Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Trik kedua.


__ADS_3

Melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa, Litania hampiri Sita yang tengah memasak di dapur.


"Nek, aku mau nganterin pesenan dulu." Litania berucap seraya menyambar tempe goreng yang ada di meja makan.


"Ke mana? kok buru-buru!" teriak Sita kala menoleh ke belakang. Sang cucu yang baru saja mencium pipinya sudah ada di ruang tamu.


"Nganterin pesanan Nek. Aku takut telat. Entar dicancel!"


"Ya Alloh, Ndok. Jangan kek gitu juga. Jangan buru-buru. Entar celaka!" teriak Sita lagi.


"Gak Nek. Aku bakalan hati-hati." Suara Litania tak kalah nyaring. Ia ambil sepatu kets yang ada di rak sepatu dan memakainya. Namun sebuah kotak berwarna merah yang ada di kursi teras tak sengaja tertangkap netra. "Apaan ini?"


Membuka kotak itu. Litania tersenyum setelah melihat isinya. Sekotak cokelat dengan berbagai macam warna menghiasi bola matanya. "Wah, kayaknya enak."


Litania tanpa sadar menelan ludah. Ia cicip satu biji cokelat itu seraya memejamkan mata. Cokelat berwarna merah itu begitu lumer dalam mulut dan ia menyukainya. "Enak banget ...."


Meletakkan kotak itu di atas meja, Litania ambil dan membaca kartu ucapan yang ada di dalam kotak itu. Sebait tulisan yang sukses menjungkirbalikkan ekspresinya. Ia lempar kertas berwarna merah di lantai lantas menginjaknya. "Dasar bangkotan tua. Gak punya jiwa seni. Katrok soak. Oncom basi. Awas aja kalo berani datang lagi."


Tak lama setelah menuntaskan kekesalan yang ada, Litania terhenyak kala mobil Lamborghini masuk ke dalam pekarangan rumah. Tampak Aldi—supir Fabian—tengah mendekat ke arahnya.


"Ada apa, Mas?" Litania bertanya dengan mengkerutkan dahi. Dilihatnya dengan serius wajah Aldi yang tak kalah tampan dengan Fabian. "Tumben ke sini?"


"Ini saya cuma mau ngasih titipan dari Pak Bian." Menyerahkan bag paper ke tangan Litania, Aldi pun melanjutkan kata, "Pak Bian berpesan, nanti malam dia bakalan jemput kamu."


Lagi, dahi Litania makin berlipat. Dibukanya tas kertas itu dan tampak sekilas bahwa yang ada di dalam sana adalah sebuah gaun berwarna hitam.


"Pergi ke mana?"


Litania bertanya dengan wajah bingung. Membuat Aldi yang lebih tua delapan tahun darinya berakhir mengulum senyum. "Nanti biar Pak Bian saja yang jawab. Saya cuma disuruh nganterin ini aja. Yaudah, saya pamit pulang."


"Ta—"


Belum sempat Litania melanjutkan kata, sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya.

__ADS_1


Fabian [Aldi udah sampe sana?]


Masih dengan wajah bingung, Litania membalas pesan singkat itu. [Udah, tapi kita mau ke mana?]


Fabian [Acara pembukaan toko coklat punya temen. Kamu 'kan penyuka coklat. Lumayan, loh. Di sana bisa makan sepuasnya dan gratis.]


Ada emoticon tertawa di ujung pesan. Sebuah gambar yang membuatnya tanpa sadar mengukir senyuman. Mengingat betapa baik dan ramahnya Fabian. Lelaki dewasa yang membuatnya nyaman.


***


Lampu lalu lintas berwarna merah. Kemacetan begitu parah apalagi matahari tengah terang-terangnya membakar kulit yang hanya berlapis blazer setengah tiang.


"Ya ampun, panasnya .... Udah kayak masuk dalem presto," gumam Litania seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling, ia lap keringatnya yang sudah mengucur begitu deras.


Entah suatu keberuntungan atau kemalangan, Litania tak sengaja menangkap sosok Chandra tengah tertawa dengan seorang perempuan di dalam mobil tak jauh darinya. Sebuah pemandangan yang makin menambah panas di dada.


"Dasar bangkotan gila. Kemaren ngemis-ngemis minta balikan. Sekarang malah ketawa ketiwi dengan perempuan laen. Sialan. Awas aja kalo berani datang lagi."


***


"I-iya, Pak. Nanti di kantor langsung saya bikin laporannya." Tersenyum kuda, Ara yang memang suka lupa mengerti akan tatapan tajam sang pemilik perusahaan.


Chandra kembali terdiam. Ia arahkan mata ke arah luar jendela, memperhatikan orang yang sibuk berlalu-lalang di luar restoran. Dan lagi-lagu sekelebat senyum dan bayangan Litania kembali hadir. Menggali rasa frustrasi yang sudah lumayan lama bersemayam dalam diri tanpa berniat pergi. Ya Tuhan, Litan.


Memperhatikan Ara dengan seksama, Chandra pun mulai bertanya, "Kamu yakin soal trik yang tempo hari. Kenapa saya ragu, ya?"


"Yakin, Pak. Di dunia ini perempuan mana yang gak luluh kalau dikasi apa yang dia suka. Bapak udah bener kok. Ngasih dia coklat sama kata-kata romantis."


"Tapi kenapa dia belum nelfon juga." Chandra kembali bertanya. Ia bahkan merogoh kocek dan memperlihatkan layar ponselnya. Satupun tak ada pesan ataupun misscall dari Litania.


Mengernyit, Ara letak ponselnya di atas meja dan memandang wajah bingung Chandra. "Bapak beli coklat yang enak, kan?"


"Iya, bahkan yang paling mahal di Jakarta."

__ADS_1


"Kartu ucapannya gak lupa?"


"Ya enggak, dong," sahut Chandra lagi.


Manggut-manggut, Ara pegang ujung dagunya kemudian kembali melayangkan tatapan pada Chandra. "Emangnya Bapak nulis apaan di sana?"


"Saya nulis 'maaf' di sana."


Seketika hening, tapi sedetik kemudian tawa Ara pecah. Ibu satu anak itu tergelak jenaka tak mampu menahan gelitikan tak kasatmata. Bagaimana mungkin sang bos yang terkenal dan disegani banyak bawahan tak bisa merangkai kata-kata? Ya Tuhan, mau dibawa ke mana arah percintaan orang ini, batin Ara.


Berdengkus, Chandra merasakan harga dirinya kembali terluka. "Loh, kok diketawain? Emangnya saya salah apa?"


Menarik napas panjang, Ara mencoba meredam tawa. "Bapak sih aneh. Masa iya cuma bilang maaf. Ini hati perempuan loh Pak. Harus ada seni dalam tulisan biar dia merasa berbunga-bunga."


"Contohnya ...." Chandra mulai kesal. Bukannya dicarikan solusi dirinya malah disuruh berpikir lebih keras lagi. "Ngomong itu yang bener. Jangan berbelit-belit."


"Kasih puisi atau gombalan. Ikuti cara kekinian."


"Ribet, saya gak bisa itu. Apa ada cara lain?"


Ara kembali berpikir. "Gini, istri Bapak suka semua yang berbau Korea, 'kan?"


Chandra mengangguk.


"Coba Bapak bergaya ala idol itu. Saya yakin istri Bapak pasti klepek-klepek. Apalagi kalau Bapak ungkapin permintaan maaf dengan nyanyian. Aduh, saya yakin istri bapak langsung balik. Percaya, deh."


Berpikir sejenak, Chandra memutar otak tentang hobi Litania. Bagaimana antusiasnya Litania kalau sudah berhadapan dengan K-Pop. Bergidik, seketika itu juga pori-pori Chandra meremang—Malu membayangkan kalau dirinya berjoget atau bernyanyi dengan setelan berwarna-warni.


Menggeleng cepat, Chandra hapus bayangan itu. "Apa gak ada cara lain?"


Menyeruput jus yang ada di hadapan, Ara kembali menatap serius sang atasan. "Ada, tapi agak ekstrim. Ini resikonya tinggi."


"Apaan?" Chandra tampak antusias. Ia malah sudah menempelkan kedua lengan di atas meja seraya menatap serius wajah Ara. "Ayo cepet katakan!"

__ADS_1


__ADS_2