Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Nini Thowok


__ADS_3

Monica kembali melayangkan tatapan penuh intimidasi. "Kamu gak kek gitu, kan? Kamu bukan pembohong, 'kan, Nya?"


"T-tentu aja. Aku gak pernah bohong," balas Anya penuh keyakinan.


"Kalau gitu mana orangnya? Mana dia? Mana pacar yang selalu kamu bangga banggain itu?" balas Lyra. Matanya menyipit penuh menyelidik.


"Hmm ... itu itu ...." Anya kembali melihat ponselnya. Monica yang penasaran mencoba merampas benda itu tapi cepat-cepat Anya menghindar. Ia mundur beberapa langkah seraya makin mengeratkan genggaman.


Monica dan Lyra keheranan. Mereka melangkah maju dengan melayangkan tatapan mata yang semakin sinis.


"Apa itu pesan dari Damar?" tuduh Lyra.


Gegas Anya menggelang. "Bukan. Ini bukan pesan dari Damar. Ini pesan dari pacarku."


"Oh ya?" Monica bersedekap. "Kalau gitu mana orangnya? Mana pacar yang selalu kamu banggain itu?" cecar Monica lagi. Ia melirik sekilas Lyra lalu kembali menyalangkan mata pada Anya. "Apa jangan-jangan selama ini itu cuma kamuflase kamu doang. Cuma sandiwara kamu buat nutupin kalau kamu punya hubungan sama pacar Lyra. Ayo ngaku." Monica terlihat berdengkus.


Anya juga membalas tatapan Monica tak kalah sengit. Tuduhan itu sangat jahat. Ia tak pernah berhubungan dengan laki-laki lain selain Dery. Hanya Dery kekasih terbaik. Tidak akan ada yang menyaingi atau mampu menggeser kedudukan Dery dari hatinya. Pak guru idola yang sekarang beralih profesi menjadi pengusaha karena tekanan keluarga.


"Ayo ngaku. Kenapa diam? Bukannya tadi siang kamu bilang kalau kamu bakalan kenalin pacar kamu. Lalu mana? Mana orangnya? Mana buktinya kalau kamu punya orang yang lebih baik dari Damar?" cecar Lyra tak sabar.


Monica berdecih. Ia dekati Lyra. "Udah. Itu fix cuma bualan dia doang. Aku yakin dia yang udah bujukin Damar buat mutusin kamu."


Lyra murka seketika. Wajahnya merah padam. Tanpa aba-aba ia mendekati Anya dan berancang-ancang akan melayangkan tangan. Namun Anya lagi-lagi bisa menghindar dan mencekal kuat pergelangan Lyra lalu balas menggeram, "Sudah aku bilang. Aku itu gak ada hubungan apa-apa sama Damar. Ngerti gak sih." Lantas melepaskan cengkeraman dengan kasar. Lyra terhuyung beruntung Monica menahannya dari belakang.


Mata Anya melihat dua gadis itu secara bergantian, lantas bersedekap. "Lagian ya. Aku udah punya calon. Calonku juga bukan pengangguran yang jika dipanggil langsung datang. Dia punya kesibukan."


"Alah alasan." Monica menyanggah dan seperti sengaja memanaskan suasana yang sudah panas. "Kalau gitu ini apa?" ujarnya lagi seraya memperlihatkan ponsel.


Lekat-lekat Anya melihat gambar itu dan lagi-lagi sebuah bukti random menyudutkan. Di layar ponsel itu terpampang jelas foto ketika dirinya dan Damar tengah berjalan dan tertawa di parkiran sebuah restoran.


"Ini foto aku dapet tadi siang. Ayo ngaku. Kamu udah gak bisa ngelak lagi," lanjut Monica.


"Lah, cuma itu? Itu juga gak ngebuktiin kalau aku punya hubungan kali sama Damar. Itu hanya murni kebetulan aja. Kebetulan aku ketemu dia di restoran, dia yang kehilangan kunci motor minta dianterin pulang. Ya udah aku nganterin dia pulang," jelas Anya tanpa terbata karena memang begitu adanya.


"Terus mana pacar kamu yang kamu bangga-banggain itu. Yang kata kamu seorang pengusaha. Sini, mana orangnya?" sanggah Monica lagi.


"Aku bilang dia sibuk!" Anya berkata hampir berteriak. Antara marah dan frustrasi. Monica seperti sengaja menyudutkannya.


"Kalau gitu. Fotonya deh. Foto mana foto," ujar Monica kembali seraya menekuk empat buku jari berkali-kali.


Anya menelan ludah, ia kesal karena situasi tak menguntungkan. Ponselnya hilang beberapa hari yang lalu dan otomatis tidak ada satu pun foto antara dirinya dan Dery.


"Ayo. Siniin HP kamu."


Monica terlihat memaksa, ia ingin mengambil paksa ponsel Anya. Namun, Anya tak ingin memperlihatkan ponselnya. Sebab di dalam sana ada foto yang memperlihatkan kalau Dery tengah duduk berdua dengan seorang perempuan yang ia kenal betul. Shireen, ya Shireen. Sahabat yang sudah membodohinya. Perempuan munafik yang sudah menghancurkan hubungannya dengan Jimmy. Perempuan yang yang berpura-pura menjadi sahabat padahal busuknya luar biasa. Anya menggepalkan tangan, rahangnya mengetat. Ia tetap nyalang Monica lalu mendorongnya.


Sungguh, Anya tak ingin ada yang tahu kalau Shireen kembali sukses mengganggunya.


"Udah aku bilang, orangnya lagi nggak bisa dateng. Dia lagi sibuk. Kalian maksa banget sih," balas Anya dengan wajah yang sudah masam kecut.


Monica menaik turunkan alis. "Oh ya? Bukannya cuma alasan kamu doang? Kamu nggak punya pacar 'kan sebenarnya? Ayo ngaku, ngaku aja kalau kamu itu udah jadi pelakor. Buktinya kamu gak mau kasih liat ponsel kamu."


Anya menggenggam erat dress selutut yang membalut tubuh. Ia benar-benar gerah pada Monica yang kukuh mengatakan spekulasi keji dan tak beralasan seperti itu, hanya saja ia tidak bisa memberi bukti. Dirinya saja masih shock karena pesan yang diterimanya beberapa saat yang lalu dari nomor tidak dikenal.


Entah siapa dan apa niat orang itu? Tapi jika orang itu ingin Anya gelisah dan ketakutan ... ia sukses. Anya bahkan sudah menggeram dan ingin sekali menghardik Shireen dan mengganyang wajah munafik perempuan itu. Hanya saja ... Monica dan Lyra menghalangi.


"Nik. Sebenarnya kamu punya masalah apa sih sama aku?" ujar Anya akhirnya. "Lyra yang diputusin tapi kenapa kamu yang kek kebakaran jembutt?"


"Apa kamu bilang?" Monica makin terlihat berang. Ia hendak melayangkan tangan tapi Anya bisa menangkis dengan mudah. "Jangan main kasar. Aku bisa lebih kasar," balas Anya lagi. Penuh penekanan dalam kata. Ia lepas tangan Monica hingga gadis itu terhuyung ke belakang.

__ADS_1


"Kalian gak tau. Ini rumahku. Jadi jangan macam-macam," ancam Anya dengan jari telunjuk sudah terarah ke Monica.


Akan tetapi respon Monica lebih mencengangkan. Gadis itu tergeletak sinis. "Kamu yakin mau berantem di sini?"


Anya gugup. Bagaimana bisa berkelahi di dalam rumah terlebih lagi banyak tamu penting yang datang?


"Kenapa? Takut?" Monica menggidikkan bahu lalu mencebik. "Aku sebenarnya gak punya masalah sama kamu. Aku cuma gak suka pelakor yang gak tau malu kek kamu ini." Jari telunjuknya terarah ke Anya.


Sialnya darah Anya berdesir makin hebat karena tuduhan itu. Ia dorong bahu Monica yang polos dan hampir saja melayangkan tinju. Hanya saja bisa masih bisa dikendalikan dan kepalan tinju itu pun terturun.


Mengeluarkan napas kasar. Mata Anya melotot melihat Monica. "Aku bilang aku bukan pelakor. Kamu jangan bebal."


Monica terkekeh. Ia bertepuk tangan. "Ya ya ya ... kamu memang begitu. Kamu memang barbar. Kamu itu udah tersudut makanya sekarang ngandelin kekerasan. Apa kamu gak malu, perempuan kok jadi tukang pukul." Kekehan Monica mengudara lagi. Bahkan makin menjengkelkan. "Aku jadi ragu. Apa iya ada pengusaha yang pacaran sama Tarzan gila kek kamu ini?" lanjut Monica lagi.


"Iya. Kita bakalan percaya kalau pacar kamu udah datang. Pokoknya malam ini kami harus nglihat dia. Kalau enggak. Foto yang ada ini bakalan kami sebar dengan hastag pelakor enggak tau malu," timpal Lyra.


Kini giliran Anya yang tergelak miris. Kepalanya benar-benar akan meledak menghadapi situasi kacau seperti itu. Satu sisi ia ingin cepat pergi tapi Monica dan Lyra, astaga ....


"Lyra, Monica, kalian bener-bener."


Anya mati kata, ia sungguh kesal. Dua perempuan yang ada di depannya itu begitu keras kepala. Karena cemburu otak perempuan itu tumpul tanpa mau mendengarkan alasan.


"Jangan cari alasan. Cepet telepon dia," desis Monica lagi.


"Ya Tuhan." Anya mengentakkan kaki. Sungguh, ia ingin menangis saking emosinya.


Sembari melihat keadaan sekitar, Anya berpikir keras, bagaimana caranya lolos dari Monica dan Lyra? Ia benar-benar ingin memberi pelajaran pada Shireen? Bisa-bisanya perempuan itu merayu Dery? Dan Dery, bagaimana bisa berakhir bersama Shireen di sebuah ruangan yang Anya kenal betul adalah ruang VVIP restoran yang Dery kelola?


Dasar kadal gatal. Awas aja kamu. Kali ini aku gak bakalan ngalah. Jangan harap kamu bisa ngerebut apa pun lagi dari aku. Anya bermonolog.


Tanpa sengaja mata pun tertuju pada Vero. Anak dari sahabat sang Ayah tengah berjalan mendekat. Otaknya yang tak seberapa pintar itu memikirkan hal licik. Ekor matanya bergerak, senyum super licik pun tercetak jelas.


"Ayo cepat. Telepon dia. Ajak ke sini. Kami mau liat," ujar Monica lagi.


"Apa maksud kamu. Kamu udah ngaku kalau kamu jadi pelakor?" tambah Lyra.


"Enak banget kamu ngomong. Ngapain aku ngaku kalau bukan aku. Aku gak mau nelfon karena orangnya udah ada di sini."


Sontak Monica dan Lyra memindai sekitaran dan melihat pria tegap tinggi dan tampan berjalan ke arah mereka.


"Itu ... itu beneran pacar kamu?" Perkataan Lyra terbata. "Gak masuk akal," lanjutnya lagi.


Sementara Monica, bergeming. Matanya yang menggunakan softlens warna biru tak mengerjap sama sekali. Ia terbeku dengan mulut menganga.


Anya mengangguk puas setelah melihat ekspresi wajah kedua musuhnya itu. "Kalian udah percaya, 'kan?"


Kedua gadis itu tetap bergeming. Anya yang sudah kadung kesal ingin menaikkan lagi harga diri yang sempat terinjak. Tanpa pikir panjang ia langsung menghadap ke arah Vero dan berlari. Vero yang melihat tingkah Anya mendadak horor. Ia mundur hendak pergi. Sayangnya Anya sudah terlebih dulu melompat ke punggung dan mengalungkan lengan ke leher pria itu.


"Mas tolongin aku, tolong ...." Anya berbisik lirih.


Vero yang masih tak paham hanya meronta. Ia benar-benar speechless dengan tingkah Anya. Bisa-bisanya minta gendong padahal sudah bangkotan begitu. Gadis itu bahkan mengalungkan lengan dengan sangat kuat. Vero terbatuk, ia tertunduk.


"Nya, kamu ngapain? Lepas aku gak bisa napas," balas Vero lalu kembali batuk.


Namun Anya mengabaikan dan dengan tak tahu malu ia kembali berucap, "Tolong, Mas ... tolongin aku. Tolong tangkap kakiku biar enggak menjuntai kek monyet begini."


Vero mendesis. "Kamu gila? Aku bisa mati, Nya. Lepas gak," ujar Vero seraya mengatur napas.


"Cepetan Mas atau enggak aku bakalan bikin kamu mati beneran. Mau?" bisik Anya lagi, terdengar penuh ancaman. Kuncian tangannya bahkan sengaja dipererat. "Cepetan, Mas. Jangan bikin malu."

__ADS_1


"Dasar. Kamu yang bikin aku malu, Nya."


"Udah cepetan, Mas. Gendong yang bener."


Terpaksa Vero menurut. Ia pegang kedua paha Anya lalu melingkarkan ke pinggang. Sekarang sudah seperti orang yang benar-benar menggendong.


Anya menoleh belakang, melihat wajah canggung Lyra dan Monica. "Nah, sekarang coba tersenyum, terus berputar. Perlihatkan senyummu yang manis sama duo Nini Thowok di belakang sana."


"Ngapain lagi, sih, Nya?" protes Vero. Sekarang ia sudah bisa bernapas sebagai mana mestinya meski berat badan Anya lumayan menguras tenaga.


Anya memukul punggung Vero. "Cepetan sih, Mas, nggak usah banyak protes."


Mendesah pasrah, Vero berakhir memutar tubuh lalu tersenyum pada Lyra dan Monica seperti yang diperintahkan. "Nya, kamu berat," bisik Vero tanpa rasa bersalah.


Anya yang kesal kembali melayangkan cubitan di pipi. "Cepetan senyum. Yang manis. Terus berputar lagi."


Vero menurut, kini posisi mereka memunggungi Lyra dan Monica. Kedua gadis itu datang mendekat.


"Ya udah turunin aku," pinta Anya.


Vero melepaskan dan menatap nyalang ke arah Anya yang nyengir. Ingin sekali ia menjitak gadis biang masalah itu.


Akan tetapi tanpa ia duga Anya justru mendekat. Posisi mereka saling menempel dan dan tanpa bertanya Anya sudah menarik dasi Vero. Vero kembali terbatuk-batuk dengan posisi sedikit menunduk "Soal ini jangan same ada yang tau. Awas kalo ngadu," bisiknya seraya membenarkan dasi Vero.


Vero mendelik. Sungguh ingin sekali ia mencekik leher gadis itu, hanya saja tak terealisasikan karena Lyra dan Monica melewati mereka. Kedua gadis itu sempat melayangkan lirikan tajam pada Anya. Namun Anya yang merasa sudah di atas angin mengabaikan itu semua. Ia berdada ria pada dua gadis tadi padahal mereka tidak dilihat sama sekali. Absurd.


"Makasih ya, Mas." Anya berucap seraya menggaruk tengkuk. Ia yang sudah melihat ekspresi kesal di wajah Vero seketika menjadi horor dan. "Kalau gitu nikmati pestanya. Aku mau ketemu bunda," lanjutnya lagi seraya hendak lari.


Akan tetapi baru saja sekali melangkahkan kaki tiba-tiba sebuah kalungan sebuah lengan dari belakang menghentikan. Anya tercekat karena tak bisa bernapas.


"Jadi perempuan yang bener. Jangan nyusahin mulu," geram Vero lantas melepaskan kuncian dari leher Anya.


Terbatuk-batuk Anya memukul bahu Vero. "Mas Vero mau matiin aku apa gimana, sih? Sakit ini sesak," sungutnya seraya mengatur napas.


Vero mengukir smirk. "Itu balasan. Utang harus dibayar tunai, plus bunganya."


"Bunga?" ulang Anya. Ia yang masih mengatur napas kembali berdiri tegak lalu menatap Vero. Senyum Vero membuatnya heran. Mendadak ia mendapat firasat buruk. "Bunga apaan, Mas."


Vero berdengkus. Ia libaskan ujung jas ke belakang lantas melayangkan jitakan ke kening gadis itu. "Itu bonusnya. Dasar gadis nakal." Lalu pergi begitu saja.


"Dasar bangkotan resek. Pantes aja gak laku-laku. Gak ada sifat perikemanusiaan sama sekali," balas Anya bersungut-sungut.


Akan tetapi sebuah pesan kembali masuk. Lekas-lekas Anya mengecek ponsel dan mendapati seseorang kembali mengirim foto. Tampak punggung laki-laki. Punggung yang Anya kenal betul adalah punggung kekasihnya. Ia menggeram matanya nyalang. Gegas ia berlari mencari Litania.


"Mbak ada liat bunda gak?" tanyanya kepada seorang karyawan yang tengah membawa nampan minuman.


"Tadi saya liat ada di teras samping, Non," balas karyawan itu ramah.


Tanpa menunggu lama, Anya pun menderu melewati banyaknya punggung pebisnis yang memenuhi ruang tamu mereka. Hatinya bergemuruh luar biasa.


"Aku harus bilang ini sama Bunda. Pokoknya harus," gumamnya dalam langkah.


Tibalah Anya di teras samping dan melihat ibunya tengah berkumpul dengan para ibu-ibu yang entah berasa dari mana dan dari kalangan mana. Anya tak peduli. Ia dekati Litania lalu berbisik, "Bun. Aku mau ngomong. Urgent."


***


Nah loh si babang Dery beneran selingkuh?


klo iya kira2 bakalan diapain Anya ya?

__ADS_1


direbus, sate, apa dibikin rendang dengan banyak santan?


wkwkwk. Tungguin besok ya.


__ADS_2