
Disaat Chandra jumpalitan di dalam kamarnya, ada sosok pria yang juga gelisah di atas kasur. Arjun, pria muda nan gagah berkali-kali mengembuskan napas berat. Pikiran menerawang jauh. Setelah lamarannya ditolak, ia malah semakin merindukan Kinar. Gadis yang sudah mencuri hatinya sejak lima tahun silam.
"Kinar, kamu lagi apa sekarang?" lirihnya diikuti desahan panjang.
Tiga hari sebelumnya.
"Maaf, saya masih belum bisa ngelepasin Kinar."
Frans berucap mantap. Wajah datar bagai triplek. Cerutu ia hisap dalam lalu mengembuskan asapnya pelan. Mata yang sudah keriput memindai Arjun dari kepala hingga kaki. Melihat dengan seksama pria yang baru saja mengatakan mencintai sang anak dan ingin menikahinya.
Sementara Arjun, bergeming dengan bola mata mengerjap. Sungguh tak menyangka permintaanya untuk meminang Kinar ditolak mentah-mentah oleh Frans. Padahal dalam hati sudah yakin akan melabuhkan pilihan hati pada wanita yang kini duduk bersebelahan dengannya.
"Tapi kenapa, Pa?" Kinar tampak shock, ia lihat wajah tak nyaman Arjun lalu kembali menatap fokus ke depan—tepat di mana sang ayah duduk dengan kaki menyilang. Asap tipis menengahi tatapan tak percaya itu.
Frans membalas tatapan Kinar tak kalah dalam. "Karena Papa punya standar tersendiri soal menantu. Dan dia." Ucapan Frans terjeda. Matanya kembali memindai wajah Arjun. "Dia tampan, dia juga sepertinya pekerja keras. Tapi bagi Papa dia belum layak buat jadi suami kamu."
__ADS_1
"Papa, kok ngomongnya gitu, sih? Bukannya dulu Papa setuju aku nikah sama dia?"
"Itu dulu, sekarang beda."
"Tapi, Pa—" Ucapan Kinar terhenti saat Frans mendadak berdiri. Matanya tertuju pada Arjun yang juga sudah beranjak dari sofa.
"Maaf, saya belum bisa ngelepasin Kinar buat kamu. Datanglah lain kali, dan yakinkan saya kenapa saya harus nerima kamu sebagai menantu. Dan sebutkan apa kelebihan kamu dari pria-pria yang ada di luaran sana. Lalu, siapkan alasan kenapa saya harus lepasin Kinar untuk hidup sama kamu."
Argh!
Hening, senyap hingga sebuah notifikasi pesan membuyarkan pikirannya yang tengah galau.
Tertera nama Kinar di sana. Senyum Arjun terbit bagai bulan sabit.
[Arjun, kamu sudah tidur? Aku belum, Jun. Aku kangen kamu. Mataku gak bisa terpejam. Aku ingin sekali ketemu kamu, tapi papa gak bolehin aku keluar rumah. Aku dijaga ketat, Jun. Banyak penjaga di rumah ini. Jun ... tolong bawa aku. Kita kawin lari aja, ya?]
__ADS_1
Ada gambar menangis di ujung kalimat itu. Bahkan ada gambar hati retak di sana.
[Aku juga kangen kamu. Lebih baik sekarang kamu tidur. Kalau gak bisa tidur, paksain biar bisa tidur. Kalau gak bisa juga, pura-pura aja tidur. Lama-lama juga bakalan tidur beneran.] send.
Tak lama, pesan balasan dari Kinar, masuk.
[Kok gitu, sih. Aku serius, Jun. Kita kawin lari, yukh. Demi kamu, aku rela hidup sederhana. Miskin pun aku gak bakalan nyesel. Yang penting kita bisa sama-sama. Mau, yah.]
Menahan napas sedikit lama, Arjun pun lantas mengembuskan dengan pelan. Sungguh, demi apa pun yang ada di muka bumi, ia juga rasanya bisa gila menahan rindu. Namun, akal sehat harus tetap digunakan. Ia balas pesan Kinar.
[Makasih Kinar. Tapi maaf. Aku gak bisa. Aku gak rela liat kamu menderita. Terlebih lagi aku gak mau buat kamu jadi anak durhaka. Lagian, menurut aku, papa kamu ada benarnya. Dia pasti kaget saat liat orang asing tiba-tiba datang dan langsung melamar anaknya. Malah aneh kalau dia langsung nerima.] send.
Kinar. [Tapi, Jun. Aku udah lama nunggu. Aku gak kuat kalau harus nunggu lagi. Kita kawin lari aja deh. Ya ya ya ya. Puhliiiis]
Senyum getir Arjun tercipta. Bagaimanapun ia paham perasaan Kinar. Ya, karena dirinya juga tengah mengalami. Rindu, rindu itu berat.
__ADS_1
[Sabarlah. Jodoh gak akan ke mana. Lagian kita bisa melewati waktu selama itu dengan baik. Jadi anggap aja ini rintangan sebelum ke pelaminan. Aku juga rencananya besok akan ke rumah kamu lagi. Ketemu papa kamu, terus melamar kamu lagi. Doain aku ya.]