
Seminggu berselang.
Mematut diri di depan cermin, Litania tersenyum menguatkan diri. Mata sayu dan wajah kusut yang menemaninya sejak sepuluh hari yang lalu, kini sudah sirna. Ia menjadi sosok yang lebih tenang. Ia raih peralatan make up dan mulai memoles wajah. Tak lupa pula lipstik berwarna merah muda ia bubuhkan di bibirnya yang ranum. Terlihat cantik. Belum lagi gaun merah selutut membalut tubuhnya yang sedikit kehilangan berat badan. Begitu berbeda dengan Litania yang biasa. Dirinya yang cuek akan penampilan, kini terlihat lebih anggun dan menawan.
Mengangguk mantap, Litania mengepalkan tangan dengan kuat. "Baiklah Litan. Masalah ini gak bisa selesai jika kamu hindari. Hadapilah. Buktikan kalau kamu bukan gadis yang mudah terintimidasi. Kamu itu adalah wanita kuat yang gak takut menyandang status janda."
Semenjak terbongkarnya kepalsuan Chandra, Litania selalu saja memeras otak. Berpikir keras ke mana akan ia bawa arah rumah tangganya yang baru seumur jagung. Pikiran rumit yang selalu berakhir dengan kata cerai. Bukan karena permintaan Rania. Hanya saja hatinya sudah tertutup untuk lelaki yang bernama Chandra. Ia lelah, dilukai lagi dan lagi oleh pria yang sama.
Pintu diketuk, tampak sang nenek membuka pintu kayu itu dan menghampirinya. "Ndok, kamu yakin untuk ini?"
Mengangguk dengan cepat, Litania berucap, "Aku yakin, Nek. Tanpa dia aku masih bisa hidup. Aku punya kaki dan aku punya Nenek. jadi aku gak ada alasan buat bertahan dalam hubungan yang gak sehat ini."
Mata Litania berkobar. Ia raih parfum dan menyemprotkannya ke seluruh tubuh. Meraih tas selempang dan melingkarkannya di tubuh. "Aku mau buktikan sama dia. Kalau aku gak mudah dikadalin. Aku capek dikibulin mulu, Nek. Mulai sekarang aku akan tunjukkan, siapa Litania yang sebenarnya."
Mendesah panjang, Sita yang melihat pantulan wajah marah Litania dalam cermin tampak memiliki penyesalan. Andai dia tidak menyetujui perjodohan itu, Litania tidak akan melewati suatu keadaan yang tak semestinya seorang remaja lewati. "Baiklah, kalau itu keputusan kamu, Nenek akan selalu mendukung."
Duduk di kursi penumpang, Litania arahkan pandangan mata keluar jendela. Melihat lampu jalanan ibu kota yang menghiasi setiap sapuan mata. Begitu terang dan indah dalam hiruk-pikuk serta kamacetan yang tak pernah ada habisnya.
"Neng, kita sudah sampai."
Suara ringan sang sopir membangunkan Litania dari lamunan. Gadis yang mengenakan gaun merah dan heels berwarna senada hanya mampu mengulas senyuman tanpa berniat menjawab. Ia buka tas selempangnya dan memberikan uang seratus ribu pada sang sopir. "Sisanya ambil saja, Pak."
Terkembang, senyum pria tua itu melebar dengan sempurna. "Terima kasih banyak, Neng. Bapak doakan apa yang Eneng niatkan tersampaikan."
Bak tertusuk paku, Litania mengulas senyum pahit. Bagaimana mungkin ia tersenyum lebar kala mengamini doa baik itu. Doa terbaik kala niatnya buruk.
Mengembuskan napas panjang, Litania naikkan bahu yang terturun. Kakinya melangkah pasti menuju ke sebuah restoran. Lantunan musik sendu langsung menyambut kehadirannya. Seakan-akan tau bahwa dirinya akan berakhir pilu.
"Baiklah, Litan. Semua akan baik-baik saja. Lakukan semuanya sesuai apa maumu." Litania memantapkan hati. Ia atur langkah menuju kursi di pojokan restoran itu. Suasana romantis dengan lampu kerlip menghiasi sudut ruangan. Belum lagi balon-balon pink berbentuk hati tertata indah karena kebetulan malam ini bertepatan dengan hari kasih sayang. Kebetulan yang makin mengiris gumpalan merah dalam dada Litania.
Apes banget sih. Yang lain di hari valentine ini bisa bahagia, romantis-romantisan sama pasangan. Tapi aku ....
Mengedarkan pandangan ke sekeliling, Litania yang sudah cantik fisiknya menjadi tatapan minat para adam yang ada di sana. Tatapan kagum pada seorang remaja yang sebentar lagi akan menjadi janda muda.
"Ke mana dia? Belum apa-apa udah telat," sungut Litania.
__ADS_1
Waktu terus berputar. Litania terus saja melirik jam dengan gelisah. Harusnya ia dan Chandra tengah mendiskusikan masalah rumah tangga mereka. Namun yang terjadi pria itu malah telat hampir tiga jam lamanya.
"Sebenarnya ke mana sih dia? Kenapa belum sampai juga? Apa lagi mesra-mesraan sama Rania? Ck, sialan."
Berdesir, darah gadis itu naik sendiri ke ubun-ubun. Asumsi dari buah pikiran negatif membuatnya merasa dongkol sendiri.
"Yaudah deh. Males nunggu. Kayaknya aku emang gak berharga." Pelan, Litania bergumam sungguh pelan. Ucapan yang menambah sakit hatinya.
Tanpa diduga, pintu restoran terbuka dan tampak Chandra dengan tergopoh menghampirinya yang sudah berdiri. Pria itu duduk di depan Litania seraya mengatur napas yang terengah-engah. "Sayang, maaf telat."
Sayang ... sayang pala lu peyang. Gak sadar apa aku nunggu udah lumutan kek gini. Berdengkus, Litania kembali duduk. "Kenapa bisa telat?" Mengintimidasi, Litania bersidekap dada dengan memasang wajah angkuh. "Apa karena perempuan itu lagi?"
Terdiam, Chandra tampak gelisah mencari alasan. Ia beranjak dari kursinya dan duduk di sebelah Litania. Menarik paksa lengan gadis itu agar bisa menggenggamnya. "Maaf ...."
Oh Tuhan. Kata penyesalan singkat itu membuat Litania makin murka. Bukannya menyanggah pria itu malah menunjukkan wajah menyesal. Kenyataan yang membuat darah Litania makin berdesir. Umpatan yang sudah di ujung lidah pun sekuat tenaga ia tahan agar tak keluar. Sabar Litan ... sabar ....
Memejamkan mata sekali, Litania mengatur emosi. Ia tarik tangannya seraya menoleh Chandra dan mengulas senyuman. Senyuman yang entah mengapa menyisakan firasat buruk untuk pria itu
Kenapa ini? Kayak ada yang aneh? Chandra menelan saliva. Ia perhatikan wajah tenang Litania. "Kamu gak marah lagi, 'kan?" tanyanya dengan hati-hati.
"Kok gitu ngomongnya." Chandra mengiba. Ia tarik lagi tangan Litania dan menggenggamnya. "Tadi itu benar-benar darurat, Litan. Jangan ngomong gitu dong. Istriku cuma kamu. Hanya kamu. Sejak kapan jadi dua?"
Makin menguji kesabaran, perkataan Chandra semakin membuatnya naik pitam. Dasar tukang ngibul. Ngakunya cinta sama aku. Ee tapi bikin anak dengan perempuan lain. Dasar mata keranjang. Litania lagi-lagi mengumpat dalam hati.
"O iya kamu udah pesen makanan. Kita makan, yuk. Aku laper." Tampak sejejak senyum lega di bibir tebal pria itu. Ia merasa Litania telah memaafkan. Namun sayang, belum sempat mengangkat tangan untuk memesan, Litania telah lebih dulu menarik tangannya dari genggaman Chandra. "Kita cerai saja."
Membelalak, Chandra mematung sejenak. Perkataan tiba-tiba Litania membuatnya hanya mampu menelan ludah dengan kasar. Ia raih kembali tangan Litania yang sudah mengepal di atas lutut.
"Litan, jangan kaya gini. Kita bisa selesaikan baik-baik. Aku gak ada niatan poligami. Itu Murni idenya Mama. Aku hanya akan jadi suami kamu. Dan hanya kamu istriku satu-satunya."
Berdecih, Litania memutar bola matanya malas. Ia risih, mendapat gombalan Chandra tidak lagi menyisakan rasa suka. Malah enek, ingin muntah.
"Gak bisa. Aku udah yakin. Kita pisah aja. Kamu bisa hidup dengan Rania atau dengan wanita lainnya. Tapi maaf. Aku udah gak mau serumah dengan orang tukang bohong kayak kamu."
"Loh kok gitu ngomongnya. berpikirlah positif Litan. Kita udah nikah, loh. Aku mohon berpikirlah dewasa. Lupakan masa lalu. Aku gak mau jadi duda Litan."
__ADS_1
"Itu terserah kamu. Aku bisa hidup dengan status apapun. Jadi jangan ngemis-ngemis lagi. Kita cukup sampe sini." Litania berucap mantap. Ia angkat dari kursi hendak meninggalkan Chandra, tapi belum sempat melangkahkan kaki, pria itu mencekal tangannya.
"Kamu mau ke mana? Kita belum selesai."
Menatap wajah mengiba Chandra, Litania ingat akan sesuatu. "Aa iya, kita belum selesai karna ini." Litania tarik cincin berlian yang tersemat di jarinya. Melepas paksa dan meletakkan di atas meja. "Mulai sekarang kita orang asing. Hiduplah sesukamu. Karna aku juga akan begitu."
"Gak bisa! Kamu itu milikku, Litan!"
Suara lantang Chandra lumayan membuat kafe yang agak ramai menjadi tenang dalam sekejap. Pria berjaket kulit itu tidak peduli akan tatapan aneh para pengunjung. Ia terus saja memegang pergelangan tangan Litania.
Merasa kesal atas paksaan Chandra, Litania pun melakukan perlawanan. Sebuah tarikan tangan serta sedikit entakan dari Litania berhasil membanting tubuh tegap Chandra hingga menyentuh kerasnya lantai. Suara keras pun tak terelakkan karena kaki Chandra menyentuh meja pengunjung lain hingga membuat apa yang ada di meja berserakan di lantai.
"Rasain." Merapikan rambut tergerai yang berantakan, Litania menatap nyalang pria yang tengah meringis dengan posisi terlentang. "Itu peringatan. Jangan coba-coba maksa aku lagi."
Telak. Perkataan yang tak bisa Chandra abaikan. Gadis kecilnya itu begitu mengerikan bila marah. Dengkusan serta pelototan tajam menjadi bukti nyata betapa murkanya istri barbarnya itu.
Astaga, punggungku .... Chandra membatin menahan sakit. Ia ulurkan tangan tangan pada Litania. "Ambulan, Litan. Tolong panggilin ambulan ... punggungku serasa patah."
"Bodo amat."
Litania berdengkus. Ia abaikan rintihan Chandra dan tetap melanjutkan langkah. Meredam gejolak di dada yang semakin menggila. Sesak. Perasaan campur aduk. Sedih, kesal dan marah menggumpal jadi satu. Membuat gadis tinggi dengan rambut tergerai itu makin cepat melajukan langkah. Tenanglah Litan. Jangan lemah. Jangan nangis, batinnya menguatkan diri.
Litania terus saja menjauhi restoran hingga ia menemukan sebuah mobil terparkir di tepi jalan. Mobil yang ia tak tahu punya siapa. Ia bahkan tak tau bagaimana ia bisa masuk. Pikirannya kosong dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Pak, tolong antar saya pulang."
Mengernyit, dua orang yang ada di sana saling adu pandang. Mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana seorang remaja cantik bisa masuk ke dalam mobil mereka?
Namun, percuma, Litania bungkam, tak berniat menjelaskan hingga seseorang yang berada di balik kemudi memberanikan diri untuk bersuara. "Maaf, Nona. Ini bukan tak—"
Belum sempat orang itu menuntaskan kata, Litania telah meraung. Ia menangis histeris. Menumpahkan rasa kesal yang semakin menjadi bila ditahan. Membuat dua orang pria yang ada di mobil harus menutup telinga. "Tenanglah, tenang. Pasti kami anter."
Sementara di dalam restoran, Chandra dibantu berdiri oleh beberapa pengunjung. Mukanya merah padam menahan sakit fisik juga pikiran. "Sialan. Kenapa jadi rumit gini sih."
Mengepalkan tangan, Chandra benar-benar tak bisa menahan kekesalan. Harga dirinya sebagai suami dan laki-laki tercoreng secara bersamaan. Bahkan pandangan pengunjung seakan-akan mengejeknya. "Awas kamu Leo. Aku pastikan kamu bayar mahal untuk penghinaan ini."
Tiga jam yang lalu.
__ADS_1