Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Ekstra part Kinar Arjun (move on dong)


__ADS_3

"Heh bule kampung!"


Kinar menoleh tapi tak terkejut sama sekali dengan kehadiran Meli.


"Kenapa?" tanya Kinar seraya bersedekap dada. Bokong tersandar ke wastafel panjang. Mata Meli melotot, Kinar menyipit.


Meli dekati Kinar, dada mereka hampir menyatu.


"Dasar gak tau malu," ucap Meli dengan telunjuk mendorong bahu Kinar. "Apa kamu gak malu membeli laki-laki dengan uang?" lanjutnya.


"Hah! Apa? Membeli?"


Ck! Yang benar saja. Kinar berdengkus. Ia singkirkan telunjuk Meli dari bahunya lantas membalas mendorong kepala Meli dengan jari telunjuk.


"Otakmu apa isinya?" Kinar mulai sarkastis.


"Jangan kurang ajar!" Meli mendesis. Kinar makin menatap bengis.


"Harusnya aku yang bilang begitu. Bagaimana bisa kamu menuduhku membeli Arjun? Apa kamu merendahkan dia? Dia laki-laki terhormat. Aku tulus sayang dia. Gak pernah aku membeli atau merayu dia dengan embel-embel."


"Alaa ... jangan sok alim kamu. Aku yakin orang tuamu ngancam dia. Iya, 'kan?" Meli berdecih. Dagunya terangkat. "Apa kamu ngaku hamil? Jangan-jangan itu anak hasil wikwik sama bule. Bule itu kabur lalu kamu minta Arjun yang tanggung jawab, iya, 'kan?" tudingnya lagi.


Sial, darah Kinar makin mendidih. Ia dorong bahu Meli hingga perempuan itu terhuyung ke belakang.


"Jangan sembarangan. Aku gak serendah itu!" Jari telunjuk Kinar tertuju ke Meli. Ia benar-benar geram akan fitnah itu.


Lagi, Meli menantang, tangan berkacak pinggang. "Kamu memang rendahan. Kamu pelakor. Kamu gak sadar? Karena kamu Arjun ninggalin aku tau gak?" Meli mulai histeris. Matanya merah menatap Kinar.


"Jangan bodoh kamu Meli. Jangan menyalahkan aku atau Arjun. Yang salah itu kamu. Kamu menyia-nyiakan dia gitu aja. Wajar dong aku menerimanya. Dia itu permata. Permata yang rugi jika disimpen oleh sampah kek kamu."

__ADS_1


"Dasar perempuan gila! Beraninya kau!" Tangan Meli hampir melayang, tapi Kinar menangkapnya dengan spontan.


Kinar tergelak penuh kemenangan melihat Meli yang meringis dalam kuasanya.


"Kamu memang benar-benar perempuan licik Meli. Kamu yang salah tapi menumpahkan kesalahan ke orang lain. Terimalah keadaan. Arjun sudah melupakan kamu bertahun-tahun yang lalu. Jadi jangan jadi perempuan bodoh yang berhalu ria. Jangan mempercayai bisikan kalau Arjun itu masih milik kamu. Ingat. Arjun sekarang suamiku," ucap Kinar penuh penekanan. Ia lepas tangan Meli dengan kasar hingga yang punya tangan terhuyung dan hampir jatuh.


"Ingat, Meli. Move on. Carilah laki-laki lain. Dan kalau sudah ketemu, setialah."


Kinar ambil tas tangan yang ada di dekat cermin. Ia hendak melewati Meli, tapi tanpa di duga, mantan kekasih Arjun itu mencekal tangannya. Kinar sontak terhenti, matanya membola saat melihat Meli memegang sesuatu di tangan kanan yang sepertinya siap melayang.


"Mau apa kamu? Apa itu?"


"Ini bedak gatal. Aku rasa benda ini cocok sama perempuan kek kamu." Meli tersenyum smirk. Ia berancang-ancang membubuhkan benda itu. Beruntung Arjun tiba dan menepisnya. Botol itu terpelanting ke atas dan menaburi tubuhnya sendiri.


"A-arjun ..." panggil Meli dengan suara lirih. Sang mantan tercinta tampak murka. Ia ingin meraih tangan Arjun, tapi secepat kilat pria itu mengelak.


"Jun ...."


"T-tapi, Jun ...." Suara Meli makin lirih, "dia udah ngerebut kamu dari aku. Dia pelakor."


"Cukup, Meli! Jangan pernah kamu ganggu Kinar lagi. Paham!"


Suara Arjun menggelegar dalam ruang tak seberapa besar itu. Meli terlihat shock. Ia menangis seraya menggaruk badan. Senjata makan tuan. Tubuhnya tertabur zat kimia yang menyebabkan badan gatal-gatal.


***


Kinar lebih banyak diam saat menuju kamar tempatnya dan Arjun menginap. Ia sedikit kesal karena bertemu Meli di hari pertama saat statusnya baru menjadi istri. Semua bayangan manis dan romantis saat berbulan madu hancur dalam sekejap.


Mendesah panjang, Kinar balik tubuh dan melihat Arjun yang berdiri di belakangnya. Prianya itu tampak jelas sedang merasa bersalah.

__ADS_1


"Arjun, aku—"


Lisan Kinar terjeda karena Arjun menarik paksa tangannya hingga ia berakhir dalam dekapan pria itu.


"Jun ...."


"Maaf, Kinar. Maaf karena masa laluku kamu terhina. Maaf aku gak bisa melindungi kamu. Maaf ...."


Kinar tersenyum. Ia makin mengeratkan pelukan Arjun.


"Katanya dalam cinta gak boleh ada kata maaf. Nah barusan, ada berapa maaf yang kamu ucapkan?" godanya seraya melepaskan pelukan Arjun.


"Tapi Meli keterlaluan."


"Iya, aku tau. Dia begitu karna menyesal udah ninggalin kamu. Aku yakin dia bakalan sadar seiring waktu."


Arjun menghela napas lega. Senyumnya sedikit kelihatan. Ia rengkuh lagi Kinar. "Besok-besok, kalau dia gangguin kamu lagi, bilang aku, hmm."


Kinar manggut-manggut.


"Jun ...."


"hmm ... kenapa?"


"Sampe kapan kita berdiri dan cuma pelukan?"


"Hah?"


"Apa kamu gak mau gitu ngajakin aku ke kasur buat ninu-ninu."

__ADS_1


__ADS_2