Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Gadis ganjen


__ADS_3

"Iya, Papa tau." Frans menenggak air putih hingga habis setengah. Sekilas ia lihat wajah istrinya lalu kembali melihat Kinar. Mata anak gadisnya itu sudah berkaca-kaca. "Papa cuma belum yakin sama dia, Kinar," lanjut Frans pelan.


"Belum yakin dibagian mananya, Pa? Dia itu ganteng, tinggi. Kalau pergi ke kondangan gak malu-maluin, Pa," ucap Kinar, menghitung kelebihan Arjun dengan jemari tangan hingga Frans sedikit kesal. Anak semata wayangnya itu malah menilai fisik lebih dulu ketimbang yang lain. Kelihatan banget ganjennya.


"Apa hanya itu yang jadi pertimbanganmu? Kalau kamu mau, Papa bisa cariin yang lebih tampan dari dia. Anak kolega bisnis Papa banyak yang lebih oke dari dia. Bibit, bebet dan bobotnya terjamin."


"Tapi aku cintanya cuma sama dia, Pa. Arjun itu bibit unggul. Bibit yang Papa sebutin itu gak sebanding dengan bibitnya dia. Lagian bibit sebagus apa pun gabakalan bertunas kalo gak ada cinta yang menyirami," balas Kinar sok puitis. Air mata meluruh setetes. Hatinya makin sakit saja. Hanya Arjun yang tersemat di dada. Andai sang ayah menghadirkan Lee Jong Suk, seinci pun ia tak kan goyah.


Frans mendesah. Berhadapan dengan Kinar dan membahas bibit membuatnya mendadak menjadi pedagang tanaman. Punggung pun telah tersandar di kursi, pria tua itu kembali mengembuskan napas panjang. "Cinta bakalan pudar seiring yang dicinta udah gak ada."


"Maksud Papa?" Kinar hapus air mata kesedihan yang membasahi pipi.


"Kalau dia suka kamu karena fisik, lama kelamaan pasti bakalan pudar karena orang pasti menua. Kalau dia suka kamu karena materi. Papa yakin dia orang brengsek yang gak pantes kamu perjuangkan."

__ADS_1


"Tapi dia gak gitu, Pa. Dia orangnya tulus. Papa tau itu, 'kan?" ujar Kinar, matanya menyiratkan harapan yang amat besar. Ingin sekali sang ayah mengiyakan keinginannya menikahi Arjun.


"Iya, Papa tau. Dia laki-laki baik. Tapi laki-laki baik gak selamanya baik, Kinar. Kebaikan juga ada batas wajarnya. Kalau over baik, dia bisa dimanfaatkan orang lain. Dia bakalan dikadalin orang. Dan kamu sendiri yang akan susah."


"Tapi aku gak peduli. Aku suka dia. Aku mau dia. Aku pokoknya mau nikahnya cuma sama dia."


"Jangan terlalu terobsesi sama orang, Sayang. Ada pepatah mengatakan, jangan terlalu berinvestasi lebih pada perasaan. Perasaan itu ambigu. Bisa goyah bahkan hanya dengan tiupan angin. Papa gak mau kamu menyesal."


"Aku gak bakalan nyesel. Aku udah yakin sama dia. Lagian bukannya Papa udah tau sifat asli dia. Aku yakin selama ini Papa ngawasin dia. Jadi kenapa sekarang dihalang-halangin. Kesalahan dan kekurangan Arjun di mana coba? Dia itu laki-laki tulus, Pa."


"Sebenarnya kesalahannya ada di kamu," ujar Frans. Ia tampak menggeram.


"Lah, kok?" Kening Kinar berlipat. Matanya menatap heran ke Frans lalu ke sang mama kemudian kembali ke Frans. "Emangnya aku salah apa?"

__ADS_1


"Papa mau nanya. Lima tahun kamu kuliah apa yang kamu dapat?"


Kinar terdiam. Tertunduk dengan bola mata bergerak liar


"Yang kamu lakuin di luar negeri sana cuma kursus masak sama ke panti asuhan. Bertahun-tahun kamu lakuin kegiatan itu, rutin."


Kinar masih terdiam. Mendadak lidah kelu saat mengingat syarat sebelum memutuskan kembali kuliah lima tahun lalu. Ia ingin tak ada keluarga yang mengunjunginya. Berkomunikasi pun hanya bisa lewat telepon saja. Ia sungguh tak menyangka sang ayah mengetahui kegiatannya selain belajar.


"Lalu hasil kuliahnya mana? Kamu itu harapan kami."


"Kan aku dari dulu udah bilang kalau aku gak mau kuliah," ujar Kinar membela diri. Seakan tak merasa bersalah.


"Lalu, harapan kamu apa? Nikah? Cuma jadi ibu rumah tangga?" Ucapan Frans terjeda. Pria tua itu kesulitan menahan marah hingga sang istri memberikan belaian ringan di lengan. ''Kamu harapan Angel Group, Kinar. Apa jadinya jika pemimpinnya gak tau apa-apa?"

__ADS_1


"Ya perusahaan Papa yang pegang lah. Aku mana tau apa-apa."


"Kamu!" Aliran darah Frans seakan berkumpul di belakang leher. Pria gempal itu langsung memegang tengkuk yang tegang. Rasanya aliran darah perlahan mulai mendaki naik ke ubun-ubun. "Ma, cepet panggil Arjun kemari," lanjutnya seraya angkat dari kursi dan meninggalkan Kinar yang tersenyum amat lebar.


__ADS_2