benar-benar bikin tensiku naik. Awas aja kamu Meli. Aku pasti kasih mulutmu yang sok yes itu dengan sarapan sepatu, batin Kinar. Ia ukir kembali senyuman.

__ADS_1


"Tentu aja. Aku istrinya. Kami saling mencintai. Jadi gak mungkin juga aku gak tau kesukaan Arjun," balas Kinar tak kalah arogan.


Kesal? jelas, dong. Bagaimanapun harga dirinya dipertaruhkan, sekarang.


Meli yang masih setia dengan smirk menatap Kinar nyalang. "Oh ya. Coba pesen. Apa menu sarapan kesukaan Arjun? Kami mau tau, seberapa banyak kamu mengenal Arjun."


Menelan saliva, Kinar mendadak gugup. Arjun tak pernah mengatakan itu. Ia pun tak pernah bertanya sebelumnya.


Situasi mendadak rumit. Hubungan yang berlangsung lama dan menguras emosi jiwa itu tak membuatnya berpikir untuk lebih mengenal Arjun. Ia lupa bahwa mengenal suami luar dan dalam adalah poin penting dalam berumah tangga.


"Kenapa gak pesen?" cecar Meli lagi.


"Kenapa tertawa?" Kinar tak bisa meredam kekesalan. Matanya menyipit. Kesal.


"Aku ketawa karna lucu aja. Kamu beneran gak tau apa-apa ya tentang Arjun. Gimana ceritanya Arjun kamu kasih roti. Dia itu kalau pagi gak bisa makan apa pun selain bubur. Kamu gak tau?"


Sontak mata Kinar membulat. Sumpah demi tatanan surya. Ingin ia segera membejek muka Meli. Menginjak bibir tak ada akhlak itu dengan sadis. Namun, mustahil terlaksana.


"Wah ... Om, Tan. Ternyata istri Arjun ini cuma anak manja yang gak tau apa-apa. Aku gak yakin gimana entar kehidupan mereka. Jangan-jangan Arjun mendadak kurus karena gak keurus."

__ADS_1


Tangan Kinar mengepal. Pipinya panas. Sumpah, hinaan Meli telak mengenai hati. Ia geram, tapi berakhir tertunduk malu.


Akan tetapi, sebuah genggaman hangat di dapat Kinar, Arjun mendekatkan kursinya seraya tersenyum manis saat mata mereka bertatapan. Seolah-olah mengatakan semua akan baik-baik saja.


"Kamu salah, Meli. Kinarlah segalanya. Kinarlah yang mengubah kebiasaanku yang membosankan itu. Karena Kinar hidupku penuh warna. Aku dulu memang sarapan cuma pake bubur. Tapi bukan berarti aku gak bisa makan roti atau yang lainnya. Aku cuma males aja. Tapi karena Kinar, aku menikmati semua jenis makanan. Lagipula bukankah kita ini sudah sama-sama dewasa. Buat apa memilih makanan?"


Duh, hidung Kinar serasa kembang. Senyumnya terukir. Arjun bagai pahlawan. Ia makin sayang. Andai tak lagi di tempat umum. Pasti sudah ia terkam suaminya yang perfek itu.


Sepuluh menit berselang. Semua orang sudah selesai sarapan. Mereka terlibat obrolan santai hingga Kinar yang merasa make up-nya luntur permisi untuk ke toilet.


Tanpa Kinar duga, Meli mengikuti membawa niat jahat untuk mencelakainya


"Heh bule kampung!"


Aku ksih konflik dikit yah. Hehe jgn lupa like komen dan vote.


***


.

__ADS_1


__ADS_2