
...Maafkan, otor demam jadi telat up. Btw jangan lupa like ya gaes. Happy reading....
"Heh! Bekicot botak! Ngapain pegang-pegang tangan Arjun?"
Langkah Kinar begitu lebar. Tatapannya begitu sangar seperti Hulk yang siap mengamuk. Ciat! Ciat! Ciat!
Plak!
Tamparan tangan Kinar melepaskan tangan si bekicot botak—Meli.
"Apa-apaan ini?" Perempuan itu tampak bereaksi. Matanya yang sudah sembab, melotot tajam. Mungkin tak terima Kinar pukul tangannya atau mungkin juga malu karena terlihat menyedihkan.
"Ck! Kamu yang apa-apaan." Kinar mengangkat dagu lalu sengaja mensejajarkan diri di sebelah Arjun. Kode agar Meli paham statusnya. "Kamu itu udah jadi mantannya. Kenapa masih termehek-mehek begitu, sih."
Meli tampak kesal. Ia berdiri dan membersihkan lututnya. "Terus apa hubungannya sama kamu? Emang kamu siapanya Arjun, ha!"
Kinar tampak tertantang. Kue yang ada di tangan ia serahkan ke Arjun lantas menatap nyalang Meli dengan tangan yang sudah bersedekap. "Itu urusan kami, situ gak ada urusan. Urusan situ udah kelar. Jadi pergi sono!"
"Iya, Meli. Mending kamu pulang sekarang. Kita sudah putus. Aku udah maafin kamu. Tapi kalau untuk balikan, aku gak bisa," sela Arjun, bernada datar. Ucapan yang membuat hidung Kinar serasa kembang kempis.
Sementara Meli, jangan ditanya lagi. Mata yang tadinya terlihat sangar langsung mendadak sendu, air matanya meluber ke mana-mana.
Hais! Sialan. Trik klasik. Kinar membatin kesal, ia menggeram. Giginya bahkan bergemelatuk. Please Arjun, jangan goyah, batinnya lagi.
"Gak bisa, Jun. Aku masih sayang sama kamu." Si Meli memasang wajah memelas. "Kalau kamu kasih aku kesempatan lagi, aku janji bakalan setia. Aku masih sayang sama kamu, Jun. Kita udah pacaran bertahun-tahun, masa harus berakhir kek begini."
"Tapi Meli. Aku udah gak ada rasa sama kamu. Kamu udah khianatin aku. Bertahun-tahun aku jaga diri, nahan semuanya, tapi apa?! Kamu malah mengobral yang seharusnya kamu jaga."
Aih! Meli yang ditolak. Kinar yang tersenyum. Dasar nggak ada akhlak. Tertawa di atas air mata mantan pacar calon suami. Eh!
Kinar menyeringai. "Udah denger, 'kan? Arjun itu udah gak ada rasa sama kamu. Jadi, move on, dong."
"Terus apa hubungannya sama kamu, sih. Sewot banget. Ya suka-suka aku, dong, mau ngajakin mantan balikan atau apa kek. Serah-serah aku lah. Kok situ yang sewot."
"Heh lampir bangkotan. Nyadar dong. Udah ditolak juga. Lagian ya. Kalau kamu tanya aku siapa, aku ini calon istrinya dia. Masa depan cemerlangnya dia."
Alis Arjun naik sebelah. Celotehan Kinar sukses membuat senyumnya terukir meski situasi sedang genting.
Sementara Meli, sudah terpancing emosi. Tanpa ragu ia pun melangkah maju, menantang dengan memajukan dua gundukan kecil di dadanya dengan dagu terangkat. "Jangan sok kecakepan. Emang Arjun pernah nembak kamu?" Jeda sejenak. Seringaian Meli tampak meremehkan. "Pasti enggak, 'kan?"
__ADS_1
Wajah sangar Kinar sedikit berubah. Namun, demi harga diri ia tak mau terlihat lemah. Gadis tinggi berbaju hijau itu ikut maju dan menempelkan juga gundukannya di dada Meli. Keduanya melayangkan tatapan paling kejam seantero dunia.
"Sudah, sudah. Jangan berantem. Malu," ucap Arjun seraya menarik badan Kinar. Namun, Meli mulai mendekat lagi.
"Kamu itu bukan tipe-nya dia. Kalian itu gak selevel. Coba kamu liat, penampilan kamu itu udah kayak orang gila." Meli tatap Arjun. "Ayolah, Jun. Kenapa bisa kamu terjebak sama cewe kupret sialan ini, sih. Gak ada bagus-bagusnya."
"Tapi kami udah cipokann, loh," sela Kinar.
Wajah Meli berubah. Kesempatan bagus untuk Kinar melancarkan aksi. Ia rangkul lengan Arjun dengan mesra. "Bahkan dua kali, kami udah ciuman dua kali," lanjut Kinar.
"Arjun, ini beneran. Kamu udah cium dia? Kalian beneran udah jadian? Kok kamu tega giniian aku, Jun?" cecar Meli. Wajahnya memerah menahan marah.
Tak ingin menambah masalah, Arjun pun berucap, "Mending sekarang kamu pulang. Jangan ngelakuin hal yang sia-sia."
"Tapi, Jun ...."
Kini mata Meli terarah ke Kinar. "Ini semua karena kamu. Dasar jalangg sialan. Sini kamu!"
Meli sudah maju, berancang-ancang ingin menjambak Kinar. Beruntung Arjun dengan sigap mencegahnya.
"Cukup, Meli! Jangan melakukan sesuatu yang bikin aku tambah benci. Perselingkuhan kamu itu udah bikin aku sakit hati. Jadi jangan tambahin lagi dengan bertingkah seperti ini," ucap Arjun penuh penekanan. Ia lepas tangan Meli dengan kasar. Pria itu tampak keren di mata Kinar.
Arjun bedecak. Kesabarannya mulai menipis sekarang. "Iseng? Hah! Keisengan kamu itu udah bikin kepercayaan aku hilang. Jadi please, jalani hidupmu sendiri. Jangan ganggu aku ataupun Kinar. Kinar gak ada sangkut pautnya dengan masalah kita."
"Tapi, Jun—"
Ucapan Meli terjeda karena Arjun menarik tangan Kinar dan menuntunnya masuk ke dalam apartemen. Sementara Meli, jangan di tanya lagi, gadis keras kepala itu terdengar berkali-kali menggedor pintu hingga akhirnya berhenti sendiri. Meli pulang membawa kekecewaan.
Di dalam apartemen. Arjun meletakkan kue bawaan Kinar di atas meja lalu menuju kulkas. Pria itu tampak berang, berharap air dingin bisa menetralkan kemarahan. Dua gelas air telah memenuhi perutnya.
"Maafin aku, ya. Karena aku, kamu ikut kebawa-bawa," ucap Arjun seraya mendudukkan diri di sebelah Kinar.
"Gak apa-apa, kok. Demi kamu ... apa si yang enggak." Senyum Kinar tercipta amat manis. "Lupain dia, ya. Hari ini kan kamu ultah. Harusnya kita happy happy."
"Kok kamu tau?" Alis Arjun naik sebelah. Matanya mengikuti pergerakan Kinar yang sudah angkat dari kursi dan menuju dapur. Gadis itu membawa kotak kue dan kado untuk Arjun.
"Ini kado dari aku." Tersenyum, Kinar sodorkan kotak cokelat berpita merah ke tangan Arjun. Pria itu tampak ragu tapi berakhir menyambutnya.
"Apa ini?" tanya Arjun. Perasaannya mendadak tak enak.
__ADS_1
"Buka aja. Itu khusus dari aku. Limited edition, loh. Terus ada tanda sayang aku juga di sana."
Fix. Perasaan Arjun makin tak karuan. Mendengar ada tanda sayang membuatnya horor duluan.
"Ayo buka!" seru Kinar antusias. "Nanti pake, ya."
Alis Arjun makin naik. Namun ia buka juga kotak itu.
Jeng! Jeng! Jeng! Ternyata benar, firasat Arjun tak mengkhianati. Sepasang bokser merk Hermes berwarna merah muda sudah ada di tangannya. Lebih parahnya lagi ada sulaman "Pusaka milik Kinar" di sana.
"Gimana, bagus, 'kan? Aku sendiri loh yang nyulamnya. Pake, dong."
"Hah!" Arjun tersenyum canggung. Ia masukkan lagi benda berwarna merah muda itu ke dalam kotak. "Nanti aja aku makeknya."
Lagian bagaimana bisa menggunakan bokser di depan perempuan.
Astaga! Hadiah macam apa ini? Bokser? Merah muda? Gila, isi otak perempuan ini di luar nalar. Arjun membatin heran. Namun, ada segumpal perasaan syukur yang tak bisa Arjun tampik. Tidak dipungkiri kehadiran gadis itu dan sikap konyolnya memberikan hiburan di hati Arjun yang sedikit beku.
"Arjun, kenapa melamun?" tanya Kinar setelah membuka kotak kue. Ia terheran-heran, pria yang ia cap sebagai calon suaminya itu tampak termenung.
Arjun menggeleng, dan lagi-lagi sebuah pemandangan di depan mata membuatnya mengerjap, heran. "Ini kamu yang bikin?" tanya Arjun setelah melihat kue ulang tahun yang sudah Kinar tata.
"Iya, bagus, 'kan? Maaf aku cuma bisa bikin ini." Kinar hidupkan lilin. "Make a wish dulu baru tiup lilin."
Bagus sih bagus, tapi kan gak cocok. Masa iya kue ulang tahun bentuknya Barbie begini? Dikiranya yang ulang tahun bocah umur lima tahun kali ya. Astaga Kinar.
Arjun pun menuruti. Ia pejamkan mata sebentar lalu meniup lilin yang berwarna pink itu lantas menatap kedua bola mata Kinar. Kalimat "harap maklum" berputar di terus kepalanya. "Makasih banyak. Harusnya kamu gak usah repot."
"Ya gak bisa gitu, dong. Kamu kan pacar aku." Kinar rebahkan dirinya di bahu Arjun. Mendadak nama Meli memenuhi sudut otaknya lagi, apalagi pria di sebelahnya itu pernah mengigau dan menyebut nama perempuan itu.
Kinar angkat kepalanya lalu menatap lekat wajah Arjun. "Aku boleh nanya?"
Arjun mengangguk. "Silakan."
"Kamu masih sayang sama Meli?"
Arjun terdiam sejenak. Helaan napasnya terdengar panjang. "Kenapa?"
"Kalau kamu mau balikan lagi, aku gak apa-apa, kok. Aku rela kamu putusin."
__ADS_1
Arjun terkekeh. Ia jawel hidung Kinar. "Emangnya kita jadian?"