Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Litania goyah


__ADS_3

Mengistirahatkan diri di atas kasur, Litania menatap plafon kamar yang berwarna putih tulang. Lampu gantung yang berbentuk untaian kristal, menjadi titik fokusnya.


Memiringkan tubuh, gadis beriris hitam itu menarik napas dalam. Tampak sejak kegelisahan dalam pergerakan bola matanya.


Sebenernya apa rahasia Bang Chandra, ya? Kok aku jadi penasaran. Litania membatin. Ia perhatikan punggung tegap Chandra yang tengah membuka kemeja. Begitu tampak atletis dengan otot yang menonjol.


Tersenyum. Entah kemasukan setan dari mana Litania bisa melihat dirinya di sana. Sosok wanita yang mirip dengannya tengah membelai dan bergelayut mesra di tubuh kekar pria itu. Ia bahkan bisa melihat jelas dirinya tertawa genit seraya menekan perut kotak-kotak Chandra dengan jari telunjuk.


Gila, aku pasti gila. Sebenernya aku ngebayangin apaan, sih. Mengerjapkan mata seraya mencubit tangan sendiri, Litania mencoba meraih kembali akal sehatnya. Kenapa aku jadi mesum begini? Lagi, Litania membatin, merutuk diri sendiri.


Kembali mengarahkan mata ke langit-langit kamar, Litania menghela napas berat.


Jangan terlalu percaya padanya. Dia itu playboy. Dia itu cuma manfaatin kamu. Pacarnya banyak. Dia bahkan udah punya anak, loh. Kamu percaya deh sama aku. Aku saranin kamu hati-hati sama dia. Dia itu brengsek. Kamu pasti nyesel karna udah nikah sama dia.


Ah, perkataan Leo terngiang terus di telinga. Perkataan yang lumayan menggoyahkan kemantapan hati. Keraguan akan ketulusan Chandra pun dengan erat memeluk hati gadis bergaun merah itu.


Ya Tuhan. Aku bener-benar gila. Aku gak bisa tenang kalau terus penasaran kek gini. Apa bener yang dikatakan Leo? Apa si singa licik itu bisa aku percaya? Atau, haruskah aku percaya sama Bang Chandra? Tapi gimana aku bisa percaya? Dia aja gak pernah cerita soal masa lalunya.


Sementara itu, Chandra yang baru keluar dari kamar mandi, keheranan akan sikap Litania. Gadis itu lebih banyak diam semenjak pulang dari pesta.


"Ngelamun apaan?" tanya Chandra yang duduk di sisi ranjang. Menatap Litania dengan alis yang tertaut, Chandra kembali melanjutkan kata, "Terus kenapa dari tadi kamu diem aja?"


Tersenyum kecut, Litania angkat dari rebahan. Ia tatap fokus pria yang tengah bertelanjang dada dengan handuk terkalung di leher. "Bang, aku boleh nanya?"


"Apaan, tanya aja," jawab Chandra seraya menggosok rambutnya yang basah.


"Emb ... emb ... itu ...." Litania menggantung lisan. Ingin menyuarakan isi hati, tapi pita suara serasa diikat mati.


Tak sabar, Chandra mendegkus samar. Ia lihat dengan seksama gelagat Litania yang sedikit berbeda. "Apaan, sih. Ham hem ham hem, kamu mau jadi Nisa Sabyan?"

__ADS_1


Lagi, Litania hanya mampu tersenyum canggung. Ia angkat dari sisi ranjang dan mengambil handuk yang masih terkalung di leher suaminya itu. "Gak jadi, deh. Aku lupa mau nanya apa."


"Lah, kok."


Memutar tumit, Litania mencoba lari dari pertanyaan. "Handuknya aku pinjem, ya? Aku mau mandi."


****


Pukul satu malam.


Netra Litania masih enggan untuk terpejam. Ia hanya mengerjap berkali-kali, menatap langit-langit kamar yang ada di atas tempat tidur mereka. Resah karena bisikan Leo. Makin ingin melupakan, makin sering perkataan itu keluar masuk ke telinga. Perkataan yang tentu saja menyisakan senyar ketidaknyamanan di hati.


"Ah, dasar Om-om sialan. Bisa-bisanya dia bohong kek gitu. Sekarang aku jadi gak bisa tidur, 'kan." Litania bergumam geram. Ia remas selimut yang melingkar di dada.


Sedetik kemudian, Litania kembali berdengkus. "Dasar demit Ancol. Kutu kupret. Oncom basi. Awas aja kalo ketemu lagi. Bakal aku cakar tu gusi. Enak aja ngejelekin Bang kocanku ini," lanjutnya. Ia tatap wajah lelah Chandra yang terlelap. "Bang kocanku ini gak akan sebrengsek itu, 'kan?"


"Kamu kenapa gelisah?"


Sial. Suara serak Chandra membuat bulu kuduk Litania meremang semua. Gadis itu pun mencoba melepaskan kalungan tangan Chandra. "Jangan peluk-peluk, dong. Aku geli."


Makin merapatkan diri, Chandra sengaja mengabaikan Litania yang meronta. Ia malah mengunci pergerakan Litania dengan kakinya. "Jawab dulu. Kamu mikirin apa sampe gak bisa tidur gitu, hem?"


Berdebar, jantung Litania serasa ingin keluar. Embusan napas Chandra yang menerpa kulit serta suara serak pria itu, entah mengapa membangkitkan sesuatu dari dalam diri. Rasa yang ia tak tau apa itu, tapi yang jelas sangat mengganggu. Seperti orang sawanan. Jantung berdebar, keringat dingin mengucur dan semua kulit serasa berdenyut.


Ah sial, kenapa denganku ini? Litania membatin kesal. "Bisa gak ngomongnya jangan peluk-peluk. Aku gak nyaman kalo dipeluk dari belakang kek gini," pinta Litania lagi.


"Hm, gak nyaman, ya. Kalo kek gini gimana?"


Dalam sekejap, Litania telah berada dalam dekapan Chandra. Tubuh mereka saling menempel satu sama lain. Tak ada jarak. Hanya ada tangan tertekuk Litania yang menjadi penengah.

__ADS_1


"Lah, kok sekarang gini?" protes Litania. Ia meronta, mencoba lepas dri pelukan Chandra.


"Udah, jangan gerak-gerak mulu. Entar ada yang hidup."


Mengernyit, Litania dongakkan kepalanya menatap Chandra yang memejamkan mata. "Apanya yang hidup?"


Terkekeh, Chandra buka matanya dengan perlahan. "Jawab dulu, kamu kenapa gak bisa tidur?" tanyanya seraya menipiskan bibir. Sementara pelukan, makin erat saja. "Ayo cerita."


Memejamkan mata sebentar, Litania mencoba memberanikan diri, menyuarakan keresahan yang mendera sejak obrolannya dengan si Leo. "Bang Chandra, kamu pernah pacaran? Terus berapa lama? Sejauh apa hubungan kalian? Apa sampai ke ranjang? Apa kamu punya anak di luar nikah?" Litania mencecar Chandra dengan pertanyaan.


"Kok nanyanya gitu? Sapa yang bilang? Apa Leo? Dia bilang apa sama kamu?" Kini balik Chandra yang mencecar pertanyaan. Ia tatap manik liar bola mata Litania. "Jangan percaya dia. Dia itu cuma mau mempermainkan kamu."


"Tapi, aku juga mau tau."


Melepaskan pelukan, Chandra mengubah posisinya menjadi duduk. Tampak jelas rahang persegi itu tengah mengatup kuat. Aura dingin pun terpancar secara tak kasatmata. Namun jelas terasa. Begitu horor hingga Litania menelan saliva berkali-kali. Baru kali ini melihat perubahan ekspresi Chandra yang begitu signifikan. Garang dan tampak tak berperasaan.


"Ayo. Jawab dulu." Litania mendesak. Ia goyang-goyang paha suaminya itu. Berharap mendapat jawaban yang memuaskan. Tak dipungkiri, ia inginkan sanggahan. Inginkan jawaban kalau hanya dirinyalah yang ada di hati pria itu.


Namun, percuma. Tak ada jawaban hingga Litania memikirkan hal negatif sesuka hati. Pemikiran jahat yang membuatnya tak sadar menitikkan air mata. "Kamu jahat. Kenapa nikah sama aku kalo udah punya kekasih. Terus gimana nasib anak kamu? Harusnya bilang dari awal kalau kamu terpaksa nikah sama aku. Bilang sejak awal kalau kamu gak mau nikah sama aku. Bilang terus terang kalau—"


Ocehan Litania terhenti. Gadis itu tersentak saat mulut telah dibungkam mesra oleh Chandra. Pria itu tak memberi waktu lebih untuk Litania sekedar menyelesaikan lisan.


"Aku gak punya anak. Tapi aku pengen punya anak dari kamu."


Membelakak. Pikiran Litania langsung terkoneksi setelah mendengar bisikan sensual Chandra. "Tapi aku gak mau—"


Lagi, Chandra tak membiarkan Litania berkata lebih jauh. Ia raup bibir cerewet gadis itu dengan rakus.


"Jangan nolak. Aku udah gak bisa nahan. Rasanya udah ke ubun-ubun."

__ADS_1


__ADS_2