
"Selamat pagi, Pak. Ini kopinya," ucap seorang gadis yang tak lain tak bukan adalah Fia. Ia sangat cantik dengan pakaian formal khas pekerja kantoran.
Pria muda yang dipanggil bapak itu hanya berdeham tanpa mau mengalihkan pandangan. Ia terlalu fokus pada selembar kertas yang ada di tangan. Sesekali mengangguk hingga Fia yang baru menjabat sebagai sekretaris-nya terbengong. Gadis itu mundur saat sudah meletakkan kopi di atas meja.
"Apa Bapak perlu sesuatu lagi?"
Pria itu—Danuarta Alfin alias Dafin—mengangkat kepala. Matanya menatap intens lawan bicara. "Fia Diantisya, wanita single berumur 24 tahun, tinggi badan 165 senti, golongan darah B, hobi hiking dan anak tertua dari empat bersaudara."
"Hah?" Lagi-lagi Fia melongo, ia seperti di interogasi, tapi itu memang kewenangan Dafin selaku atasan.
"Well, kamu lumayan keren, kamu punya kemampuan akademis yang bagus, menguasai lima bahasa, aku suka itu."
Serasa api tersiram air, Fia lega mendengar penuturan Dafin. Namun, perasaannya kembali tak karuan saat sang bos memindai wajahnya lumayan lama dan berulang kali.
Mendadak ia ingat kertas sketsa dan refleks menutup area atasnya seraya memiringkan badan. "Bapak liatin apaan?" tanyanya, mata menyipit tajam hingga Dafin tak tahan untuk tak tertawa.
"Apa yang kamu pikirkan? Saya tekankan, saya itu sudah punya calon istri. Dan kamu ...." Dafin menjeda kata sejenak, pandangannya terfokus pada miniatur gunung Kelud yang ada di dada Fia, "walaupun kamu cukup menarik dan cup kamu lumayan gede, tetep gak bisa menggoyahkan cinta saya."
Sialan, ngeselin banget sih ni orang. Kalo aku buka baju pasti iman kamu bakalan goyah juga. Aku sumpahin kamu diputusin. Dasar belagu. Fia bermonolog kesal. Ia betulkan posisi. Ekspresi yang tadinya kesal sudah kembali normal setelah menarik napas panjang. Bagaimanapun ia harus tahan mendampingi Dafin sebagai sekretaris.
Dafin kembali tersenyum sinis, ia sandarkan punggung di kursi dengan mata tetap terarah ke Fia. "Cuma saya heran, harusnya dengan nilai kamu yang nyaris sempurna ini kamu bisa bekerja di perusahaan mana saja. Tapi kenapa kamu baru bekerja jadi sekertaris sekarang? Bukannya kamu sudah lama lulus kuliah?"
"Itu karena ayah saya sakit dan tidak memungkinkan saya untuk bekerja jauh dari keluarga," balas Fia sekenanya.
Dafin tampak mengangguk dua kali. Entah apa yang dipikirkannya tapi yang jelas Fia berharap penjelasan tadi memuaskan Dafin.
"Sebenarnya saya ragu kamu bisa mendampingi saya. Tapi, karena saya butuh pengganti Nasya, saya akan menerima kamu untuk menggantikan dia. Tapi ingat, ini hanya sementara. Sesuai kesepakatan, masa uji coba kamu cuma tiga bulan. Dan jika kamu tidak bisa melakukan tugas jangan salahkan saya jika kamu saya pecat."
"Baik Pak."
Senyum Fia terukir, walaupun masih masa percobaan ia tetap percaya diri bisa menaklukkan hati sang wakil direktur dan membuatnya bekerja lebih lama. Ia sangat butuh pekerjaan, butuh uang untuk biaya hidup keluarga. Belum lagi biaya sekolah ketiga adiknya yang lumayan membuat pening kepala.
"Oiya, apa jadwal saya hari ini?" tanya Dafin lagi.
Fia menyentuh layar ponsel. "Jadwal Bapak hari ini dimulai jam sepuluh dengan tim Humas mengenai kasus air bag kemarin. Lalu jam dua belas makan siang bersama Tuan Yamato, habis itu ada rapat bersama direktur jam tiga sore, lalu ada press conference mengenai peluncuran produk motor terbaru kita di jam empat sore, habis itu melakukan kunjungan bulanan—"
"Stop, Fia."
Lisan Fia terhenti, ia lihat sang bos memijit pangkal hidung. "Ada apa, Pak? tanyanya.
"Saya mau kamu cancel kunjungan bulanan ke pabrik. Saya ingin istirahat lebih awal hari ini. Lagian tangan saya masih belum sembuh benar," jelas Dafin seraya memperlihatkan pergelangan tangannya. Meski penyangga tangan sudah dilepas tetap saja masih terasa ngilu.
"Undur jadi minggu depan," lanjut Dafin.
Fia mengangguk patuh. "Baik, Pak."
Dafin lantas melirik jam dibatas meja. "Masih ada waktu dua jam sebelum rapat dengan tim Humas dimulai, 'kan?"
"Benar, Pak."
"Kalau gitu kita ke rumah sakit, kita jenguk Nasya."
Namun, baru saja Dafin angkat dari kursi, telepon di atas meja berdering. la lantas mengangkat dan hanya mengatakan iya dan baiklah secara berulang-ulang.
"Fia, saya mau bertemu direktur utama dulu, jadi kamu tunggu saja saya di mobil. Kalau tidak tahu di mana posisi mobil saya, bisa kamu tanyakan sama penjaga keamanan di sana. Ini kuncinya." Davin melemparkan sebuah kunci dan Fia dengan tepat menangkapnya. Gadis itu mengangguk sekali lantas memutar tumit dan pergi.
Di ruangan Chandra.
"Kenapa Ayah memanggil Dafin ke sini?" tanya Dafin yang baru saja tiba.
"Duduk dulu, Fin," balas Chandra seraya beranjak dari kursi kebanggaan dan menuju sofa. Dafin pun mengikuti. Mereka berdua duduk saling berhadapan.
"Begini, Ayah mau membicarakan sesuatu yang serius sama kamu, apa kamu yakin memilih Sisi sebagai istri?"
Dafin menaikkan alis sedetik lalu mengangguk ragu. Hubungannya dengan Sisi tak pernah ditentang oleh keluarga. Sang ayah yang pengertian dan ibu yang penyayang tak pernah berkomentar selama ini. Keduanya hanya mengiyakan saat Dafin mengenalkan wanita pilihan hatinya itu pada mereka tiga tahun lalu.
Akan tetapi, tak pernah ia duga sekarang sang ayah mulai bertanya lagi dan dari suaranya seperti ada keraguan di sana.
"Iya, Yah. Aku yakin sama dia. Keluarganya orang terhormat, dan Sisi sendiri berhati baik. Aku sayang sama dia. Dia wanita pertama yang bikin aku nyaman."
Chandra manggut-manggut, ia lepas kacamatanya dan menatap lekat wajah Dafin. "Kalau memang kalian sudah saling suka dan siap dengan hubungan yang lebih serius lakukanlah pertunangan. Ayah ingin hubungan kalian dipublikasikan nanti di acara anniversary perusahaan. Ayah gak mau dengar ada desas-desus lagi tentang hubungan kamu dengan wanita seperti beberapa tahun lalu. Media menggila jika menyangkut hal yang begitu, Dafin."
Chandra menarik napas panjang. Hatinya terasa kerdil mengingat kelakuan Dafin, merasa gagal mendidik anak. Dafin ternyata jago dalam hal asmara, tak seperti dirinya yang hanya menyimpan satu nama, yaitu Litania.
"Asal kamu tau, Ayah tersudut karena kelakuan minus kamu itu. Semua pemegang saham gak ada yang setuju saat Ayah merekomendasikan kamu menjadi penerus. Semua itu karena foto tak senonoh kamu yang tersebar luas. Ayah gak mau itu terjadi lagi. Kamu calon pewaris, Dafin. Ayah yakin di luaran sana banyak wartawan yang mencari-cari kesalahan kamu. Celah paling sempurna yaitu perempuan," papar Chandra panjang lebar.
Dafin tertunduk. Ia ingat betul kisah itu. Waktu itu merupakan krisis bagi keluarga mereka. Semua fotonya dengan beberapa wanita tersebar luas, dari pelukan hingga ciuman. Jika dihitung-hitung ada 7 foto dirinya bersama wanita yang berbeda. Alhasil, Chandra yang biasa tenang menjadi murka dan melayangkan tangan untuk pertama kali. Dafin kapok dan memilih tobat. Namun, ia tetap penasaran siapa pelakunya? Hingga kini semuanya masih menjadi misteri.
"Iya, Yah. Dafin ingat. Sekarang Dafin sudah yakin sama Sisi," jawab Dafin lesu. Kepalanya masih tertunduk hingga Chandra berdeham.
"Angkat kepalamu. Jangan biarkan masa lalu jadi kelemahan. Sekali kamu lemah, lawan akan menyerang tanpa ampun. Kepala sama hitam, tapi dalam hati siapa yang tahu. Jangan perlihatkan kelemahan. Kamu tau, banyak yang mengincar posisi Ayah ini," jelas Chandra lagi.
Dafin memilih bungkam hingga Chandra kembali berkata, "Ayah hanya ingin perusahaan stabil, Dafin. Ayah gak mau gosip apa pun mempengaruhi image baik kamu dan perusahaan. Ada beribu karyawan yang bergantung dengan perusahaan ini. Kamu mengerti, 'kan?"
__ADS_1
"Iya, Yah. Dafin paham."
"Dan satu lagi, Ayah minta kamu gantikan Ayah dan pergilah ke Bali. Yakinkan Mr Reynal Smith agar mau berinvestasi. Kamaren CMO kita sudah ke sana, tapi katanya dia ingin berbicara langsung sama Ayah. Tolong gantikan Ayah. Kalau kamu bisa meyakinkan dia, Ayah yakin nanti pas penunjukan kamu sebagai direktur di rapat pemegang saham tidak akan ada dewan yang berani menentang. Buktikan kemampuan kamu. Buktikan kalau kamu mampu memimpin perusahaan," papar Chandra lagi. Kini perasaanya sedikit lega.
Dafin mengangguk lagi.
"Berangkatlah besok, usahakan dalam tiga hari kamu sudah bisa menerima tanda tangan Mr Reynal Smith sebelum dia balik ke New York."
"Baiklah, Dafin akan berusaha semaksimal mungkin."
Chandra mengangguk. Ada sedikit ulasan tipis di bibirnya. Ia sangat berharap Dafin bisa menjadi pengusaha yang benar-benar pekerja keras. Bukan atasan yang bisanya hanya memeras tenaga bawahan. "Bagus. Kalau begitu lanjutkan pekerjaan kamu."
Dafin berdiri lalu meninggalkan Chandra. Dalam hati pria itu sedikit berat untuk menyanggupi permintaan itu. Berat meninggalkan sang pacar tapi lebih berat lagi meyakinkan laki-laki yang bernama Reynal. Bukan rahasia lagi kalau orang itu adalah miliarder tersohor di seluruh negeri, tapi orang itu juga terkenal dengan berhati batu.
Di besement.
Dafin berjalan menuju mobilnya di parkir. Di samping mobil sport miliknya ada Fia. Gadis itu berdiri tegap bak bodyguard.
"Kenapa berdiri di luar? Kenapa enggak masuk?" tanya Dafin keheranan.
"Saya nungguin Bapak," balas Fia.
Dafin terdiam sebentar, ia pindah Fia dari atas sampai bawah. Fia yang merasa salah tingkah berakhir menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"Ada apa, Pak. Apa ada yang salah sama wajah saya?" ucapnya cengengesan seraya membalik diri dan berkaca. Dafin berakhir tersenyum gemas melihatnya.
"Tidak, bukan begitu. Saya cuma mau nanya, kamu bisa nyetir, 'kan?" Kekehan renyah mengikuti pertanyaannya. Sebuah suara ringan yang membuat Fia bersungut dalam hati.
Kalo mau bertanya itu pake mulut, ini kok pake mata, mana matanya kek gitu lagi. Lagian bukannya aku udah nyantumin fotokopi SIM. Dasar bos mesum.
Lagi-lagi Fia memanipulasi ekspresi. Ia tersenyum manis lantas mengangguk. "Bisa, Pak, tentu saja saya bisa nyetir. Saya akan bawa Bapak ke mana pun Bapak mau."
"Ya sudah, kalau begitu cepetan masuk, kita ke rumah sakit sekarang, sebelum itu kita beli buah tangan dulu buat Nasya."
Fia mengangguk lagi, ia buka pintu mobil untuk Dafin sedangkan ia sendiri duduk di belakang kemudi. "Sekarang kerjaanku merangkap jadi Kang Sopir," sungutnya pelan.
"Kamu ngomongin apaan?" tanya Dafin yang sempat mendengar sungutannya.
"Ah, tidak ada, Pak. Tidak ada apa-apa," elak Fia lantas mendesah pelan.
Tibalah di rumah sakit. Fia mengekor dengan tangan membawa aneka buah-buahan. Sementara Dafin, ia berjalan angkuh dengan tangan masuk ke dalam saku celana. Fia bersungut, Dafin tampak arrogant tapi sialnya tetap terlihat tampan. Banyak orang yang memperhatikan, dari suster, dokter maupun pasien tampak jelas terheran-heran. Mereka terpesona dengan wajah dan penampilan Dafin yang hampir mencapai nilai sempurna.
Namun, ada hal lucu yang membuat pria itu langsung berubah ekspresi dan jatuh pamornya. Ia dimarahi dan dibilang tuli karena tak menyahut saat dipanggil dengan nama "Dokter Dafan" oleh seorang pasien. Saking kesalnya ia bahkan sampai mengeluarkan KTP agar orang itu percaya.
"Bisa gak berhenti ketawanya?" ketus Dafin pada Fia saat si pasien sudah pergi. Ia lampiaskan kekesalan dengan memberikan tatapan elang. "Ketawa sekali lagi, kamu saya pecat."
"Oiya, Fia. Tolong beli kopi di kantin," ucap Dafin sesaat setelah pintu kamar Nasya dirawat terbuka.
"Baik, Pak." Fia pun memutar tumit, tapi belum sempat melangkah Dafin kembali memanggil.
"Iya, Pak. Apa ada yang lupa?" tanyanya sopan.
"Pake uang ini." Davin mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan sebuah kartu.
Fia menyambut. "Untuk apa ini ya?" tanyanya kebingungan.
"Kalau kartu ini untuk keperluan pekerjaan kita," terang Dafin seraya menyentuh kartu debit yang ada di telapak tangan Fia. Fia manggut-manggut.
"Dan ini uang cash untuk beli kopi," lanjut Dafin lagi.
"Lah, kenapa banyak sekali, Pak. Perasaan harga kopi nggak semahal ini." Dahi Fia mengernyit tak habis pikir.
Dafin berdecak lalu menggeleng. "Saya nggak nyuruh kamu beli segelas, Fia. Saya nyuruh kamu beli kopi untuk semua perawat dan dokter yang ada di sini. Gunakan uang itu."
Telak. Sebuah perintah yang membuat dahi Fia makin berlipat. Gimana ceritanya aku beli kopi sedangkan aku sendiri gak tau berapa banyak pegawai dan dokter yang ada di rumah sakit ini? Aneh. Dia ini baik apa mau ngerjain sih sebenernya?
"Heh, Kenapa bengong? Cepetan sana. Beli."
Fia kembali menelan ludah, baru sehari bekerja ia sudah mendapat tugas yang lumayan membuatnya mengumpat berkali-kali. Namun, karena perintah ia berakhir mengangguk juga dan menuju kantin.
Tanpa diduga di sana—kantin rumah sakit—Fia malah bertemu Dafan yang tengah duduk sendirian. "Ck! Dunia ini memang sebesar layar ponsel," decaknya sebal lalu berjalan menuju tempat pemesanan kopi.
Akan tetapi, Dafan yang mengenal Fia langsung mengikuti dan sengaja berdiri di sebelahnya. "Hay, apa kabar?"
"Jangan sok akrab," balas Fia tanpa mau menoleh. Jujur, masih belum bisa terima ketidaksengajaan Dafan terhadap tubuhnya.
Mendadak perintah Dafin mengudara lagi di telinga Fia. Ia tatap intens Dafan. "Jumlah dokter dan perawat di sini ada berapa orang?"
"Emang kamu mau ngapain?" tanya Dafan balik. "Mau nyensus apa gimana?"
"Aku disuruh beliin kopi," ketus Fia lagi.
"Lah." Tawa Dafan mengudara, Fia yang kesal akhirnya berdengkus juga. Gak adek gak abang sama-sama nyebelin.
__ADS_1
"Emang siapa sih yang nyuruh kek begitu. Dermawan banget," lanjut Dafan dengan suara tawa yang masih terdengar.
Bukan dermawan tapi resek, balas Fia dalam hatinya. Gadis itu kembali memutar bola malas. Namun belum sempat memesan, Dafan telah lebih dulu menarik tangan dan menuntunnya duduk di kursi
"Kamu apa-apaan, sih?" ujar Fia ketus.
Dafan melirik id card yang terkalung di leher Fia. "Kamu jadi sekretarisnya Dafin, ya?"
Mata Fia melotot. "Dari mana kamu tahu?"
"Tenanglah, aku gak akan ngadu sama dia. Aku ya aku dia ya dia. Eh ngomong-ngomong kita belum kenalan, 'kan? Kita sudah bertemu tiga kali tapi gak tau nama satu sama lain."
Fia tak menyahut hingga sebuah uluran tangan membuatnya kaget. Tampak Dafan tersenyum tipis. "Kenalin, aku Daniswara Alfan. Panggil saja Dafan. Dan yang jadi bos kamu itu, Dafin. Dia adikku. Aku jadi dokter di sini."
Fia lagi-lagi terdiam. Tak bisa berkata-kata bagaiman menjelaskan perasaannya sendiri. Bagaimana bisa pria yang ada di depannya berbicara santai padahal bisa dikatakan pertemuan mereka sangat dramatis.
"Apa kamu mau liat tanganku lepas?"
"Hah?" Fia masih belum sadar kalau tangan Dafan masih terulur.
"Ayo cepat sambut, apa kamu mau liat aku mati karena malu?"
"Hah?" Lagi-lagi Fia terbengong, ia lantas mengalihkan pandangan dan melihat hampir semua mata melihat ke arah mereka. Entah tatapan apa itu. Namun, yang jelas seperti menghina, mengumpat atau apalah. Ia juga tak yakin. Namun, jika melihat dari wajah dokter muda ini, bisa dipastikan tatapan mereka adalah tatapan iri.
Fia sambut tangan Dafan lalu berucap, "Aku Dafia Diantisya, panggil aja Fia."
"Baiklah Fia. Aku harap ini awal dari hubungan baik kita. Aku harap kejadian lalu bisa kamu lupakan."
Hening, Fia tak tahu harus menjawab apa. Satu sisi ia kesal, tapi satu sisi ia tak bisa marah terlalu lama pada orang yang menyesal.
"Fia bisa tolong aku satu kali lagi nggak?" tanya Dafan yang mengesampingkan rasa malu dan gengsi. Ia sungguh ingin membuat Nara menyerah dengan perasaannya sendiri. Ia ingin gadis itu fokus ke sekolah dan ia bisa fokus dengan pekerjaan dan profesinya.
"Nggak aku nggak mau lagi," ucap Fia singkat.
"Ayolah, tolong aku sekali lagi. Nanti aku bilang Dafin biar gaji kamu dinaikin, gimana? Dan kalau kamu mau, aku akan kasih imbalan."
Seketika darah Fia berdesir. Ia layangkan tatapan elang. "Apa maksud kamu?" tanyanya kesal.
"Ayolah, aku gak minta sesuatu yang menyalahi aturan. Aku cuma mau kita melanjutkan sandiwara tempo hari."
"Maaf, aku gak mau. Aku nggak mau terlibat sama kamu lagi."
"Ayolah, jangan begitu. Ini menyangkut masa depan orang lain."
"Maksud kamu?" tanya Fia.
"Aku mau kamu bantu aku biar gadis yang kemarin bisa fokus dengan sekolahnya."
Fia terdiam. Tawaran Dafan lumayan menggiurkan. Apalagi demi masa depan seorang gadis. Jujur, mengingat Nara, ia jadi teringat dengan adiknya yang ada di Bali.
"Kita cuma berakting kayak kita pacaran aja sih cuma itu."
Namun, Fia masih berpikir hingga Dafan kembali berucap, "Pliase Fia. Aku nggak macam-macam kok. Beneran sumpah. Dan soal yang kemarin itu, itu kan di luar dugaan," ucap Dafan tenang, tapi jelas wajahnya terlihat canggung. "Tolonglah, bantu aku sekali lagi."
"Bantu apaan?"
Suara seseorang dari belakang mengagetkan Fia dan Dafan. Tak hanya mereka berdua, semua pengunjung kantin ikut terdiam, terheran-heran bahkan ada yang bercak kagum.
Namun tidak untuk Fia. Dia dengan cepat berdiri saat melihat sang bos datang dan mendekat. Detak jantung jangan di tanya lagi. Menggila. Apalagi orang yang memegang gaji sudah duduk di sebelahnya.
"Kalian lagi ngobrolin apaan? Terus sejak kapan kalian ...." Lisan Dafin terjeda saat melihat wajah merah saudaranya. Ia baru ingat tragedi di bandara beberapa hari yang lalu.
"Jadi kalian sudah akur sekarang?" tebak Dafin.
Tak ada yang menjawab. Baik Dafan dan Fia memilih bungkam hingga Dafin berdeham.
"Oiya, kalian lagi ngobrolin apaan tadi?" ulang Dafin penasaran.
"Ini aku minta bantuan sama sekretaris kamu buat nyadarin Nara."
"Maksudnya?"
"Iya, aku mau Fia pura-pura jadi pacarku."
"Kamu gila?" Dafin terlihat tak percaya. Matanya membulat.
"Ayolah kamu kan tahu bagaimana keras kepalanya Nara. Dia itu nggak bakalan berhenti kalau nggak ada bukti tepat di depan matanya. Aku cuma ingin anak itu sadar kalau tindakannya selama ini salah."
Dafin mengangguk. "Baiklah."
Sontak mata Fia membulat. Ia tatap tajam Dafin, kesal. Kenapa dia yang menyanggupi batin Fia dongkol.
"Kamu bisa bawa Fia asal kamu bantuin pekerjaanku."
__ADS_1
Sialan saudara kembar ini memang sedeng. Aku serasa barang dagangan sekarang, batin Fia lagi.
"Bantuin apaan?" tanya Dafan penasaran.