Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Menggila


__ADS_3

"Apa-apaan ini?" dengkus Ferry kesal.


"Kamu yang apa-apaan!" balas Dafan penuh kemarahan. Sorot matanya sangat tajam, seperti mengeluarkan sinar yang bisa memecahkan batu meski itu dari era megalitikum sekali pun. Rahangnya pun mengetat, seolah-olah bisa menelan orang hidup-hidup. Ia dekati lagi Ferry yang hendak berdiri.


"Aku rasa kamu gila," ucap Ferry sarkastik.


Keduanya saling tatap. Dafan yang sudah kadung kesal kembali menarik kerah baju Ferry dan mengguncangnya. "Kamu begitu lancang, Ferry! Apa yang sudah kamu lakukan sama Nara!" hardiknya lantang.


"Emangnya kenapa? Itu hak kami. Aku menyukainya dan dia ...."


"Dia gak ada rasa ke kamu!" sela Dafan dengan suara yang masih nyaring.


Ferry berdengkus. Ia lepas paksa tangan Dafan dari kerah bajunya.


"Oh ya? Apa kamu dukun? Gimana ceritanya kamu tau perasaan Nara?" tanya Ferry, smirk tercetak jelas. Ia benci Dafan, lebih tepatnya takut jika pria itu menggoyahkan hati Nara.


"Inget. Kamu bukan siapa-siapanya Nara," lanjut Ferry lagi. Terdengar penuh ejekan.


Mendengar itu Dafan semakin berang dan langsung melayangkan pukulan dua kali ke pipi kiri Ferry. Darah segar pun mengalir dari ujung bibir bibir pria itu.


Ferry yang diserang hendak melawan tapi kalah cepat dan kembali mendapat pukulan di tempat yang sama. Ia tersungkur ke bawah.


Nara yang melihat pergulatan mengerikan itu pun ketakutan, ia langsung menjerit dan menghampiri.


Gemetar-gemetar takut, Nara pun mencegah Dafan dan membentangkan tangan, wajahnya sangat pucat. Sangat berharap Dafan tidak kembali memukul Ferry.


"Kenapa, Ra? Kenapa?" teriak Dafan. Ia meninju angin. Matanya tajam menatap Nara.

__ADS_1


Namun Nara tak menyahut. Lebih tepatnya pikiran yang kalut membuatnya bisu. Dafan yang kesal, berdengkus. Ia tarik pergelangan tangan Nara. "Ikut aku, kita harus bicara," perintahnya.


Tanpa menunggu jawaban, Dafan pun menarik Nara untuk menjauhi Ferry.


Tertatih-tatih, Ferry yang babak belur hendak menolong Nara. Ingin menariknya tapi tak dapat.


Nara menoleh ke belakang. Ia menatap Ferry dengan mata berkaca-kaca. Tak tega, sangat tak bisa membayangkan pasti sakit saat dipukuli seperti itu.


"Pulanglah, Fer. Aku baik-baik saja. Nanti aku hubungi lagi!" teriak Nara dalam langkah. Ia yang terus saja diseret Dafan perlahan menyeberang jalan.


Tidak terima, Ferry pun bergegas masuk ke dalam mobil—ingin mengikuti mobil Dafan. Namun baru saja berbelok, mobilnya ditabrak dari belakang. Lekas Ferry melihat apa yang terjadi. Tampak seorang gadis muda keluar dari mobil dengan wajah pucat pasi.


"Mas, maaf. Aku gak sengaja ...."


Ferry berdengkus. Kepala berdenyut karena tabrakan. Lebih parahnya Nara pun sudah dibawa kabur. Kekesalannya sampai ke ubun-ubun. Saking kesalnya Ferry pun menendang ban lalu berteriak frustrasi. Si penabrak tampak makin shock.


Sementara itu, Dafan membawa kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Malam sudah semakin larut, tapi kemarahan yang menguasai pikiran tak ada niatan untuk surut. Bahkan kekesalannya makin menjadi saat terlintas lagi adegan ciuman itu. Dafan menggeram, ia tambah kecepatan.


Tibalah di rumah Nara. Nara membuka kaca mobil dan memanggil satpam yang berjaga di post.


"Pak, tolong malam ini CCTV dimatikan sejam," perintah Nara, penuh keseriusan. Ia ingin membicarakan banyak hal pada Dafan. Ia tatap Dafan. Pria itu hanya menatap depan.


"Cukup sejam saja. Nanti hidupkan lagi," lanjut Nara lalu kembali menutup kaca.


Meski bingung, sang penjaga mengangguk juga dan menuruti perintah sang nona muda. Ia kembali menekan tombol—agar pagar kembali tertutup. Namun, ada yang terlupa, dan saat ingin memanggil Nara, mobil Dafan sudah terlanjur menjauh.


"Ya sudahlah. Nanti juga ketemu," gumamnya pelan lalu kembali ke post.

__ADS_1


"Turun!" perintah Dafan dengan suara tak ramah sama sekali.


Nara pun mengikuti. Ia banting pintu mobil dengan kasar, masuk ke dalam rumah lalu melempar tas. Ia balik diri dan menatap marah Dafan.


"Apa kamu gila? Kenapa kamu pukulin dia?" cecar Nara. Kekesalannya sudah naik ke ubun-ubun.


Namun, Dafan yang juga diselimuti kabut kekesalan tak takut sama sekali. Ia balas tatapan mata Nara tak kalah garang. "Kamu yang gila, Nara. Apa kamu masih pacaran sama dia?"


Nara terdiam sesaat. Ia baru paham kalau Dafan masih beranggapan bahwa dirinya dan Ferry berkencan.


Sambil mengukir smirk, Nara pun menjawab enteng. "Kenapa? Apa salahnya dengan itu?"


"Apa kamu gila? Dia itu pembohong! Dia itu brengsek! Selama ini dia pura-pura gagap demi dapetin simpati kamu!" terang Dafan dengan berteriak. Urat kepala bahkan terlihat saking emosi.


"Jaga ucapanmu! Dia nggak kayak gitu. Dia laki-laki baik, dan aku juga udah tahu rahasia dia," sahut Nara tak kalah berteriak.


"Apa kamu nggak marah? Kamu ditipu Nara, ditipu bertahun-tahun!" timpal Dafan lagi penuh penekanan. Keduanya seperti tengah melakukan lomba berteriak.


"Kenapa aku harus marah? Aku fine aja kok. Lalu kenapa kamu yang sewot?" jawab Nara. ia bersedekap dengan dagu terangkat.


Dafan makin kesal, emosinya benar-benar tak bisa dibendung lebih lama. Ia tendang sofa yang ada di sana lalu mendekati Nara.


Nara yang merasa situasi sedang tak baik memundurkan langkah. Sialnya terpojok ke bufet jati yang ada di sana.


"Mau ngapain kamu?" tanya Nara, gugup. Takut Dafan nekat. Apalagi tatapan pria itu begitu beringas. Seolah mampu mencabik-cabik tubuhnya. Tatapan itu terakhir kali ia lihat sewaktu di rumah sakit beberapa tahun lalu.


Berinisiatif mempertahankan diri, Nara pun mendorong dada Dafan, tapi sayangnya tubuh pria itu tak bergerak. Ia dorong lagi hingga Dafan yang geram mengunci pergerakannya dengan tangan. Kedua belah tangannya sudah tak bisa digerakkan lagi.

__ADS_1


***


jgn lupa like dan vote. Udah menuju ending.


__ADS_2