Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Kontrak.


__ADS_3

Di perjalanan menuju kontrakan.


Dafin yang ada di kursi belakang terlalu fokus dengan tab yang ada di tangan dan tak menyadari kalau ada sepasang mata yang beberapa kali memandangi dari balik kemudi. Ia seperti tak terganggu sama sekali setelah jamur sawit, dua biji salak serta semak belukar kebanggaan dilihat oleh orang lain.


Sementara gadis yang melihat itu belum bisa mengurai kecanggungan sedari tadi. Ia gemetar dengan pikiran yang melayang-layang. Ia tak bisa fokus dengan apa pun hingga suara dehaman dari belakang menyadarkan.


"Fia ...."


"I-,iya, Pak," jawab Fia terbata.


"Lupakan soal yang tadi. Saya harap kamu bisa menghapusnya dari ingatan kamu," ujar Dafin yang bernada datar. Ia bahkan tak melihat Fia yang diajaknya bicara.


"Soal tadi? Soalan yang mana, ya, Pak?" jawab Fia. Sedetik kemudian baru menyadari apa yang dimaksud sang atasan. Cepat-cepat ia tutupi mulut dengan tangan lalu kembali melirik cermin tengah mobil.


"Ya soalan yang tadi kamu liat. Saya harap kamu bisa melupakannya. Karena kalau kamu ingat terus kamu nggak bakalan fokus dengan pekerjaan," jelas Dafin tanpa beban. Ia malah sibuk mencoret tab yang ada di hadapan. "Apa kamu siap berhenti kerja?" lanjutnya lagi.


Cepat-cepat Fia menggeleng, ia telan pelan ludahnya. "Saya gak liat apa-apa, kok. Sumpah," balasnya, sedetik kemudian kembali memukul bibir. Jelas-jelas ia melihat benda itu secara live, bagaiman bisa sekarang ia tak mengaku? Gadis itu merutuki kebodohannya sendiri.


Sementara Dafin tersenyum miring lalu merogoh amplop besar dari dalam tas, ia lantas berucap, "Bagus. Sekarang tepikan mobilnya."


Fia menurut dan dari arah belakang Dafin menyerahkan sebuah map cokelat kepadanya.


"Hanya jaga-jaga, ini kontrak hubungan palsu kita. Baca dengan teliti," kata Dafin dengan tetap bernada datar.


Perlahan Fia buka amplop itu. Ia baca secara menyeluruh. Dahinya mengernyit setelah membaca poin demi poin yang ada di dalam sana.


"Tapi, Pak ... ini?"


"Selama jadi tunangan saya, kamu saya haramkan berhubungan dengan laki-laki manapun. Gak boleh berteman maupun dekat dengan laki-laki lain selain saya. Kamu hanya boleh berangkat kerja dan pulang bareng saya. Suka gak suka, mau gak mau kamu harus selalu ada dalam pantauan saya," ujar Dafin penuh penekanan. Ia dapat melihat ekspresi wajah gelisah Fia dari pantulan cermin.


"Itu termasuk untuk Dafan dan juga Kevin," lanjut Dafin


"Tapi, Pak ...."


"Saya tahu dia saudara saya. Tapi lebih baiknya kamu berhati-hati. Saya takut bakalan ada yang curiga."


Fia menggangguk ragu. "Tapi ini sepertinya berlebihan," sanggah Fia berhati-hati.


Dafin menggeleng tenang. "Gak ada kata berlebihan. Pelakunya belum ketangkap. Dia sepertinya mengincar saya dari dulu. Dan otomatis sekarang dia juga mengintai kamu. Jadi saya minta, jaga perilaku di saat tidak ada saya di dekat kamu. Kamu ngerti?"


"Baik Pak. Saya paham," balas Fia meskipun syarat yang Dafin berikan tak masuk akal.


"Saya juga mencurigai kalau kecelakaan Sisi ada sangkut pautnya sama si pelaku. Makanya saya minta kamu harus selalu bareng saya. Dan kalau mau ke mana-mana, tolong hubungi saya."


Lagi-lagi Fia menelan ludah. Tak menyangka dirinya benar-benar harus bertingkah seperti pacar yang wajib memberi kabar. Ia juga tak menyangka kalau sang bos punya musuh yang tergolong nekat bahkan sampai tega menyebabkan kecelakaan. Mendadak nyali Fia menciut. Tiba-tiba rasa sesal karena membantu Dafin menyerang benaknya.


"Kenapa? Kamu takut?" cecar Dafin saat melihat ekspresi cemas Fia. Namun Fia menjawabnya dengan gelengan kepala.


"Bagus, sekarang kita sudah dalam perahu yang sama. Kalau saya tenggelam, kamu juga nggak bakalan bisa selamat. Jadi sebelum pelakunya tertangkap saya minta kamu hati-hati. Jangan sekali pun melanggar poin penting yang ada di dalam kontrak."


"Baik Pak. saya mengerti," balas Fia disusul embusan napas panjang. Mau mundur pun sudah terlambat. Jalan satu-satunya untuk bertahan adalah mendengar instruksi dari Dafin.


Dafin manggut-manggut. "Bagus, saya suka loyalitas kamu, dan sebagai rasa terima kasih saya sudah mendaftarkan adik-adik kamu agar bisa mendapat beasiswa dari perusahaan. Jadi kamu gak perlu lagi mikirin mereka karena saya sudah menjamin pendidikan mereka sampai selesai kuliah."


Seketika Fia memutar kepala dan melihat Dafin lekat-lekat. "Bapak serius?" tanyanya tak percaya.

__ADS_1


"Ya, dan orang tua kamu juga sudah saya pindahkan. Mereka sementara tinggal di villa keluarga saya yang ada di sana. Saya akan menjamin keselamatan keluarga kamu sampai pelakunya kita tangkap," lanjut Dafin lagi.


Fia diam, bibir tertarik dengan embun yang sudah siap tumpah kapan saja. Ia terharu sang bos juga memikirkan keluarganya yang ada di Bali.


"Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih karena sudah memikirkan keselamatan dan masa depan keluarga saya," lirihnya dengan rasa syukur yang berlipat-lipat


"Ya, tentu saja. Itu semua bukan hal besar bagi saya. Saya orangnya selalu membalas kebaikan orang. Jadi saya harap kamu juga bisa bekerja semaksimal mungkin," jelas Dafin lagi.


Fia mengangguk antusias. Ia seka air mata yang menetes. "Saya akan bekerja dengan baik."


"Dan satu lagi, di dalam amplop itu ada black card dari saya. Jika kamu ingin membeli sesuatu pakailah itu. Jangan pakai kartu yang dari perusahaan."


"Kartu?" Fia yang masih belum paham seutuhnya merogoh amplop itu dan mendapati sebuah debit card. Ia pegang kartu itu lalu kembali melirik Dafin yang ada di belakang. "Ini ... ini untuk saya?"


"Iya. Itu untuk kamu," tegas Dafin.


Fia mulai ragu. dahinya kembali mengernyit. "Tapi Pak, saya nggak perlu ini."


"Mulai sekarang kamu perlu itu demi kelangsungan hubungan kita. Kamu harus menggunakan itu untuk mengubah penampilan kamu. Saya enggak mau orang-orang beranggapan kalau saya pelit dengan pacar sendiri."


Fia mulai tak senang, ia berdengkus lalu memperhatikan penampilan sendiri. Baginya tak ada yang salah dengan pakaian yang dikenakan. Ia selalu rapi dan bukankah itu hal penting sebagai sekretaris?


"Saya gak bilang penampilan kami buruk. Cuma kamu juga sepertinya memerlukan gaun pesta. Jangan sampai acara makan malam pun kamu menggunakan pakaian kerja." Dafin tetap tenang meski mengatakan itu. Baginya jujur itu perlu dan berbohong hanya akan membuang waktu.


Fia nyengir, ia baru menyadari kalau Dafin memperhatikan dirinya sampai ke hal penampilan.


"Belilah yang apa yang kamu mau dengan itu


Karena saya yakin mulai sekarang akan banyak acara yang harus kita hadiri," papar Dafin lagi.


Fia mengiyakan. Mereka pun kembali melakukan perjalanan hingga keduanya tibalah di kontrakan.


"Sepertinya perhatian Kevin lebih dari teman," celetuk Dafin dari arah belakang.


"Maksud Bapak?" Fia yang tak paham menggenggam erat setir. Ia merasa sang bos tengah menyindir. Mustahil baginya Kevin begitu. Ia sendiri yang mendengar perasaan Kevin untuknya hanya sekedar teman.


"Sudahlah. Jangan di bahas. Tolong cepat ganti baju kamu lalu kita berangkat ke kantor. Saya gak mau kita telat hanya gara-gara dia," sindir Dafin lagi. Ekor matanya tetap melirik Kevin. Pria itu mulai mendekat ke arah mobil.


Sementara Fia, mendesah lirih. Perkataan sang bos terdengar ejekan di telinga, belum lagi ia tahu kalau kehadiran Kevin adalah untuk membujuknya agar kembali. Mendadak kepalanya berdenyut. Ia lepas sabuk pengaman, tapi saat hendak membuka pintu si Dafin kembali bersuara, "Ingat, kontrak kerja kita tadi berlaku juga untuk Kevin. Walaupun kalian berteman baik saya harap kamu tetap jaga rahasia kita dan juga menjaga jarak untuk sementara."


Fia mengangguk dan mengiyakan sebelum akhirnya meninggalkan Dafin sendirian dalam mobil. Pria itu mengawasi Fia dari dalam sana.


"Aku yakin hidupmu cukup sulit karena dikelilingi banyak pria." Dafin menghela napas saat teringat obrolan Fia dan Dafan semalam. Mendadak ia merasa gerah. Dilepasnya tab yang ada di tangan lalu mengendurkan dasi yang entah kenapa serasa mencekik leher.


"Apa ini? Kenapa aku jadi nggak nyaman ya? Apa aku cemburu?" gumamnya lagi saat melihat Fia dan Kevin tengah berbicara serius.


****


Sementara itu di Semarang.


Anya sarapan nasi goreng telur ceplok bersama keluarga barunya. Di rumah minimalis milik Lita—sahabat dari sang ibu—rencananya Anya akan tinggal sampai kelulusan. Lita sendiri hanya tinggal bersama anak tirinya, Livia. Semenjak suaminya ditangkap polisi, Lita lah yang menjaga Livia hingga gadis kecil yang seumuran Dafan dan Dafin itu beranjak dewasa dan kini mengajar di salah satu sekolah menengah atas di Semarang.


Mereka sarapan saling berhadapan di meja makan berukuran kecil. Anya yang mulai tak nyaman hanya mengadukannya tanpa berniat makan. Ia mendadak merindukan masakan enak buatan Litania dan tanpa sadar menghela napas panjang. Tentu saja bunyian dari hidung itu membuat Lita tersinggung.


"Kenapa gak makan?" tanya Lita. Ia melotot melihat masakan yang ia buat hanya jadi bahan mainan Anya. "Gak enak?" lanjut Lita lagi.

__ADS_1


Anya berjengket kaget dan seketika bergidik saat melihat tatapan Lita. "Enggak kok, Bude. Enak kok. Beneran. Suer," balas Anya seraya memaksakan senyuman. Jari telunjuk dan tengah pun ia bentuk menjadi huruf V.


"Kalau begitu ayo cepet makan. Nanti kalian telat," jelas Lita lagi dengan wajah yang masih saja terlihat tak bersahabat. Tak ada senyum sama sekali sehingga membuat Anya makin merindukan ibunya.


Dengan berat hati dan terpaksa ia telan juga nasi goreng itu. Biasa di rumah ia akan di suguhi berbagai macam lauk, tapi lihatlah sekarang, di depannya tak ada pilihan sama sekali, yang ada hanya telur ceplok serta tempe bacem.


Bunda, Anya pengen pulang, keluhnya seraya mengunyah nasi goreng.


"Oiya, Nya. Buku-buku pelajaran susah kamu persiapkan, 'kan?" sela Livia mengurai kecanggungan. Ia tahu kalau Anya ngeri dengan tatapan ibunya yang bisa dikatakan tajam. Jadi sebisa mungkin ia menengahi agar remaja itu tidak stres selama mereka tinggal bersama.


"Udah kok, Kak udah semuanya," balas Anya setelah menenggak habis air putih yang ada di sebelahnya.


"Ya sudah." Livia melirik jam yang ada ditangan, "kita berangkat sekarang aja yuk? Atau ... kamu masih mau makan?" lanjut Livia lagi.


Cepat-cepat Anya menggeleng lalu melirik sekilas wajah garang Lita. Tanpa menunggu lama ia langsung berdiri. "Udah kok, Kak. Aku kayaknya lanjut sarapan di kantin aja. Lagi enggak selera makan," balasnya santai tanpa melihat ekspresi wajah Lita yang kembali berubah masam.


"Apa maksud kamu? Kamu mau bilang kalau makanan yang saya masak nggak enak?" cecar Lita. Ia terlihat mengetatkan rahang.


Anya jadi gelagapan. Ia libaskan tangan seraya menggeleng. "Enggak kok Bude. Bukan begitu maksud aku, aku ...." Jeda sejenak. Anya mencoba mencari alasan.


"Apa?" potong Lita yang tak sabar.


"Aku ... aku lagi datang bulan. Jadi perut bawaannya nggak enak kalau makan pagi."


Akhirnya kebohongan itu keluar mulus dari tenggorokan Anya. Beruntung Lita percaya. Wajah masam yang sempat terbentuk di wajah wanita paruh baya itu meluntur seketika. Lita kemudian memperhatikan wajah cantik Livia yang sudah berdiri dan bersiap. "Kalian hati-hati ya? Jangan ngebut."


"Iya," jawab Livia seraya meraih kunci motor yang ada di meja. Ia cium punggung tangan Lita. Anya yang melihat mau tak mau juga mencium punggung tangan wanita galak itu.


"Kami berangkat, Bude," pamit Anya dan hanya di balas Lita dengan dehaman.


Motor metik berwarna hitam Livia keluarkan dari garasi lalu memberikan helm pada Anya


"Bareng Kakak aja deh berangkatnya. Daripada naik ojol. Kan sayang. Uangnya kamu simpan buat tambah-tambah uang jajan kamu," ujar Livia ramah, senyuman masih tercetak jelas di wajah.


Mendengar itu Anya seperti mendapat tumpahan gula. Bukan karena terpesona melihat senyuman Livia, melainkan kenyataan kalau uang jatah transportasi tak akan terkuras habis hanya untuk ojek online. Ia sambar helm yang ada di tangan Livia.


"Makasih ya Kak. Makasih banyak. Kakak terbaik," katanya seraya menunjukkan dua buah jempol.


Livia tersenyum ia menepuk jok sebagai kode agar Anya duduk. "Cepetan naik."


Sepanjang perjalanan Anya melihat pemandangan kota Semarang yang entah kenapa membuatnya nyaman. Semarang tak seramai Jakarta. Begitu pikirnya.


Namun, saat ia melihat spion tampak pantulan pria berhelm hitam dan berjaket kulit mengekori dari belakang. Dan ia ingat betul pengendara itu membuntutinya sejak keluar dari rumah.


Berdecak kesal, Anya lalu membatin, Bunda keterlaluan deh, buang-buang uang, aku disuruh hemat sedangkan dia nyewa penguntit yang jelas-jelas gajinya lebih gede daripada jajan aku.


Ia raih ponsel yang ada di dalam tas lalu mengirim pesan pada Litania.


[Bun, daripada ngutus orang buat ngikutin aku mending uangnya buat tambah-tambah uang jajan aku.] Send


Tak lama pesan balasan dari Litania pun ia terima.


[Jangan ngadi ngadi. Buat apa Bunda nyewa orang segala hanya untuk buntutin kamu. Kamu kan pandai berantem. Bunda yakin gak akan ada yang berani macem-macem sama perempuan setengah preman kek kamu]


"Dih Bunda ngaku lagi," dengkus gadis itu seraya tersenyum miring. Ia kembalikan ponsel ke dalam tas lalu memeluk erat pinggang Livia.

__ADS_1


Sekolah baru, aku datang ....


***


__ADS_2