
Dafin menggerutu. Di bawah guyuran air shower matanya terpejam, sengaja membiarkan tetesan air dingin membasahi wajah. Ia benar-benar tak habis pikir, bagaimana dirinya yang selalu tenang menjadi kalangan kabut jika berdekatan dengan Fia? Mendadak otak menjadi tak singkron dengan perkataan jika ada gadis itu. Ia terus saja mengutuk diri setelah mengingat betapa konyol perkataan yang terlontar di taman tadi, dari kemarahan yang memuncak tanpa sebab sampai ocehan tak jelas yang membuat dirinya malu bukan kepalang.
Pekalah, Dafin. Yang namanya menyesal itu gak enak, loh. Saya jamin itu.
Dafin mengepalkan tinju karena perkataan Reynal terus saja menggerayangi benak. Ia bingung kenapa Reynal menyebut-nyebut pasal peka?
Mendesah panjang, Dafin membenturkan kepala ke dinding lalu menjambak rambut sendiri. Ia frustasi dengan situasinya sekarang dan membiarkan air shower tetap membasahi seluruh tubuh. Sungguh-sungguh berharap dinginnya air bisa mendamaikan dirinya dari perasaan yang tak menentu.
Akan tetapi bukannya tenang tiba-tiba saja wajah Kevin dan perlakuannya pada Fia bermunculan. Hatinya malah makin panas.
Dafin menyalangkan mata yang sempat terpejam, lalu bergumam kesal, "Kenapa bisa tiba-tiba dia muncul? Kenapa juga dia melamar Fia? Bukankah dia sendiri yang bilang kalau menganggap Fia hanya teman?"
Seakan telah memikirkan sesuatu yang gila dan tak masuk akal, Dafin pun menepuk pipinya keras-keras agar sadar. "Ayolah, ada apa denganku? Kenapa aku jadi nggak jelas gini? Itu sebenarnya hak dia. Lagipula bukankah bagus kalau Fia mendapatkan cinta pertamanya? Tapi ... tapi kenapa aku rasanya gak ikhlas? Apa aku cemburu?"
***
Pukul tujuh pagi, Dafin sudah berada di depan menara Big Grup Company. Ia berjalan gontai dengan kantong mata yang terlihat menghitam. Insomnia membuatnya tak bisa tidur barang sedetik pun. Fia benar-benar mendominasi pikiran meski sudah dilawan. Cara Kevin melamar Fia serta perkataan Reynal menjadi faktor pendukung. Dafin terus mendesah dalam langkah.
"Selamat pagi, Pak."
"Morning, Pak."
Begitulah sapaan para karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya kala berjalan di lobi. Namun tak ada satu pun yang dibalas Dafin. Ia terus melangkah dan mengabaikan para pekerja yang membungkuk maupun tersenyum padanya hingga mata tak sengaja melihat sepasang manusia tengah berjalan sambil bercengkrama dengan asyik. Lagi-lagi rasa kesal itu kembali hadir di diri Dafin. Ia dekati mereka yang tak lain tak bukan adalah Fia dan Rito.
"Pagi-pagi sudah mengobrol, bukankah seharusnya kalian bergegas ke meja masing-masing?" ujar Dafin setelah begitu dekat dengan mereka.
Sontak saja dua orang yang Dafin tegur langsung berhenti, membalik diri dan melotot horor. Mereka bahkan langsung berjarak karena Dafin sengaja menerobos tanpa peduli bahunya terbentur bahu Rito maupun Fia. Ia hanya kesal melihat kedekatan itu.
Sementara Fia yang masih belum bisa melupakan kejadian semalam berdengkus sebal sambil menatap punggung bos-nya itu.
"Tumben Pak Dafin susah datang jam segini?" celoteh Rito, pria berkemeja putih dan berdasi biru pekat juga melihat punggung Dafin. Tatapan mereka beradu saat Dafin membalik diri setelah masuk ke dalam lift khusus eksekutif. Mata Dafin menatap nyalang ke arahnya. Beruntung pintu lift langsung tertutup. Ia sangat yakin jika dipelototi lebih lama oleh Dafin jantungnya akan copot dengan sendirinya.
"Nyeremin amat ya mata pak bos. Lagi punya masalah berat keknya," lanjut Rito.
"Entah," jawab Fia sekenanya lalu kembali melangkah. Ia masih kesal gara-gara kasus semalam. Karena Dafin ia tak bisa tidur dengan layak. Statement Dafin dan perlakuan kasar Dafin pada Kevin membuatnya resah, belum lagi Kevin yang tidak bisa dihubungi sama sekali.
Fia berakhir mendesah. Rito yang mendengar suara lirih putus asa gadis itu langsung menghentikan langkah lalu mencekal pergelangan tangannya.
"Kenapa?" tanya Fia.
"Kamu lagi ada masalah?" Rito bertanya balik dengan mimik wajah serius.
Fia bergeming, matanya beradu dengan mata Rito. "Maksud kamu?" tanya Fia balik.
"Kamu kek nya lagi stres. Nanti sepulang kerja apa kamu mau jalan-jalan? Aku punya tempat bagus untuk menghilangkan penat, bagaimana? Kamu mau ikut?" tanya Rito lagi, ia tersenyum setelah mengatakan itu. Lesung pipi menambah ketampanan dan pesonanya.
__ADS_1
"Begini Rito, sebenarnya ...."
Telepon genggam Fia berbunyi, cepat-cepat gadis itu menggeser panel hijau karena yang menelepon adalah Dafan.
"Sebentar ya, mau jawab telepon dulu," ujar Fia lalu memutar tumit dan menjauh.
"Iya, Fan. Kenapa?" tanya Fia to the point.
"Fi, entar malam kita ketemuan ya. Ada yang mau aku omongin."
Dafin yang berada di seberang telepon berucap dengan nada suara penuh harap.
"Apa gak bisa dibicarain sekarang. Soalnya hari ini jadwal Pak Dafin lumayan padat."
"Gak masalah. Kamu pulang jam berapa pun tetep aku tungguin."
Permintaan Dafan sekarang terdengar memaksa. Fia jadi menghela napas berat. "Tapi Fan ....
Telepon terputus. Fia langsung melongo. Namun, telepon itu kembali berdering dan terlihat jelas nama Dafin di sana.
"Kalian bener-bener kompak," gumam Fia lagi lalu menggeser panel hijau.
"Ya, Pak. Ada yang Bapak perlukan?" tanya Fia yang mencoba mengusir dendam dan bersikap se-profesional mungkin.
"Apa peraturan saya sudah kamu sampaikan?" tanya Dafin tanpa basa-basi.
"Kalau gitu, cepat naik ke atas. Bikinkan saya kopi."
"Ba—"
Balum juga Fia menyelesaikan kata, telepon pun diputus sepihak oleh Dafin. Lagi-lagi Fia harus menarik napas panjang.
"Gak adik gak abang sukanya memaksakan kehendak," gumamnya pelan lalu membalik diri. Ia melihat Rito tengah melihat ponsel. Dirinya pun mendapat sebuah notifikasi. Fia lagi-lagi harus mendesah. Ia tau isi pesan itu, tapi tidak Rito.
Wajah Rito masam kecut. Dahinya mengkerut, ia pun menatap serius Fia lalu berkata, "Peraturan macam apa ini? Apa kamu tau?"
Rito memperlihatkan layar ponselnya. Tertera pasal tambahan dalam peraturan perusahaan yang mengatakan tidak boleh berkencan dalam satu perusahaan.
"Tentu saja aku tau, aku sekertaris orang yang minta peraturan baru itu dibuat," balas Fia.
"Tapi kenapa bisa begini? Ini namanya melanggar hak asasi manusia sebagai makhluk individu. Bukankah kamu tahu orang hidup butuh pasangan. Dan pasangan datangnya bisa dari mana aja. Gak menutup kemungkinan jodoh kita berada dalam satu perusahaan. Ini zalim namanya," gerutu Rito. Kegusaran jelas terlihat di wajah. Ia bahkan mengepalkan tangan.
Fia yang paham kembali mendesah. "Sebenarnya begini, Ri—"
Lagi-lagi lidah Fia tak bisa menyelesaikan lisan karena ponsel kembali berdering. Cepat-cepat ia menjawabnya.
__ADS_1
"Iya, Pak."
"Cepetan Fia! Bikinkan saya kopi!"
Sebuah teriakan dari seberang telepon mengharuskan Fia menjauhkan benda pipih itu dari telinga. Ia pandang Rito. "Maaf, Rito. Saya duluan. Kalau kalian keberatan bisa coba bikin petisi. Sapa tau dia berubah pikiran. Kalau gitu aku pamit."
Gegas Fia berlari menuju lift dan menekan angka 21. Meskipun hari masih dongkol, kewajiban tetaplah harus diutamakan.
"Sabarlah Fia. Dia memang begitu, kadang baik kadang juga menyebalkan. Kamu harusnya sudah kebal dengan paham perangai dia. Jadi sekertaris harus profesional. Wajib mencoret dan menyingkirkan semua yang bersangkutan dengan yang namanya baper," gumamnya pelan lantas mengembuskan napas panjang. Fia betulkan kerah baju agar terlihat rapi lalu menaikkan bahu yang terturun. Dari balik pantulan dinding lift ia juga berusaha menstimulasi pipi agar bisa tersenyum.
Tibalah di lantai 21. Gegas Fia berlari menuju pantry. Tapi, saat menuang gula pikiran gadis itu melayang ke kejadian semalam. Ia cek ponsel dan tak mendapati satu pun pesan yang dibalas Kevin padahal jelas sudah centang dua.
Fia mendesah. "Vin, kenapa satu pun pesanku gak kamu bales. Apa kamu marah?"
Layar ponsel berubah warna dan terlihat lagi-lagi nomor sang bos di sana. Wajah sedih Fia seketika berubah kesal. Ia jawab telepon itu.
"Fia! Kopi!"
"Iya Pak. Sekarang saya sudah ada di pantry," jawab Fia setelah menjauhkan teleponnya beberapa detik dari telinga.
''Ini orang kesurupan setan kopi apa gimana, sih?" sungutnya saat telepon terputus. Lekas-lekas ia berjalan menuju ruangan Dafin.
Di sana, di balik meja kerja Dafin sudah menyambut dengan tatapan elang. "Lelet banget, sih."
"Maaf, Pak." Meletakkan gelas kopi, Fia kembali berdiri tegak, "tadi ada yang komplain soal peraturan baru," lanjut Fia seraya melihat Dafin menyeruput kopi buatannya.
Namun, tanpa Fia duga Dafin menyemburkan air yang baru ia minum. Bos-nya itu bahkan membanting gelas. Fia yang kaget tentu saja berjengket dan melihat wajah Dafin—merah padam dengan tatapan mata yang sangat nyalang dan menyeramkan
"Kamu mau bikin saya mati?" hardik Dafin
Fia bahkan memiringkan tubuh, telinganya berdenging karena teriakan Dafin.
"Berapa ton gula yang kamu masukkan ke sini? ha!" lanjut Dafin lagi dengan nada masih berteriak. "Bukankah kamu tahu kalau saya tidak suka manis!"
"Maaf Pak Dafin Saya ...."
"Pergi!"
"T-tapi, Pak ...."
"Saya bilang, pergi!"
Sakit, hati Fia mengerut setelah mendapat bentakan seperti itu. Dafin secara sadar mengusirnya keluar dari ruangan dengan telunjuk tertuju ke pintu. Ia yang tak punya pilihan untuk menjelaskan pun pergi. Sekuat tenaga gadis itu menahan diri agar air mata tak terjatuh. Ia pergi tanpa berniat membalik diri.
Maafkan. Agak lama update. Sibuk karena mau lebaran. heheh
__ADS_1
Btw selamat idul Fitri. Mohon maaf lahir batin. Besok saya akan up lagi. Jangan lupa vote. Heheh koin poin saya terima. Terima kasih.