
Di depan sebuah restoran.
Melangkahkan kaki sedikit tergesa-gesa, Litania takut teman-teman barunya mengomel karena terlambat datang. "Ish! Ini semua karena Albert. Aku jadi grasak-grusuk begini. Dasar Albert, pinter kagak ... modus, iya."
"Litan!"
Litania yang baru tiba di ambang pintu restoran berjengket, ia menoleh ke arah suara, tampak empat orang ibu-ibu hamil sudah tersenyum lebar. Tangan mereka pun tak lupa melambai. Bak adegan dadah-dadahan orang yang ingin pergi merantau.
Tuh, 'kan mereka udah datang, batin Litania seraya tersenyum canggung. Tangan pun membalas lambaian teman-teman satu ghibahan-nya. Emak-emak asyik yang selalu suka membahas perkara ranjang, yang ceritanya selalu saja sambung menyambung seperti Rucika, pokoknya mengalir sampai jauh.
Meski begitu, dari mereka Litania akhirnya paham tentang kehamilan dan berbagai macam problematika kehidupan. Ia juga dibekali ilmu bagaimana kelak mengurus anak, dari IMD—inisiasi menyusui dini—hingga penanganan bayi ketika masuk angin serta kolik. Semua mereka jelaskan secara terperinci karena memang pernah mengalaminya langsung. Litania bahkan dapat melihat dengan jelas penggambaran yang Lesti cs jelaskan. Jadi, menurutnya tak salah jika bergaul dengan emak-emak gaul yang bahasannya sudah seperti tante girang.
"Maaf ya, telat." Litania langsung menarik kursi, duduk di sebelah Lesti, lalu melihat Lia, Mina dan Juni secara bergantian. "Udah lama ya nunggunya?" sambungnya lagi.
"Gak apa-apa, kok. Kamu gak telat, yang ulang tahun aja belum datang. Tu liat." Dagu Lesti sedikit terangkat saat mengarah ke kursi kosong yang sudah ada kue-nya—tart ulang tahun berbentuk bunga matahari pesanan Risma. "Si empunya hajat aja belom nongol," lanjut Lesti.
"Iya, padahal janjinya jam tiga, nah ini udah hampir jam empat. Jam karet emang. Udah kek perutnya. Melaaar," sambung Juni seraya mengarahkan kentang goreng untuk masuk ke dalam mulut.
"Yaelah, Bu Juni. Perut kita juga melar ini. Jadi, sesama makhluk yang bisa melar, dan suka dimelarin, dilarang keras saling hina," kelakar Lia. Ucapan yang langsung direspon anggota lain dengan gelak tawa.
Mina menyeruput jus-nya. Wanita berperawakan tinggi berisi dengan kehamilan berusia delapan bulan, mulai penasaran. "Tapi ngomong-ngomong, kenapa Bu Risma belum datang, ya? Tumben tu orang telat. Biasanya masuk kelas gak pernah lambat."
"Ho oh." Lia menimpali, "Miss Ratna juga belum nyampe. Rumah mereka 'kan searah. Apa jangan-jangan ada yang gak beres? Mungkin mereka kecelakaan?"
__ADS_1
Kentang goreng melayang. Telak, mengenai wajah Lia. Istri dari seorang detektif itu nyengir kuda saat melihat wajah orang yang melemparinya. Wanita yang tak lain tak bukan adalah ketua club yoga sekaligus juga junjungan mereka, Lesti.
"Maaf, Mbak. Aku kan cuma menduga-duga." Lia tampak canggung.
Sementara Lesti, melotot kesal. "Kebiasaan, suami yang polisi, kamu yang berpikir keras. Harusnya kalo belum pasti jangan diomongin. Ucapan itu adalah doa."
Tegas, Lesti membuat suasana tegang dalam sekejap. Semua anggota menunduk. Tadinya yang nyaman dan ceria berubah menjadi mencekam. Bagaimana tidak, Lesti adalah istri dari seorang jenderal polisi yang tentu saja disegani oleh Lia, Juni dan Mina. Jabatan suami mereka berada di bawah suami Lesti. Kebetulan yang hakiki. Mereka bersatu dalam club yoga Ratna dari banyaknya instruktur yoga yang ada di Jakarta.
Sementara Litania, mematung. Baru saja datang sudah dikejutkan dengan senam jantung. Hari ini ia melihat sisi tegas dari seorang Lesti.
Berdeham sekali, Litania seruput air putih yang ada di depannya. "Kalau itu kursinya siapa?" tunjuk Litania, mencoba memecah ketegangan. Heran melihat ada tiga kursi kosong di depannya.
"O ... itu anggota lama kita. Namanya Miss Dolphin." Bibir Lesti menipis, wanita itu seperti mempunyai ilmu redam emosi. Dalam sekejap saja perasaannya langsung membaik.
Namun, kini Litania yang bingung sendiri. "Miss Dolphin?" tanyanya, "emangnya Miss Ratna punya asisten, ya? Kok aku gak tau?"
Litania ber-oh tanpa mengeluarkan suara. Mulutnya saja yang terbuka dengan kepala naik turun. "Jadi siapa Miss Dolphin ini?"
"Miss Dolphin ini sama-sama member juga. Cuma kita-kita ini gak ada yang tau namanya. Orangnya keliatan arogan. Iya, 'kan, Bu Lia?" tanya Lesti pada Lia yang baru saja dimarahinya.
Lia langsung merespon. Kepalanya yang tadi tertunduk, secepat kilat terangkat. Matanya berbinar menatap Lesti lalu Litania. "Iya, Litan. Tu perempuan songongnya minta ampun. Pernah dulu Bu Risma nanya namanya, ee dianya melongos pergi. Nyebelin, 'kan?"
Litania kembali manggut-manggut dengan kentang goreng yang ia kunyah dalam mulut. "Terus, kenapa bisa kalian sebut dia Miss Dolphin?"
__ADS_1
"Itu nama dia di buku pendaftaran," jelas si Lia. "Tapi aku penasaran, siapa sebenarnya si endol ini?"
"Si endol?" Litania menutup mulutnya, tawanya hampir saja pecah. Entah kenapa
mendengar kata itu ia ingin sekali terbahak. Kenapa bisa dari Miss Dolphin berubah jadi endol?
"Tapi, kenapa aku gak pernah liat, ya. Aku kan udah hampir seminggu gabung ke kelas prenatal?" tanya Litania.
"Itu karna dia gak pernah masuk. Kayaknya dia lagi punya masalah apa ... gitu. Dia gak pernah fokus kalo dalam kelas." Bu Juni menimpali. Mulutnya serasa gatal saja jika tak ikut berpartisipasi dalam ghibahan.
"Tapi satu yang pasti, aku yakin dia anak orang kaya," tutur Mina. Wanita berjilbab biru itu mengemukakan pendapat.
Tak lama suara derap sepatu mengagetkan kelima orang yang tengah bergosip itu. Suasana yang tadinya santai kembali mencekam. Lia, wanita yang tengah minum langsung tersedak setelah melihat siapa yang mendekat. "Miss Dolphin," lirihnya dengan mata membulat.
"Hallo semua, maaf telat."
Tanpa dipersilakan, wanita cantik bermantel bulu dan gaun biru panjang setumit, langsung duduk. Terkesan arogan dan menyebalkan. Mirip Miss Dolphin yang baru saja dighibahin. Ia lepaskan kacamata besar yang bertengger di hidung. Matanya memindai wajah anggota member satu persatu dan terakhir menatap Litania. Seketika wajah angkuhnya berubah, gelagapan. Ia pasang kembali kacamata yang belum semenit terlepas.
"Kamu kenapa? Kok keringetan gitu?" Lia mulai kepo. Didorongnya kotak tisu ke arah Miss Dolphin dengan tatapan penuh selidik. Sudah mirip detektif.
"Gak, kok. Rasanya panas. Apa AC di sini mati?" tanya si Miss Dolphin.
"Enggak, kok. Kita semua nyaman-nyaman aja," timpal Lesti. Matanya memindai keanehan si Endol. "Kamu beneran sehat? Apa perut kamu sakit?"
__ADS_1
Menggeleng dengan cepat, wanita itu langsung berdiri. "Maaf, Mbak Lesti. Saya ke toilet sebentar, ya. Mau buang air kecil," pamitnya. Ia putar tumit dengan segera. Namun, baru saja menjauh dua langkah, Litania memegang tangannya.
"Kita pernah ketemu, 'kan?"