Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Bukan emak biasa.


__ADS_3

"Maaf. Anda tidak boleh masuk," ucap si pria brewok. Tubuhnya kurus tinggi dengan bekas luka di pipi.


"Kenapa gak boleh? Saya ada perlu sama nyonya rumah ini."


"Maaf, dia tidak ada di tempat," ujar pria lainnya yang bertubuh tambun, berkepala pelontos. Ia tengah duduk santai di kursi teras. Rokok yang sebelumnya diisap kini sudah tergeletak di lantai. Pria botak itu menginjaknya lantas berucap, "Lebih baik kamu pulang saja. Nyonya Lita lagi gak ada di tempat."


"Kalau begitu saya mau ketemu Livia."


Seakan tak suka, ia menatap nyalang Litania yang ngotot ingin bertemu dengan keluarga Erik. "Maaf, Nona Livia juga sedang tak ada di tempat."


"Bohong!" Litania balas menatap garang, "aku yakin mereka ada di dalam," lanjutnya seraya melangkah hendak melewati pria gondrong yang ada di sebelah.


Namun, baru saja bergerak beberapa inci, langkahnya tercekat karena kerah baju belakang tertahan.


"Apa ini?" ucap Litania. Wajahnya merah padam.

__ADS_1


Pria gondrong dan brewokan itu tersenyum mengejek. "Pergi saja, kami gak mau cari ribut. Mending urusi suami dan anakmu. Udah jadi emak kok kepo banget sama urusan orang lain."


Ejekan yang langsung di sahut gelak tawa lima orang lainnya.


Mendengar penghinaan itu, Litania berang, tangannya makin terkepal erat. Namun, belum sempat bergerak, tubuhnya terseret ke belakang. Akan tetapi dengan cepat ia jambak rambut panjang si pria lalu memulas tangannya. Dalam beberapa detik tubuh itu terempas dengan punggung membentur kerasnya porselen. Suara erangan terdengar jelas.


Litania tersenyum miring. Matanya menatap si gondrong yang tengah kesakitan. "Jangan meremehkan seorang emak. Namaku Litania, aku bukan emak biasa," balas Litania dengan membusungkan dada.


"Sialan! Kamu cari perkara?"


Litania menjaga jarak. Ia mundur dua langkah dangan mata awas menatap lawan dengan kepalan tinju yang sudah bulat. Rahangnya ikutan mengetat.


Tanpa aba-aba, satu pria menyerang dengan mendorong kepalan tinju, beruntung Litania sigap mengelak. Tanpa aba-aba pula, Litania langsung memelintir lengan si penyerang hingga terkunci ke belakang punggung.


Pria dua mendekat, pria satu yang sudah terkunci pergerakannya, Litania dorong dengan keras sehingga mengenai tubuh pria kedua. Pria satu dan dua tersungkur dengan posisi saling menindih. Erangan keluar dari bibir keduanya.

__ADS_1


Lagi, pria ketiga unjuk gigi. Namun, ia tak sempat mendekat karena kaki kanan Litania mendarat, telak terkena rusuk. Pria itu membungkuk. Kesempatan yang sayang jika disia-siakan. Litania kembali menghantam kepala pria itu dengan lutut hingga terhuyung ke belakang. Darah mengucur dari hidung dan pria ketiga berakhir terlentang.


Situasi makin mencekam. Pria kelima dan si gondrong mendekat secara bersamaan. Litania mundur kebelakang, mencari tempat pijakan. Beruntung, sebuah pilar besar berada di belakangnya. Secepat kilat, emak dua anak itu berlari dan melompat, kaki kanan menginjak pilar, dengan sekali dorongan tubuhnya berputar dan tendangan kaki kiri mengenai si pria nomor lima. Si gondrong tertegun. Kesempatan untuk Litania mendaratkan tinju di hidung. Kedua pria itu roboh.


Kini mata Litania tertuju pada pria botak, tapi pria botak itu juga mengeluarkan jurus. Tinjunya melayang. Beruntung Litania menghindar. Ia balas dengan gerakan super cepat dengan juga memutar pergelangan tangan si botak. Namun, sayangnya cengkaman tangan Litania terlepas. Kesempatan untuk melayangkan pukulan selanjutnya tak terealisasikan.


Kini pria botak itu malah menjambak rambutnya.


"Dasar perempuan setan," umpat si botak.


Litania yang kesakitan tak kalah akal. Ia injak kaki si botak. Si botak mengerang dan tertunduk. Kesempatan bagus untuk Litania melayangkan tinju, telak mengenai dagu.


Jambakan ketua gengster itu terlepas. Erangan keluar dari bibirnya yang berwarna cokelat kehitaman.


"Kalian jangan pernah memandang rendah perempuan."

__ADS_1


****


__ADS_2