Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Adu mobil.


__ADS_3

Yah kalian gak terima kalo tamat yah.


oke. Aku lanjutin. Tapi pliase ... Klian hrus stay sampe akhir bulan, gimna? deal?


Karena sebagai author selain punya tanggung jawab, aku juga punya target.


Nih untuk awalnya aku kasih yang manis-manis. heheh sebenarnya visual ada di Ig. Bagi kalian yg gak punya Ig juga gpp.


ini visual Dafin. ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡



Dafan ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡



Fia. ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡



Sisi. ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡



Anya๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡



Kevin.๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡



Nara. ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡



follow Ig aku juga dong.


@Riharigawajixjoe


***

__ADS_1


"Bang udah sampe mana? Di telefon dari tadi gak bisa-bisa. Masih di pesawat ya?"


"Bang, oleh-oleh jangan lupa. Tanda tangan Justin Bieber."


"Awas aja. Jangan bilang gak sempet minta. Aku gulung lagi ni karpet merah yang udah Bunda gelar."


"Bang, cepetan pulang ...."


Mendengar ocehan Anya membuat Dafan yang mengenakan earpod tersenyum kecil. Begitu banyak pesan suara yang gadis itu kirimkan. Saat mendengarnya ia semakin merindukan rumah dan keluarga.


"Den Dafan! Sini!" seru Sulaiman. Sang sopir tengah tergopoh-gopoh. Dafan yang baru saja keluar dari bandara menghampiri pria paruh baya itu.


"Sini, Den. Kopernya biar saya aja yang bawa," pinta Sulaiman dengan sopan. Dafan pun mengiyakan. Ia biarkan Sulaiman membawa satu koper miliknya.


"Gimana kabar orang rumah, Mang?" tanya Dafan seraya mensejajari Sulaiman.


"Alhamdulillah, Den. Semuanya sehat. Semua orang udah nungguin Den Dafan di rumah."


Dafan merespon dengan ulasan bibir. Ia lirik arloji lalu menghentikan langkah. Sulaiman yang melihatnya ikutan berhenti.


"Ada apa, Den? Apa ada yang kelupaan?" tanya Sulaiman, keheranan.


"Gak ada apa-apa kok, Mang. Oiya, mobil diparkir di mana?"


Dafan yang tak mengenali mobil milik keluarganya pun kembali bertanya, "Yang mana Mang? Kok enggak kelihatan?"


"Yang itu, Den. Yang warna abu-abu," lanjut Sulaiman seraya menunjuk Lamborghini Aventador SVJ Roadster Grigio Telesto.


Dafan ternganga saat mata terarah ke mobil yang Sulaiman tunjuk. Sebuah mobil sport mewah yang hanya beredar 900 unit di seluruh dunia terpampang di depan mata. Ia mengerjap takjub.


"Mang Sulaiman pake itu ke sini?" tanya Dafan hampir teriak.


Sulaiman hanya mengangguk saja. "Itu sebenarnya mobilnya Den Dafin. Dia yang nyuruh saya bawa mobil itu buat jemput Den Dafan. Katanya biar Den Dafan terharu terus gak ngambek lagi," papar Sulaiman tanpa menambah atau pun mengurangi perkataan Dafin. "Mobil itu baru datang seminggu yang lalu," lanjut Sulaiman lagi.


Menghela napas panjang. Dafan tak tahu gejolak apa yang ada dalam dada. Satu sisi ia terharu, satu sisi juga sedih. Semenjak kehadiran Fia di antara mereka, mereka tak berkomunikasi dengan layak. Dafan tertunduk sebentar lalu kembali melihat Sulaiman.


Lagi-lagi terbentuk senyuman di bibirnya. "Mang boleh gak saya saja yang bawa mobil? Mamang pulang pake taksi, gak apa-apa, 'kan?"


Sulaiman bergeming, ia tampak berpikir. Namun, belum juga melisankan jawaban, Dafan sudah merebut koper dari tangan Sulaiman. "Saya ada keperluan. Bilang saja sama yang lain kalau saya pergi sebentar."


"Tapi, Den ...."

__ADS_1


Sulaiman tampak meragu. Akan tetapi Dafan kembali memberikan senyuman, seolah bukan perihal besar.


"Percayalah, Mang. Saya cuma pergi bentar. Nanti sebelum makan malam saya pastikan saya sudah pulang."


"Tapi Nyonya sudah nungguin, Den."


"Gak apa-apa. Lagian ini juga masih siang. Saya rindu jakarta, Mang. Saya mau lihat kemajuan apa yang udah di capai kota kita ini selama tiga tahun saya pergi."


"Tapi ...."


Belum juga selesai lisan Sulaiman, Dafan sudah pergi meninggalkan dengan tangan melambai. Ia terus saja berjalan menuju parkiran.


Tibalah di dekat mobil. Dafan masukkan koper ke bagasi lalu duduk di belakang kemudi. Ia sempat takjub sesaat sebelum akhirnya kembali menekan ponsel untuk mendengarkan celotehan sang adik yang sudah menjadi mahasiswi. Perlahan mobil mewah itu pun keluar dari parkiran.


"Selamat ulang tahun Bang Dafan. Selamat menua. Hmm ... gak nyangka Abang aku yang genteng ini udah 29 tahun. Udah tuir ternyata. Ha-ha-ha ...."


Suara gelak tawa itu membuat Dafan makin merindukan Anya. Keusilan serta tingkah manja Anya membuatnya gemas. Padahal jika diingat, adiknya itu sering bikin masalah. Entah karena apa, setiap kali kesal, secepat kilat ia akan melupakan.


"Bang, jangan telat. Orang-orang pada nungguin. Ini kan acara keluarga kita. Gak lucu kan kalau anak sulung gak hadir."


Seketika senyum Dafan menghilang. Ya, ia sadar. Malam ini selain malam suka cita penambahan usia. Ada lara yang akan menyapa. Di rumah utama keluarga mereka pasti akan ada Fia.


Membayangkan hal itu Dafan menjadi resah. Ia takut akan menggila. Ia takut rasa yang sudah tiga tahun terlupakan akan kembali hadir. Ia tak ingin usaha kerasnya selama ini menjadi sia-sia.


Fan, gak baik menghindar terlalu lama. Mau sampe kapan kamu sembunyi. Lebih baik kamu hadapi objek yang bikin kamu sakit hati. Lama-lama pasti kamu terbiasa. Kalau kabur mulu nanti sembuhnya juga bakalan lama.


Perkataan Litania dua bulan lalu saat berkunjung ke Amerika melayang-layang di pikiran. Perkataan yang jujur ia benarkan dalam hati. Ia memang berusaha keras melupakan dengan belajar dan mengikuti kegiatan apa pun yang dikiranya bisa mengalihkan perhatian. Sukses memang, tapi rasanya tetap ada yang kurang. Jauh di lubuk hati masih menyimpan nama Fia.


Pulanglah, Bunda rasa tiga tahun cukup buat kamu mendamaikan hati dan nerima kenyataan. Sekarang sembuhkan hati kamu dengan menghadapi kenyataan. Rayakan ulang tahun kamu dan hadirlah di pernikahan Dafin. Mau bagaimanapun dia itu tetap saudara kamu. Kalian saudara kembar. Dan gadis itu mau gak mau harus kamu anggap adik ipar.


Dafan mengembuskan napas panjang. Lagi-lagi ia membenarkan perkataan Litania. Itulah yang membuatnya nekat pulang meski dalam hati meragu, apakah tiga tahun menghindar bisa menjamin ia akan tenang.


Pikiran yang kacau membuatnya tanpa sadar menabrak sebuah mobil Ferrari 448 Pista Rosso Corsa yang ada di depan. Mobil mewah berwarna merah menyala yang tengah berhenti di lampu merah. Otomatis suara bising dari kedua mobil pun memekakkan telinga.


Dafin mengumpat. Sambil menahan sakit di tengkuk dan kening ia mencoba keluar dari mobil. Namun sosok pengemudi mobil sport yang baru saja ia tabrak membuatnya tercengang, melongo dengan sedikit menganga. Ia bahkan mengucek mata seolah-olah ingin memastikan, apakah yang dilihatnya sekarang adalah nyata?


Sosok gadis yang sudah lama tidak ia lihat. Sosok gadis yang sengaja ia torehkan luka begitu dalam.


"N-nara, b-bagaimana b-bisa dia di sini? B-bukannya Anya bilang dia kuliah di Inggris?"


Saking terkejutnya Dafan bahkan terbata dalam kata. Ia tak bisa mencerna apalagi Nara yang berpenampilan eleganโ€”terusan berwarna merah muda tanpa lengan dengan rambut panjang ikal tergeraiโ€”tengah menggedor pintu mobilnya dengan kasar. Dafan menelan ludah dengan mata membulat besar.

__ADS_1


"Woi! Keluar gak! Tanggung jawab woi!" hardik Nara. Gadis itu tampak melihat kesal ke bemper belakang mobilnya yang sudah ringsek. Ia terlihat mendesis lalu kembali menggedor pintu mobil Dafan.


"Woi! Keluar kagak. Kalo kagak aku pecahin ni kaca mobil kamu. Mau!"


__ADS_2