
"Apa?"
Anya terbatuk-batuk setelah mengatakan itu. Lagipula bagaimana tidak shock saat mendengar penjelasan Nara. Ternyata semalam saat ia tidur, rumah mereka di goyang masalah besar. Saat tengah malam keluarga Kinar datang dengan keinginan yang mendadak. Mereka ingin Dafan bertanggung jawab pada Nara. Anya benar-benar tak menyangka hubungan Dafan dan Nara berjalan begitu pesat. Itu pun karena kepergok tengah berciuman. Astaga ... sungguh tragedi yang memalukan.
Menelan ludah dan membersihkan sisa-sisa jus yang menempel di bibir, Anya menatap lagi Nara yang tampak gelisah. "Kamu serius? Ini bukan prank, 'kan?" tanya Anya serius.
Nara mengangguk. "Iya, semalam kami berdua disidang habis-habisan sama orang tua kita. Dan keputusannya hanya dua, kalau gak tunangan ya langsung menikah. Tapi karena studi Dafan masih setahun lagi, jadi keluarga kita mutusin buat mengadakan pertunangan dulu. Dan karena waktunya juga mepet, acara pertunangannya dibarenganin dengan resepsi Dafin."
"Wah, Daebak. Bener-bener kejadian langka." Anya berdecak. "Lalu, bagaimana? Apa kamu setuju? Apa Bang Dafan setuju?" cecar Anya yang sudah kadung penasaran. Ia tak menyangka kalau Nara mengajaknya bertemu setelah jam kerja usai adalah karena ini. Yang lebih tidak masuk akal, keluarganya sama sekali tak membahas pasal keributan yang dibuat oleh sang abang. Apa karena ia pergi bekerja terlalu pagi hingga tak sempat bertatap muka dengan keluarga yang lain?
"Dafan setuju, malahan dia yang terlihat bersemangat banget. Entah kesambet apaan dia semalam sampe nyosor duluan." Nara mendesah, Anya yang melihatnya justru terbahak.
"Kenapa ketawa?" ketus Nara.
"Kamu aneh ih. Sekarang nyalahin Dafan. Padahal aku yakin kamu menikmati juga, 'kan?" goda Anya, matanya berkedip-kedip.
__ADS_1
Nara yang digoda seperti itu jadi tersipu, pipinya sudah merona dan merah ketika mengingat pertengkaran yang berakhir sebuah ciuman panas.
"Aku terbawa arus, Nya. Dafan ngaku kalau dia cemburu karena aku deketan sama Ferry," terang Nara, malu-malu.
"Lalu?" tanya Anya lagi, tak sabar, "bagaimana dengan perasaanmu? Apa kamu nerima pertunangan ini?"
Nara mengangguk lesu. "Gimana mau nolak. Wong udah kegep sama mama. Matanya melotot gede banget. Padahal aku yakin kalau masa mudanya lebih hot dari aku," sungutnya kesal.
Tawa Anya mengudara lagi. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan saat dua orang tengah berciuman dan tiba-tiba telinga dipelintir oleh orang tua.
Tawa Anya sirna. Ia meletakkan tangan di atas meja dan menatap Nara makin dekat. Tak di pungkiri bahwa dirinya sedikit iri. Padahal baru beberapa hari yang lalu ia mengatakan akan segera menikah. Eh sekarang Nara yang akan menikah, ya ... meskipun masih setahun lagi. Nasib benar-benar mempermainkan mereka.
"Kesel kenapa? Bukannya kalian saling suka. Harusnya bersyukur, dong. Jalan kalian dipermudah. Gak kayak aku, masih digantung kayak jemuran. Nggak kering-kering. Apek," sungut Anya lalu melihat sekeliling. Situasi restoran tempatnya bekerja masih saja ramai.
Nara mendesah. Ia sama sekali tidak peduli dengan celotehan itu hingga membuat Anya kembali menatapnya yang mengaduk isi gelas. "Ayo bilang sama aku, kenapa wajah kamu begitu? Apa kamu nggak seneng dengan pertunangan ini? Kamu terpaksa?"
__ADS_1
"Bukan begitu, Nya. Kamu kan tau bagaimana perasaan aku sama Dafan," balas Nara, cepat.
Anya mengangguk antusias. Sebenarnya dulu ia saksi saat Nara mengatakan akan move on dari Dafan. Dan sekarang terbukti, gadis yang ada di depannya itu telah kembali masuk dalam pesona sang abang.
"Ayo cerita. Kenapa wajah kamu gitu?" desak Anya yang semakin penasaran.
"Sebenarnya aku masih sayang sama Dafan. Aku seneng banget pas para orang tua nyuruh kita baru-buru nikah. Aku nggak bisa bohong, aku senang hampir mau jingkrak-jingkrak. Tapi aku keinget Ferry."
"Lah, kenapa dengan Ferry?" tanya Anya, matanya menyipit menyelidik. "Apa jangan-jangan Ferry nembak kamu?" terkanya kemudian.
Nara mengangguk lesu. Anya yang tahu kemelut cinta itu ikutan mendesah panjang dan menyandarkan punggung, lantas menatap Nara yang tengah menopang wajah dengan sebelah tangan.
"Kalau perasaanmu sama Ferry bagaimana?" lanjut Anya.
*** like komen vote jgn lupa.
__ADS_1