Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Ninabobo si Albert.


__ADS_3

Saat Litania dan Chandra berbahagia menikmati babymoon mereka, ada Arjun yang tengah merana. Perasaannya tak karuan, hari Minggu menjadi hari paling tak disuka. Lebih senang dikantor ketimbang cuma berdiam diri di apertemen.


Kantor? Ya, Arjun sudah bekerja di kantor Chandra sekarang. Bekerja secara profesional dan dibimbing langsung oleh CMO—Chief Marketing Officer yang berpengalaman. Posisi yang lumayan penting, diantaranya mengurusi kehumasan, divisi riset pasar dan pencitraan perusahaan agar menarik minat investor.


Sebenarnya ia juga heran. Tak lama setelah Kinar pergi dirinya sudah ditugaskan di sana. Padahal di dalam perjanjian kontrak kerja, dirinya hanya menjadi Aspri—asisten pribadi—Chandra.


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.


Bolak balik ia putar tubuh—mencari posisi nyaman—agar bisa istirahat, tapi tetap saja percuma. Bayang gadis yang selalu melamarnya dulu makin memenuhi benak.


"Argh! Aku merindukannya? Aku kangen dia. Gadis itu memang bener-bener sudah membuatku gila."


Mendesah frustrasi, Arjun duduk dan menyugar rambut ke belakang. Makin dipikirkan makin ia merindukan. Apalagi saat sendiri seperti ini. Saat sendiri selalu mengingatkannya pada Kinar. Merindukan seseorang itu berat. Menahan rindu sama saja merapuhkan otak. Semua indramu lumpuh. Berganti dengan halusinasi yang tak ada habisnya.


"Arjun, kita nikah, yuk!"


Arjun berjengket, suara yang ... terdengar nyata. Suara cempreng tapi sedikit renyah itu jelas terdengar. Akan tetapi, wajahnya kembali melemas. Sudah pasti itu hanya halusinasi, buktinya tak ada siapapun di dekatnya.


Astaga ... Rindu ini membunuhku. "Kinar, kenapa kamu sekali pun gak pernah nelfon?" gumam Arjun.


Kini mata pria itu tertuju pada nakas yang ada di samping kasur. Beringsut, ia pun bergerak menghampiri nakas itu dan mendapati sebuah kotak kado yang masih tertutup rapat. Kado ulang tahun yang Kinar berikan padanya beberapa bulan yang lalu.


"Pusaka ini milik Kinar."


Tulisan itu terpampang jelas saat Arjun membukanya. Sedikit melotot, tapi berakhir tersenyum juga. Melihat itu, makin ia merindukan Kinar.

__ADS_1


"Gila, baru gak ketemu empat bulan aja aku sudah kayak orang gila." Arjun terkekeh hambar lalu melepaskan celana dan hendak memakai pemberian Kinar—bokser pink dengan cap cinta dari gadis itu. Berharap dengan memakainya rasa rindu terobati dengan segera.


***


"Nenek!"


Litania yang merindukan sosok Sita langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan wanita tua itu. Rindunya semakin menggunung saja padahal hanya pergi beberapa hari saja.


"Nenek ... aku kangen," rengeknya dengan nada manja. Chandra yang tengah mengeluarkan barang hanya menggelengkan kepala, heran. Begitu manja istrinya itu pada sang nenek. Namun, jika mereka berdua saling berhadapan, istrinya itu menjadi makhluk tak terkalahkan. Tangguh dan tak ada sisi manjanya sama sekali.


"Nenek juga kangen. Bagaimana liburan kalian?" tanya sita dengan tangan masih menepuk punggung Litania.


"Seneng dong, Nek. Apalagi aku punya kenang-kenangan yang gak mungkin aku lupakan."


"Oh ya. Kenangan apa?" tanya Sita antusias.


"Ada deh pokoknya. Kenang-kenangan untuk si kembar kelak," jawab Litania. "Oh iya, mama sama papa mama? Kok gak keliatan?"


Celingak-celinguk Litania mencari mertuanya.


"Lita sama Bram lagi keluar, katanya mau bawa Caca ke taman hiburan." Mata Sita tertuju pada Chandra dan Bambang yang sedang menurunkan beberapa barang bawaan. "Kita masuk dulu, ya. Makan malam sudah Nenek siapkan."


***


"Yang."

__ADS_1


Chandra yang sedang duduk dan memegang tablet langsung menatap fokus ke arah orang yang memanggil. Tampak Litania sudah berdiri dengan memeluk bantal.


"Aku mau ngomong," lanjut Litania lagi.


Membuka kacamatanya, Chandra lepas tablet dan meraih lengan Litania seraya menuntunnya duduk di pangkuan. "Mau ngomong apa?" tanyanya sembari tangan mengelus perut Litania.


"Aku izin mau tidur ke kamarnya nenek. Boleh?"


Seketika wajah Chandra berubah, elusan tangannya terhenti. "Kenapa gak tidur di sini. Nanti si kembar gak bisa tidur karna gak dibelai ayahnya. Ya, 'kan, Sayang?" ucap Chandra seraya tangan kembali mengusap perut Litania. Tak lupa ia kecup sayang perut itu.


"Modus. Si kembar baik-baik aja, kok. Malah aku curiga si Albert yang gak terima." Litania berdecak, malas.


Chandra terkekeh, istrinya itu begitu pandai menebak. Ia peluk erat pinggang dan mendaratkan kepala di ceruk leher istrinya itu. "Jam berapa sekarang?"


"Jam delapan." Litania cubit punggung tangan Chandra. "Kok nananyin jam, sih. Gak nyambung banget. Aku itu mau tidur sama nenek," lanjut Litania bernada jutek.


Namun, Chandra tak marah. Malah senyum mesum langsung terukir. "Nyambung, Sayang. Maksud aku begini. Kan sekarang baru jam delapan, kamu boleh tidur ke kamar nenek kalau udah berhasil nina bobo-in Albert, gimana? Kasian, kalau gak dinina bobo-in, entar dia kena insomnia. Bahaya."


"Nah nah nah kan bener. Dasar Kang Modus." Litania mencebik tapi Chandra malah terkekeh.


"Mau, yah. Deket kamu Albert selalu bangun. Cuma kamu yang bisa nenangin," lirih Chandra sensual.


Litania bergeming. Bola mata bergerak liar. Tak dipungkiri sentuhan Chandra sudah menjadi candu untuknya.


"Kamu segalanya." Chandra menatap dengan mata yang sudah berkabut hasrat.

__ADS_1


Litania tersenyum, ia menyerah dan mengangguk. "Sama. Kamu duniaku. Segalanya."


__ADS_2