
Turun dari ojek, Litania buka helm dan melihat tempat langganan favorit-nya dulu masih ada depan gerbang sekolah—SMA TRI DHARMA. Matanya berbinar, senyum pun terkembang, ia gandeng lengan Kinar yang masih sibuk merapikan rambut dengan jari. "Ayo, Kin, aku gak sabar pengen makan cilok."
"Iya, iya, sabar napa? Rambut aku masih kusut, nih. Kamu ini ngeliat cilok udah kayak—"
Belum sempat Kinar menuntaskan kata, Litania sudah menyeretnya menyeberang jalan, ia yang sedikit kaget mau tak mau ikutan melangkah hampir setengah berlari mengikuti jejak langkah Litania. Gadis itu benar-benar tak sabar ingin menikmati cilok yang hanya beberapa langkah dari mereka. "Sabar napa, Neng. Tu Mang Urip gak bakalan kabur."
Litania tak menggubris. Lengannya masih saja tertaut di lengan Kinar. Sementara mata tentu saja hanya tertuju pada gerobak kecil lengkap dengan isinya.
Senyum Litania makin terkembang, ludah bahkan telah berkali-kali ditelan. Aroma khas dari bakso sapi yang bercampur kanji itu membuat perutnya makin minta di isi.
"Mang, Mang, Mang, ciloknya dua porsi ya. Gak pake lama," pinta Litania pada seorang lelaki paruh baya bertubuh kurus tinggi dan berkumis klimis. Lelaki yang Litania kenal bernama Urip itu tersenyum di sela kesibukan memasukkan barang dagangan ke dalam gelas plastik kecil. Maklum saja beberapa pelanggan sudah menunggu sebelum mereka datang.
"Bentar ya, Neng. Tunggu aja dulu di situ," pinta Urip dengan sopan seraya menunjuk kursi plastik berwarna biru yang sudah tertata tak tauh dari mereka berdiri.
Litania dan Kinar mengangguk, keduanya duduk di kursi di bawah pohon mangga yang rindang. Pohon mangga yang biasa ia panjat kala berbuah. Pohon besar yang melindungi mereka dan para pedagang dari teriknya sinar matahari.
Litania tersenyum, rasa rindu akan suasana ketika dirinya masih bersekolah dulu makin menjadi hingga mata tak henti-hentinya memindai sekeliling. Gedung sekolah dan nuansa di sana masih saja terasa sama saat dirinya masih berstatus sebagai siswa. Riuh dan tenang dalam waktu yang tak bisa ditentukan.
Litania kembali tersenyum. Kenangan selama bersekolah di sana masih membekas di ingatan. Bagaimana kebadungan mereka—Litania dan Kinar—begitu terkenal kala masih mengenakan seragam putih abu-abu. Kesalahan terus saja mereka lakukan, dari sengaja maupun tidak. Sementara hukuman pun tak kalah bervariasi, dari memungut sampah, hormat menghadap tiang bendera sampai membersihkan semua toilet yang ada di gedung sekolah tiga lantai itu.
Pernah suatu hari mereka main surat-suratan kala proses belajar mengajar sedang berlangsung. Keduanya cekikikan padahal yang lain tengah serius belajar. Dan Sialnya, gumpalan kertas sebagai antar pesan mereka—yang duduk masih dalam satu meja—itu didapat oleh sang guru.
[Eh, kamu paham gak apa yang dijelasin sama Bu Riska?] Kinar.
[Ya enggaklah. Aku malahan ngantuk baget. Mataku kayak digantungin dua buah batako. Berat. Melebihi rasa rindunya Dilan ke Milea. Wkwkwkk] Litania.
[Nah iya. Andai Naruto ngasih tau mantra bikin jurus seribu bayangan. Kita pasti udah merdeka.] Kinar
__ADS_1
[Merdeka! Sekali merdeka tetap merdeka, selama hayat masih dikandung badan.] Litania.
[Amiiin ....] Kinar
[Aku nyanyi, oon. Bukan berdoa.] Litania.
Setelah membaca pesan dari dua siswinya itu, wajah Riska—guru sosilologi—mendadak masam. Dengan satu tarikan napas panjang ia pun berteriak "keluar" pada meraka.
Mengenang itu, senyum Litania makin merekah. Tingkah konyol mereka itu begitu sayang untuk dilupakan. Bisa menjadi cerita lucu untuk anak cucu kelak.
Litania senggol bahu Kinar. "Eh, Kin. Kamu ingat nggak dulu kita itu pernah ngelompatin pagar itu."
Jari telunjuk Litania mengarah pada pagar sekolah yang lumayan tinggi. Pagar semen dengan tinggi sekitar dua meter.
Kinar berdecak. "Ya ingetlah. Dan gara-gara lompatin tu pager lutut aku jadi cidera. Udah gitu katauan pula sama guru BK," sungut Kinar dengan wajah yang terlihat masam.
Belum sempat melanjutkan kata, suara keplakan pun terdengar. Kinar, gadis berambut abu-abu itu mendaratkan tamparan di punggung Litania. Litania yang tengah mengenang masa lalu itu pun sontak meringis karena tamparan Kinar tidak main-main. Panas dan perih. Ia usap punggungnya. "Kenapa mukul, sakit tauk," sungut Litania.
"Habisnya kamu gila. Masa iya mau lompat lagi dari sana. Kamu lupa kalo lagi hamil?"
Litania yang tadinya bermuka masam langsung berubah haluan—mesam-mesem karena malu—karena Kinar lagi-lagi menyadarkan kalau dirinya kini adalah seorang istri dan calon ibu.
"Ini, Neng, ciloknya," sela Urip dengan membawa nampan berisi dua gelas cilok beserta tusuk dan pelengkapnya—saos, cabe, kacang juga kecap.
Lagi, ekspresi Litania kembali berubah, tadi yang malu-malu mendadak tersenyum sumringah. Cilok spesial yang ada di depan mata membuatnya kembali menelan ludah. Ia tusuk bulatan bakso itu dan memadukan dengan bumbu, lantas memasukkan dalam mulut. Bak menikmati makan ternikmat sedunia, mata Litania bahkan terpejam dengan lidah bergoyang. Ia begitu khidmat meresapi setiap gigitan demi gigitan hingga Kinar dan Urip terheran-heran.
"Wii rasanya ajib, Mang," ucap Litania setelah menelannya dan saat mata baru tebuka, ia kaget mendapati Urip tengah tersenyum. "Kenapa, Mang? Ada yang salah, ya?"
__ADS_1
Urip menggeleng, tapi Kinar yang menyahut, "Kamu itu aneh. Makan cilok aja kayak makan apaan. Ekspresi kamu itu loh bikin aku pengen nampol. Ngeselin."
Litania tersenyum kikuk. "Namanya juga bawaan bayi," jawab Litania yang sontak saja membuat mata Urip membulat.
"Neng Litan hamil?"
Litania mengangguk malu bahkan orang-orang yang berkumpul di sana terlihat memandangnya. Pandangan yang membuat Litania tak nyaman. Ada yang tersenyum, bersyukur. Ada juga yang menatapnya sinis, merendahkan.
"Iya, Mang. Tiga bulan setelah kelulusan aku nikah dan sekarang lagi hamil."
"Oalah, selamat ya, Neng. Mang Urip gak nyangka. Soalnya masih rata gitu perutnya," ucap Urip dengan senyum yang terkembang. Lelaki itu begitu ramah padanya dari dulu hingga sekarang.
"Ya gak keliatan atuh, Mang. Wong baru tujuh mingguan," jawab Litania seraya memegang perutnya.
"Wah, sekali lagi selamat ya, Neng. Mamang ikut senang. Gak nyangka bakalan ketemu Neng lagi di sini. Tadinya Mang Urip kira siapa. Beda banget sekarang. Udah berubah drastis." Urip pindai penampilan Litania. Gadis itu memang terlihat cantik dengan balutan make up dan jumpsuit biru di tubuh. Sementara rambut, sengaja ia kucir kuda. Makin menambah kecantikan yang ada.
"Mamang yakin, entar anaknya pasti cakep kayak mamah-nya."
Duh, senyum Litania makin tak selesai-selesai. Serasa ada yang berbunga tapi bukan taman. Astaga, aku gak tau harus merespon kayak gimana. Mang Urip pande banget bikin aku malu.
Namun, di sela pujian Urip, Kinar mendadak berdiri. Matanya membola sempurna saat melihat sebuah mobil keluar dari gerbang sekolah. Gadis yang biasa cerewet itu mendadak bungkam dengan bibir yang sudah memucat.
"Kinar, kamu kenapa?"
Kinar tak merespon. Badannya kaku, lidah ikutan kelu.
"Kinar, kamu kenapa? Jangan bikin panik," tanya Litania lagi. Wajahnya mulai berpaling—mencari arah mata Kinar tertuju. Tampak seorang guru muda dan tampan keluar dari mobil dan berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
"Apa dia orangnya?" Mata Litania tertuju pada orang itu. Tangannya sudah mengepal kuat dengan rahang mengatup. Ia lihat wajah Kinar. Gadis itu telah berurai air mata. O, jadi dia si brengsek itu.