Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Ektra part Kinar Arjun ( Gadis nakal)


__ADS_3

"Sudah siap?" tanya Arjun.


Kinar mengangguk. Ia yang sudah cantik dengan dress berlapis blazer mendekati Arjun lantas mengalungkan lengan di pinggang pria itu. Senyumnya tampak amat manis. Matanya berbinar melihat Arjun yang makin mempesona saat di lihat dari jarak dekat. Belum lagi aroma parfum dari tubuh Arjun, heum ingin dia ....


Mata Kinar menyipit, senyum mesum seketika terbit. "Makan di resto hotel aja, ya. Aku males kalau harus keluar. Jalanan macet, entar makin ...."


Sengaja menggantung lisan, Kinar malah mendaratkan kecupan di pipi Arjun.


"Kamu ...." Arjun yang gemas akan keagresifan Kinar ikut tersenyum licik. Ia rengkuh pinggang Kinar dengan tangan kanan dan satunya memegang dagu wanita itu. "Kamu mesum banget, sih. Dasar gadis nakal," bisik Arjun. Jarak di antara mereka hampir tak ada. Embusan napas pun menerpa wajah masing-masing.


"Itu karna kamu jual mahal mulu. Aku 'kan gak kuat," balas Kinar tak kalah sensual. Persetan sudah dengan harga diri karena Libido sudah naik tinggi. Disentuhnya rahang Arjun, jarinya makin liar turun dan turun lagi hingga ke dada. Namun, saat jari nakal berkutek merah hampir mencapai perut, lekas-lekas Arjun menahannya. Ia pegang dan genggam tangan wanita itu lalu menciumnya lembut. Sementara mata masih saja terfokus ke wajah ayu Kinar. Bola mata mereka bergerak liar.


"Gimana kalau kita lewatkan saja sarapan hari ini?" bisik Kinar mancing-mancing.


Sukses, Arjun terperangkap, jakunnya naik turun. Kinar tersenyum smirk. Ia daratkan kecupan singkat di bibir Arjun yang seksi.


"Baiklah. Ini kamu yang minta. Tapi jangan ngeluh. Karna apa, karna aku sudah lama menahan semua ini. Dan aku pikir gak bakalan cukup jika cuma satu ronde."


Blush.

__ADS_1


Wajah Kinar berdenyut-denyut, tak hanya itu, yang di bawah pun ikutan berkedut. Ia kalungkan kedua lengannya di leher Arjun. Mata sejoli itu sama saja. Sama-sama berkabut hasrat karena otak dipenuhi hal-hal yang berbau 21+


"Gak akan. Aku siap."


"Baiklah."


Arjun tarik dagu Kinar dengan perlahan hingga benda kenyal tipis berlapis lipstik mendarat tepat di bibir. Namun, saat ingin memperdalam, getaran dalam saku celana membuyarkan. Arjun mengembuskan napas kasar lalu merogoh saku. Terpampang nama Vina—sepupunya—di layar ponsel.


"Sebentar ya," ucap Arjun.


Kinar mengangguk. Ia liat punggung tegap Arjun yang melangkah menjauh.


"Kenapa?" tanya Kinar. Wajah Arjun terlihat agak gusar.


Arjun pegang kedua pundak Kinar. "Kita pending dulu, ya. Soalnya ada Vina sama orang tuanya di bawah. Dia minta kita turun dan sarapan bareng mereka sebelum mereka balik ke Semarang."


"Yah, gak jadi mulu, ih." Kinar bersungut. Ia bersedekap dengan wajah cemberut. Wajah yang masam ditolehkan ke arah lain. Bukan marah sama Arjun, hanya saja kesal dengan keadaan. Kenapa setiap dirinya sudah siap, sudah hareudang, ada saja kendala yang membuat suasana romantis penuh kemesuman ambyar dalam sedetik?


"Gak apa-apa, ya. Bentar, kok. Orang tua Vina baik banget sama aku. Gak enak kalau nolak. Mau, ya?"

__ADS_1


Mengembuskan napas frustrasi. Kinar mengangguk juga. Ia kalungkan lagi lengannya ke tangan Arjun dengan memasang senyum. Demi apa? Demi cinta Arjun tentunya.


Di restoran hotel. Tampak empat orang saling berhadapan. Kinar dan Arjun yang baru tiba saling tatap mata melihat ada orang baru di meja. Kebetulan yang hakiki, orang itu membelakangi mereka. Sementara kedua orang tua Vina ada di sisi sebaliknya.


"Itu Vina duduk sama siapa?" tanya Kinar.


"Aku gak tau. Tadi Vina bilangnya mereka bertiga," balas Arjun yang tak kalah bingung.


Menyentuh punggung tangan Kinar, Arjun pun kembali melanjutkan kata, "Gak apa-apa, ya, kita makan bareng mereka."


Kinar mengangguk. Mereka dekati meja yang sudah dipesan khusus oleh Vina.


"Astaga, pengantin baru tiba," celetuk Rudi, ayah Vina, disusul kekehan renyah dari Cella—ibu Vina. Pria berjenggot dengan jambang sedikit tebal itu tersenyum dan berdiri menyambut Arjun dan Kinar.


"Gimana malam pertamanya? Pasti lancar, 'kan?"


"Ah, Om Rudi bisa aja," balas Arjun, wajahnya sedikit bersemu. Ia pandang wanita yang ada di depan Rudi dan Cella. Tampak sang sepupu juga tersenyum ke arahnya. Namun, saat melihat orang yang duduk di sebelah Vina, senyum Arjun lenyap. Kinar bahkan tampak mengepalkan tangan.


"Meli, kamu ngapain ke sini?" Arjun bertanya seraya melirik Kinar. Ia tau kalau Kinar tak nyaman ada mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Aku cuma mau nyapa doang, kok. Gak boleh?" Mata sinis Meli tertuju ke Kinar. "Apa sekarang istrimu ini membatasi pergaulanmu?" tanyanya yang terdengar mengejek. Ujung bibirnya terangkat sebelah.


__ADS_2