Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Gerakan si pria dinding.


__ADS_3

Ternyata banyak yang ngambek karena ninu-ninu aku skip. Heheh stay cool yo Gaes. Ini cuma hiburan, kalo mau ninu-ninu ajakin pasangan halal kalian. Biar lebih jos.


kaya kata sesereader kemaren.


"Nunggangnya nanggung Thor!"


Author : Hahahah—Cuma tertawa jahat.


****


Saat dua pasang manusia tengah berpeluh karena bercocok tanam, ada seorang pria yang mengendarai motor sport tengah mengikuti seorang wanita yang berjalan sendirian. Ia ragu dan heran, si wanita sudah tau jika dibuntuti tapi tak berniat berhenti.


Tiba-tiba wanita itu mengentikan langkah, lantas mengentak kaki. Tanpa menoleh ke belakang ia pun berteriak, "Pergi, Mik! Aku gak ada niatan buat balikan sama kamu!"


Sebuah statement tegas yang membuat para pejalan kaki dan si pengendara itu sendiri tercengang bukan main. Si pengendara motor yang bernama Miko pun memarkirkan kendaraan di tepi jalan lalu mendekat, lantas mencekal tangan gadis itu.


"Tapi Nona, tetep aja kita harus bicara," ujar Miko, terdengar berharap. Sayangnya ekspresi wajah Miko yang datar membuat Sisi jadi kesal dan berakhir menepis tangan itu.


"Aku gak punya kata-kata lagi buat kamu! Rasanya gak ada satu pun kata-kata yang bisa aku jelaskan. Mendingan sekarang kamu pergi!" tegas Sisi dengan suara lantang. Ia yang cantik dengan gaun putih panjang dan rambut tergerai pun memasabodohkan situasi. Baginya unek-unek dalam dada lebih penting daripada pikiran orang lain. Satu yang ia ingin, yaitu Miko enyah dari pandangan.

__ADS_1


Sembari bersedekap, Sisi yang sudah diselimuti kekesalan kembali berkata, "Lagian apa yang bisa aku harapkan dari laki-laki nggak peka kayak kamu? Tiga tahun kita pacaran, Mik. Tapi aku merasa bukan jadi pacar kamu, melainkan majikan kamu. Kamu terlalu kaku."


Miko terdiam, tak bisa melawan perkataan Sisi. Baru kali ini ia melihat sorot mata tak terbantahkan seperti itu. Yang ia tahu Sisi adalah wanita anggun dan santun. Tak pernah sekali pun Sisi mengeluh tentang apa pun. Namun, setelah pertunangan Dafin dan Fia, gadis itu bertransformasi menjadi wanita yang sangat galak.


Dan apa kata Sisi barusan? Gak peka? Kaku? Ya Tuhan ....


Miko berdengkus. Ia menetralkan emosi dengan kembali mengembuskan napas panjang lalu berkata, "Tapi Nona, tetep saja kita harus bicara. Kita luruskan kesalahpahaman."


Sisi makin kesal. Panggilan keramat itu membuatnya ingin sekali menelan Miko hidup-hidup.


Miko memegang tangannya. "Ayolah Nona. Kita harus bicara di tempat lain. Saya tidak mau kita jadi tontonan orang lain. Nanti Nona malu."


"Saya mohon. Naik ke motor. Saya antar Nona ...."


"Stop!" Sisi sengaja menyela. "Kamu bodoh apa pura-pura bodoh? Sudah aku bilang, kalau aku gak mau berhubungan sama kamu lagi."


"Tapi Nona ...."


Sisi kembali tertawa ironi, lantas menatap nyalang Miko. "Nona Nona Nona. Bisa gak sih nama itu sehari aja gak keluar dari mulut kamu? Kata ini yang paling bikin aku kesal. Aku pacar kamu Mik. Tapi kenapa kamu manggil aku begitu? Aku Sisi. Perempuan dewasa yang butuh perhatian dari pacar. Bukan seorang bodyguard."

__ADS_1


Sisi tergelak lagi. Ia tatap Miko yang rapi dengan setelan serba hitam. Entah kenapa ia merasa curiga—kalau Miko mengalami sindrom bodyguard, sindrom pengawal.


"Lebih baik kamu jalani hidup kamu. Sepertinya di antara kita hanya aku yang terlalu berharap lebih. Aku ingin disayang, diperhatikan dan dimanja. Tapi sepertinya aku gila. Aku lupa karena udah berharap lebih. Kamu bukan Dafin. Kamu Miko. Kalian beda!"


Sebuah penjabaran yang membuat Miko serasa dicubit ginjalnya. Ini bukan kali pertama ada orang yang membandingkannya dengan orang lain. Jika orang lain, ia tak akan menggubris, tapi beda kasus jika Sisi yang berkata demikian. Sumpah, ingin rasanya ia marah.


Lekas Miko berlari dan menarik lagi tangan Sisi yang sudah berjalan menjauhinya. Ia cekal tangan gadis itu hingga mata mereka beradu. Sisi marah, ia juga sama.


"Apa baru saja kamu membandingkan kami?" tanya Miko, penuh penekanan.


Sisi mengangguk. Ada sedikit embut di ujung kelopak matanya. "Iya, aku lakuin itu. Kamu beda. Beda dari Dafin. Dia penyayang, peduli, perhatian. Gak kayak ka—"


"Sekarang ikut aku. Aku antar kamu pulang."


Sisi mengerjap—heran dengan apa yang barusan ia dengar—dan pasrah saat tangannya ditarik Miko. Dalam beberapa detik saja ia menyadari ada yang tak biasa, dari sorot mata Miko, nada bicaranya hingga ... apa tadi? Ada kata "aku dan kamu". Lalu ke mana kata "Nona" yang selalu Miko lontarkan.


Bergeming, Sisi tetap mematung ketika Miko sudah memasangkan helm ke kepalanya.


"Naiklah."

__ADS_1


__ADS_2