Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Jemawa


__ADS_3

"Fia, kamu lagi ngapain?"


Fia tersentak. Ia yang tengah memunggungi pintu melihat Nasya mendekat. Mendadak perasaan gugup menyerang, ia dekati Nasya. Mencegahnya agar tak masuk ke ruangan.


"Kenapa?" tanya Nasya lagi. Dahinya mengernyit. Keheranan.


"Itu, Mbak, itu ... anu."


Fia tergagap. Ia merasa seperti menjadi orang bodoh sekarang.


"Kenapa?"


Fia masih bungkam hingga Nasya yang gemas mengguncang bahunya. "Hey! Kamu kenapa sih? Kenapa gak mau masuk?"


"Mbak Nasya, itu—"


"Sudah, ayo masuk. Aku temenin."


Bak sapi yang dicolok hidungnya. Fia mengikuti langkah Nasya. Matanya terpejam mengira Nasya akan berteriak. Namun, tak seperti prediksi, Fia masih saja berjalan mengikuti langkah Nasya hingga suara dehaman Dafin mengagetkan.


"Nasya, dia ngapain? Mendadak buta apa gimana?" tanya Dafin sarkastis.


Fia membuka mata dan tatapan elang Dafin menyambut. Walaupun hidung berwarna merah dan tangan sudah sudah menggunakan penyangga lengan, pria itu masih saja menampakkan kesombongan.


Arogan sekali, batin Fia.


Tersenyum canggung, Fia pun berucap, "Maafkan saya, Pak. Saya kira tadi itu kalian masih—"


Dafin berdeham lagi. Ia gelagapan. Wanita cantik yang berdiri di sebelahnya juga tampak sama. Sebenarnya mereka menyadari kedatangan Fia tadi dan langsung mengehentikan aktivitas berbagi liur.


"Sudahlah, jangan dibahas," ujar Dafin dengan suara dalam. Ia sentuh hidung dan berdeham lagi. Kini matanya menatap Nasya.


"Kenapa dia kamu bawa lagi kemari? Apa kurang jelas. Saya sudah pecat dia." Tatapan Dafin menusuk. Suaranya makin terdengar tegas. Nasya yang berdiri mendadak merasa ngeri. Ia pegang erat tangan Fia yang memang sedari tadi dalam genggaman.


"Maaf, Pak. Kalau bisa tolong pikirkan lagi. Saya sudah berusaha keras menyeleksi semua pelamar yang ada. Dan Nona Fia ini yang memenuhi kriteria yang Bapak inginkan," papar Nasya hati-hati.


Tatapan Dafin makin nyalang. Matanya yang tajam beralih ke Fia.


"Tapi kenapa harus dia? Dia itu kelakuannya barbar. Saya tidak mau image baik saya dan perusahaan tercemar karena sikapnya yang ceroboh," ujar Dafin. Ia ingat betul bagaimana Fia itu memelintir tangannya. Gadis mengerikan. Hanya itu kesan pertama yang melekat. Walaupun tidak bisa ditampik kalau menurutnya Fia itu cantik dan berpenampilan menarik.


Fia yang merasa masa depan memburam melepaskan tangan Nasya dan maju tiga langkah. Ia memberanikan diri menatap mata Dafin. Sebenarnya, bisa saja bersikap kurang ajar mengingat saudaranya Dafin juga sudah kurang ajar padanya. Tidak sekali, tapi dua kali. Namun sekarang Dafin pemegang garis nasibnya.


"Sekali lagi saya minta maaf, Pak Dafin. Saya benar-benar tidak sengaja. Tolong jangan pecat saya," lirih Fia.

__ADS_1


"Dan kalau saya tetep nolak kamu, gimana? Kelakuan minus kamu tempo hari membuat saya ataupun orang lain akan berpikir berkali-kali sebelum memutuskan mempekerjakan kamu," balasnya menohok.


Fia menelan ludah. Memang benar sikapnya kemarin agak berlebihan. Bukan tanpa sebab, di Bali ia terlalu sering mendapat perlakuan tak mengenakkan dari para bule maupun laki-laki lokal yang kadang bersikap kurang ajar. Lingkungan keras berhasil membuatnya seperti itu.


Kembali menghela napas, Fia menatap serius Dafin. "Tolong beri saya kesempatan membuktikan kemampuan saya, Pak. Beri saya waktu seenggaknya sebulan buat buktiin kalau saya layak bekerja mendampingi Bapak."


"Iya, Pak. Pikirkan lagi," timpal Nasya. Ia mensejajari Fia.


Entah kenapa Dafin yang tadinya kekeh menolak menjadi ngambang. Ada dua wanita—Nasya dan Fia—bergantung pada keputusannya.


Kini matanya menatap Sisi—sang pacar—yang duduk di sebelah ranjang. Tatapan teduh dan anggukan wanita bergaun merah muda itu membuat Dafan menghela napas. Ia tak bisa menolak apa pun keinginan Sisi. Dari tatapannya, sang pacar yang masih berkuliah di akademi kebidanan seperti menginginkan Dafin memberikan kesempatan.


"Tolong, Pak. Tolong pikirin lagi. Soalnya saya sudah—"


Lisan Nasya tak terselesaikan. Ia merintih seraya memegang perut. Tubuhnya limbung dan hampir saja roboh, beruntung tangan memegang besi tepian ranjang. Fia yang melihat keanehan langsung memeluknya dari samping.


"Loh, Mbak Nasya kenapa?" Fia panik. Ia tuntun Nasya yang kesakitan duduk di ranjang pasien. Sementara Dafan, ia membeku dengan wajah yang tak kalah tegang. Pria itu berdiri mematung padahal pacarnya tengah membantu Fia membaringkan Nasya.


"Kamu kenapa, Sya?" tanya Dafan. Ia ngeri melihat sekretarisnya menggeliat kesakitan seperti itu. Wanita itu tak menjerit, tapi rintihannya lumayan membuat yang lain bergidik.


"Mbak, HPL-nya kapan?" tanya Sisi.


Nasya menggeliat lagi saat kontraksi datang. Matanya terpejam dengan dahi mengkerut. Rasa sakit yang dirasakan sangat dahsyat. Seperti ada angin yang berputar dalam perut dan menusuk sampai ke tulang belakang. "H-PL-nya m-masih lama. Sekarang baru 37 minggu."


****


Anya tersenyum saat melihat semua orang telah berkumpul di meja makan. Ia sungguh tak sabar ingin menunjukkan hasil kerja kerasnya menyiapkan makan malam.


"Kenapa senyam-senyum begitu? Kami mau makan, bukan ngelawak," ketus Dafin seraya menarik kursi. Sebuah perkataan yang membuat mood Anya ambyar seketika. Gadis itu berdengkus sebal. Dafin seperti mempunyai bakat alami membuatnya kesal.


"Sekali aja, please jangan rese, bisa?" balas Anya tak kalah ketus. Ia yang tengah berdiri langsung bersedekap.


"Anya."


Suara Chandra yang berat sukses membuat tatapan menghunjam Anya langsung hilang. Kini ia berpindah menatap Dafan lantas mendekatinya. Perlahan ia mencedok nasi dan memasukkannya ke piring. Dafan dan yang lainnya hanya bisa saling pandang dalam kebisuan. Gelagat Anya sangat aneh menurut mereka.


"Bang Dafan, coba cicip ayam panggang aku ini ya." Anya berucap seraya menaruh potongan paha ayam di dalam piring. "Enak, loh. Ini aku yang buat," lanjut Anya lagi dengan nada suara yang tentu saja berbeda saat berbicara dengan Dafin. Tak lupa mata kedip-kedip, sengaja memasang wajah imut. Menurutnya Dafan itu sosok saudara yang the best. Penyayang, bijak, dan yang terpenting tidak jail. Ia selalu sopan jika berbicara sama Dafan. Dafan membuatnya nyaman.


"Ini kamu yang masak?" Dafan mengernyit, ia lihat dengan seksama menu makan malam dan baru menyadari ada yang berbeda. Makanan ala-ala barat sudah terhidang.


"Wah, hebat. Abang gak nyangka kamu bisa masak?" lanjut Dafan lagi. Ia berdecak kagum. Hiasan di atas meja sudah seperti restoran bintang lima.


Anya mengangguk antusias. Senyumnya terbit. Ia lantas berucap, "Iya, semuanya aku yang masak. Semuanya aku yang tata. Keren, 'kan?" ucapnya jemawa seraya menepuk dada.

__ADS_1


"Iya, Fan. Adik kamu yang masak ini semua. Katanya ini sebagai selamatan karena kamu udah balik lagi ke rumah," timpal Litania.


Senyum Dafan terbit, tapi tidak Dafin. Ia berdengkus. "Kira-kira aman gak? Jangan-jangan gak higienis."


Sebuah celetukan yang membuat Anya kembali menggeram. Kepalan tangan sudah terbentuk. Ia dekati kursi Dafin lantas dengan cepat merebut paha ayam yang Dafin pegang.


"Khusus untuk Bang Dafin, ayam ini aku kasih formalin," balasnya ketus. Matanya melotot hingga Chandra kembali berdeham.


"Sudahlah, ayo makan. Ayah gak suka ada keributan di meja makan."


Makan malam pun berjalan sebagaimana mestinya hingga sebuah bunyian membuat semua orang berhenti mengunyah.


Bunyian halus yang langsung membuat ekspresi semua orang di sana mengkerut secara bersamaan.


"Nya, kok perut Bunda rasanya—"


Lisan Litania tak terselesaikan berganti dengan suara-suara pelan bak mesin motor yang lagi ngadat. Aroma tak sedap pun menyeruak. Cepat-cepat ibu dari tiga anak itu berlari menuju kamar mandi. Sedetik kemudian disusul Chandra dan Dafan. Semuanya mengeluarkan bunyian yang sama, klasik, unik, halus tapi membius.


Anya terdiam, matanya menatap Dafin. Abangnya yang tengah cidera tangan juga tampak gelisah.


"Nya, sebenarnya apa yang sudah kamu masak?" geram Dafin. Perutnya juga terasa mulas. Matanya menatap nyalang.


Namun, Anya tak menjawab.


Dafin yang kesal tak punya waktu untuk marah. Sesuatu dalam perut serasa akan meledak jika tak di keluarkan.


Bergegas ia beranjak. Namun, karena pergelangan tangan yang cidera membuatnya tak bisa berlari dan berakhir ditikung Anya.


"Siapa di dalam?" tanya Dafin saat tiba di depan toilet.


"Ini Bunda. Kamu pake toilet yang di kamar tamu aja!" seru Litania dari dalam.


Mendesah menahan mulas, Dafin pun menuju kamar tamu. Sialnya terkunci juga. "Ya Tuhan, siapa lagi ini," gumamnya kesal. Ia gedor-gedor pintu itu.


"Siapa di dalam. Tolong dong gantian," ucapnya. Suaranya pelan karena menahan sesuatu agar tidak bablas.


"Pake toilet yang lain!" seru seseorang yang tak lain adalah Dafan.


Sumpah. Kekesalan Dafin sampe ke ubun-ubun, tapi sesuatu yang di bawah juga sudah terasa di ujung.


Tertatih, Dafin memegang dinding menuju kamar tamu yang lain. Sialnya ada Anya di sana hingga mau tak mau ia harus menuju kamar atas. Apes, baru sampai menaiki anak tangga suara bunyian terdengar jelas diikuti ada ampas yang keluar.


Pret pet pet pet.

__ADS_1


"Anya!"


Teriakan Dafin menggema berbarengan dengan sesuatu yang bablas di dalam celana.


__ADS_2