Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Tantangan


__ADS_3

"Pak, Pak Dafin. Bangun, Pak. Kita sudah sampai."


Merasa yang dibangunkan tak merespon, Fia mengguncang makin kuat. "Pak, Pak Dafin. Bangun, Pak. Kita sudah sampai," ulangnya lagi dengan nada sedikit tinggi.


"Ebuset dia ganteng tapi tidur kek kebo banget, sih. Penampilan orang kaya, tapi tidurnya kek habis garap sawah aja."


Namun, entah kenapa saat berdekatan dengan wajah sang bos, Fia merasa tertarik. Makin di lihat, wajah Dafin makin terlihat tampan.


Kini jarak mereka sangat dekat, hanya beberapa senti saja. Fia dengan lancang memindai secara keseluruhan wajah Dafin. Mengabsen satu persatu, alis yang mata tebal, bulu mata lentik hidung mancung dan bibir ... bibir Dafin tak seperti bibir laki-laki kebanyakan. Bibir orang itu cenderung tipis dengan warna yang sedikit kemerahan. Belum lagi ada belahan samar di dagunya.


Fia gemas dan entah terbawa arus dari mana ia ingin sekali menyentuh dagu yang terbelah itu. Akan tetapi, belum sempat menyentuh, tangannya sudah tercekal dan mata Dafin terbuka. Fia yang gelagapan sontak berdiri dan kepala membentur hand grip.


Gadis itu mengaduh karena kepala lumayan berdenyut dan terasa pening.


"Kamu mau ngapain?" tanya Dafin yang memasang wajah datar.


"Saya cuma mau membangunkan, Bapak." Fia masih saja mengusap kepala.


Dafin keluar dari mobil dan melihat hamparan padi di sawah di depan mata, dahinya mengernyit. Ia lantas kembali melihat Fia yang masih kesakitan.


"Sudah saya katakan, saya punya kekasih. Jadi jangan pernah berpikir atau berharap jadi wanita saya," ujarnya masih bernada dingin.


"Eh, enggak kok, Pak. Saya gak gitu," balas Fia seraya melibaskan tangan.


Akan tetapi respon Dafin hanya tarikan sebelah bibir. Sebuah gelagat yang membuat Fia merutuki orang itu dalam hati. Ia kesal dengan kesombongan Dafin, hanya saja tak bisa berkata-kata.


"Oh iya, bukannya saya suruh kamu bangunin saya saat sudah sampai ke tempatnya Pak Reynald. Lalu kenapa kamu bawa saya ke sini?" tanya Dafin, ia melangkah dan mendekati Fia.


"Ini sesuai alamat yang pihak kantor berikan Pak. Pak Reynald katanya sedang berlibur di sini. Di Jatiwulih ini," papar Fia.


"Masa? Lalu di mana dia?" tanya Dafin lagi seraya melihat sekitar. Banyak rumah penduduk yang masih tergolong sederhana tapi tetap menawan di mata. Dalam kebingungan Dafin pun tersenyum. Ia ikuti langkah Fia hingga keduanya berhenti di depan sebuah bangunan tua tapi tetap terlihat kokoh.


"Kamu yakin orang itu tinggal di sini?"


"Yakin, Pak. Saya hapal seluk beluk kampung sini, ini alamat yang saya terima," papar Fia dengan senyum yang sangat lebar. Ia bahkan memperlihatkan layar ponsel sebagai bukti bahwa alamat itu benar.


Dafin yang masih tak percaya, bergeming. Rasanya aneh saja sang miliarder yang tergolong pelit dan keras hati memilih menginap di rumah yang sangat-sangat sederhana seperti yang ada di hadapannya itu.


"Fia!"


Seruan seseorang mengagetkan Fia dan Dafin. Keduanya sontak mencari arah suara dan mendapati sepasang suami istri berusia lima puluhan mendekat.


"Fia, kamu kenal mereka? Mereka si—"


Belum sempat lisan Dafin terealisasikan, Fia malah melepaskan koper dan langsung menghamburkan diri ke kedua orang tersebut secara bergantian.


"Bapak ... Ibuk, apa kabar? Bapak sama Ibuk dari sawah?" cecar Fia dengan wajah berbinar. Saking bahagia, gadis itu sampai lupa bahwa ada bos galak yang sudah di mode kesal tengah berdiri di belakangnya.


Ini maksudnya apaan coba? Dia ngajakin aku ke rumahnya? Wah emang bener-bener nih, si Fia. Dasar sekertaris gak ada akhlak. Dia sengaja bawa aku ke sini padahal aku harus cepat menyelesaikan urusan. Awas kamu Fia. Dafin membatin geram seraya mendekat, ia berdeham. "Fia, mereka orang tua kamu?" tanyanya.


"Iya, Pak. Maaf saya lupa ngenalin. Fia menatap kedua orang tua yang baru saja ia ciumi punggung tangannya. "Pak, Buk, ini atasan Fia, namanya Pak Dafin."


Walaupun hati Dafin telah menggumpal segudang kekesalan, tapi tetap saja ia harus menjaga kesopanan.


Mengulurkan tangan, Dafin pun berkata, "Perkenalkan nama saya Dafin saya bosnya Fia di kantor."

__ADS_1


Namun, bukannya menjawab dan menyambut uluran tangan Dafin, Marina—ibu Fia—malah menarik kembali tangan sang anak. Ia pun berbisik, "Fia, kamu kenapa sudah pulang, kamu di pecat?"


"Enggak Buk, bukan gitu. Fia sama Pak Dafin ada urusan di sini," balas Fia tak kalah pelan hingga membuat Dafin merasa malu, tangannya tak tersambut dan malah dicurigai.


Merasa kecurigaannya tak benar, Marina kembali mendekat lalu menarik tangan Dafin. Wanita itu tampak bahagia, meskipun keriput sudah terlihat nyata, tetap saja senyuman tercetak jelas di sana. Ia pegang erat tangan Dafin. "Maafkan Saya, Pak. Saya gak tau. Saya kira Fia bikin kesalahan makanya dipulangkan."


"Enggak Buk, bukan seperti itu. Kami memang ada keperluan di sekitaran sini," papar Dafin dengan menekan rasa malu dan kesal. Sungguh, Fia gadis itu telah mempermainkan harga dirinya dari awal bekerja. Andai sedang tak bersama dengan orang lain, sudah dipastikan ia akan mengomel menuntaskan kekesalan.


"Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih karena sudah mempekerjakan anak saya yang ceroboh ini. Tapi walaupun begitu, dia tetap pekerja keras dan bertanggung jawab."


Dafin mengangguk seraya mengulas bibir. Ia hanya mengiyakan perkataan Marina dan tak tega jika membahas soal masa kontrak kerja Fia yang hanya 3 bulan.


"Iya, Bu, nggak apa-apa, saya juga butuh Fia."


"Oh iya Pak Dafin, ini Bapak saya," jelas Fia.


Dafin kembali mengulurkan tangan dan secara cepat di sambut oleh Edi.


"Oh iya Pak, Buk. Maaf kalau mengganggu. Kalau boleh saya ingin berbicara sebentar sama Fia." Dafin menatap tajam ke arah Fia. "Fia bisa kita bicara sebentar di sana," lanjutnya dengan nada yang dibuat-buat ramah.


Fia yang mengendus ada-ada bau tak sedap dengan ekspresi sang bos hanya tersenyum kikuk seraya mengangguk. Akan tetapi, belum sempat menjauh, datanglah seseorang dari arah belakang yang diikuti beberapa bodyguard melewati mereka dan mendekati Edi dan Marina.


"Bapak Edi, ini anak Bapak yang sering Bapak ceritakan?" tanya sesosok itu. Perkataan yang sontak membuat Dafin dan Fia melotot. Mereka hapal betul wajah orang yang berbicara itu adalah si milyarder, Mr Reynal Smith. Pria berkebangsaan Amerika dengan darah campuran Indonesia dan Amerika. Pengusaha furnitur terkemuka dan termahal di dunia. Tak hanya pengusaha, Reynal Smith ini juga seorang kolektor benda-benda antik.


"Iya, Pak Rey. Ini anak sulung saya. Namanya Fia. Dia baru saja tiba. Katanya ada urusan pekerjaan di daerah sini," papar Edi.


Dafin yang sempat terkejut terpaku beberapa detik. Tak menyangka orang yang dicari sudah ada di depan mata dan yang lebih membingungkan lagi, pria itu hanya mengenakan pakaian petani biasa. Sungguh membingungkan dan pemandangan yang langka.


Melihat keterkejutan Dafin, Fia pun berbisik, "Pak, mulutnya tolong di tutup dikit."


"Oh jadi kamu calon pewaris Big Grup itu?" sela Reynal tanpa mau menjabat tangan Dafin. Dafin yang malu langsung mengepalkan tangan lalu menariknya lagi. Ia sudah menduga kalau Reynal ini tak ramah dan tentu saja tak akan mudah dihadapi.


"Iya, Sa—"


Lagi-lagi lisan Dafin tak terealisasikan karena Reynal telah berlalu melewatinya tanpa memedulikan maupun mendengar penjelasan Dafin terlebih dahulu. Pria tua berkepala sulah dengan usia hampir mencapai 60 tahun itu berlenggang pinggang naik ke teras lantas bersila. Sementara bodyguard-nya berdiri tegak di sekitaran rumah panggung milik orang tua Fia.


"Saya tahu apa mau kamu. Jujur, saya kaget saat tahu kalau anaknya Pak Edi bekerja sama kamu. Tapi saya ingin makan siang terlebih dulu."


Fia dan Davin terbengong, tapi tidak untuk Marina dan Edi. Edi menyusul Reynal Smith sedangkan Marina merangkul sang anak gadis. "Ayo, Nak. Masuk dulu. Kita makan siang."


Fia masih mematung hingga Marina kembali berucap, "Tenanglah. Pak Rey ini sangat baik. Dia sudah 3 hari menginap di sini. Beliau sangat ramah, Fia. Jadi ayo. Kita makan siang bareng. Apa pun urusan kamu, bisa diselesaikan nanti. Pak Rey ini punya sakit magh, jadi dia gak bisa telat makan."


Tanpa banyak bertanya, Fia dan Dafin pun ikut makan siang. Fia menikmati makanan ala-ala desa—tumis kangkung, goreng ikan mujaer tempe bacem dan sambal terasi, tak lupa lalapnya daun ubi. Semua begitu menikmati makan siang yang sudah tersaji tak terkecuali Reynal Smith, pria tua kaya raya itu tersenyum sambil menikmati makanan yang Marina masak.


Akan tetapi tidak Dafin. Ia sedikit risih dengan gaya makan Fia dan keluarga. Mereka makan bersila dengan menggunakan lima jari. Cara makan yang lumrah sebenarnya, cuma Dafin yang tak pernah mempraktikkan sedikit kewalahan.


"Ini Pak," ucap Fia seraya menyodorkan sendok, "Bapak pakai ini saja kalau memang tidak bisa," lanjut Fia lalu duduk kembali.


"Terima kasih," jawab Dafin. Namun, belum sempat memegang sendok, sebuah dehaman Reynal lagi-lagi mengagetkan Fia dan Dafin.


"Kalau gak bisa makan pakai tangan, bagaimana bisa mengembangkan perusahaan."


Asli, sebuah celetukan Reynal membuat Dafin kembali melongo. Ia menelan ludah lalu kembali meletakkan sendok. Dengan perlahan, ia pun turut makan.


Makan siang pun usai sebagaimana mestinya. Marina Edi dan adik-adik Fia telah masuk ke dalam rumah. Sementara Reynal, Fia dan Dafin tetap duduk di teras. Mereka menunggu Reynal menghabiskan rokoknya.

__ADS_1


"Kenapa kamu ke sini? Bukannya sudah saya tekankan. Saya akan tanda tangan kontrak kalau ayah kamu yang datang," ujar Reynal untuk pertama kali setelah sepuluh menit hening.


Cepat-cepat Dafin beringsut dan mendekati Reynal, begitu juga Fia. Mereka menatap serius Reynal. "Begini Pak Rey. Sebenarnya saya yang minta untuk di tugaskan ke sini. Sa—"


"Sudahlah. Ke intinya saja," potong Reynal.


Lagi-lagi Dafin menelan ludah. Baru bertemu saja Reynal telah berkali-kali menginjak harga dirinya. Akan tetapi, demi perusahaan ia telan juga rasa kesal itu.


Menarik napas, Dafin pun mengeluarkan beberapa kertas serta laptop dari dalam tas. "Begini Pak Reynal. Saya ingin mengajukan proposal. Saya ingin Anda bekerja sama dengan perusahaan kami. Saya ingin Anda meninjau terlebih dulu."


Akan tetapi ekspresi Reynal hanya sebuah tarikan bibir. Pria tua itu kembali mengisap cerutu. "Sebutkan apa yang membedakan perusahaan kamu dengan yang lain."


"Perusahaan kami terorganisir dan peminat otomotif di Indonesia dan dunia tengah melonjak. Saya jamin Anda tidak akan ru—"


"Klise. Sangat klise. Kamu tau, banyak yang mendatangi saya dengan berbagai macam proposal serta misi. Tapi saya tidak menyetujui. Kamu tau apa sebabnya?"


Sumpah, tensi darah Dafin mulai tinggi. Ia sangat tak senang dengan Reynal ini, tapi tak punya pilihan, ia berakhir mengangguk karena ingin tau alasan kenapa si Reynal ini sangat cerewet. Banyak perusahaan yang menawarkan kerja sama dan tentunya keuntungan yang berlebih, tapi tetap saja ditolak mentah-mentah. Sama halnya dengan dirinya sekarang. Ia merasa dipermainkan tapi tak bisa membalas. Dafin hanya diam menunggu lanjutan perkataan Reynal.


"Saya tolak mereka bukan karena tidak menguntungkan. Tapi lebih ke insting saja."


What? Seketika Dafan membulatkan mata. Pengusaha gila mana yang menolak untung besar karena firasat.


"Tapi, saya jamin Anda tidak akan kece—"


"Tuan Dafin," sela Reynal. Ia mengembuskan asap tokok ke wajah Dafin hingga pria tampan itu terbatuk-batuk. "Kamu mau saya berinvestasi, 'kan?"


Dafin mengangguk meski dada masih penuh dengan asap rokok.


"Kalau kamu mau, serahkan dulu dompet, ponsel, sama kunci mobil kamu," ujar Reynal.


"Tapi Pak Rey ...."


"Kalau kamu tidak setuju ya gak masalah. Saya akan senang hati menganggap pertemuan kita dan pembahasan ini gak pernah ada. Bagaimana?"


Seketika Dafin makin gugup. Sang ayah sangat berharap dengan kontrak kerja ini. Ia juga harus membuktikan pada dewan dan direksi bahwa dirinya mampu memimpin perusahaan. Akan tetapi ....


"Bagaimana?" tanya Reynal lagi.


Tanpa bertanya lebih banyak, Dafin pun menyerahkan dompet serta kunci mobil juga ponsel. Ia bahkan mengosongkan isi kantong agar Reynal percaya.


"Bagus. Kamu memang sangat bersemangat sekali." Reynal terkekeh kecil seraya memungut barang Dafin dan memasukkannya ke dalam baskom. "Mulai sekarang. Lakukan apa pun yang kamu mau."


"Hah? Maksud Anda?"


"Ya lakukan apa pun untuk bisa bertahan hidup di sini. Saya ingin liat segigih apa kamu bertahan tanpa modal dari orang tua. Saya ingin liat kesungguhan kamu."


Lagi-lagi Dafin terbengong. Sungguh ini di luar nalarnya sebagai manusia. Bagaimana bisa ia bertahan hidup tanpa uang. Apalagi di Bali ini.


"Berapa hari?" tanya Dafin. Walaupun sesungguhnya ragu, tapi tetap saja semua sudah terjadi. Tekad sudah bulat dan harga diri jadi taruhan. Pantang pulang tanpa kontrak kerja sama.


"Jadilah petani padi selama tiga hari. Setelah itu saya akan putuskan ke mana hubungan kita. Apa bisa lanjut ke kerja sama. Atau cuma sebatas hubungan teman seatap saja," papar Reynal. Ia mengulurkan tangan. "Bagaimana, Deal Tuan Dafin?"


Dafin pun menyambutnya. "Deal."


Baiklah, aku akan buktiin kalau aku berhak jadi pemimpin. Akan aku buktiin kalau kemampuanku ini bisa membuat perusahaan tetap berjaya. Akan aku buktiin kesuksesanku bukan karena uang hasil turunan.

__ADS_1


__ADS_2