
Di dalam perjalanan, pikiran Chandra terus saja tertuju pada Litania. Meski sudah diingatkan berulang kali, tetap saja pikiran buruk silih berganti menakuti hingga ia merogoh ponsel dan meminta Sri untuk selalu mengawasi Litania.
Sementara itu, di dalam rumah, Litania telah mengganti pakaian. Sekarang kostum ala-ala olahragawan sudah melekat di badan dengan seringaian khas mata-mata menghiasi wajah cantiknya.
"Oke, aku harus bisa masuk ke rumah itu. Aku mau mastiin kalau Livia baik-baik saja," gumamnya seraya menatap penuh keyakinan pada pantulan wajah sendiri di cermin. Namun, suara ketukan membuyarkan, Litania dekati pintu dan telah mendapati Sri berdiri di sana.
"Kenapa, Mbak?" tanya Litania bingung.
"Gak ada apa-apa, Non. Saya cuma mau mastiin keberadaan Non Litan saja. Soalnya tadi Den Chandra bilang, katanya saya harus ngawasin Non Litania selama 24 jam. Ikut ke mana pun Non Litan pergi."
Mendesah panjang, Litania sudah menduga suaminya akan bereaksi berlebihan seperti itu. Hanya saja, ia tetap ingin melanjutkan rencana. Kini matanya memindai ruangan, celingukan mencari dua jagoannya. "Anak-anak ke mana?"
"Mereka lagi main di atas, Non." Jeda beberapa detik, Sri sibuk melihat penampilan Litania dari bawah hingga atas. "Kalau boleh tau, Non Litan mau ke mana?"
"Aku mau olahraga pagi, Mbak. Udah lama gak lari. Badanku gendut, udah banyak lemaknya," jawab Litania berbohong seraya mencubit sedikit lemak yang ada di pinggang.
Lipatan di dahi Sri langsung terbentuk. Siapa pun pasti tak percaya akan statement Litania barusan. "Non Litan gak gemuk, kok. Wong kurus begini."
__ADS_1
"Tapi tetep aja, rasanya badanku udah berat, Mbak ...."
"Kalau gitu saya ikut, ya?"
Litania terdiam. Mencari ide agar Sri tidak mengacaukan rencananya. "Tapi olahraga ini agak berat, loh, Mbak. Apa Mbak Sri yakin bisa ikutin aku?"
Sri mengangguk. Sebenarnya malas untuk olahraga pagi. Namun, perintah tetaplah perintah yang harus dilaksanakan. "Saya yakin, Non. Saya juga udah lama gak lari pagi."
"Kalau gitu, Mbak ganti baju dulu, gih. Masa iya mau lari pagi pake kebaya begini."
Sri terdiam sejenak. Mencoba berpikir apakah bisa mempercayai Litania dan meninggalkannya untuk berganti baju.
Antara percaya dan tidak, Sri pun meninggalkan Litania dengan harapan bahwa majikannya itu akan menunggu. Sesuai perkiraan. Litania menjalankan langkah seribu dan berhenti tepat di pagar rumahnya. Matanya awas memindai rumah berpagar tinggi dan bercat putih. Rumahnya Lita.
"Kenapa banyak orang di sana," gumam Litania pelan seraya pura-pura meregangkan otot tangan. Kakinya perlahan mendekati pagar rumah itu dan terkejut saat mobil Erik keluar dari sana.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Litania hampiri satpam yang sudah ia kenal baik. Pria paruh baya yang mengenakan seragam khas sekuriti yang sedang memegang pagar itu pun mengernyit heran saat melihat Litania mendekat.
__ADS_1
"Bu Litania olahraga pagi?" tanyanya.
"Iya, Pak." Perkataan Litania terjeda, matanya tertuju pada beberapa orang berpakaian serba hitam yang ada di sekitaran halaman dan teras rumah.
"Pak, orang-orang itu habis melayat, ya. Kok pakeannya hitam semua?" tanya Litania pura-pura bodoh. Padahal anak kecil saja sudah bisa menebak bahwa enam orang pria tambun yang berjaga di depan rumah adalah bodyguard.
"Saya gak tau, Bu Litan," balas Aryo. Senyumnya tampak canggung.
"Kalau begitu, apa saya bisa ketemu Lita. Gelang saya hilang. Kayaknya tercecer di sana. Saya yakin jatohnya di ruang tamu."
"Duh! Maaf, Bu. Nyonya Lita lagi gak ada."
"Oh ... yaudah kalo gak ada. Gak apa-apa. Saya bisa cari sendiri."
"Tapi—"
Belum selesai lisan Aryo, Litania sudah menderu melesat berlari menuju pintu rumah Erik. Tentu saja pria-pria tambun itu menghadang.
__ADS_1
"Maaf. Anda tidak boleh masuk."