
Tibalah mereka di mansion megah milik keluarga Darmawan, orang yang bisa dibilang paling berpengaruh di perusahaan. Darmawan dan istrinya—Maryam—memiliki saham yang bisa dikatakan lumayan tak tergoyahkan. Andai keluarga itu tak memiliki pengaruh, mungkin sudah lama Dafin tendang mengingat betapa pedasnya mulut Maryam kala menudingnya.
Mengembuskan napas kasar, Dafin benarkan lagi dasi yang sebenarnya sudah rapi. Niat hati sebenarnya tak ingin datang. Namun, entah kemasukan setan apa ia jadi mengusulkan untuk hadir. Ia benar-benar tak bisa memfilter ucapan kala berhadapan dengan Fia tadi siang. Keinginannya untuk menahan Fia agar tak bertemu Dafan membuatnya terjebak.
Pintu terbuka, Fia yang sudah cantik tetap berdiri menyambut sang pemberi gaji keluar dari mobil. Hari ini tampilannya sangat anggun—gaun putih selutut tanpa lengan, dengan rambut yang dibuat ikal bergantung. Ia terlihat cantik, gaun itu begitu pas ditubuhnya yang langsing.
"Bagaimana, apa saya sudah rapi?" tanya Dafin tanpa melihat Fia. Matanya fokus ke depan dan sesekali melihat sekitar. Ia tak menyangka ternyata ada begitu banyak tamu yang hadir di pesta pernikahan anak sulung Darmawan.
Fia mengangguk setelah memindai penampilan Dafin. "Iya, Pak. Saya rasa tidak ada yang kurang."
"Baiklah, ayo kita ke sana. Habis menampakkan diri kita langsung pulang."
Fia mendelik sekilas. Kalau gitu kenapa repot-repot datang? Bukankah hadiah pernikahan juga sudah dikirimkan? Aku bahkan pusing tujuh keliling cari alasan karena dia menolak datang. Heran, apa coba yang mau dia lakukan?
Baru saja selesai bersungut dalam hati, tiba-tiba ponselnya yang ada dalam tas tangan berbunyi. Fia kembali melirik Dafin. Pria itu melotot melihatnya.
"Maaf, Pak. Saya permisi mau jawab telepon dulu," pamit Fia. Namun, belum juga langkahnya terealisasikan, Dafin malah mencekal lengannya. Fia jelas kaget dan membalik diri.
"Siapa? Penting?" tanya Dafin bernada datar.
Fia bergeming. Dua kata itu begitu menjengkelkan untuk didengar, apalagi saat melihat ekspresi Dafin yang seperti sengaja membuatnya kesal.
"Dari Kevin," balas Fia.
__ADS_1
"Kalau gitu, silent ponsel kamu. Nanti saja kamu telepon dia balik kalau urusan kita di sini sudah selesai. Sekarang lebih baik kita cepetan masuk."
Fia menghela napas dan berakhir menuruti perintah. Hari ini keinginan Dafin serta nada bicaranya sangat tidak menyenangkan untuk didengar. Bos-nya itu seperti ingin mencari gara-gara.
Keduanya sama-sama masuk dengan berjalan beriringan. Di sana mereka di sambut dengan tatapan keheranan dari pengunjung lain, tapi tak jarang juga ada yang menunduk segan.
"Wah, saya gak nyangka Pak Dafin mau datang. Bukankah katanya Anda punya urusan di luar kota?" ucap wanita paruh baya dengan kebaya berwarna keemasan. Ia melirik sekilas Fia lalu kembali melihat Dafin. Senyum wanita itu tercipta tapi entah kenapa tak terlihat tulus sama sekali di mata Dafin.
"Rencananya memang begitu, tapi saya pikir-pikir lagi sayang jika melewatkan pesta mewah seperti ini?" balas Dafin, ia tersenyum dan tentu saja bukan senyum tulus. Ia masih kesal pada Maryam.
"Kalau begitu saya merasa terhormat. Dan saya harap Anda menikmati pesta ini. Oiya, tunangan Anda kenapa tidak hadir?" balas Maryam lagi.
"Sisi? Maaf dia punya urusan dan gak bisa hadir. Jadi mahasiswa semester akhir membuatnya super sibuk dibanding kita yang pengusaha. Anda pasti tau itu. Harap dimaklumi," balas Dafin lalu terkekeh garing.
"Kamu sangat cantik hari ini. Saya pangling. Ternyata benar kata orang, apa yang melekat di badan bisa mempengaruhi pandangan orang lain," ujarnya lagi.
"Terima kasih atas pujiannya Bu Maryam," balas Fia. Ia hanya bisa tersenyum canggung, ucapan Maryam entah kenapa serasa ejekan di telinga.
"Saya beneran, kamu cantik malam ini. Pantes saja keponakan saya selalu memuji kamu."
Alis Dafin naik sebelah. Ia tak tahan untuk tidak bertanya, "Keponakan? Memangnya Bu Maryam punya keponakan?"
"Iya, saya punya keponakan. Namanya Rito. Dia menjabat sebagai ketua tim periklanan."
__ADS_1
"Rito?" ulang Dafin dan Fia serentak. Fia melongo. Sementara Dafin, mimik wajahnya berubah total—tak senang. Ia ingat betul cerita tadi siang. Sungguh kebetulan yang mengerikan.
"Iya, namanya Rito. Dia diangkat jadi ketua tim periklanan belum lama ini. Tapi Pak Dafin tenang saja. Dia bekerja di sana murni karena kemampuannya sendiri. Saya benar-benar tidak ada andil dalam perekrutan dia. Bahkan Rito sendiri yang gak mau ada embel-embel nama saya," jelas Maryam, ia tersenyum jemawa. "Kalau gitu, saya pamit. Saya mau menyapa para tamu yang lain. Saya harap pesta sukuran kecil-kecilan ini bisa menghibur kalian."
Maryam pun berlalu meninggalkan Dafin dan Fia begitu saja.
"Kamu kenal sama Rito?" tanya Dafin setelah berdeham sekali. Ia lihat Fia sekilas lalu berjalan menuju prasmanan. Fia mengikuti dari belakang.
"Kenal, saya beberapa kali berurusan sama dia. Cuma saya gak nyangka kalau dia keponakan Bu Maryam," balas Fia sekenanya.
Dafin manggut-manggut. Ia ambil gelas berisi anggur merah dari pelayan yang kebetulan lewat, lalu meminumnya dengan perlahan. "Besok saya mau kamu buat pengumuman kalau dalam satu perusahaan gak boleh ada yang berkencan. Peraturannya mulai diberlakukan besok. Catat itu," ujar Dafin penuh penekan.
Sekonyong-konyongnya Fia langsung melongo. Mulutnya bahkan sempat terbuka beberapa detik. "T-tapi, Pak. Bukankah itu melanggar hak asasi manusia?" tanya Fia. Ia urung mengambil kue karena kaget mendengar perintah Dafin barusan.
Dafin menggelang. Ia letak gelasnya ke atas meja. "Itu tergantung persepsi masing-masing. Bagi saya itu cara paling efektif membasmi yang namanya baper. Entar kalau bermasalah dengan pasangan imbasnya ke kinerja mereka. Saya gak mau ada yang seperti itu. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Dan kalau mereka masih kekeh juga. Salah satu harus ada yang keluar. Catat itu."
"T-tapi, Pak ...."
"No sanggahan, Fia."
Fia berakhir mengiyakan meski dalam hati dongkol dengan peraturan yang Dafin cetuskan tadi. Ia ambil beberapa cap cake lalu memakannya. Sumpah, ia perlu asupan gula untuk menetralkan emosi yang sudah meletup-letup karena Dafin. Ia terus memakan kue itu tanpa bisa merasakan manis hingga suara dari belakang mengagetkan.
"Fia, aku gak nyangka kita ketemu di sini."
__ADS_1
Fia melongo, sedangkan Dafin berdengkus. Wajahnya mendadak tak enak dilihat.