Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Kena batunya


__ADS_3

"Leo!"


Suara lantang seseorang mengagetkan, Leo yang baru saja mengunci pintu apartemen dan tengah bergandengan dengan seorang wanita cantik langsung memucat kala mendapati siapa yang berteriak itu. Tampak tunangannya—Rumi—sedang menatap tajam dari arah belakang. Wanita berbalut gaun biru panjang dengan belahan hingga paha itu mendekat dengan langkah mantap.


"Rumi ... kamu, kenapa bisa—"


Tak sempat menyelesaikan kata, sebuah tamparan panas mendarat di tempat yang tepat—pipi Leo. Leo terkejut, tak tau caranya untuk berdalih dalam situasi yang mendadak rumit.


"Rumi, dengerin aku dulu," ucap Leo seraya mendekat. Akan tetapi, Rumi yang sudah dipenuhi dengan letupan emosi tak bisa terima dan kembali melayangkan pukulan. Suara keplakan pun menggema, dan lagi-lagi Leo hanya bisa memegangi pipinya yang berdenyut. "Rumi tolong—"


"Dasar brengsek! Beraninya kamu selingkuh di belakangku, ha!"


Sedetik setelah hardikan Rumi, suara keplakan kembali terdengar. Wanita cantik dan anggun itu melayangkan pukulan yang sama untuk ketiga kalinya hingga Leo merasakan panas dan nyeri di bagian pipi sebelah kiri.


"Aku gak nyangka kamu sebusuk ini Leo. Kenapa bisa kamu selingkuh? Kita sudah tunangan dan mau nikah. Tapi kamu ...."


Rumi tak mampu menuntaskan kata. Rasa sakit hati masih mendominasi. Ia tatap nyalang Jessi, si wanita simpanan Leo yang juga adalah sahabatnya sendiri. Tanpa ampun dan aba-aba ia jambak rambut tergerai wanita itu. Menariknya bak rumput liar yang harus dibasmi. Rumi terus saja melakukan itu tanpa mengindahkan suara Jessi yang mengaduh kesakitan.


''Dan kamu, beraninya jadi simpanan Leo, ha! Kita udah temenan lama, Jessi. Kurang apa lagi aku sama kamu? Aku udah berlaku baik sama kamu. Aku anggap kamu udah kayak saudara. Tapi apa ini? Apa Jessi?"


Suara Rumi menggema. Mereka yang berada di lorong apartemen mendadak menjadi sorotan para pengunjung maupun pemilik. Semuanya kepo dengan keributan itu.


"Apa kamu gak tau kami sebentar lagi akan menikah, ha!" hardiknya lagi.

__ADS_1


"Ampun Rumi, sakit. Tolong lepasin," erang Jessi. Tangan terus saja memukul lengan Rumi. Namun, Rumi yang sudah dikuasai emosi makin mengeratkan cengkaman dan mendorong tubuh wanita itu merapat ke dinding. Suara benturan nyaring pun terdengar disertai erangan dari bibir Jessi. "Ampun, Rumi ... ampun."


Rumi tergelak sejenak lalu berdecih. Menekan kepala Jessi makin kuat, ia berucap, "Kamu bakalan nyesel karna udah main api di belakangku. Aku gak akan bisa ngelupain ini. Pertemanan kita putus, Jessi. Dan bersiaplah mendapat hukuman dariku."


Nada suara Rumi begitu dalam menahan geram. Heran dan tak terima akan pengkhianatan yang dilakukan oleh sahabat juga kekasihnya. Tanpa ampun ia dorong wanita itu kelantai, beruntung Leo dapat menyambut. "Kamu gak apa-apa?" tanya Leo pada Jessi.


Jessi menggeleng seraya memegang kepala yang sakit. Jambakan tangan Rumi benar-benar membuat pusing. Rambut panjangnya bahkan rontok dalam sekejap. "Gak apa-apa. Aku baik-baik saja."


Melepaskan dekapan, Leo kembali menatap Rumi. "Sayang, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Aku minta maaf. Aku menyesal dan akan putus dari Jessi, tapi please ... jangan batalkan pernikahan kita."


Mendengar ucapan Leo, mata Jessi membulat. Namun, tidak untuk Rumi, wanita bergaya glamor itu menyipitkan mata kemudian mendekat dan lagi-lagi mendaratkan tamparan. Leo tak berkutik karena Rumi bahkan telah memukulnya dengan tas tangan yang lumayan berat. Wanita berambut lurus itu tampak berang dengan air mata yang juga berguguran. Bagaimanapun rasanya tetap sakit saat melihat tunangan berselingkuh apalagi dengan sahabat sendiri.


"Dasar brengsek! Gak punya hati! Tukang tipu. Bajingann laknat!" Rumi terus saja menghantam punggung Leo dengan tas-nya. Bertubi-tubi pukulan itu mendarat sebagai pelampiasan kekekesalan. Pria berwajah tirus dengan mata sipit itu hanya bisa meringkuk dengan tangan melindungi kepala.


Berdecih, mendekati Leo yang sudah berlutut, Rumi mendaratkan kakinya yang memakai heels setinggi 4 cm di dada pria itu, lantas mendorongnya dengan kuat. Yes! Berhasil. Leo terjungkal ke belakang.


"Kamu kira aku bodoh! Buat apa aku bertahanan sama playboy tengik kek kamu ini? Aku akan bilang ke ayah. Akan aku ceritain semuanya. Dan bersiaplah untuk mendapat hukuman dari ayahmu juga."


"Tapi Rumi ... Rumi!"


Rumi tak menanggapi. Kaki masih saja mengayun dengan kesedihan yang tak terbendung. Air mata terus saja mengaliri pipi. Laki-laki yang ia sukai begitu tulus itu beraninya mendua cinta. Bodoh, aku bener-bener bodoh.


Tergelak sejenak, Rumi hapus air matanya kemudian memutar tumit—kembali melihat Leo yang masih terduduk lesu. Matanya menyipit dan bibir menyeringai licik. "Aku akan buat kamu bayar ini semua, Leo. Jangan harap kamu bisa hidup nyaman setelah mempermainkan aku seperti perempuan bodoh. Aku akan buat kamu ditendang oleh keluargamu sendiri. Dasar brengsek!"

__ADS_1


Nyata adanya. Ancaman Rumi buka kaleng-kaleng. Terbukti saat memasuki rumah kedua orang tuanya, Leo telah disambut oleh tiga orang pria berbadan kekar, bodyguard Edward—sang ayah.


Tanpa aba-aba dan tanpa peringatan pula, tiga orang berbadan tambun itu menyerangnya yang baru berada di ambang pintu. Dari pukulan hingga tendangan menghantam tubuhnya. Leo tersungkur dengan wajah yang sudah babak belur. Darah bahkan telah mengalir dari pelipis, ujung bibir dan juga hidung.


Memaksakan diri, Leo tahan sakit di bagian perut dan melangkahkan kaki mendekati sang ayah yang sedang duduk di kursi besar kebanggaan. Ia peluk kaki ayahnya itu.


"Maafkan aku, Pa. Ampuni aku sekali lagi. Aku gak akan buat kesalahan. Tapi tolong maafkan aku," ucap Leo dengan mengiba.


Wajahnya sudah lebam. Nyeri jangan ditanya lagi. Perut bahkan bagai diremas. Ia dongakkan kepala menatap sang ayah yang memang berwajah garang. Namun, bukannya mendapat ampunan, Leo malah kembali mendapat tendangan.


"Kamu bodoh, Leo. Kamu serakah. Kamu licik. Bukankah Papa sudah sering mengatakan untuk jaga perilaku. Ingat, kita tidak bisa berada di posisi sekarang dan sukses seperti ini dengan sendirinya. Kita ditolong, Leo. Kita ditolong oleh kelurga Rumi dan juga Chandra."


Oh shit! Darah Edward berdesir lagi saat mengungkit masalah Chandra. Dirinya harus menelan rasa malu akibat tingkah bodoh Leo kala itu. Bagaimana bisa Leo berpikir untuk menggeser posisi Chandra dengan otaknya yang tak seberapa cerdas itu?


Edward tergelak meremehkan lalu menghunjamkan tatapan. Pria botak itu seakan tak punya rasa iba pada anak sendiri. "Sekarang ambil hukumanmu. Masalah Chandra kemarin saja sudah membuat Papamu ini harus menunduk malu. Dan sekarang kamu tambah dengan perselingkuhan. Kamu benar-benar gila. Papa akan coret namamu dari daftar keluarga. Sekarang kamu bebas buat ngelakuin apa aja."


"Tapi, Pa—"


Belum sempat menyelesaikan kata, para bodyguard Edward telah membopong tubuh Leo dengan paksa lalu membawanya hingga gerbang. Bak gelandangan, tubuh Leo terjungkal karena terdorong oleh tangan-tangan kekar pria tambun itu.


Leo betulkan pakaiannya yang kotor karena debu. "Chandra, Chandra, dan Chandra. Kenapa dia selalu lebih unggul dari ku? Sialan. Ini semua gara-gara Chandra. Awas saja kamu."


Menahan taksi yang lewat, Leo berencana ke apartemen Jessi dan mengemas semua barang—hendak ke Jakarta.

__ADS_1


__ADS_2