Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Firasat


__ADS_3

Siang hari.


Litania berjalan mengelilingi rumah besar mertuanya. Rumah berlantai tiga dengan sebelas kamar. Rumah besar lengkap dengan tujuh ART, dua tukang kebun dan juga dua sopir. Ia berjalan dengan pikiran yang campur aduk, was-was berharap apa yang diinginkan terkabul.


Menyentuh perut yang masih rata, Litania bergumam pelan, "Aku mau ngajakin dia periksa aja deh. Buat mastiin firasat aku bener apa enggak. Tapi mudahan emang beneran."


Menarik napas panjang, Litania rebahkan diri di sofa ruang tamu. Pikiran makin berkecamuk. Ia inginkan kepastian dari firasatnya dengan segera. "Ya baiknya aku pergi sekarang. Sekalian mau inspeksi dadakan. Siapa yang tau kelakuannya di kantor," gumamnya seraya beranjak dari sofa.


Namun, saat hendak ke dapur mata tak sengaja melihat salah satu asisten rumah tangga mereka.


"Mbak Sri." Litania memanggil seorang wanita paruh baya berbadan kurus dengan celemek di pinggang. Wanita itu tersenyum dan bergegas menghampirinya. "Iya, Non. Ada apa?"


"Bisa panggilin pak Bambang. Saya mau minta anterin ke kantor."


"Baik, Non. Saya panggilin dia sekarang."


Memutar tumitnya, Sri tinggalkan Litania dan bergegas menuju dapur. Tak berapa lama datanglah lelaki paruh baya yang juga bertubuh kurus dengan kumis klimis. "Pergi sekarang, Non?" tanyanya sopan seraya sedikit membungkukkan badan.


Litania mengangguk. Diikutinya langkah kaki Bambang menuju halaman. "Jangan bilang ke dia ya, Pak. Saya mau inspeksi dadakan."


"Baik, Non."


Dengan perlahan mobil mereka pun bergerak melewati air mancur yang ada di tengah halaman. Bambang turuti permintaan sang majikan untuk melakukan sidak pada Chandra.


Tak berapa lama, tibalah Litania di sebuah gedung tinggi. Kantor tempat suaminya bekerja. Gedung 57 lantai yang baru kali pertama ia datangi.


Mendongakkan kepalanya, Litania berdecak kagum lalu bergumam, "Ternyata kantornya besar." Sedetik kemudian bibirnya pun merekah sempurna. Ia langkahkan kaki memasuki gedung dan menuju meja resepsionis. Tampak dua wanita berpenampilan rapi dengan rambut disanggul tersenyum ramah kepadanya.


"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya wanita bertuliskan nama Nadya yang tersemat di dada sebelah kiri.


"Saya mau ketemu pimpinan perusahaan ini," jawab Litania sekenanya. Sementara mata tak henti mengedarkan pandangan. Tampak norak dan kampungan hingga dua resepsionis itu saling adu pandang.


"Sudah bikin janji sebelumnya?" tanya wanita yang bertanda pengenal Raisa di dada sebelah kiri.

__ADS_1


"Gak, belum. Tapi dia pasti seneng saya dateng. Bisa kasih tau di lantai berapa kantornya?"


"Kalau boleh tau Mbak siapa?"


Litania tersenyum ramah. "Saya istrinya."


Kedua resepsionis itu kembali beradu pandang. Lantas memerhatikan penampilan Litania yang hanya mengenakan kaus oblong biasa dengan topi di kepala. Keduanya memundurkan langkah secara bersamaan dan memunggungi Litania. "Kamu percaya dia istrinya pak Chandra?" tanya Nadya.


Raisa menggeleng. "Penampilannya aja gak mendukung gitu. Aku pernah denger sih kalau pak Chandra itu udah nikah. Tapi masa iya sama ABG begitu."


Nadya manggut-maggut. "Lalu kita apakan dia?"


"Aku gak tau. Menurut kamu bagaimana?'


"Lha, kamu aja yang udah lama kerja di sini gak tau apalagi aku yang baru sebulan."


"Ya udah deh. Usir aja."


Kembali menghadapi Litania, dua resepsionis itu tersenyum ramah. "Maaf, Mbak. Kalau belum bikin janji Mbak gak bisa ketemu beliau."


"Maaf, Mbak. Tetep gak bisa. Saya juga gak bisa percaya kalau Mbak ini istrinya beliau. Soalnya sudah banyak yang mengaku begitu. Jadi maaf, kami gak bisa memberi tahu di mana ruangannya."


Wanita yang bernama Nadya itu menjelaskan dengan nada ramah. Namun, Litania dapat dengan jelas menyimpulkan kalau wanita itu meremehkannya. Terbukti dari tarikan samar di ujung bibir. Meremehkan seolah-olah mengatakan dirinya pembohong.


"Tapi sa—"


Lisan Litania tak terselesaikan. Rasa mual itu kembali datang. Membuatnya harus menutup mulut dan mencari toilet. Beruntung mata menangkap tanda bahwa ada toilet di lobi itu. Dengan cepat ia langkahkan kaki berlomba dengan rasa mual yang sudah hampir mencapai puncaknya.


Akhirnya, Litania muntahkan segalanya. Semua makanan yang menjadi sarapannya tadi pagi keluar memenuhi kloset. "Ya ampun, kok gini amat, sih. Aku masuk angin apa hamil? Aku harus ketemu dia secepatnya?"


Litania rogoh saku celana hendak mencari ponsel. Namun sial, barang pipih itu tak ia temukan. "Hais, gila. Kenapa aku jadi teledor begini? Pasti ketinggalan di mobil. Aku harus balik ke mobil."


Litania buka pintu toilet dan matanya membelalak sempurna kala melihat dua resepsionis julid tadi menghadang jalan. "Kalian mau ngapain? Minggir!"

__ADS_1


Namun, bukannya memberi jalan, dua wanita berpakaian hitam dengan corak batik itu malah menyeringai. Bahkan Nadya, wanita itu dengan lancang menarik baju Litania lalu mendorong pundaknya hingga ia terhuyung kebelakang.


"Apa mau kalian?" Litania berang. Ia tepis tangan Nadya dan menatap nyalang Nadya dan Raisa secara bergantian.


Lagi-lagi bentakan Litania direspon dengan tarikan sebelah bibir. Raisa, wanita itu memegang kuat pundak kirinya seraya berkata, "Kami itu gak ada urusan dengan kamu. Cuma kami kesel aja. Kamu masih muda gini kok pandai bohong. Gak malu ya ngaku-ngaku istrinya pak Chandra? Nyadar dong. Perempuan miskin kek kamu ini bukan levelnya dia."


Raisa menyeringai, begitu juga Nadya, gadis itu bahkan menarik topi Litania seraya berkata, "Iya, kami yang kece badai begini aja gak dilirik sama dia. Apalagi kamu. Anak bau kencur yang gak ada isinya begini." Nadya remas pantat Litania. "Tepos. Gedein dulu sana."


Keduanya kembali tertawa. Membuat Litania yang sudah kesusahan meredam emosi akhirnya unjuk gigi. Ia tarik tangan Raisa yang masih dipundaknya. Dalam sekejap dan satu kali tarikan telah membuat gadis itu berlutut dengan tangan memutar kebelakang. Raisa meringis. Sementara Nadya tampak shock dengan mata yang membulat. "Apa yang kau lakukan?" bentaknya.


"Ini akibat cari masalah sama aku." Litania menyeringai. "Apa sakit?"


Raisa mengangguk dengan cepat. "Tolong lepasin, sakit!"


Litania lepaskan kuncian dengan kasar. Raisa terjerembab dengan pipi membentur porslen. Erangan pun keluar dari bibirnya.


"Dan satu lagi. Aku itu istrinya. Bukan pembohong. Dasar pegawai gak punya akhlak. Mau aku laporin?"


Membantu Raisa berdiri, Nadya pasang badan lagi. "Aku gak nyangka, ternyata kamu selain tukang bohong merangkap jadi preman juga. Dasar bocah tengil." Tangan Nadya mengayun. Namun dengan cepat Litania menangkisnya dan balik mengunci tangan itu hingga memutar ke belakang.


"Hey! Lepasin gak!"


"Aku gak nyangka, ternyata selain licik kalian itu juga bodoh. Apa kalian gak pernah dengar kalau istrinya Chandra Maiza Kusuma itu bisa bela diri? Ngadepin cunguk kek kalian ini kayak basmi serangga. Tinggal semprot, mati."


"Sialan, lepasin gak!"


Litania makin mengetatkan kuncian. Namun, sedetik kemudian pandangannya mulai memburam. Objek pandangan berputar dengan sendirinya. Dua wanita itu tak dapat tertangkap netra lagi. Indra pendengaran pun seolah mati fungsi.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.

__ADS_1


Litaia ambruk dengan punggung membentur dinding.


__ADS_2