
Melepaskan pelukan, Litania kembali menarik leher Chandra dan mendaratkan kembali ciuman hangat di sana. Chandra yang awalnya terlihat kaget tak menyia-nyiakan kesempatan di depan mata. Ia rengkuh pinggang Litania dan mengeratkan pelukan. Ciuman yang bermula lembut tapi berakhir panas.
Melepaskan pagutan, Litania dan Chandra tampak ngos-ngosan. Soal mata, tentu saja sudah bergerak liar. Keduanya sudah diselimuti gairah.
"Kamu sekarang nakal, ya." Chandra berucap seraya memencet hidung Litania gemas.
"Emang gak boleh." Litania mencebikkan bibir lalu mendorong dada Chandra agar menjauhinya.
"Ya gak bolehlah."
Mata Litania membola. "Apa maksudnya gak boleh? Aku udah gak menarik lagi, gitu?" kesal Litania. Ucapan menohok Chandra mengusir fantasi liar Litania dalam sekejap. "Ya udah. Aku balik ke kamar aja. Mau balik ke rumah nenek."
Namun, belum sempat Litania menjauh, Chandra telah lebih dulu menangkapnya dari belakang disusul kekehan renyah dari pria itu.
"Apaan, sih. Gak lucu tau, gak. Aku lagi ngambek, bukan ngelawak," ketus Litania. Ia pukul punggung tangan Chandra. Berharap bisa terlepas. Akan tetapi lagi-lagi kekehan Chandra makin nyaring.
Mengarahkan tubuh Litania untuk menghadapnya, Chandra menatap wajah cemberut itu dengan menahan tawa. "Sayang, kamu cantik."
"Apaan, sih. Aku masih marah!"
"Kamu baik."
"Gak mempan!"
"Kamu itu segalanya."
Litania makin kesal. Ia lepas tangan Chandra dari pundaknya lantas bersedekap dada. "Terus tadi maksudnya apaan?"
"Maksud aku itu ... enggak boleh nanggung-nanggung." Senyum mesum Chandra terukir jelas. Ia tangkup wajah masam Litania. Dalam sekejap bibir mereka tenggelam dalam raupan masing-masing.
"Masih ngambek?" tanya Chandra setelah melepaskan penyatuan. Ia lap bibir tipis Litania. Sementara mata tentu saja saling menatap.
Litania mencebik. Wajahnya berdenyut dengan bibir yang ikutan berkedut. Ia ingin mengakui kalau marahnya hanya akal-akalan. Namun gengsi untuk mengakui.
"Ciye ... ada yang bucin," goda Chandra, matanya menyipit dengan bibir yang tentu saja sudah mengukir senyuman.
__ADS_1
"Apaan sih. Ya enggak lah."
"Ngaku aja ngapa. Susah bener."
Litania malu. Ia lepaskan diri dari dekapan Chandra dan ingin pergi. Namun baru beberapa langkah menjauh, si pria gagah perkasanya itu mengagetkan dengan menggendongnya dari belakang.
"Kamu nakal. Jadi harus dihajar," ucap Chandra. ujung bibirnya terangkat sebelah, tanpa aba-aba ia raup lagi bibir Litania dengan posisi masih menggendongnya.
Litania terengah-engah. Matanya menatap iris pekat Chandra. Bola mata yang mampu membuatnya nyaman. Ada keteduhan dan kenyamanan di sana. Litania tak peduli lagi dengan usia, ia benar-benar telah bergantung pada Chandra dan tak bisa mengelak kalau sudah menjadi budak cinta lelaki itu.
"Hajar aku Sayang, hajar aku sampe lemas."
Dan mereka pun aye-aye uh ah ih oh di ruang kerja Chandra yang ada di lantai tiga. Hahahah. Jangan ngambek. Entar ada part khusus 30+
***
Di kediaman Ariska. Awak media berkerumun di depan rumah gadis kecil itu seperti menunggu BLT. Begitu ramai padahal rumah sederhana bercat biru pudar tempat Ariska tinggal tertutup rapat dan mustahil ada membagikan bantuan di sana. Astaga!
Sementara tak jauh dari kerumunan itu, Kinar dan Litania tampak gelisah, mereka sudah tiba lima menit lalu tapi tak mempunyai kesempatan untuk mendekat.
"Gimana ini, gimana caranya kita masuk ke rumahnya Ariska?" tanya Kinar yang tampak tak sabar. Ia bahkan tak tidur semalaman karena ingin cepat mengucapkan terima kasih pada gadis pemberani itu. Namun keinginan tak sejalan dengan kenyataan. Dirinya hanya bisa duduk menunggu dalam mobil, dan bersama Litania tentunya.
Mendesah frustrasi, Litania masih saja menatap fokus kurumunan hingga Kinar menepuk punggungnya dua kali. "Telepon suami kamu aja, deh. Kita gak bakalan bisa ngurus ini sendirian. Manfaatin aja kekuasaan suami kamu. Dia kan penguasa."
Litania berdecak sebal. "Kamu kira aku apaan? Kalau sifat aku begitu, pasti udah lama aku morotin kamu. Aku isep darah kamu sampe kering terus aku buang tu ke tempat pembuangan sampah terus ku daur ulang."
"Ya Salaam, sadis amat. Lagian yang horang kaya kan papa aku. Aku mana kaya. Duit aja dikasih. Lagian ya, semenjak bergaul sama kamu, aku ngerasa jadi rakyat jelata."
Litania memutar matanya malas. "Ya udah, klop kita. Rakyat jelata bergaul dengan orang gila. Pasangan terkompak yang paling dihindari."
Kinar terkekeh sebentar lalu kembali menatap ke arah halaman rumah Ariska. "Udah, ah! Jangan gengsian. Cepetan telpon suami kamu. Aku gak betah lama-lama nunggu di sini. Aku kebelet pipis Litan ...." Kinar tampak gelisah. "Apa kamu mau aku kencing di sini?"
Litania kembali berdecak. Ia raih gawai dari dalam tas lalu menghubungi Chandra. Ia ceritakan kondisinya sekarang tanpa menutupinya.
"Ya udah, kamu tenang aja. Nanti aku telepon Ara. O iya, kamu hati-hati, jangan keluyuran, terus kabarin kalau ada apa-apa," ucap Chandra yang ada di seberang telepon.
__ADS_1
Litania mengiyakan lantas tersenyum kecil. Suami tuanya itu makin terdengar tua kalau sedang khawatir. "Persis nenek," gumamnya setelah sambungan telepon itu terputus.
Tak Berapa lama, sebuah motor gede—Haley-Davidson Ultra Limited—dengan pengendara yang super kece melewati mobil Litania yang terparkir di tepi jalan. Tampak artis keren berwajah rupawan—Al Ghazali—tengah membuka helm-nya.
Litania dan Kinar melongo. Keduanya tampak ternganga dengan fantasi liar merajai mereka.
"Eleuh euleh, alisnya tebel banget, kek ulat bulu," ucap Litania dengan senyum yang terlihat aneh.
"Ho oh." Kinar mengangguk dengan gimik wajah yang tak kalah aneh. Kedua gadis itu tampak asyik dengan pikiran mesum hingga Bambang berdeham, sengaja membuyarkan hayalan sang majikan. Perempuan kalo udah ngeliat yang bening-bening matanya langsung ijo. Lupa suami, batin Bambang dengan sedekit mencebik.
"Itu, itu Al, 'kan!" pekik seorang reporter yang kebetulan melihat Al Ghazali tersenyum dan melambaikan tangan ke arah mereka. Reaksi para wartawan jangan di tanya lagi. Semuanya kaget. Semua reporter dan kameramen yang berkerumun di depan rumah Ariska meninggalkan halaman rumah sederhana itu dan menuju artis yang tengah naik daun. Aktor ternama yang merupakan Ambassador brand perusahaannya Chandra.
"Gila, Litan, suami kamu memang the best. Tuh! Lihat, bisa-bisanya dia menggunakan Al untuk pengalihan ini."
"I-iyah," balas Litania tanpa berkedip hingga Bambang kembali berdeham.
"Eh! Sekarang aja kita ke sana. Mumpung sepi," ajak Litania yang direpon anggukan kepala oleh Kinar.
Pintu Litania ketuk dan tampaklah wajah manis Ariska mengintip dari balik tirai. Entah apa yang di pikirkannya, gadis itu langsung membuka pintu dan menarik tangan Kinar untuk masuk lalu kembali menutup pintu dengan rapat.
"Kakak yang kemarin di bioskop, 'kan?" tanyanya memastikan. Wajahnya masih menunjukkan keterkejutan. Sedetik kemudian memindai wajah dan penampilan Kinar dari atas hingga bawah. Hari ini tak lagi seperti macan tutul melainkan harimau.
"Kamu masih inget Kakak?" Kinar dan Litania saling adu pandang sekilas lalu kembali menatap Ariska. Gadis itu berpenampilan biasa—baju kaus putih polos dengan celana jeans selutut—tapi tetap tampak bersahaja.
"Ya inget donk, Kak." Ariska tersenyum. "Ayo duduk," lanjut Ariska lagi seraya menuntun Litania dan Kinar untuk duduk di kursi kayu rumahnya. Rumah yang jujur sama seperti rumah Litania dulu, sederhana tapi tetap terasa nyaman.
Mendadak Litania merindukan neneknya. Mendesah panjang, Litania tatap wajah Ariska dengan seksama. "Ngomong-ngomong kamu sendirian aja? Nenek kamu mana?"
"Nenek lagi di kamar, Kak. Lagi gak enak badan."
"Kok bisa? Sakit apa? Kita anter ke rumah sakit, ya?" sela Kinar.
Ariska menggeleng, senyumnya terbit, tampak begitu cantik. Tak terlihat memiliki beban. Padahal gadis itu telah melewati hari yang buruk karena Alex dan sekarang diteror oleh para pemburu berita.
"Gak perlu, Kak. Nenek katanya gak enak badan. Tapi tadi udah minum obat, kok. Dan sekarang lagi istirahat di dalam kamar." Ariska kembali menatap lekat Kinar dan Litania secara bergantian. "Ngomong-ngomong Kakak berdua ini kenapa bisa ke sini? Ada perlu apa? Terus wartawan yang di luar kok bisa gak ada?"
__ADS_1
Kinar tersenyum gemas lalu menceritakan segalanya, dari pengalaman pahit masa kecil hingga dendam yang telah mengakar. Ia juga mengucapkan terima kasih atas keberanian gadis kecil itu.
"Ngomong-ngomong ... apa kamu gak mau pindah sekolah ke luar negri? Kalau kamu mau, Kaka bisa mengabulkannya."