Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Kepalang Basah.


__ADS_3

"Sayang ...." Arjun memanggil Kinar dengan suara berat. Matanya terfokus ke area bibir. Kinar yang ditatap se-intens itu merasa malu. Dadanya bertabuh dengan pipi yang menegang. Tak pernah sekali pun Arjun melayangkan pandangan seperti itu. Tatapannya dalam cenderung seram, penuh hasrat, seperti serigala yang siap menerkam.


"Kenapa? Ada apa?" tanya Kinar seraya memundurkan langkah. Namun, Arjun terus mendekat. Lampu remang kamar tak bisa menyamarkan tatapan penuh gejolak pria berkemeja putih itu. Kinar yang masih mengenakan kebaya pernikahan pun tanpa sadar telah berada di pembatas kamar. Gadis bersanggul itu terpojok dengan menahan kegugupan yang luar biasa.


Apa mungkin Arjun akan melakukannya sekarang? Kinar membatin waswas. Tatapan Arjun sudah bisa ditebak. Penuh kemesuman di netranya yang gelap. Begitu berbeda dengan Arjun yang selama ini ia kenal. Pria tenang dan sopan. Melihat perubahan yang signifikan itu membuat keberanian Kinar menciut bagai abu.


"Kamu kenapa? Gugup?" tanya Arjun lagi, nada suaranya terdengar sensual. Ditiupnya kuping Kinar. "Jangan takut, kita sekarang sudah sah."


Menggigit bibir bawahnya, Kinar yang sudah terpojok menahan dada Arjun. Namun, Arjun yang sudah berkabut hasrat langsung menepisnya. Kini kedua belah tangan pria itu malah mengurung Kinar yang menyatu dengan dinding.


"Kenapa? Bukannya ini yang kamu mau? Bulan madu dan jadi bulan-bulananku."


Kinar makin gugup, ia suka Arjun, tapi rasanya belum siap sekarang. Menggeleng cepat-cepat, Kinar dorong dada pria yang sudah halal baginya. "Enggak, Jun. Jangan sekarang. Jangan ... jangan," tolak Kinar.


Namun, Arjun mengabaikan, ia mulai menyerang leher.

__ADS_1


"Ah ... jangan, Jun. Jangan ... jangan. Ah, Arjun ... lakukan, ayo lakukan," desahnya manja.


Sementara itu, Litania yang baru tiba langsung menggeleng. Tak habis pikir, bisa-bisanya Kinar mengigau saat sedang melakukan spa. Si Mbak yang melakukan pijatan pun hanya mampu mesam-mesem sendiri. Siapa pun pasti tahu apa yang diigaukan Kinar. Kalimat sensual "jangan ... jangan ... ayo, lakukan" terus saja keluar dari bibirnya hingga Litania yang gemas langsung mencubit hidung wanita itu.


"Kinar, bangun!" serunya.


Kinar megap-megap kesuliatan mengambil napas hingga kesadaran datang secara utuh dan melihat Litania sudah ada di hadapan. Sahabatnya itu sedang bersedekap dada dengan tatapan heran.


"Apa-apaan, sih." Kinar bersungut seraya memberi kode pada si Mbak agar keluar dari ruangan. Lantas melilitkan kain untuk menutup tubuh.


"Kamu yang apa-apaan. Siang-siang ngigo mesum."


"Ya kamulah. Ah ... jangan, Arjun. Jangan ... lakukan. Ah jangan ... ayo, Jun lakukan, lakukanlah," jawab Litania seraya membuat-buat desahan di sela ucapannya.


Kinar yang malu langsung melemparkan handuk. Sebal. "Udah, deh. Jangan ngeledek."

__ADS_1


Litania terkekeh, wajah masam Kinar memancing rasa penasaran. "Jadi gimana? Lamarannya kemarin lancar?"


"Gak," jawab Kinar singkat. Wajahnya makin murung dengan kepala tertunduk. "Papa gak ngizinin."


"Loh, kenapa?"


"Kata papa, Arjun belum layak." Mengembuskan napas panjang, Kinar kembali terbaring dengan mata menatap plafon ruangan. Aromaterapi yang menyeruak masuk hidung tak mampu menenangkan kegelisahan hingga desahan kambali terdengar. Bahkan lebih panjang dari sebelumnya.


"Belum layak gimana?" Litania menatap serius. Wanita berpenampilan anggun dengan tas tangan itu duduk dengan sorot mata tak percaya. Sebab sehari sebelumnya Chandra mengatakan kalau mereka—Kinar dan Arjun—akan menikah.


Kinar makin tertunduk. "Entahlah Litan. Perjuanganku keknya belum selesai. Bertahun-tahun berjuang demi Arjun, sekarang aku juga harus berjuang mendapatkan restu."


***


hehe aku yakin pasti kalian ada yang ngeres.

__ADS_1


wkwkwk. tenang. belum saatnya Kinar Arjun mantap-mantap.


like dan vote nya di kencengin.


__ADS_2