
Litania buka kaca mobil dan membiarkan angin menerpa wajah. Ia lega setelah berziarah ke makam kedua orang tuanya. Beban yang selama ini tertahan akhirnya terangkat.
Memejamkan mata, Litania mengukir senyuman, membuat Chandra yang ada di balik kemudi mulai penasaran.
"Sayang, kamu kenapa senyum-senyum begitu."
Litania menggeleng, senyum merekah kembali terukir. Hari ini dendamnya juga sudah terbalaskan. Kebencian yang mendarah daging pada tiga gadis itu telah luntur. Akhirnya, ia bisa bernapas lega.
"Kok malah senyum. Dijawab, dong," protes Chandra, pria bersurai klimis ini tampak kesal tapi sebenarnya tidak. Biar bagaimanapun senyum Litania adalah tujuannya dan ia harap senyum itu akan terus ada sampai kapan pun.
"Aku bahagia. Aku beruntung punya kamu. Ternyata nikah sama kamu itu banyak nilai plus-nya," ucap Litania ambigu. Ucapan yang jelas membuat Chandra mengernyitkan dahi.
"Aku jadi penasaran, emangnya ada apaan, sih."
Litania menggidikkan bahu seraya mencebikkan bibir. "Ada, deh. Kamu mau tahu aja, apa mau tau banget," ucap Litania seraya cekikikan. Ia tutup kaca jendela mobil dan kembali menatap serius wajah Chandra. "Ngomong-ngomong entar malam kita mau ke mana?"
Kini Chandra yang tersenyum penuh misteri. "Ada, deh. Pokoknya rahasia. Kamu mau tau aja apa mau tau banget," godanya.
***
"Bisa gak tutup matanya ini di buka dulu? Aku sesak, gak bisa liat," protes Litania. Dirinya dituntun bak orang buta, dan ia sungguh kesal akan hal itu. "Kepala aku juga pusing, emang kejutannya apaan, sih. Ribet banget."
"Udah, jangan banyak protes, nurut aja dulu, entar juga tau," balas Chandra. Bibirnya yang tebal masih saja mengulas senyuman dengan tangan yang tetap setia memegang pundak Litania.
Sumpah. Dada Litania berdetak tak karuan. Perilaku misterius Chandra membuatnya berkali-kali bertanya dalam benak. Sebenernya kejutannya apaan, ya. Kok aku makin penasaran. Ah, moga aja bukan novel.
"Aku gak dikasih novel lagi, 'kan?"
Chandra terkekeh. "Iya, nggak. Aku enggak ngasih novel, kok. Tapi kalau aku kasih VCD Super Junior mau nggak?"
Litania menggeleng. "Ngapain? Aku udah punya banyak, kok. Kalau mau ngasih kejutan itu yang wah, yang bikin aku senang."
__ADS_1
Litania bersungut lagi. Chandra yang gemas langsung mencubit pipi istrinya yang cerewet itu. "Iya ... iya, ini aku kasih kejutan yang pasti bakalan bikin kamu klepek-klepek."
Litania berdecak. "Awas ya kalau nggak romantis, enggak aku kasih jatah setahun," ancamnya.
"Udah, jangan banyak ngomel, sekarang kita udah sampai, kok." Chandra tarik sebuah kursi untuk Litania duduk lalu membuka ikatan kepala yang menutup mata.
Jeng jeng jeng. Mata Litania membulat. Ternyata dirinya tengah berada di sebuah kafe yang begitu megah dan mewah. Sebuah ruangan yang disulap begitu indahnya—lampu meremang dengan cahaya lilin yang ada di beberapa titik, belum lagi begitu banyak balon yang menutupi lantai juga langit-langit kafe. Litania terkesiap, apalagi di hadapannya sekarang telah tersusun beberapa macam menu hidangan makan malam dengan lilin yang juga sudah menyala. Tak tertinggal pula sebuah buket mawar merah di atas meja.
Meraih bunga itu, Litania menghirup aromanya. Wajahnya yang memang cantik sekarang makin berseri saja. Ia tatap mata teduh Chandra. "Ini makan malamnya mewah banget. Ini kamu yang bikin? ini semua kamu yang siapin?"
"Iya demi kamu, aku bakalan lakuin apa aja biar kamu senang."
"Gombal." Litania pukul dada bidang suaminya itu lantas kembali mengedarkan pandangan. Suasana kafe yang sepi dan sedikit gelap membuatnya terharu. Ternyata suami tua-nya itu juga bisa bersikap romantis.
Tanpa di duga, Chandra berlutut dengan menekuk satu kaki dan kaki lainnya menopang berat badan.
Litania jelas kaget dan refleks mengedarkan pandangan ke sekitar. Ia malu kalau ada yang lihat keromantisan suaminya itu. Lebih tepatnya salah tingkah sendiri. "Kamu apa-apaan, sih."
"Ya Tuhan." Mulut Litania menganga. Ia ambil benda bulat itu dan menatapnya dengan mata berbinar. "Ini cantik banget."
Chandra lagi-lagi tersenyum. Ia ambil barang kecil itu lalu memasukkannya ke jari manis Litania, lantas mengecup punggung tangan itu. "Perhiasan apa pun gak akan bisa melawan pesonamu."
Lagi, Litania menyipitkan mata, tetapi sedetik kemudian senyumnya terukir dengan jelas. Ia belai cincin yang sudah tersemat di jari manisnya. Benda cantik berwarna silver dengan batu permata di atasnya. "Ini beneran cantik. Aku kira bakalan dapat hadiah yang aneh-aneh."
Chandra terkekeh, ia raih kedua belah tangan Litania dan menggenggamnya. "Maafkan aku. Aku gak bisa bikin lamaran yang romantis ala ala Drakor yang sering kamu tonton. Tapi aku ngelakuin ini udah dari jauh hari. Aku bahkan ngerepotin Ara dan juga Arju. Dan aku harap kamu menyukai kejutan ini."
Litania menggangguk. Hari ini begitu luar biasa baginya. Hari yang panjang dengan banyak kejutan. Litania terharu luar biasa. Air mata pun menjadi pelengkap rasa syukur itu. Bagaimana ia bisa menahan rasa haru saat hati bergejolak luar biasa? Sumpah. Kebahagiaannya tiada tara kali ini.
"Dan ini ada satu lagi kejutan buat kamu," ucap Chandra lagi dengan posisi yang masih sama. Chandra jentikan jemarinya hingga seseorang yang berpakaian rapi muncul dari arah kegelapan. Pria muda membawa nampan yang berisikan sebuah map.
"Apalagi ini?" Mengernyit, Litania memandang orang itu dengan tatapan heran lalu kembali mengalihkan matanya ke arah Chandra. "Ini kejutan lagi?" tanyanya.
__ADS_1
Chandra mengangguk kemudian meraih map coklat itu lantas memberikannya kepada Litania. "Bukalah. Ini hadiah buat kamu. Hadiah karena udah mau maafin aku, menerima semua kesalahanku dan sekarang mau mengandung anakku."
Ya Tuhan, kebahagiaan Litania makin berkali lipat. Ingin rasanya ia melompat kegirangan. Namun, hanya mata yang mampu bekerja sekarang. Mengerjap dengan cepat saat mengetahui apa isi dari map itu. Tampak beberapa lembar kertas—bukti pembelian gedung—dan beberapa foto dengan banyak pakaian tergantung di dalamnya.
"Ini beneran buat aku," tanyanya.
"Iya, ini khusus buat kamu. Aku ngabulin permintaan kamu. Aku hadiahkan sebuah gedung untuk kamu membuka bisnis. Kamu bilang mau buka toko baju, 'kan?"
Litania mengangguk cepat. Air mata bahkan meluruh tak terkendali.
"Tapi ini belum finish. Pertama-tama kamu harus belajar dari ahlinya dulu. Aku bakalan minta tolong Ara buat bantuin kamu di sana sebelum kamu paham betul bagaimana caranya menjalankan usaha. Kamu nggak pa-pa, 'kan?"
Litania kembali mengangguk. Tak masalah baginya karena memang dirinya masih belum terlalu paham soal bisnis dan tentu saja memerlukan bimbingan dari orang yang memang berkecimpung di bidangnya. Ara, wanita cantik itu pasti bisa membantunya.
Litania peluk tubuh Chandra. "Makasih banyak. Kamu beneran ngabulin apa yang aku mau. Aku terharu. Aku bahagia."
Litania lepas pelukan lalu mengelap jejak air matanya. Mata mereka bersitatap dalam cahaya remang. Suasan romantis yang membuat Chandra begitu ingin meraih bibir kenyal Litania.
"Aku sayang kamu, Litan. Aku bakalan kasih apa pun yang kamu mau."
Mendekatkan wajahnya sedikit demi sedikit, Chandra meraih tengkuk Litania berharap dapat mendaratkan bibirnya di bibir Litania. Namun, tanpa di duga gadis itu malah menahan mulutnya dengan telapak tangan.
Chandra mengernyit. Ia jauhkan wajahnya sedikit. "Kenapa?"
"Aku gak mau buka toko baju."
"Lalu?"
"Aku mau buka toko bunga."
***
__ADS_1
Hehehe. Aku udah krezi up sehari 2 eps loh. Jadi minta vote nya ya wan kawan. Satu episode kalian vote 10 poin aja aku udah seneng kok. Soalnya aku lagi ikutan kompetisi. Berharap jadi pemenangnya. Kalo menang, karya aku bisa dipromoin sama pihak NT dan nongol di Baner. Mohon bantuannya ya.🙏