Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Ngebet.


__ADS_3

Brakh!


Arjun yang bertelanjang dada dalam kamarnya sontak saja terkejut. Ia cari asal suara keras itu dan mendapati sang pengganggu sudah berdiri di ambang pintu kamar. Sosok yang membuat perasaan Arjun yang tadinya cerah menjadi kelam dalam sekejap mata.


Kinar, gadis aneh itu menerobos masuk tanpa pemberitahuan, jangankan mengetuk, mengucap salam saja tidak. Kini malah berlenggang masuk kamar Arjun dengan senyum yang kembali ke mode mesum. Ia dekati Arjun yang tengah berdiri di depan cermin. Matanya yang telah berkabut hasrat sedikit menyipit. Bagaimana tidak? Lelaki incarannya itu tengah bertelanjang dada. Pemandangan yang tentu saja sayang jika disia-siakan.


Memindai punggung kekar Arjun tanpa berkedip, Kinar membatin, gila ... dia seksoy sekali. Rasanya aku ingin ... ah, pikiranku mendadak Traveloka. Pokoknya aku harus bisa bikin dia jatuh cinta sama aku.


Kinar tersenyum licik. "Arjun, badan kamu bagus. Aku gak tahan, aku gemes pengen belai," celotehnya.


Perempuan gila ini kumat lagi. Arjun membatin heran. Ia abaikan tatapan Kinar dan memasang wajah biasa saja. Beberapa hari mengenal gadis itu dirinya telah terbiasa dengan pelecehan verbal maupun tatapan yang ... entahlah. Wanita itu begitu ngebet ingin menjadi istrinya.


Merebahkan diri di sisi ranjang, Kinar masih menatap Arjun tanpa berkedip. Memandang betapa atletisnya tubuh Arjun membuat fantasi nakal kembali menguasai otak. Serasa mendapat tumpukan emas, Kinar tak ingin melewatkannya barang sedetik pun.


"Arjun, kita nikah, yuk."


Arjun berdengkus, mendengar lamaran yang entah telah berapa kali itu sudah tak membuatnya kesal lagi. Telinganya kebal dan hanya menganggapnya sebagai angin lalu.


"Arjun, aku beneran pengen jadi istri kamu. Masa kamu gak mau. Aku kurang apalagi coba. Aku cantik, aku muda, kulitku bersih, aku imut dan lagi ... aku ini anak orang kaya, loh. Anak tunggal semata wayang lagi. Kamu beneran gak tertarik sama aku?"


"Gak," ketus Arjun tanpa menoleh, "lagian kamu itu bisa tidak kalau masuk rumah itu ketuk pintu dulu. Kamu itu nggak sopan. Kamu itu perempuan. Harusnya bisa jaga harga diri. Jadi perempuan kok gak ada rasa malu-malunya, sih. Malah bikin malu."


Nada suara Arjun sudah mulai meninggi. Wajah Kinar yang tertangkap cermin membuat rasa kesalnya naik dengan perlahan.


"Kenapa harus malu? Kita 'kan gak lama lagi bakalan resmi."


Resmi dengkulmu. Arjun berdengkus lagi. "Terus kenapa ke sini? Kita balik ke Jakarta-nya itu entar sore. Balik sana ke rumah Vika."

__ADS_1


Kinar menggeleng. "Nggak, ah. Aku males di sana." Kinar merebahkan tubuhnya dengan tangan yang membentang lebar.


Arjun membalik diri dan menatap gadis itu dengan tatapan heran. Aku heran, spesies apa dia ini?


"Di sana sepi. Enggak ada kamu hatiku hampa, rasanya duniaku gak ada warna. Hitam, kelabu, abu-abu, pokoknya enggak banget, deh."


"Iya, aku lupa. Kamu 'kan pelangi berjalan," celetuk Arjun seraya melihat dengan seksama penampilan Kinar yang tak kalah heboh dari sebelumnya. Rok hitam selutut dengan atasan blazer berwarna merah menyala. Sementara dalaman blazer adalah kaos pas bodi dengan warna yang tak kalah wau, warna ungu tua. Tak hanya itu, rambut yang kemarin berwarna pirang kini telah berubah abu-abu. Sumpah, Arjun malu melihatnya. Andai bukan tuntutan pekerjaan, sudah pasti akan ia tinggalkan wanita itu di tepi jalan.


"Kok kamu gitu, sih. Walaupun kamu bilang aku pelangi berjalan. Tapi tetap aja kehadiranku itu selalu di nanti, loh. Pelangi 'kan identik dengan bidadari."


Ck, bidadari ketumpahan cat. Sialan, ngomong sama dia aku gak bakalan pernah menang.


"Serah kamu, deh. Mending kamu pulang ke tempat Vika."


Kinar cemberut, sungguh tak suka serumah dengan Vika—sepupu Arjun yang rumahnya lumayan jauh dari sana. "Aku di sini aja, ya? Aku gak bakalan ganggu kamu. Aku bakalan diem, janji."


Mengembuskan napas berat, Arjun kibaskan tangan kanan sebagai kode malas berdebat. "Terserah kamu sajalah."


Kinar tersenyum, setelah beberapa hari berada di dekat Arjun ia merasa mendapat sedikit lampu hijau. Lelaki itu ternyata tak sekaku itu. Luarnya memang kelihatan cuek, tapi nyatanya lumayan cerewet.


Kinar mengedarkan pandangannya, memindai secara keseluruhan isi kamar Arjun yang baru pertama kali ia masuki. Begitu rapi untuk ukuran-ukuran laki-laki. Buku tertata di dalam lemari, ranjang bersih rapi, hampir tak ada celah satu pun. Tak ada alasan bagi Kinar untuk tak menyukainya.


Namun, mata Kinar mendadak terhenti pada sebuah foto yang ada di nakas. Potret Arjun yang berdiri di samping seorang wanita tua mengenakan kebaya putih serta selendang. Wanita berkeriput yang Kinar tebak adalah ibunya Arjun.


Meraih bingkai foto itu, Kinar belai dan kemudian menatap Arjun yang tengah mengenakan pakaian. "Arjun, ini ibu kamu?" tanyanya.


Arjun hanya berdehem, sedangkan tangan masih sibuk memasukkan kancing ke dalam lubang.

__ADS_1


"Aku dengar dari Vika kalau ibu kamu sudah meninggal setahun yang lalu, aku yakin kamu kesepian. Jika perlu teman curhat atau memerlukan pundak untuk bersandar ... aku siap. Aku siap lahir batin."


Arjun mengernyit tapi tak menghiraukan ocehan Kinar. Rasanya sudah terbiasa dengan ocehan nyeleneh dari gadis itu.


"Apalagi yang kalian gosipin?" Arjun sudah rapi sekarang. Ia balik tubuhnya dan menyandarkan diri di bufet jati. Menatap lekat si Kinar yang sedang memegang foto kebersamaannya dengan sang mama. Kenangan saat pertama kali bekerja di Kinara Group—perusahaan ayahnya Irwan.


"Ya nggak, dong. Ini beda. Kalau ngegosipin itu berbicara hal yang buruk, yang nggak bener. Kalau aku 'kan nggak kayak gitu. Aku itu mencari informasi yang akurat, ter-update dan terpercaya dari orang yang benar-benar kenal kamu. Aku 'kan ingin jadi istri yang baik. Istri sholehah yang mengerti suami baik di luar dan juga dalam."


Arjun berdecak lagi. "Ngomong itu jangan asal. Siapa juga yang mau nikah sama kamu. Aku itu gak suka perempuan yang modelnya kek kamu ini."


"Benarkah? Lalu kamu sukanya yang kek gimana? Aku rela kok bertransformasi menjadi yang kamu mau." Mata Kinar kembali berkedip, senyum pun kembali terukir. Bukannya tersinggung, gadis itu malah beranjak dari kasur lantas menggalungkan lengannya di lengan Arjun. "Kamu mau aku jadi apa pun pasti aku turuti. Asal kamu mau nikahin aku. Aku siap kok jadi wanita kedua yang mengisi harimu selain ibumu."


"Beneran?" Melepaskan kalungan tangan Kinar, Arjun pegang kedua pundaknya. "Emangnya apa yang kamu bisa?"


"Aku bisa segalanya," balas Kinar. Matanya bergerak liar. Ada rasa grogi saat Arjun beradu tatap dengannya. "Aku bisa ngelakuin apa pun buat kamu."


"Oh, ya."


Arjun mendekatkan wajah. "Kalau kamu bisa apa saja, kenapa piring di rumah Vika habis semua? Kenapa mesin cuci baju jadi rusak?


"Itu ... itu 'kan masa transisi. Aku masih ditahap belajar, tapi jangan khawatir, aku itu cepat tanggap, kok. Sekali lihat aku pasti bisa. Kasih aku waktu, aku bisa jadi istri solehah kayak perempuan yang lainnya. Aku pasti bisa bikin kamu nyaman. Aku jamin kamu nggak akan rugi jadiin aku istri kamu."


Arjun tergelak, lantas menoyor kepala Kinar. "Otak kamu ini isinya apa cuma mau jadi istri? Katanya anak orang kaya, harusnya kuliah dulu yang bener. Kamu itu terlalu muda buat mikir kejauhan kayak begitu. Entar nyasar dan gak bisa pulang."


Arjun lepaskan tangannya dari pundak Kinar seraya memutar tumit. Suara gelak tawa masih saja terdengar. Tawa yang membuat Kinar makin menyukai pria itu. Suaranya renyah banget, kayak ada manis-manisnya gitu.


"Arjun, tunggu aku. Lamar aku. Pinang aku dengan bismillah. Yang penting kita sah."

__ADS_1


__ADS_2