
Prang!
Nara yang mulanya masih terpejam cantik sontak saja terperanjat karena suara nyaring itu. Ia berjengket hebat, tapi sebuah kenyataan membuatnya hampir pingsan saat itu juga. Bagaimana tidak? Ada dua orang pria tengah berbaring disebelah kiri dan kanan. Belum lagi tangan yang sama-sama berada di atas perut dan kaki sama-sama berada di kakinya. Ia merasa seperti guling di tengah mereka.
"Nona, Nona Nara?" ujar si Mbok yang menjatuhkan nampan sarapan. Ia juga sama kagetnya.
"Mbok, ini ... ini ...."
Nara terdiam, ia benar-benar bingung dan mematung. Sementara dua pria yang ada di sebelahnya mulai meliukkan badan.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
"Aa ...!"
Suara Nara menggema. Dua pria yang awalnya masih terlelap cantik langsung terperanjat dan terjungkal ke belakang. Dua-duanya panik saat mendengar suara jeritan.
"Ada apa? Ada apa?" tanya Dafan. Bola matanya membelalak saat melihat Nara mengecek tubuh yang ada di balik selimut. "Ada apa, Ra? Apa ada ular?"
Tanpa pikir panjang Dafan pun masuk ke dalam selimut. Ia menyibak kain tebal yang menutupi tubuh Nara.
"Apa? ular? Di mana ... mana?" sahut Fery tak kalah histeris. Ia langsung meraih ponsel hendak menelepon dan meminta bantuan.
Nara yang jengkel pun sontak saja melempar bantal. Telak, mengenai kepala Fery hingga kacamata yang baru saja terpasang kembali terlepas.
Dafan yang berada dalam selimut pun tak terlewatkan. Ia mendapat tendangan dari Nara dan tentu saja membuatnya kembali terjungkal.
"Ular Ndas-mu!" sahut Nara geram.
Dua pria di sana langsung terdiam.
"Kalian!" Nara menyalangkan mata dan melihat mereka secara bergantian. "Kalian kenapa bisa di sini? Ha!"
Kepanikan begitu kentara di wajah Nara. Namun, saat melihat tubuh yang masih terbalut pakaian lengkap membuatnya mengusir pakiran buruk. Tapi tetap saja tak percaya bisa seranjang dengan dua pria. Ia pegang kepalanya yang serasa akan pecah.
"Ayo jawab! Kalian kenapa bisa di sini?" Lagi, Anya menghardik dengan suara melengking. Semua orang di sana bahkan sampai menutup telinga.
"Jangan teriak-teriak, bisa?" ujar Dafan.
Nara cuma berdengkus. Ia butuh jawaban sebelum emosinya meledak dan tak terkendali. "Bagaimana bisa aku tenang?" balas Nara yang masih terlihat kesal. "Aku butuh jawaban. Kenapa kamu bisa tidur di sini?"
Dafan berdiri seraya memegang pinggang yang ngilu. "Apa kamu lupa? Semalam aku yang bawa kamu pulang ke rumah ini," jelas Dafan lalu mendesis kesal.
"Apa?" Nara terdiam—mencoba mengingat. Seketika bayangan tentang semalam samar-samar terlintas. Bagaimana ia menggigit kepala dan kaki Dafan. Sontak saja ia menutup mulut, matanya membeliak. "Aku ... aku ...."
"Kenapa, kamu baru ingat?" sindir Dafan lalu berdengkus.
Nara mengangguk pelan. Kini matanya tertuju pada Ferry yang berdiri di sebelah Kiri. "Dan kamu, kenapa bisa di sini?"
"I-tu a-aku se-semalam khawatir s-sama k-kamu. K-kamu nggak a-da di kelab, j-jadi a-aku ny-nyoba nyari k-kamu di sini. T-tapi pas a-aku mau pulang, k-kamu narik tangan a-aku d-dan enggak b-bolehin aku buat pu-pulang."
Mata Dafan melotot mendengar itu. Ia melihat Fery dan Nara secara bergantian, seperti mencari kebenaran. Dan gelagat kebingungan yang Nara tunjukkan membuatnya makin kesal. Apakah sebegitu sayang Nara pada Fery hingga dalam alam bawah sadar pun begitu tergantung kepadanya?
Dafan berdecih, hati terasa panas. Ia lantas menatap Fery dengan sorot mata elang. "Apa benar begitu? Aku yakin itu cuma alasan kamu doang. Ayo ngaku."
"B-beneran, a-aku g-gak pep-pernah b-bohong," balas Fery. Meski tergagap ia tak gentar sama sekali dengan tatapan Dafan yang mengintimidasi.
Dafan yang sejatinya sudah mengetahui rahasia Fery, memajukan langkah, bersedekap lalu berkata, "Beneran gak pernah bohong? Siapa yang tau ka—"
"Dafan!"
Nara sengaja memotong perkataan Dafan seraya beranjak dari ranjang, lalu mendorong dada pria itu agar menjauh.
"Dia gak kek kamu. Dia laki-laki baik. Aku percaya sama dia," lanjut Nara seraya menunjuk-nunjuk wajah Dafan.
"Ra, kamu ketipu, Ra. Dia ...."
__ADS_1
"Sudahlah."
Lagi, perkataan Dafan terjeda karena Nara berlalu melewatinya. Sebegitu bencinya 'kah Nara padanya hingga mengabaikan dan sengaja memotong lisan yang belum selesai?
Nyes rasanya. Harga diri bagai tercabik-cabik. Namun lagi-lagi Dafan hanya bisa terdiam dan memaklumi perkataan menohok itu. Ia mengerti kebencian Nara.
Kini mata Nara tertuju pada Asih—orang yang menjatuhkan nampan. Wanita tua berkebaya warna coklat dan rambut bersanggul itu masih ternganga melihat perdebatan di depan mata.
"Mbok Asih jangan bilang-bilang sama mama ya?" Nara mengiba. Kedua belah tangan bahkan sudah menyatu. "Please ya, Mbok. Ini cuma kesalahpahaman. Aku janji, aku janji enggak bakalan ceroboh lagi."
Asih mengangguk ragu. "Baik, Non," jawabnya lalu membersihkan pecahan beling yang berserakan dilantai. Meski perasaan tak enak saat melihat dua pria dan satu wanita di dalam kamar, ia tetap mencoba percaya pada Nara.
Nara membalik diri. Sorot mata yang tajam kembali tertuju pada Dafan dan Ferry. Kedua pria itu duduk saling berdampingan di sisi ranjang. Tampak akur meski ekor mata Nara melihat keduanya saling sikut.
"Dafan. Bisa kamu jelasin kenapa kita bisa ketemu?" tanya Nara dengan bibir bergetar. Sungguh, ia takut kalau berceloteh aneh di depan Dafan.
"Aku ketemu kamu di jalanan. Kamu diikuti preman. Aku yakin mereka punya niat jahat."
Air muka Nara kehilangan warna dalam seketika. Lekat-lekat ia menatap Dafan seolah-olah mencari kebenaran.
"Untung aku dateng tepat waktu, coba kalau enggak," lanjut Dafan lagi.
Nara panik. Ia mencoba mengingat segalanya seraya mondar-mandir. Dalam hati kecil ingin berterima kasih. Akan tetapi ego dan kebencian untuk Dafan masih menggunung. Ia hanya berakhir mendesah dan duduk di sofa—duduk memandang Dafan dan Fery.
"Lalu, kenapa kamu bisa tidur di sini?" tanya Nara dengan mata yang kembali menyipit.
Gantian sekarang Dafan yang memucat. Tangannya terkepal seraya mencari alasan. Tidak mungkin juga mengatakan yang sebenarnya—kalau pingsan karena batang kehidupan ditendang Nara. Bisa habis harga dirinya.
"Hmm ... itu aku kecapean. Aku gak sadar jadi ketiduran," balas Dafan.
"M-masa?" sela Fery dengan bibir naik sebelah. "A-apa j-jangan-jangan k-kamu yang c-cari kesempatan d-dalam ke-kesempitan?"
Dafan berdengkus. "Aku bukan orang mesum. Aku berpendidikan. Dan aku juga punya akal sehat."
"O-oh ya?" celoteh Fery lagi. Dafan yang mulai kesal menarik kerah baju Fery akan tetapi terlepas saat Nara melemparkan bantal sofa ke arah mereka.
"Kalian bisa diem gak?"
"Kalian." Jari telunjuk Nara terarah pada Dafan
"Ra, b-bukannya k-kamu hari ini a-ada kelas?" sela Fery.
"Kelas? Kelas apa?" tanya Nara balik. Sedetik kemudian matanya langsung membulat. Ia baru ingat dan melihat jam yang ada di nakas.
"Ya ampun, Fer! Aku telat! Aku telat!" ujarnya panik seraya berdiri. Ia tarik tangan dua pria itu dan menuntunnya menuju pintu.
"Kalian pulanglah," lanjut Nara tegas.
Dafan dan Ferry bingung dan hanya mengerjapkan mata.
"Ye malah bengong. Pulang!" seru Nara lagi lantas membanting pintu dan bergegas bersiap untuk ke kampus.
Sementara Dafan dan Fery yang berada di dibalik pintu, mematung. Keduanya membalik diri dan ekspresi terkejut begitu jelas tercetak di wajah Dafan. Ia membeku saat melihat begitu banyak asisten rumah tangga yang tengah berbenah di ruang tamu. Ia lirik Fery yang ada di sebelahnya, pria berkacamata itu tampak santai.
"K-kenapa? K-kaget?" tanya Fery.
Bak orang bingung, Dafan pun mengangguk. Keder melihat begitu banyak pasang mata yang melihat dengan sorot mata yang jelas pasti berpikiran buruk.
"Pa-para pembantu h-hanya ada waktu p-pagi saja. Se-sedangkan k-kalau siang s-sampai m-malam s-semuanya p-pulang ke r-rumah masing-masing," jelas Ferry datar dan tentu saja dengan berpura-pura gagap.
Dafan menelan ludah. Ia baru paham kenapa tidak ada satu pun yang menyambut kedatangannya kemarin sore dan semalam. Mendadak ia menyesal karena sempat berpikir buruk pada Nara.
"A-aku pu-pulang," ujar Fery lalu melewati Dafan. Akan tetapi Dafan yang teringat cerita Anya—kalau selama ini Fery hanyalah berpura-pura—langsung memegang bahu Fery. Rasanya tak terima kalau Nara dibohongi oleh Ferry begitu lama.
Fery membalik diri. "K-kenapa la-lagi?" tanya Fery dengan raut wajah tak senang.
Mata Dafan menyipit, sinis. "Jangan pura-pura lagi. Kamu sebenarnya nggak gagap, 'kan?
Mata Feri yang terbalut kacamata tebal langsung membeliak. Ia sampai membuka kacamatanya.
__ADS_1
"A-apa ma-maksud k-kamu?" tanya Fery lagi dengan masih mempertahankan kegagapan.
Dafan meremehkan dengan melibaskan tangan di depan Fery. "Udahlah, jangan pura-pura begoo. Aku sudah tahu dari Anya. Anya juga udah tahu tentang kebohongan kamu selama ini. Kamu selama ini pura-pura gagap, 'kan? Dan yang nggak tahu hanya Nara. Aku nggak tahu seperti apa nanti reaksi dia saat tau pacarnya selamanya berbohong."
"Pacar?" ulang Ferry. Entah kenapa ia merasa senang. Kesalahpahaman yang ada membuatnya semakin mudah berhadapan dengan Dafan.
"Lalu, apa masalahmu?" tantang Ferry dengan berani. Ia berbicara layaknya manusia normal. Kacamata tebal langsung dilepas tanpa ada niat memasangnya lagi. Ia tak mau mengelak maupun menutupi kalau selama ini tidaklah gagap, tidak pula bermata minus.
"Tinggalin Nara, kamu nggak baik untuk dia. Putusin dia hari ini juga. Dan jauhi dia," ucap Dafan tegas lalu bersedekap.
"Oh ya?" Ferry menantang. Ia juga bersedekap, dagu bahkan sedikit terangkat. Sama sekali tak gentar melawan tatapan maupun ancaman Dafan.
"Emangnya kamu siapa? Nara sendiri yang nyaman dekat aku. Kami ... ya seperti yang kamu lihat, kami pacaran. Kami mesra. Kami saling sayang. Terus kenapa kamu yang sewot?"
Dafan menggeram, ia tarik kerah baju Ferry. "Kamu nggak baik. Kamu laki-laki busuk. Kamu pembohong. Aku gak rela kamu manfaatin keluguan dan keunggulan dia."
Ferry berdengkus. Rasanya dalam dada sudah tersulut api. Ia tepis tangan pria dewasa yang memegang kerah bajunya itu.
"Lalu apa bedanya dengan kamu? Bukankah kamu lebih busuk? Kamu hanya mementingkan perasaan kamu sendiri. Kamu sama sekali nggak menghargai perasaan Nara. Lalu sekarang kamu hadir diantara kami." Jeda sejenak. Ferry membenarkan kerah bajunya lalu membersihkan kemeja Dafan, seolah tengah membersihkan debu dan tanpa aba-aba ia raih kemeja Dafan dengan sangat erat. "Ayolah jangan melucu. Kamu udah nggak ada di hati Nara," lanjut Ferry lagi seraya mendorong Dafan lantas menyeringai.
Pertarungan tak kasatmata pun makin sengit. Dafan tak terima karena harga dirinya diinjak-injak. Ia tangkap lagi kerah baju Fery dengan kedua belah tangan. Dengkusan makin terdengar kasar.
"Kamu laki-laki brengsek," ujar Dafan geram.
"Kamu lebih brengsek," balas Ferry dengan menyeringai.
"Berani kamu, ya?" Dafan makin mengeratkan cengkeraman.
"Apa aku punya alasan untuk takut?" sahut Ferry santai. Ia lepaskan tangan Dafan dari bajunya.
Keduanya masih melayangkan tatapan menghunjam tanpa ada seorang pun yang tahu.
"Nyalimu benar-benar besar. Aku mau lihat bagaimana reaksi Nara ketika tau kalau selama ini kamu ngebohongin dia? Bertahun-tahun pura-pura gagap. Hah!" Dafan tergelak meremehkan. "Kamu laki-laki terbrengsek yang pernah aku kenal," sambungnya menohok.
"Oh ya? Lalu apa bedanya dengan kamu? Kalau kamu memang penasaran bagaimana reaksi dia, cepat katakan, katakan saja, aku nggak takut. Aku juga penasaran, apa kebenciannya ke aku bakalan sama kayak kamu. Laki-laki yang bertahun-tahun hanya ngasih dia rasa sakit."
Dafan mati kata, ia menelan ludah.
Ferry pun mempunyai kesempatan buat kembali mencengkeram kerah kemeja Dafan, lantas mendekatkan wajahnya. "Yang harusnya pergi dari Nara itu kamu. Kamu nggak punya hak di sini. Kamu itu orang asing. Nara udah ngelupain kamu. Jadi berhentilah berhalusinasi. Jangan jadikan kata melindungi sebagai tameng. Alasan itu receh banget tau gak. Selama ini aku yang ngelindungin dia. Jadi dia gak butuh kamu."
"Jangan kepedean," pungkas Dafan membela harga diri. Ia dorong Ferry agar menjauh. Sukses, cengkeraman kerahnya terlepas. Ia balas Ferry dengan menyeringai. "Lalu apa kamu kira kita beda?"
"Tentu. Kita bedanya. Aku sama kamu beda jauh. Kamu ngasih dia luka, dan aku ... aku selama ini ada di dekat dia. Aku menghibur dan nyembuhin sakit hati dia. Aku memberikan tawa, sedangkan kamu ...." Ferry menekan-nekan bahu Dafan. "Kamu hanya ngasih dia sakit. Apa kamu masih punya rasa malu buat mengangkat kepala di depan dia?"
Dafan bungkam. Ia menggeram, rahangnya mengetat hebat. Namun, entah kenapa ia lagi-lagi mati kata.
"Aku saranin buat kamu agar segeralah periksa ke dokter. Aku takut kalau status pasien sudah ada di diri kamu. Berobatlah sebelum parah," lanjut Ferry lagi, sarkastis.
"Lancang kamu!" geram Dafan. Kepalan tangannya sudah terbentuk. Ia bersiap melayangkan tinju. Akan tetapi berhenti karena Nara membuka pintu. Wanita yang sudah berbalut dress dan rambut yang sudah disisir rapi itu membeliak. Ia dorong Dafan hingga terhuyung dan terjatuh di sofa.
"Kamu mau ngapain?" tanya Nara. Matanya membeliak lalu tanpa sungkan menarik Ferry dan memeluk lengan Ferry dengan erat. "Kamu mau ngapain pacar aku?" lanjutnya dengan tatapan tak senang.
Dafan membenarkan posisi, ia dekati Nara. "Nara, dengerin aku dulu, dia itu ...."
"Pulanglah," sela Nara, sengaja. Tak ingin lagi mendengar perkataan Dafan. "Fer, anterin aku ke kampus. Aku udah telat, ntar dimarahin sama dosen."
Ferry mengangguk. Ia mengiyakan dan berjalan beriringan bersama Nara. Sebelum menjauh, ia menolehkan kepala dan sengaja memberikan senyum sinis kepada Dafan. Seolah-olah mengatakan "Akulah pemenangnya."
***
Nah loh, tegang gak. Wkwkwk
pilih siapa ya?
Ferry 👇
Apa Dafan?
__ADS_1