
Menapaki jalan kompleks, Litania berjalan dengan mata yang terlihat menikmati sekitaran. Nuansa yang sama dengan rasa yang sedikit berbeda. Pohon-pohon sudah lebih besar dan tinggi dari sebelumnya—10 tahun yang lalu.
Ponsel bergetar, tampak sebuah notifikasi pesan masuk dan terpampang jelas foto Chandra di layarnya.
[Sayang, kamu di mana?]
[Lagi jalan keliling komplek. Kenapa? Terus gimana kabar kak Reka?] Send.
Senyum getir Litania terukir. Bagaimanapun ada rasa tak enak hati pada wanita baik itu karena tak bisa menjenguknya. Bau karbol yang ada di rumah sakit membuatnya muntah dan terpaksa kembali pulang ke rumah.
[Dia sudah baikan. Anaknya laki-laki. Aku lagi di jalan pulang. Aku mau ngajakin kamu ke suatu tempat. Kita kencan. Kamu siap-siap, ya.]
[Oke.] Send.
Senyum bahagia Litania terukir jelas. Ia sentuh perutnya lalu berucap, "Sehat terus ya, Nak. Bunda gak sabar pengen kamu cepet lahir."
Menghela napas lega, Litania bersyukur atas nikmat Tuhan. Bagaimanapun ini adalah takdir. Takdir rumit yang mempertemukan dirinya dan Chandra hingga bisa berakhir sekarang. Cinta beda usia tak bisa disalahkan. Semua sudah jalannya, dan ia suka terjerat takdir bersama Chandra, pria dewasa yang tak begitu sempurna. Ada titik noda di diri lelaki itu dan ia ikhlas untuk menutupnya.
Kembali mengedarkan pandangan, Litania yang mengenakan celana jeans dan baju kaus polos biasa ternyata tengah berhenti tepat di depan sebuah dinding. Tembok tebal nan tinggi itu langsung mengorek luka lama. Sebuah ingatan buruk tentang masa lalu kembali mencuat. Teringat jelas bagaimana dirinya dirisak. Bagaimana dirinya dihina. Dinding tebal itu jadi saksi bisu batapa kejam teman-teman menghinanya karena menjadi yatim piatu.
Sesak, dada Litania serasa terimpit batu, berat. Air mata pun meluruh tanpa pemberitahuan. Sungguh, mengingat itu membuatnya merindukan sosok kedua orang tua yang sudah lama meninggal karena kecelakaan setelah pulang dari seminar yang ada di Jakarta.
Litania berjongkok mengingat itu. Kala itu dirinya yang masih belum bisa mengurus diri dituntut agar bisa mandiri. Sementara sang nenek, sibuk berjualan gorengan demi menutup biaya hidup yang besar. Gaji pensiunan dari sang ayah yang berprofesi sebagai guru SD tidaklah mencukupi.
"Ibuk ... bapak, aku kangen." Litania terisak dalam. Luka lama makin menganga. Cukup lama ia tersedu di sana hingga orang-orang yang kebetulan lewat memandang aneh padanya.
__ADS_1
Mengelap jejak kesedihan di pipi, Litania bergumam pelan, "Baiklah, aku mau ketemu ibuk sama bapak. Aku harus minta maaf karena gak pernah sekali pun datang ke sana."
Memutar tumitnya, Litania hendak kembali ke rumah dan ingin mengajak Chandra berziarah ke makam. Sudah sepuluh tahun sejak orang tuanya meninggal. Dan selama itu juga ia tak pernah datang, berdalih tak ingin mengenang luka lama. "Maafkan aku, buk ... pak. Aku egois," gumamnya lagi.
Namun, tanpa diduga sebuah suara mengagetkan. Litania yang baru berjalan beberapa langkah harus berhenti dengan spontan, mencari asal suara.
Degh!
Sumpah, darah Litania mendesir seketika. Mata pun membelalak tanpa terencana. Tampak tiga orang remaja seusia dengannya tengah berjalan mendekat dengan tatapan yang sama seperti dulu, sinis, penuh ejekan serta kesombongan.
Seorang gadis gendut dengan rambut ikal sebahu mendekati, lantas memindai wajah Litania. Gadis yang Litania yakin bernama Tania.
"Wah, ternyata kamu emang beneran Litania. Aku tadinya ragu-ragu, tapi pas aku panggil terus kamunya merespon ya aku langsung yakin."
"Iya Tania. Aku tadinya juga gak percaya pas kamu teriak nyebut nama dia. Ee taunya beneran," timpal gadis lain yang bergaya tomboi—rambut pendek mirip laki-laki dengan jaket jeans ala Dilan. Senyum miring pun menjadi akhir dari ucapannya barusan. Gadis yang Litania yakin bernama Nia.
Terkekeh merendahkan, Tania dan Nia adu pandang sekilas lantas mengelilingi tubuh Litania yang menegang menahan kemarahan.
"Eh, kalian yang sopan dong sama temen lama. Kasian tau," timpal gadis berkuncir kuda dengan ransel hitam di punggung. Gadis feminim dengan balutan dress berwarna merah muda mendekat, memegang pundak kedua gadis itu lalu kembali berucap, "Kasian nanti dia nangis."
Gelak tawa menghina dari ketiga gadis itu menggema. Membuat emosi Litania jelas sudah ke ubun-ubun. Ia kesal, sungguh ingin menghajar dan mencakar gusi mereka dan kalau boleh, ia juga ingin memotong lidah yang masih saja gemar mengintimidasi.
"Minggir! Aku nggak punya urusannya sama kalian, mending kalian pergi, aku mau pulang." Litania berucap seraya melangkahkan kaki. Namun, belum sempat menjauh, sebuah cekalan di lengan membuatnya mau tak mau harus berhenti dan kembali menatap Nia. Gadis tomboi itu mencengkam kuat lengannya.
"Apa maumu?" ketus Litania seraya melepaskan cengkaman itu.
__ADS_1
"Ho ... ada yang marah nih kayaknya." Lita menyeringai, gadis yang berwajah cantik tapi sombong itu memindai Litania dari ujung kaki hingga kepala. "Kamu cantik ya sekarang. Gak kayak dulu. Dulu kamu jelek, bau."
Litania berdecak. "Kalau nggak ada yang perlu diomongkan aku permisi."
Akan tetapi bukannya membiarkan Litania pergi, Nia dan Tania malah menghadang jalan, dan lebih parahnya Lita yang ada di belakang malah meraih pundak Litania dan memutarnya, lantas mendorongnya. Litania yang tak bisa menjaga keseimbangan berakhir terduduk dengan posisi tangan menyentuh semen terlebih dahulu. Litania meringis kesakitan dan memegang perutnya.
"Sebenarnya apa mau kalian?" bentak Litania. Wajahnya sudah masam. Ia tak yakin bisa menahan emosi lebih lama lagi bila masih saja ada di situ. Akan tetapi bukannya menjawab, Lita malah tertawa terbahak disusul oleh tawa Nia dan Tania.
Sialan mereka emang mau minta dihajar kayaknya.
Berdengkus, Litania angkat dari posisi tak nyaman itu dan menatap nyalang pada Lita, Nia dan Tania serasa bergantian. "Aku itu gak punya urusan ya sama kalian. Tapi kenapa kalian selalu aja ganggu aku? Kenapa?" teriak Litania.
"Kami kesel aja, dengar-dengar kamu nikah sama anaknya pak Bram." Lita menjeda kata. Ia dekati wajah marah Litania kemudian berbisik, "Bagaimana caramu menggodanya?"
Emosi Litania makin tinggi. Ia dorong pundak Lita agar menjauh dari wajahnya. "Kalo ngomong yang sopan, aku nggak pernah goda siapapun. Ngerti!"
"Halah, jangan ngeles. Aku denger-denger kalian kepergok di hotel. Kalian wik-wik di sana. Iya, 'kan?" Berdecih lantas bertepuk tangan, Nia tanpa ragu menyuarakan kabar yang ia dengar. "Aku nggak nyangka, lho. Kemiskinan ternyata udah buat kamu nekat jadi perempuan gak bener."
"Iya, perempuan sundal kek kamu ini harusnya dibasmi," sela Tania. Ia bahkan maju dan tanpa aba-aba menjambak rambut panjang tergerai Litania. Litania jelas mengaduh tapi dengan cepat ia ubah keadaan dengan memelintir tangan kiri Tania hingga gadis gendut itu meringis dan mengaduh berkali-kali. Lita dan Nia tampak shock dengan mulut sedikit menganga.
"Kenapa, sakit, ya?" Litania balas menyeringai.
Tania menggangguk cepat. Sementara Lita dan Nia hanya berpelukan bak pengecut kesialan.
Makin mengeratkan kuncian. Litania pandang tajam pada Lita dan Nia. "Ini pelajaran buat kalian. Jangan pernah nge-bully orang lagi. Cukup aku saja. Apa kalian tau rasanya di bully? Apa kalian gak sadar tindakan kalian itu bikin mental orang lain jadi down? Dan aku harap kalian gak kayak gini lagi. Jadilah manusia yang layak. Bukan sampah yang bisanya cuma mengganggu orang lain. Paham!"
__ADS_1
visual Kinar ada di bab 51. pengumuman ya