Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
lamaran ke dua.


__ADS_3

"Arjun!" seru Kinar dengan mata berbinar. Ia hampiri Arjun yang baru saja melepaskan helm, lantas merangkulnya mesra. "Aku kangen kamu. Aku udah lama nungguin, loh."


Wajah Arjun berubah, tampak tak nyaman. Ia sedikit risih dengan sambutan Kinar yang terkesan berlebihan, terlebih lagi di rumah yang tentu saja banyak mata memperhatikan tingkah mereka. Bisa-bisa niat melamar berakhir memar.


"Kinar ... jangan kek gini, malu," bisik Arjun seraya melepaskan rangkulan. Meski rindu, ia tetap harus mengedepankan sopan santun, terlebih lagi belum ada kata sah dan alhamdulillah dalam hubungan mereka itu.


"Malu kenapa? Kamu masih malu sama aku. Aku masih terlihat malu-maluin?"


Kinar terdengar merajuk, Arjun berakhir menghela napas.


"Bukan gitu, Kinar. Aku malu sama pandangan orang. Terlebih lagi orang tua kamu. Kita ini belum resmi. Jadi aku minta, kamu jaga perilaku, ya. Aku gak mau papa kamu makin susah ngelepasin kamu karena mikir aku bukan laki-laki yang baik."


Kinar terdiam. Bibirnya mendadak kehilangan senyuman. Mencoba mengerti dan memahami apa yang dikatakan calon suaminya itu. Namun, kerinduan karena beberapa hari tak bertemu membuatnya nekat menarik lengan Arjun dan mendaratkan ciuman singkat di pipi tirus pria itu. Arjun tentu saja kaget, matanya melotot. Baru saja dikasih tau tapi berakhir disosor juga.


"Aku gak tahan. Aku gak bisa jaga sikap," ucapnya, cengiran mengukuti statement-nya itu. "Deket kamu aku gak bisa nahan apa pun, Arjun." Matanya bahkan berkedip-kedip. Menggoda.


"Ck! Dasar ...." Arjun terkekeh juga. Wajah menggemaskan Kinar membuatnya ingin cepat menghalalkan. Ia ikuti langkah Kinar masuk ke dalam rumah. Di sana sang calon mertua sudah menunggu dan duduk tenang di ruang tamu.


"Duduklah," ucap Frans tenang.


Arjun menurut. Ia pandang lekat wajah kedua orang tua Kinar. Meski sudah bertekat, tetap saja ketakutan masih memenuhi benak. Akankah Frans melepaskan Kinar kali ini? Akankah lamarannya sukses hari ini?


Arjun menelan ludah. Ia genggam kuat jemari tangan yang kaku. "Begini, Pak. Kedatangan saya ke sini adalah untuk—"

__ADS_1


Lisan Arjun terjeda saat melihat Frans berdiri. "Arjun, ikut saya sebentar," perintahnya.


Lagi, Arjun menelan ludah. Ia angkat dari sofa dan mengikuti langkah Frans naik ke lantai atas rumah itu. Keduanya berakhir di sebuah ruang yang Arjun tebak adalah ruang kerja pribadi Frans. Begitu banyak map dan buku tersusun dalam lemari kaca. Pemandangan yang membuat Arjun terlena dalam beberapa detik.


"Duduklah," perintah Frans. Ia sudah duduk di kursinya.


Arjun menurut. Mendadak atmosfer menjadi tegang. Serasa melamar pekerjaan dan bukannya perempuan.


"B-begini, Pak Frans. Niat saya datang ke sini buat melamar Kinar."


"Pertanyaan saya tempo hari sudah kamu pikirkan?"


"Sudah, Pak."


Nah 'kan. Aku serasa interview kerja. Arjun membatin. Ia tarik napas panjang. Tekat sudah bulat ingin mendapatkan Kinar.


"Saya meminang anak Bapak karena mencintai dia. Saya akan berusaha keras untuk bahagiain dia."


"Apa kelebihan kamu?"


"Saya cinta dia. Saya orangnya setia. Saya juga sudah punya pekerjaan. Dari segi ekonomi saya sudah bisa dikatakan mapan. Dan saya akan pastikan anak Bapak tidak akan kekurangan apa pun."


Ya Tuhan, aku merasa sedang promosi diri sekarang. Arjun membatin lagi, keringatnya berguguran, besar-besar.

__ADS_1


"Apa yang kamu sukai dari dia?" tanya Frans Lagi.


"Semuanya. Termasuk kekurangannya."


"Apa kamu tau kekurangan dia?"


"Dia tidak bisa melakukan semua pekerjaan rumah. Dia manja. Hampir tidak bisa melakukan apa pun sendirian."


"Lalu, kenapa kamu ingin menikahinya? Bukankah banyak perempuan di luar sana yang lebih bisa diandalkan? Terlebih lagi dari wajah, jika dilihat dari penampilan dan pendidikan, saya rasa banyak wanita yang juga berduyun ingin jadi istri kamu."


"Tapi hati saya sudah yakin sama Kinar. Lagipula saya cari istri, bukannya pembantu. Soal pekerjaan rumah, saya yakin Kinar akan belajar. Dia gadis ceria dan optimis. Saya percaya dia akan bisa melakukan itu semua seiring waktu berlalu."


"Kenapa kamu mencintainya?"


"Kalau itu, saya tidak bisa menjelaskan secara terperinci. Rasa itu datang sendiri. Saya sudah mati-matian menampik. Tapi tetap saja hati berkata lain. Dan yang jelas, saya tak mau bermaksiat. Saya ingin cepat menghalalkan Kinar."


Frans menghela napas panjang. Tatapan yang awalnya dingin berubah teduh, sekarang.


"Apa kamu tau kenapa saya susah melepaskan Kinar?"


Arjun mengangguk pelan. "Tau. Karena Bapak pengusaha. Saya yakin banyak pertimbangan yang bapak pikirkan. Terlebih lagi saya adalah orang asing yang tak tau malu ingin mengambil Kinar dari Bapak. Tapi, Pak, saya tulus sama Kinar. Sedikit pun tidak ada niat saya untuk manfaatin Kinar demi keuntungan saya."


Frans manggut-manggut. "Ya, saya tau itu. Kamu pria jujur. Pria yang bisa menjaga mata saat sendiri sudah pasti bisa menjaga hati saat sudah beristri."

__ADS_1


"Mungkin ini terdengar lebhai dan mungkin saja akan mencoreng harga diri saya sebagai laki-laki. Tapi, Pak, semejak Kinar pergi, saya tidak bisa berhenti memikirkan dia. Saya hampir gila karna tidak bisa bertemu dia. Kalau bapak bersedia. Saya akan bawa om sarta bibi saya untuk melamar sekali lagi."


__ADS_2