
"Mau, ya? Sekali ... aja. Please ... jangan nolak. Kasih aku kesempatan. Aku udah lama suka sama kamu, Arjun." Nadya mengiba, matanya berkaca-kaca.
"Maaf, Nadia. Aku gak bisa."
"Kenapa? Bukannya kata kamu, kamu itu gak punya pacar? Lalu masalahnya di mana? Apa aku kurang menarik?"
"Bukan begitu, Nad."
Kepala Arjun mendadak berdenyut, ingin rasanya mengatakan kalau sudah punya seseorang yang spesial dalam hati, hanya saja tak mau menyimpulkan sesuatu yang belum jelas. Si Kinar, gadis ganjen yang mampu membuatnya gerah hati tapi bisa mengajarkan padanya arti rindu tak ada kabar berita sama sekali. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Kadang, dirinya beranggapan bahwa gadis itu bisa saja kecantol bule tampan dan melupakan cerita mereka. Jika memang demikian, haruskah ia mempertahankan cinta yang terlambat datang, ataukah move on?
Mendesah panjang, Arjun merasa tak tega pada Nadya.
"Lalu apa?" desak Nadia. Tangannya masih memegang erat pergelangan Arjun
Arjun gelagapan. Nadia sosok wanita dewasa dan cantik.
__ADS_1
"Siapa bilang Arjun gak punya pacar?"
Suara cempreng wanita mengagetkan dua orang yang tengah berbicara serius itu. Keduanya sontak mencari asal suara. Tak hanya mereka, orang-orang yang ada di restoran pun keheranan. Keadaan restoran yang ramai mendadak senyap.
"K-kinar?" lirih Arjun, suaranya tiba-tiba tercekat, ia gagap. Haruskah bahagia setelah melihat gadis itu, ataukah memasang wajah biasa saja, sama seperti dulu?
Mata Arjun membulat saat wanita tinggi berdarah campuran itu mendekat. Suara ketukan sepatu Kinar semakin jelas, bahkan seirama dengan detak jantung dalam dada. Ah ... Kinar begitu cantik, sekarang. Wajah dan penampilannya begitu berbeda ketika mereka pertama kali jumpa. Hanya saja, satu yang sama. Tatapan ... ya tatapan.
Tanpa aba-aba Kinar pukul tangan Nadya hingga pegangan wanita itu terlepas, lantas merangkul lengan Arjun, mesra. "Aku tunangannya dia," ucap Kinar seraya mengukir senyum licik. "Bahkan sebentar lagi aku akan jadi istrinya."
"Jangan ngaco kamu. Arjun bilang dia gak punya pacar."
"Ya jelas dia gak punya pacar. Yang dia punya itu adalah tunangan." Penuh penekanan dalam kata tunangan. "Dan tunangan dia adalah saya," lanjut Kinar seraya menepuk dada, bangga.
Nadya shock. Ditatapnya Arjun, nanar. "Arjun! Ini beneran? Dia beneran tunangan kamu?"
__ADS_1
"Enggak. Aku gak punya hubungan sama dia." Arjun menjawab dengan nada dingin. Rangkulan Kinar bahkan sudah ia lepas paksa.
Kini wajah cemas Nadya berubah. Senyumnya terlihat miring. Seolah-olah mengejek Kinar.
Sementara Kinar, ternganga. Begitu banyak pertanyaan dalam benak tapi tak bisa melisankan kata.
"Sepertinya wanita ini habis minum halusinogen." Nadya terkekeh, tangannya bersedekap. "Jadi sebelum parah, mending kamu obatin dulu. Biar gak jadi penyakit menular," lanjutnya.
Kinar malu, lebih tepatnya kecewa. Wajah dingin Arjun dan sambutan pria itu membuatnya putus asa. Haruskah menyerah?
Namun, lekas-lekas ditepis jauh perasaan itu. Keyakinan dalam dada bahwa Arjun adalah jodohnya masih belum pudar. Ia peluk erat sang pujaan hati dari samping. Air matanya merembes. Sekarang waktunya pertunjukan.
"Arjun, kok kamu tega sana aku. Aku tau, aku salah, tapi kenapa bisa kamu bilang begitu? Apa pengorbananku selama lima tahun gak ada artinya buat kamu? Apa usaha dan perjuangan kita buat sama-sama selama ini udah gak berarti lagi di matamu?" Sesenggukan, Kinar berucap di sela tangisan.
"Apa maksud kamu? Perjuangan, perjuangan apa maksud kamu?"
__ADS_1
jangan lupa like komen vote dan rate.