Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Dua cinta


__ADS_3

"Fia, tolong maafkan aku."


Dalam pelukan Dafin, Fia terbengong. Ia kaget sampai-sampai kunci yang ada di tangan terlepas. Gegas ia mendorong tubuh yang memeluknya dan mendapati wajah kusut orang yang sangat dikenal tengah menatap sendu.


"P-pak D-dafin?" Fia terbata. Pupil mata membesar dengan detak jantung yang lebih cepat dari biasanya. "B-bapak ngapain ke sini? Terus sejak ka—"


Lisan gadis itu terjeda karena Dafin kembali memeluk. Sangat erat pelukan itu, bahkan sekedar bernapas saja Fia harus berusaha keras. Ia tatap heran Dafin saat pelukan sudah terlepas. Jarak mereka masih begitu dekat karena Dafin menangkup wajahnya dengan kedua belah tangan. Embusan napas mereka pun saling bertabrakan.


"Iya, ini aku. Aku mau minta maaf soal tadi pagi," lirih Dafin. Iris matanya yang cokelat bergerak liar ke sana kemari, ia memindai wajah Fia yang pucat.


"Pak Dafin ...."


Mata mereka masih beradu. Fia sebenarnya lelah dan belum siap bertemu Dafin. Namun, yang tak diinginkan malah hadir di depan mata. Jujur, ia masih sakit hati dan belum bisa memutuskan, apakah harus mengabaikan kemarahan Dafin? Ataukah pergi sesuai yang diinginkan oleh Dafin? Ia lelah, sikap dan perilaku Dafin belakangan ini sungguhlah menguji kesabaran.


"Tolong maafkan aku. Aku kacau. Aku kalut dengan perasaan sendiri. Aku sebenarnya cemburu, Fia. Aku benci liat kamu deket sama laki-laki lain. Kevin maupun si brengsek keponakan Maryam itu gak berhak dapetin kamu. Kamu terlalu berharga. Kamu membuatku gila. Kamu ... kamu ... aku sayang kamu, Fia."


Dup-dup-dup-dup.


Mata Fia mengerjap.


Ni orang kesambet apaan? Kenapa ngomongnya pake aku kamu. Biasanya pake bahasa formal. Ni orang nakutin banget, ya. Fia membatin lalu meletakkan punggung tangan ke dahi Dafin. Ia lantas berkata, "Bapak sakit? Wajah bapak pucat. Kita ke rumah sakit, ya?"


Dafin yang kesal berdengkus, ia lantas memegang tangan Fia yang ada di dahi dan mengarahkan ke dada sebelah kiri. "Yang sakit bukan hanya kepala, tapi di sini juga. Apa kamu gak merasakan sesuatu? Jantungku berulah Fia. Aku hampir kena serangan jantung kalau saja gak bisa ketemu kamu lagi. Aku terlalu takut. Maaf untuk hari ini dan sebelum-sebelumnya. Aku terlambat menyadari kalau aku ternyata ada rasa ke kamu. Aku ...."


"Pak Dafin." Fia sengaja menyela. Ia menatap lekat manik mata Dafin yang masih bergerak liar. Mata pria itu memerah. Fia yang masih curiga mengendus. "Gak bau alkohol, tapi kenapa ngomongnya ngawur?" lanjut Fia keheranan.

__ADS_1


Dafin makin kesal. Ia rengkuh pinggang Fia hingga tubuh mereka menempel. "Kamu pura-pura bodoh atau mendadak bodoh. Aku sedang mengaku. Aku ngaku kalau aku suka dan sayang sama kamu. Aku mau kamu jadi pacarku. Jauhi Kevin dan juga Dafan," ujar Dafin yang terdengar memerintah.


Fia yang mulai mengerti kembali meronta. Namun, tenaga Dafin lebih besar darinya hingga satu senti pun tak ada perubahan. Malah Dafin makin mengeratkan pelukan. Fia hanya bisa membatasi tubuh atas mereka dengan tangan yang ditekuk.


"Pak Dafin. Ini gak lucu, Pak. Kita rekan kerja. Bapak bos saya dan saya sekretaris Bapak. Mau ini bercanda atau bukan, tetap saja ini gak bener. Bapak gak inget nona Sisi? Apa Bapak gak mikirin perasaan dia kalau mendengar ini?"


"Aku gak peduli lagi dengan status Fia. Aku kalah. Aku sudah gak bisa lagi ngelak. Terimalah perasaanku. Aku benar-benar sayang kamu. Aku gak mau kamu jauh. Dan soal Sisi, asal kamu tau, aku sudah lama berusaha mencintai dia lagi. Tapi kamu tau, rasanya sulit. Beri aku waktu untuk mengakhirinya."


"Wah Pak Dafin. Saya gak mau, Pak. Saya gak mau jadi pelakor. Lagian kenapa saya harus menunggu dan menerima perasaan Bapak?" Fia meronta-ronta tapi tetap saja tidak bergerak. "Saya gak tertarik sama Bapak," lanjut Fia lagi dengan penuh penekanan.


Mendengar itu Dafin jadi kesal. Ia terlihat menggeram dan mengetatkan rahang. Matanya makin menatap lekat.


"Apa kamu yakin? Apa kamu benar-benar bisa memastikan kalau hubungan antara kita ini murni atasan dan bawahan? Apa kamu sudah yakin gak ada sedikitpun perasaan untukku? Gak ada sedikitpun kebahagiaan kamu saat kita berdekatan? Apa kamu nggak ngerasa ada sesuatu yang aneh saat posisi kita yang begitu dekat seperti sekarang ini?" cecar Dafin.


Fia menelan ludah. Matanya terkunci oleh Dafin. Mau meronta juga rasanya percuma. Yang ada dipikiran hanyalah cara mencari alasan agar Dafin mau melepaskan. Jujur, ia sendiri juga tidak tahu apa yang ada dalam pikiran. Akal sehat mengatakan hubungan mereka murni pekerjaan, tapi tabuhan dalam dada menunjukkan kejanggalan.


Namun, Fia tak berani menyimpulkan kalau itu adalah cinta. Bisa saja loyalitas antar karyawan dan atasan. Bisa jadi itu hanya rasa tanggung jawab saja. Ia benar-benar tak berani menyimpulkan terlebih lagi harus mempertaruhkan kehormatan. Menyandang predikat sebagai pelakor itu membutuhkan kesiapan mental. Semua orang di dunia ini tahu pertunangannya dengan Dafin adalah pura-pura dan tunangan Dafin yang sebenarnya adalah Sisi. Rasanya akan aneh jika mereka mengaku berpacaran kembali. Netizen sedunia pasti akan murka. Fia merinding membayangkan itu.


"Maaf, Pak. Bapak salah. Saya hanya menganggap Bapak atasan. Cuma itu," balas Fia sengit.


"Oh, ya? Aku mau buktiin sendiri."


"Bukti apa? Bapak mau bukti yang seperti apa?" Fia menantang tanpa takut.


Dafin tersenyum smirk. Tanpa aba-aba ia raih tengkuk Fia lantas menyatukan bibir mereka. Dafin kemudian melumatt bibir tipis Fia dengan agresif.

__ADS_1


Fia yang diserang mendadak seperti itu jelas kaget. Gadis itu meronta. Ia kesal pada Dafin tapi anehnya berakhir menikmati. Ia pasrah saat Dafin mengabsen seluruh bagian mulutnya. Permainan Dafin sangat berbeda dari Dafan. Fia terhipnotis dan berakhir membalas.


Tanpa mereka sadari sejak tadi ada Dafan yang menyaksikan perdebatan hingga lumatann mereka. Dokter muda itu tadinya berniat memberikan beberapa obat penambah darah serta suplemen makanan. Ia sungguh tak menyangka akan disuguhkan sebuah adegan yang meremas dada. Kantong obat yang ia bawa bahkan sudah tergeletak. Ia marah dan kesal atas pengkhianatan yang dilakukan oleh saudaranya tapi memilih pergi dari sana.


Dafin melepaskan pagutan, ia menyatukan dahinya dan Fia seraya mengatur debaran dalam dada. "Pikirkanlah. Apa kamu benar-benar gak ada rasa ke aku?"


"T-tapi?"


"Pikirkan baik-baik. Besok aku minta jawabannya."


Fia mematung dan tidak sadar kalau Dafin sudah hilang dari pandangan. Anehnya penyatuan bibir mereka tadi kembali terbayang. Fia tersenyum, tapi sedetik kemudian memukul bibirnya. Bagaimana bisa ia menikmati ciuman laki-laki yang sudah memiliki tunangan?


"Astaga ... bodohnya aku. Gimana bisa aku menghadapi dia besok pagi? Ya Tuhan ... aku harus bagaimana. Dafan ... Sisi ... Kevin ... kenapa semuanya jadi rumit?" gumam gadis itu seraya menjambak rambut sendiri.


****


Diperjalanan pulang.


Dafan tak henti memekarkan senyuman karena selalu terbayang momen ciumannya dengan Fia. Ia tak menyangka Fia membalas tapi tak berharap Fia menolak. Sekarang perasaan bahagia tengah menghampiri. Dafin merasakan jantungnya berdebar hebat. Sangat kuat seolah akan keluar. Jatuh cinta membuatnya gila.


Tibalah di rumah. Di halaman Dafin melihat mobil Dafan terparkir sembarang. Dafin yang sedang senang tak mau memedulikan masalah itu. Ia terus melangkah masuk rumah dengan senyum terkembang sebelum akhirnya seruan dari belakang menghentikan langkahnya. Dafin menoleh dan melihat Dafan tengah berdiri dengan melayangkan tatapan elang.


Dafan mendekat, Dafin yang merasa tak bersalah maju tanpa takut.


**

__ADS_1


Nah loh. aku bergadang bikin ini. yang udah janji mau kasih kopi. aku tunggu. hehe


__ADS_2