
POV Sisi.
Denting jam menengahi senyapnya ruangan tempatku menginap. Suara samar-samar itu sangat mengusik. Aku bahkan tak bisa tidur padahal sudah jam meja telah menunjukkan pukul sembilan. Apa ini yang namanya reaksi tubuh? Aku ingat betul kalau dokter mengatakan aku koma selama dua minggu.
Ah ... mengingat itu desahan panjang keluar dari mulut, aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk bertahan. Namun, kenapa harus memumbalkan kedua orang tuaku?
Ya, Tuhan ....
Air mataku menetes lagi. Kenapa begitu cepat Kau ambil malaikat di hidupku? Kenapa tak aku saja? Akulah biangnya. Akulah yang menyebabkan itu semua. Akulah yang harusnya mendapat hukuman. Tapi ...?
Mendadak perkataan Kak Lia dan Kak Mira mengudara dalam telinga. Mereka mengatakan kalau aku anak terkutuk, anak haram karena dibuang orang tua kandung.
Hatiku makin sakit mengenang itu. Kuseka air mata yang meluruh banyak. Aku sangat cengeng kalau menyangkut orang tua asuhku dan masa lalu.
Apa benar aku anak pembawa sial? Apa benar yang kakak-kakakku bilang selama ini? Kalau aku adalah parasit, lintah jahat yang menghisap semua sari kehidupan orang-orang sekitar. Penjahat yang mengambil semua kebahagiaan Orang-orang yang peduli padaku.
Hatiku nyeri. Sakit banget mengingat umpatan dami umpatan yang mereka lontarkan. Tapi, sekarang Ayah dan Ibu juga sudah ....
Ah ... apa benar aku anak pembawa sial?
Aku mulai meragukan diri, Ayah sama Ibu bilang tidak ada yang namanya anak haram, anak pembawa sial atau apalah yang kakak-kakakku tuduhkan. Fitrah seorang anak saat lahir adalah suci, Ayah menanamkan itu dalam diriku.
Aku yakin kakak kakakku ingin cepat-cepat aku mati. Aku yakin kebencian mereka makin menebal padaku karena ini. Tapi, aku tidak bisa nyerah. Aku punya anak, aku punya dunia yang harus selalu aku jaga. Aku punya Sifa.
'Sifa, Mama kangen kamu, Nak. Saat keluar dari sini Mama bakalan nyamperin kamu. Mama rindu. Semoga saja dokter secepatnya memperbolehkan Mama keluar dari sini." Aku bergumam saat melihat plafon kamar yang berwarna putih tulang.
Ah, mengenang Sifa aku jadi teringat Dafin. Apa kabar dia? Kenapa dia nggak datang juga? Apa dia sibuk? Seharian ini dia nggak ngasih kabar sama sekali.
Mata langsung tertuju ke cincin berlian yang ada di jari manis. Aku ingat betul bagaimana romantisnya Dafin saat mengatakan menyukai aku dan ingin jadi calon suamiku. Dia menyematkan cincin indah ini sambil berlutut.
Ya Tuhan, dadaku berdebar mengingat itu. Dafin laki-laki yang baik. Dia sempurna, tapi kenapa si bajingan itu ingin aku mempermalukan Dafin?
Darahku berdesir mengingat laki-laki jahanam yang aku sendiri tak tau namanya. Aku benci dia. Aku berharap polisi cepat menangkap dia. Aku berharap semua penjelasan yang aku berikan tadi pagi bisa membantu polisi untuk mencari jejaknya.
Sungguh, aku benci dia, karena dia orang tuaku meninggal. Karena dia hidupku nggak pernah tenang. Karena dia aku ... aku ....
Dadaku nyeri, aku menangis lagi sejadi-jadinya. Menumpahkan rasa sesak yamg selama ini bersarang dalam dada. Bersandiwara dan berpura-pura bahagia bukan pekerjaan mudah. Aku selalu dibayangi rasa bersalah karena telah menipu Dafin.
"Semoga laki-laki bangsatt itu cepat tertangkap. Sekarang aku sudah tak takut lagi dengan ancamannya. Dafin sudah tahu rahasiaku. Dan bagiku itu sudah cukup. Aku nggak peduli kalau orang lain menghujat yang penting Dafin nggak berubah. Aku sayang sama dia, tapi ...."
Ah, kenapa aku ragu, apa Dafin akan tetap menerima aku jadi istrinya?
Mendadak aku menyesal berbohong.
"Pokoknya aku harus bisa meyakinkan dia, ya harus."
__ADS_1
Aku memantapkan hati sebelum akhirnya sebuah bunyian nyaring pintu yang terbuka membuyarkan pikiran. Cepat-cepat aku menyeka air mata dan duduk, membenarkan posisi untuk melihat siapa yang ada di sana.
"Kak Lia. Mas Deni."
Suaraku tertahan. Jujur aku tak percaya kakak tertuaku dan suaminya datang. Apa jangan-jangan mereka ingin menumpahkan kemarahan?
Menarik napas panjang, aku sudah siap menerima kemarahan mereka. Sama seperti yang sudah-sudah, aku hanya perlu tersenyum membalas perkataan kasar mereka. Aku sudah berjanji pada Ayah dan Ibu untuk bersikap baik sebagai adik.
"Kak, apa ka—"
Plak!
Perih, panas. Belum selesai lisanku Kak Lia sudah mendaratkan tamparan. Aku hanya bisa tertunduk dan memegangi pipi yang panas. Aku tahu sebab kemarahan Kak Lia.
"Dasar pembawa sial! Kenapa kamu bisa hidup! Mati saja sana!"
"Lia, tenanglah. Ini rumah sakit. Tadi kamu udah janji bakalan tenang."
Aku mengangkat kepala dan melihat Mas Deni yang memegang sebuket bunga memeluk Kak Lia dari belakang. Bunga itu berceceran ke lantai.
"Aku gak bisa tenang, Mas. Dia benar-benar pembawa sial. Dia pasti senang melihat orang-orang yang ada di sekitarnya mendapatkan musibah." Kak Lia menatap nanar ke arahku. "Dasar jalaang sialan. Mati saja sana!"
Nyes, rasanya lukaku kembali tersiram cuka. Kata-kata Kak Lia sudah biasa aku dengar, tapi tetap saja membuatku sakit, sesuatu dalam dada serasa mengerut dan kecil. Napasku terasa tercekat. Aku pandangi Kak Lia lekat-lekat.
"Kak, aku bukan pembawa sial. Aku sama seperti Kak Lia, aku juga gak mau ini menimpa keluarga kita, tapi ini murni musibah, Kak," ujarku berhati-hati.
"M-maksud Kak Lia?"
Aku benar-benar tak paham dengan ucapannya barusan.
"Apa kamu gak tau? Sepupuku yang mengadopsi anak harammu mati, mereka mati dalam kebakaran."
"K-kak Lia?"
Nggak! Nggak mungkin. Ini pasti kebohongan Kak Lia, tapi kenapa mataku mulai berkaca-kaca?
Aku tatap nyalang Kak Lia. Bisa-bisanya dia mengatakan kebohongan semengerikan itu.
"Kenapa? Gak percaya?" Kak Lia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas dan melemparkannya ke arahku. Gemetaran, aku pun melihat yang ada di dalam ponselnya.
"Lihat itu! Rumah mereka kebakaran. Dan mereka sudah dikuburkan tadi sore," ujarnya lagi yang masih saja terdengar marah.
Aku menggeleng tak percaya, ini pasti akal-akalan Kak Lia buat menyiksaku. Ini pasti tipuan, tapi ....
Oh God. Air mataku menetes tak terkendali. Ini ... ini memang rumahnya Mas Irfan.
__ADS_1
"Syifa ...."
"Tentu saja anakmu juga mati," timpal Kak Lia lagi. Aku melihatnya nyalang. Dia menangis.
"Enggak! Ini gak bener! Ini salah! Anakku gak mungkin mati! Anakku pasti hidup! Anak—"
Sesak, teriakanku terhenti, napas terasa berat, kepala mendadak pusing.
Apa yang terjadi? Aku ... aku tak bisa melihat sesuatu dengan benar, kenapa semuanya berputar-putar?
****
Aku membuka mata dengan perlahan dan sinar putih lampu ruangan membuatku harus mengerjap berkali-kali. Mataku langsung tertuju ke jam digital yang ada di dinding. Benda berbentuk persegi panjang itu menunjukkan kalau sekarang pukul tujuh pagi.
Apa aku tertidur? Namun, kenapa rasanya ada yang salah? Sebenarnya ada apa ini? Apa aku mengalami mimpi buruk?
Anakmu mati, keluarga yang mengadopsi anak harammu mati!
Aku refleks menutup telinga. Suara itu menggema dalam gendang telingaku. Rasanya sampai menusuk-nusuk jantung, nyeri. Aku tidak bisa bernapas normal.
Kuedarkan mata ke sekeliling dan sebuket bunga membuatku terpaku beberapa detik. Aku mencoba mengingat sesuatu yang rasanya sangat mengusik.
Anakmu mati! Mati! Mati!
"Gak! Enggak! Sifa gak mati! Syifa masih hidup! Syifa ...."
Aku berteriak frustrasi lalu menenggelamkan wajah dalam selimut. Ternyata itu semua bukan mimpi. Anakku telah meninggal. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?
Dasar pembawa sial! Kamu hidup tapi orang lain mati. Bukankah itu namanya kesialan yang berganti?
Aku meraung-raung dalam selimut tebal. Aku benar-benar tidak bisa menerima kenyataan ini. Anakku, anakku kenapa bisa pergi secepat itu? Dia, dia masih muda. Dia masih kecil.
"Gak, aku harus bertemu Sifa. Aku harus memeluknya. Dia pasti ketakutan."
Mataku langsung tertuju ke arah nakas. Sebuah pisau kecil menjadi menjadi titik fokus. Entah salah atau tidak, aku ingin menyusul anakku. Aku ingin berkumpul sama orang-orang yang sudah menyayangiku. Dunia ini begitu kejam untuk aku lalui sendirian.
"Tunggu Mama Sayang. Sambut aku, Ayah, Ibuk. Aku ingin ikut kalian."
Perahan tapi pasti, cairan kental berwarna merah keluar dari pergelangan tangan. Pikiranku kosong. Rasanya pergelangan tanganku sangat sakit, tapi ....
Aku berbaring. Lampu kamar kembali menerpa netra. Aku mengerjap. Namun, bukannya terang yang aku dapat melainkan buram. Mataku tak bisa melihat apa-apa lagi. Apa karena terlalu banyak menangis?
"Syifa ...."
Aku mulai merasa lemah, tubuhku serasa ringan. Namun, entah kenapa rasanya ada yang mengguncang bahuku dengan kuat.
__ADS_1
Membuka mata sedikit, kulihat ada pria yang aku kenal, pria taman yang aku sayang. Dafin, ya Dafin, dia seperti mengucapkan sesuatu. Di saat-saat terakhir aku coba untuk menajamkan indra pendengaran. Namun, nihil. Mataku kembali tertutup, sangat rapat. Yang bisa aku lihat hanyalah gelap.