
Pagi menjelma. Sinar mentari sontak saja memasuki kamar dan menerpa kulit Litania. Gadis berwajah kusut dengan rambut yang acak-acakan itu menggeliat lemah seraya menghalang sinar matahari menghunjam mata dengan lengan. "Jam berapa sekarang?" tanyanya dengan suara serak.
"Jam tujuh, Sayang."
Litania mengerjap sekejap kemudian manatap fokus pada sosok lelaki yang berdiri di depan cermin. Ia tersenyum. Chandra, suaminya itu sudah rapi dengan setelan kemeja abu-abu dan tengah memasang dasi.
"Kenapa gak bangunin aku lebih awal?" Litania membenarkan posisinya untuk duduk. Ia balut tubuh yang polos dengan selimut tebal. Diperhatikannya punggung tegap Chandra. Senyum pun kembali merekah. "Mau berangkat kerja sekarang?"
Chandra terdiam sejenak, diperhatikannya wajah kusut Litania. "Iya, ada miting penting hari ini. Selama aku tinggal, kerjaan numpuk di kantor. Kasian Ara, dia kelabakan. Jadi, mungkin aku pulangnya bisa malem. Kamu istirahat aja. Jangan keluar. Aku tau kamu pasti capek," ucap Chandra seraya mendekatinya. Ia duduk di sisi ranjang, mengecup dahi Litania kemudian tersenyum. "Doain biar hari ini mitingnya lancar."
Litania mengangguk kemudian mengernyit. "Ini wajahnya kok mulus? Dikasih apaan?" tanya Litania seraya mengelus pipi Chandra.
"Kasih itu." Chandra menunjuk foundastion miliknya yang ada di meja rias.
"Idih pinternya Bang Kocanku ini. Heheheh ...." Litania cubit pipi Chandra, gemas. Sementara yang punya pipi langsung meringis dan menepis tangannya. "Ini masih sakit, loh," ujar Chandra seraya menggerak-gerakkan rahangnya.
"Iya deh iya. Maaf."
"Cuma bilang maaf?" Alis Chandra tertaut, sedetik kemudian senyum mesumnya langsung terukir. "Kalau mau minta maaf tu begini." Dengan cepat ia tarik tengkuk Litania. mendaratkan lumatann ringan di sana.
"Morning kiss," ucapnya setelah pagutan itu selesai.
Pipi Litania bersemu, dipukulnya dada Chandra kemudian memegang bibirnya. "Kebiasaan deh. Main sosor aja. Aku kan belum gosok gigi."
"Gak apa-apa. Kalo udah gosok gigi nanti yang kecium ya odolnya." Chandra terkekeh. Membuat Litania makin malu saja.
"Oiya, soal asisten yang direkomendasikan sama bang Irwan, bagaimana? Jadi interviu-nya?"
Chandra berpikir sejenak "Iya, jadi. Mungkin sekarang dia sudah ada di kantor."
Litania kembali mengangguk.
"Rencananya kamu hari ini mau ke mana?" tanya Chandra lagi. Mata mereka bersitatap. Bak pangeran tampan dan putri tidur yang sedang kasmaran. Senyum merekah keduanya terukir dengan sempurna.
__ADS_1
"Gak ke mana-mana. Cuma di rumah aja. Badan aku rasanya gak enak banget."
"Itu karena kamu dari semalem gak makan." Kini giliran Chandra yang mencubit pipinya.
"Tapi yang lebih parahnya aku dimakan malam-malam sama kamu," sungut Litania kala cubitan dipipi terlepas.
Chandra tergelak. Diusapnya pipi Litania yang sudah menggembung seperti ikan buntal. "Iya deh iya. Maaf. Sebulan loh si Albert ini puasa. Ya wajar lah pas bukanya dia maruk."
"Elbert? Siapa dia? Puasa gimana?" cecar Litania. Pasalnya dia tak pernah mendengar suaminya itu membahas Albert. "Terus apa hubungannya si Albert dengan puasa?" tanya Litania lagi
Tawa Chandra makin nyaring. Ia arahkan tangan Litania memegang pusakanya. "Ini loh, Albert."
"Apaan sih." Mata Litania membulat. Ia tarik tangannya yang memegang daging di tengan kedua paha Chandra. "Aneh, deh. Perasaan dulu gak ada namanya."
"Iya, itu dulu. Tapi semenjak sarangnya pergi, aku kasih nama. Aku ajak ngobrol juga biar dia tenang."
"Idih. Dasar mesum. Pergi sana. Katanya mau miting."
"Ck, mulai, deh. Udah pergi sana." Pipi Litania makin bersemu. Berhadapan dengan Chandra pastilah tak jauh dari kata 'ena-ena'. Ampun dah. Dia kok makin hari makin mesum. Dasar, batinnya seraya tersenyum. Melihat wajah Chandra yang tertawa juga menyisakan rasa bahagia. Wajah yang ia hina tua nyatanya bisa membuatnya nyaman juga ketergantungan.
"Iya, aku berangkat. Kamu baik-baik ya di rumah. Kalau ada apa-apa cepet telefon."
Litania mengangguk. "Hati-hati ya."
"Emb." Chandra kecup pucuk kepala Litania kemudian bibirnya. "Jangan terlalu capek. Kalau ada apa-apa hubungi aku. Jangan enggak."
"Iya iya bawel."
Obrolan manis itu pun berakhir kala Chandra benar-benar pergi ke kantor. Kini tinggal dia sendiri di kamar itu. Mendadak rasa mual menyerang. Litania kelimpungan, ingin bergerak cepat ke kamar mandi tapi terlalu ribet dengan selimut. Ia lepas selimutnya dan berlarian menuju kamar mandi. Mengeluarkan isi perut yang nyatanya hanya keluar lendir saja.
"Apa ini. Kenapa aku mual mulu dari kemarin? Apa jangan-jangan aku ...."
***
__ADS_1
"Bagaimana? Kami sudah baca surat kontraknya?"
"Sudah, Pak."
"Apa ada yang kurang paham?"
"Gak ada, Pak."
"Bagus." Chandra mengangguk. Matanya memindai sosok lelaki berstelan rapi dengan rambut si sisir samping. Mirip ajudan orang penting. Tubuh kekar dengan rahang yang tegas. Belum lagi kulitnya yang sedikit terbakar matahari membuat Ara yang ada di sebelah Chandra tak berkedip. Begitu eksotis dan seksi hingga ia tak sadar bergumam, "Ganteng bener."
Sebuah ucapan pelan yang membuat perasaan seorang Chandra tak karuan. Gila, Ara aja kek begini apalagi Litania. Sialan, kenapa juga si Irwan ngerekomendasiin dia? Dasar irwan. Awas kalo ketemu.
"Bagaimana bisa sosok lelaki sempurna ini berakhir jadi asisten? Harusnya artis."
Gumaman Ara kembali terdengar. membuat Chandra menolehkan kepalanya—menatap tajam pada Ara. "Inget, kamu udah ada anak sama suami. Jadi jangan ganjen."
Ara tersenyum kuda. Di dekatkannya wajah ke telinga Chandra. "Saya 'kan cuma mengagumi, Pak. Dia bener-bener manis. Jiwa emak-emak saya menguap dan sekarang pengen kembali menjadi gadis."
"Hust!" Tatapan tajam Chandra makin menghujam. Di tatapnya kembali wajah Arjun, si pria asisten yang kata Irwan T.O.P B.G.T. Asisten berjiwa mulia yang rela meninggalkan pekerjaan bergaji mahal kala Arya—sang bos—memerintahkannya untuk menabrak Reka.
"Baiklah, berhubung kamu direkomendasikan langsung oleh orang yang paling saya percaya, jadi saya gak akan banyak tanya. Syarat dari saya cuma dua."
"Apa itu , Pak." Arjun masih sigap berdiri. Ditatapnya wajah serius Chandra.
Chandra melirik Ara. "Ara, sekarang kamu boleh keluar. Saya mau bicara sama Arjun secara pribadi."
Ara menurut tanpa protes meski mata ingin sekali menatap Arjun lebih lama. Ia pun putar tumitnya meninggalkan dua lelaki yang berbeda usia hampir sepuluh tahun itu.
Emangnya apa sih syaratnya? Sampe segitunya. Ara membatin kesal. Ia tutup pintu ruangan Chandra dan kembali ke meja kerjanya.
"Syarat saya cuma 2. Kamu setia dan jangan pernah menggoda ataupun berniat menggoda istri saya."
"Baik, Pak." Arjun mengangguk meski pikiran tak mengerti. Kenapa syarat ke dua serasa gak masuk akal. Masa iya saya tergoda sama istrinya. Emang secantik apa sih istrinya sampe dia mewanti-wanti begitu? Batin Arjun.
__ADS_1