Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Rania.


__ADS_3

Melemparkan jas ke arah sofa, Chandra berang ketika melihat sang mama yang memasang wajah biasa saja. Ia kesal, sang mama malah meminta sesuatu yang membuat Litania tak mungkin bisa memaafkannya. Poligami? Gila, ibunya itu benar-benar di luar dugaan.


Merebahkan diri di sofa, Lita tampak tenang kala melihat wajah frustrasi anaknya. "Kenapa? Pengen marah? Mau protes?"


Memejamkan mata, Chandra berusaha sekuat hati agak tak kurang ajar. Ia duduk dan menghadap wajah santai ibunya. "Mama kenapa ngomongin madu, sih. Tadi itu bukan saat yang tepat, Ma. Lagian aku gada niat nikah lagi. Bisa-bisanya Mama berpikir aneh kaya tadi. Sekarang, apa? Litania malah makin membenciku, Ma ...."


Chandra berkata pelan, tapi jelas tengah meredam geram. Tangannya bahkan telah mengepal kuat hingga tak ada lagi warna darah dalam telapak tangannya itu. "Sekarang semua jadi makin kacau. Makin susah buat ngebujuk Litania."


"Loh, kenapa salahin Mama. Yang salah 'kan kamu. Kamu yang cari penyakit. Kenapa gak pernah bilang masalah sebesar ini. Kalau kamu bilang sejak awal, perjodohan ini gak bakalan berlanjut. Persahabatan Mama sama Sita juga gak bakalan kacau kayak begini. Ini semua karna kamu. Kamu yang gak jujur."


Merebahkan punggung dengan kasar, Chandra terlihat susah meredam kesal. Ia bahkan berdengkus melihat wajah datar sang mama. "Ya seharusnya jagan bahas itu dulu. Aku sama Rania itu gak ada apa-apa, Ma. itu murni kesalahan."


Memutar bola mata dengan malas, Lita menampakkan ketidaksukaan atas perkataan anaknya yang tak bertanggung jawab. "Kesalahan? Kesalahan apa yang sampai membuat wanita lemah kayak Rania menderita. Kamu tau betapa kagetnya Mama saat dia datang buat ketemu Mama? Mama hampir jantungan, Chandra. Gadis itu menangis. Dia minta status untuk anaknya."


"Ah, sudahlah, Ma. Aku pusing. Aku mau pergi."


Membawa rasa kesal, Chandra pun meninggalkan sang mama yang juga tak kalah kesal. Perbincangan yang jelas tak ada siapa yang salah dan benar. Karena memang semua terjadi tanpa tau asal mulanya.


****


Duduk di pojokan kelab malam, Chandra melampiaskan kekesalan dengan alkohol di tangan.


Segelas.


Dua gelas.


Tiga gelas.


Hingga lima gelas, ia tenggak habis minuman beralkohol tanpa putus. Tenggorokan yang sudah mulai panas, tidak ia pedulikan. Ia terus saja menenggak bir hanya untuk melupakan masalah yang semakin pelik bila di pikirkan. "Litan, gimana caranya agar kamu paham? Aku gak pernah berhianat, Sayang. Itu cuma masa lalu."

__ADS_1


Lagi, Chandra tuang isi botol ke dalam gelas. Meminumnya dengan sekali tegukan. "Litania ...." Lirih, suara Chandra terdengar penuh rasa bersalah. Ia topang kepala yang berat dengan lengan. Menunduk dalam agar tak ada yang menyadari kesedihannya. Bahkan pundak yang biasa tegap dan kekar, kini tampak bergetar. Menandakan ia tengah terisak dalam bisingnya kelab malam. "Maaf ...."


Sedetik kemudian. Terlintas ekspresi terkejut Litania. Penolakan dan pengusiran yang Litania layangkan karena sang mama menyinggung soal poligami. Ah, rasanya ia ingin sekali menjerit. Menumpahkan rasa frustrasi yang tambah melekat dalam diri. Belum lagi wajah polos Candira dan Rania.


Ya Tuhan. Kenapa jadi runyam begini, batinnya.


Chandra topang kepala dengan sebelah tangan. Menuang segelas bir dan kembali menenggaknya. "Gila. Aku harus apa sekarang?"


Tak lama, sebuah tangan menyentuh pundak Chandra. "Kenapa lo? Galau?"


Terdengar meremehkan. Sosok itu tersenyum miring melihat penampilan Chandra yang acak-acakan. Bak orang yang tak mandi sebulan. Baju kusut serta rambut halus sudah mulai tumbuh di area rahang juga dagu.


"Miris banget sih nasib lo. Ditinggal bini padahal nikah baru dua bulan," lanjut orang itu.


Berdecak. Chandra tak menghiraukan sosok itu. Sosok pria yang ia kenal baik—Irwan. Sahabat yang entah sejak kapan datang dari Semarang. Pria berjaket kulit itu kini tengah duduk di sebelahnya. "Ngapain lo ke sini?" ketus Chandra.


"Hibur apaan? Ini semua gara-gara elo. Coba dulu gue gak nurutin perintah lo. Rumah tangga gue gak bakal ancur kek begini." Berdengkus, Chandra keluarkan sebatang rokok dan menyulutkan api. Mengisapnya dalam, berharap nikotin yang terkandung dalam tembakau berkapas itu dapat menenangkan diri. "Kalau gue gak ketemu Rania, semua ini gak bakalan terjadi," lanjutnya.


"Lah, kok gue yang salah. Dulu gue 'kan mintanya elo urus Rania. Bukan wik-wik dengan dia?" Irwan tak mau kalah. Ia yang datang berniat ingin menghibur malah disalahkan. "Yang parah itu elo. Bisa-bisanya merahasiakan hal besar kek gini. Di dunia ini gak ada rahasia, Bro. Semua bakalan terbongkar. Entah sekarang atau nanti."


Irwan menjeda lisan. Ia ambil rokok Chandra dan menyulutkan api, mengisapnya dalam dan mulai mengembuskannya dengan perlahan. "Lagian gimana bisa lo ketemu Rania. Bukannya dia hilang pas malam itu. Kita nyari jejaknya hampir berbulan-bulan, lho. Tapi tetep kagak nemu ama tu perempuan."


Mengembuskan napas berat. Chandra tenggak kembali minumannya. "Iya, gue juga heran. Tu perempuan ngilang gitu aja. Nah, gue pikir masalahnya kelar. Toh, kita melakukannya tanpa sadar. Jadi sama-sama bersalah. Tapi waktu gue ke Amerika. Gue ketemu dia. Dia menyedihkan, Wan. Udah kaya gelandangan dia di sana. Dan gue juga baru tau kalau dia dibuang keluarganya karena hamil darah daging gue."


"Nah, kalau gitu kenapa gak lo nikahin?" Penasaran, Irwan sampai memutar tubuh dan menghadap Chandra. Melihat dengan seksama ekspresi temannya itu.


"Udah, gue udah mau tanggung jawab. Tapi dianya gak mau. Dia bilang gak mau nikah sama orang yang gak dia cinta. Nah, gue berpikiran sama. Tapi tetap, dia gue urus. Gue penuhi semua kebutuhan dia sampe melahirkan. Sampe sekarang pun gue kasih dia apapun yang dia mau. Gue udah melakukan segalanya, Wan. Udah berusaha bertanggung jawab."


Masih dengan perasaan penasaran. Irwan pun kembali melayangkan pertanyaan, "Lah, terus kenapa dia sekarang bisa ke sini? Bukannya dia gak mau diajak nikah?"

__ADS_1


"Nah, itu gue juga bingung. Sebelum nikah dengan Litan, gue sempet ke Amerika. Tapi Rania gada bahas soal status nikah atau anak. Kita beneran kaya orang asing, Wan. Gak ada yang istimewa." Chandra menjeda lisan. Pandangannya menatap ke arah pengunjung yang tengah berdansa, tapi pikiran jelas melanglang buana entah ke mana.


Mendadak Chandra teringat dengan celotehan Litania tentang anak. Obrolan serius yang hampir saja membuat rahasianya terbongkar. "Elo bisa bantuin gue gak?"


Mengangguk mantap, Irwan menatap penuh keyakinan. "Apaan? Pasti gue bantu."


"Coba Lo selidiki Leo. Gue curiga ama tu orang. Dia emang kaya nyari celah buat ngegeser posisi gue. Dan ini kayaknya ada hubungannya sama dia." Chandra menggeram. Ia genggam gelas kecil di tangan dan beberapa detik kemudian mengentaknya dengan kasar di atas meja. "Awas aja kalo terbukti dia dalangnya. Gue bikin dia nyesel karna udah ngusik ketenangan hidup gue."


"Sip. Pasti gue bantu. Bila perlu kita korek belangnya sekalian. Biar tau rasa." Irwan tersenyum sinis. Membahas orang licik membuat darahnya sedikit berdesir. "Terus, sekarang lo mau ngapain?"


"Gue mau urus masalah internal."


Mengernyit, dahi Irwan membentuk beberapa lipatan. "Apaan?"


"Litania. Doain gue, ya."


Berdecak, Irwan lemparkan kulit kacang yang ada di atas meja ke wajah Chandra. "Ya elah, ngurus anak delapan belas taun aja udah kaya mau perang."


"Ya iya lah. Lo gak tau aja betapa keras kepalanya dia dan betapa kuat pukulannya. Tulang gue aja hampir remuk."


****


Menyandarkan diri di kursi depan, Litania mengembuskan napas panjang. Perkataan sang mama mertua lumayan membuatnya tak tenang. Perkataan yang membuatnya enggan untuk terpejam dan berakhir duduk di teras depan.


Berdesir, darah Litania kembali naik ke ubun-ubun. Terlintas jelas bagaimana ekspresi tenang mama mertuanya itu kala mengatakan tentang poligami.


"Madu? Gila, siapa juga yang rela dimadu? Dikiranya aku gak tau apa, madu dalam rumah tangga itu udah kaya racun. Dasar egois." Litania bergumam. Ia arahkan kembali mata ke langit malam. Menatap pekatnya dunia dengan netra yang sudah kembali berkaca-kaca. "Ya ampun, kenapa aku nangis lagi, sih."


Mengusap pelan air mata yang meluruh. Lagi-lagi mata Litania membuat kejutan. Sebuah mobil sedan hitam masuk ke dalam pekarangan rumah. Tampak sesosok wanita yang ia kenal, keluar dari sana. "Dia ...."

__ADS_1


__ADS_2