Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Chandra ngambek


__ADS_3

"Lepasin gak!"


"Enggak, entar kamu kabur."


Tangan Chandra mulai bergerak. Tadinya yang mengalung santun di perut kini perlahan bergerak memasuki baju. Membelai pelan kulit perut Litania yang selembut sutra. Sebuah pergerakan yang menghasilkan erangan laknat dari bibir gadis itu.


Sial. Aku keceplosan. Bodohnya aku. Litania membatin. Ia tepis kembali tangan Chandra.


"Udah, jangan malu-malu gitu. Ayo kita saling menghangatkan. Aku tau, kamu juga kangen, 'kan?"


Chandra tersenyum, tapi berbeda dengan Litania. Gadis itu membulatkan kembali matanya yang sempat terpejam.


Menepis kasar tangan kekar Chandra, Litania menegaskan dalam kata, "Jangan macem-macem. Aku masih marah. Atau mau aku hajar lagi?"


"Ya jangan, dong. Kok tega sama suami sendiri."


"Ya makanya jangan mulai. Aku masih marah sama kamu." Memutar bola matanya, Litania meronta.


"Iya, aku tau."


"Lalu? Kenapa tangan kamu masih gerak-gerak di sini." Litania pukul punggung tangan Chandra.


Chandra terkekeh jenaka. Seolah-olah omelan Litania adalah lelucon untuknya. "Iya aku tau. Kesalahan aku itu fatal. Tapi coba kasih aku kesempatan. Hargai aku dong. Aku sekarang sedang berusaha buat ngilangin emosi kamu." Tangan Chandra kembali mendarat dan makin gencar bergerilya. Dari mengusap bahkan membentuk bulatan-bulatan tak jelas di atas kulit Litania. Memainkan pusar Litania bahkan mencubitnya gemas. Tak hanya itu. Tangan Chandra dengan perlahan dapat meraih dua guntukan sintal yang masih terbalut bra. "Tumben pake ini? Biasanya juga enggak."


Sumpah, Litania menegang. Sentuhan Chandra makin membangkitkan gairah. Ia telan ludah dengan kasar seraya menepis kembali tangan nakal itu. "Aku sekarang lagi gak mood becanda, ya. Jadi tolong tangannya dikondisikan. Lagian bukannya kamu itu lagi sakit? Jadi mending sekarang istirahat aja sana. Jangan ganggu."


Litania berucap ketus. Ia bahkan sengaja bersedekap dada biar Chandra tak melanjutkan aksi liarnya. Namun, bukan Chandra namanya bila tak bisa mendapatkan yang ia inginkan. Dipegangnya pundak Litania dari belakang dan memutarnya dengan cepat. Kini mata mereka saling bersitatap.


"Yang sakit 'kan atas. Yang bawah mah enggak. Malah kalo gak dilampiaskan bikin sakit. Sakit atas sakit bawah. Jadi, kita sama-sama mengobati aja, gimana?" Tersenyum miring, Chandra peluk Litania. Mengusap-usap punggung gadis itu. Makin ke bawah dan kebawah lagi.


Sinting, bangkotan tua ini bener-bener mesum. Dia benar-benar menguji kesabaranku. Awas aja kamu. Aku kerjain biar tau rasa. Litania membatin kesal.


Ide gila Litania muncul saat netra tak sengaja melihat balsem teronggok di sisi meja dekatnya Ia ambil balsem yang super hot itu dan membukanya.

__ADS_1


Rasain. Panas panas deh. Litania cekikikan sebentar. kemudian mulai membalas perlakuan Chandra. Ia belai-belai juga punggung tegap pria itu dengan salep yang begitu banyak di telapak tangan.


"Nah, gitu dong. Jagan malu-malu. Aku kangen tau gak. Sebulan gak anu-anu sama kamu. Rasanya kaya makan tapi gak minum. Seret." Chandra tersenyum. Berpikir kalau Litania juga menginginkannya. Namun, beberapa detik kemudian aroma menyengat dari balsem merasuk ke hidung. Chandra mengernyit, tapi masih melanjutkan olahraga tangannya ke bokong Litania. Beberapa detik kemudian ia merasa aneh Panas menjalar di punggungnya. Panas yang begitu dahsyat. Kenapa kok rasanya panas banget, ya?


Melepaskan pelukan. Ia tatap wajah Litania yang tengah tersenyum. Senyum menyeringai penuh misteri.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Chandra membeliak. Ia pegang pundak belakangnya dan mendapati begitu banyak balsem bersarang di kulit punggungnya itu. "Litan! Kamu ngasih aku balsem!" teriaknya tak percaya.


Litania tersenyum kuda, tapi tak lama akhirnya tawa yang sedari tadi ia tahan pecah. Wajah masam serta tingkah Chandra yang tengah kelabakan melepas semua baju membuatnya tak bisa menahan tawa. Apalagi pria itu terlihat kesusahan mengelap sisa-sia balsem yang masih melekat.


"Kamu keterlaluan Litan!" lanjut Chandra lagi. Keringat bahkan telah keluar dari pori-pori pria itu. Rasa panas dari balsem benar-benar membuat kulitnya terasa terbakar. Diperhatikannya lagi wajah ceria Litania.


***


Pagi harinya di ruang tamu.


Chandra duduk di sofa. Pria berbaju kaus bertulisan Baby boy itu berwajah masam saat melihat Litania baru keluar dari kamar dengan rambut yang masih basah dan tergerai. Sementara Litania, memilih abai dengan ekspresi suaminya itu. Ia tau suaminya itu masih marah dengan insiden pengolesan balsem semalam.


Merebahkan bokongnya di kursi, Litania melirik sekilas lantas berucap, "Semalem tidur di mana?"


Chandra bungkam. Mata masih fokus memperhatikan layar ponsel. Melihat grafik penjualan untuk semua jenis kendaraan dalam satu tahun terkahir. Sedikit ada penurunan. Membuat dahi yang awalnya mulus mendadak berkerut. Pertanyaan Litania pun tak sempat ia jawab karena saking seriusnya.


"Udah minum obat?" lagi, Litania bertanya. Namun tetap tidak digubris Chandra. Pria itu masih fokus dan sesekali menyeruput kopi yang sudah tersaji. Sebuah perlakuan yang membuat darah Litania berdesir.


"Kamu dengerin aku gak, sih!"


Suara lantang Litania mengagetkannya. Ia lirik sekilas wanita itu kemudian berdehem halus. "Emangnya kenapa? Masih peduli?"

__ADS_1


Kini giliran Litania yang bungkam. Dia mau bales aku rupanya. Ayok, aku jabanin. Mau ngambek. Ngambek aja sono. Aku gak peduli.


Berdengkus, Litania angkat dari sofa hendak menuju kamar. Namun, suara ketukan pintu membuatnya memutar arah tumit.


Memanyunkan sedikit bibirnya, Litania samar-samar menggerutu, "Siapa sih yang dateng pagi-pagi begini?"


Pintu terbuka, tampak seorang wanita cantik dengan kemeja biru serta rok hitam selutut, tengah mengembangkan senyum padanya. Wanita dewasa yang berpenampilan rapi dengan rambut terkucir ke belakang. Siapa perempuan ini? Litania membatin di sela-sela tatapan matanya pada wanita itu.


"Maaf, pak Chandra, ada?"


Masih menyipitkan mata, Litania masih memindai wanita dewasa itu dari ujung kaki hingga kepala. Tunggu dulu. Dia ini 'kan perempuan yang di mobil itu.


Seketika emosi kembali menghampiri Litania, ia yang belum sempat sisiran itu pun bersedekap dada. Mengintimidasi wanita yang ada di hadapannya itu dengan tatapan menghunjam. "Apa perlu apa?"


Mengulas senyuman, wanita dewasa itu mengulurkan tangan. "Saya Ara, sekertaris pak Chandra di kantor. Saya ke sini cuma mau minta tanda tangan beliau."


Berdecih, Litania menampakkan wajah tak suka. Jadi, selain sama Rania, dia main gila sama sekertarisnya sendiri. Sialan. Bangkotan tua itu bener-bener keterlaluan.


Litania bekacak pinggang. "Aku peringat—"


Lisan Litania terputus. Chandra entah sejak kapan berdiri di belakang dan menyela perkataannya yang hendak berniat memaki wanita itu.


"Kenapa gak disuruh masuk?"


"Emb itu ... itu ...."


"Ya udah, ayo, Ra. Masuk. Saya mau liat laporannya," ucap Chandra seraya meminggirkan tubuh Litania yang berdiri di tengah lawang.


***


Hallo


Maksih semua yag masih setia nungguin crta ini. Yang sukarela nyumbangin vote nya. Jujur, aku terhura. Ide langsung ngalir gitu aja. maksih ya.

__ADS_1


__ADS_2