
Della—gadis berusia 24 tahun, terlihat sangat anggun dengan dress putih selutut berlapis blazer—mengembangkan senyuman. Rambutnya yang setengah ikal terjuntai indah di bahu. Sungguh cantik, dari dulu Fia mengagumi kepiawaian Della dalam merias diri. Ia kenal Della sejak lama karena mereka satu SMA dulunya dan tentu saja ada Kevin di antara mereka. Ketiganya selalu bersama hingga akhirnya tercetus kabar kalau Della dan Kevin berpacaran.
Dulu, kala itu Fia yang memang memendam rasa untuk Kevin memutuskan diam saja dan merestui hubungan mereka. Namun, kisah Della dan Kevin berakhir juga saat Della memutuskan untuk berkuliah ke luar negeri.
"Fia!" seru Della histeris. Senyum Della sangat lebar. Ia peluk Fia dan menyalurkan rasa rindu pada sahabat lamanya itu. "Aku kangen banget loh Fi sama kamu," lanjut Della lagi. Sementara bibir tetap merekahkan senyuman.
Fia melepaskan pelukan. Ia lihat dengan seksama wajah Della.
"Aku baik kok Del. Kamu apa kabar? Kapan datang? Terus kok nggak ngabarin?" tanya Fia yang jujur perasaannya tengah berkecamuk. Antara rindu, kesal dan ... entahlah, perasaan itu bergumul jadi satu. Fia tak bisa mendefinisikan apa yang lebih unggul, yang jelas ia bingung. Ia merindukan Della, tapi tak dipungkiri ada perasaan cemburu nyelip di sana.
Gimana ceritanya aku bisa ngungkapin perasaan pada Kevin. Sekarang Della sudah pulang. Kesempatan untuk bersama Kevin jadi hilang. Mungkinkah mereka mutusin CLBK. Ya Tuhan. Kenapa hidupku gak pernah mudah? Fia bermonolog, hati mendadak resah.
Akan tetapi meski begitu senyuman tetep terkembang, ia tak ingin ada yang menyadari perasaannya yang tengah kalut.
"Aku baru aja nyampe, tadinya dijemput sopir. Tapi mobil mendadak mogok, terus di jalan aku nggak sengaja ketemu Kevin," jelas Della.
Fia manggut-manggut. Ia pasrah saat dipeluk lagi oleh Della.
Namun, berbeda untuk Kevin. Matanya menyipit saat melihat pria yang ada di sebelah Fia. Ia mendekat lalu kembali menatap Fia dengan lekat. "Sudah dulu ya temu kangennya."
Pelukan Fia dan Della mengendur karena Kevin. Dahi keduanya sama-sama mengernyit. Akan tetapi Kevin mengabaikan. Tanpa aba-aba ia tarik tangan Fia.
"Kita perlu bicara," lanjutnya dengan nada tak terbantahkan.
Setelah merasa lumayan jauh barulah Kevin melepaskan cengkeraman tangannya lantas menatap Fia seakan tengah mengintrogasi seorang pencuri. "Apa dia orang yang kamu maksud kemarin? Apa dia bos tempat kamu bekerja?"
Fia mengangguk. "Iya, dia Pak Dafin yang aku maksud kemarin, emangnya kenapa?"
"Kenapa? Kenapa kamu bilang?" Kevin terkekeh kesal. Matanya makin menatap nyalang Fia. "Harusnya aku yang nanya, kenapa kamu nggak bilang kalau dia masih muda? Dia itu seumuran kita," lanjut Kevin. Ia berdengkus dan kembali melirik Dafin yang berdiri sepuluh meter dari mereka.
"Lha, memangnya kenapa? Apa ada yang salah? Bukankah bagus kalau masih muda sudah memiliki kemampuan untuk memimpin perusahaan? Bukankah kamu juga sama, kamu bahkan dipercaya kakek kamu untuk mengelola hotel. Lalu salahnya dia di mana? Muda dan berjaya apa itu dosa? Bukankah harusnya kelebihan itu sesuatu yang patut disyukuri? Gak semua orang punya anugrah indah seperti kalian, Kevin. Kakek kamu direktur hotel bintang lima. Papa kamu juga orang terpandang di sini. Lalu kamu mau nyalahin dia karena lahir dari orang tua kaya, begitu?" cecar Fia. Entah kenapa ia merasa Kevin tak mensyukuri nikmat kaya yang Tuhan berikan.
"Maksud aku bukan begitu, Fia. Coba kamu lihat dia, matanya itu menyeramkan. Aku takut dia bakalan manfaatin kamu," ujar Kevin seraya menyugar rambut. Kesan pertama saat melihat Dafin ialah pria itu bermata keranjang. "Matanya itu terlihat—"
"Memangnya kenapa dengan matanya?" potong Fia seraya melirik Dafin sekilas.
"Matanya itu mata seorang playboy. Apa kamu gak sadar? Aku takut nanti kamu di apa-apain," jelas Dafin. Kini ia pegang pundak Fia dan menatap mata gadis itu lekat-lekat. "Balik lagi ke sini, Fia. Aku bakalan cariin posisi yang pas buat kamu di hotel."
"Kamu ini ngomong apaan sih? Aneh banget," balas Fia seraya berusaha melepaskan tangan Kevin yang ada di pundak. "Lagian aku itu baru kerja. Mana bisa aku menyimpulkan dia baik apa enggak. Lagian hubungan kami ini murni pekerjaan, Kevin. Nggak ada yang lain-lain."
"Iya, aku percaya di otak kamu memang nggak ada yang lain-lain, tapi dia ...." Kevin kembali melirik Dafin yang tersenyum miring, "aku takut kamu diapa-apain Fia."
Mendadak kemarahan Fia lenyap. Ucapan Kevin seperti perhatian. Ia mulai baper.
"Kamu kok aneh sih, Vin. Dia nggak kayak gitu, aku bisa jaga diri kok. Lagian dia udah punya calon istri. Jadi jangan parnoan." Fia membela diri. Walaupun kesan pertamanya saat bertemu Dafin juga sama apa yang dipikirkan Kevin—Dafin itu pria bermata keranjang.
Kevin menggeleng, raut mukanya menunjukkan penolakan atas apa yang Fia katakan.
"Enggak Fia. Aku mau kamu balik lagi kerja di sini. Kamu bisa kerja sebagai apa pun. Aku bakalan cariin posisi yang pas. Balik lagi, ya?" rayu Kevin. Ucapannya seperti memohon.
Namun, Fia yang sudah bertekat tetap menggelang tegas. "Enggak, Vin. Kamu kan tahu cita-cita aku itu memang pengen jadi sekertaris. Aku butuh pekerjaan ini. Aku butuh pengalaman kerja."
"Kamu bisa jadi sekretaris aku Fia."
"Lalu sekretaris yang selama ini bantuin kamu gimana? Ingat, kamu itu baru beberapa bulan ini dipercaya kakek kamu buat menjalankan hotel. Kamu masih dipantau ketat oleh kakek dan paman kamu. Jangan sampai karena aku posisi ahli waris langsung di cabut dari kamu. Fokuslah, Vin. Kamu itu perlu sekretaris yang memang udha pro dalam hal perhotelan."
Kevin bungkam. Matanya bergerak liar. "Tapi, Fi—"
Fia menepuk lengan Kevin sekali. Senyuman ia ukir meskipun dalam hati merasa sedih. Sebenarnya satu sisi ia juga ingin berdekatan dengan Kevin, tapi akal sehat harus tetap dipertahankan.
"Tanggung jawab harus di nomor satukan, Kevin," ujar Fia. Dan perasaanku biarlah urusan belakangan, lanjutnya dalam hati.
"Tapi dia, aku takut nanti kamu dimanfaatin. Biar bagaimanapun dia laki-laki dan kamu sendirian di—"
"Stop, Vin." Fia memindai wajah gusar Kevin. Sedetik kemudian matanya langsung menyipit, gelagat Kevin entah kenapa membuatnya serasa ditumpahi gula. Senyumnya mengembang. Ia pun tak tahan dan mulai bertanya, "Jangan bilang kamu cemburu sama Pak Dafin?"
Sontak saja Kevin menoyor kepalanya. "Jangan ngadi ngadi, kita itu temenan udah lama. Jadi wajar kalau aku khawatir sama kamu."
Jederr!
__ADS_1
Hanya dengan dua kalimat Kevin sudah mampu memporak-porandakan perasaan Fia. Hatinya mendadak nyeri tapi tetap berusaha untuk tenang. "Lalu bagaimana kamu bisa bersama Della? Apa kalian CLBK dan gak ngasih tau aku? Sama kek dulu. Diem-diem pacaran. Ayo ngaku." Fia mencecar, bibirnya manyun lalu tangan bersedekap. "Perasaan aku meninggalkan Bali belum dua minggu," lanjutnya.
"Balikan sama Della?" Kevin berdengkus, "ya enggak lah. Kamu kira aku bodoh mau balikan lagi sama perempuan yang pergi tanpa pamit? Sakit cukup sekali, Fi. Aku gak mau kecewa karena hal yang sama."
"Tapi kalian terlihat nyaman satu sama lainnya. Jujur sama aku, kalian CLBK?"
Kevin kembali menoyor kepala Fia, gemas. "Udah aku bilang enggak ya artinya enggak. Kami bareng karena emang gak sengaja ketemu di jalan. Lagian cerita kita itu udah kelar saat SMA. Sekarang kita udah dewasa. Harusnya berpikir dewasa juga. Gak jaman dendam sama mantan."
"Wah dewasa sekali kami, Vin." Fia manggut-manggut.
Kevin yang kesal kembali ingin menoyor tapi gagal karena Fia mengelak. Keduanya tergelak sesaat.
"Lagian ini udah konsekuensi pacaran sama temen sendiri. Dulu, sebelum aku sama Della pacaran, kita udah janji bakalan tetap temenan. Mau putus cara baik-baik atau enggak hubungan harus terjalin baik. Mau aku yang bersalah atau dia yang berkhianat. Kita udah sepakat bakalan jalanin apa adanya dan gak mikirin masalah apa pun. Lagian kita putus bukan karena orang ketiga malainkan cuma perbedaan prinsip aja. Itu doang."
Fia manggut-manggut, ia ingat betul cerita itu. Kala itu Della yang ingin berkuliah ke luar negeri ditentang habis-habisan oleh Kevin. Namun, Della yang keras kepala tetap memilih pergi dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang isinya mengatakan kalau hubungan mereka Kevin lah yang memutuskan.
"Kalian pasangan yang keren." Fia bertepuk tangan beberapa detik lalu kembali berucap, "ya sudah. Ayo kita balik ke sana. Gak enak kalau mereka kelamaan nunggu. Aku gak enak sama Pak Dafin," ujar Fia lalu memutar tumit. Kevin mengekor dari belakang.
Meskipun perasaan tengah tak karuan Fia berusaha tetap tenang menghadapi situasi yang benar-benar tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ia dekati Dafin yang tengah berdiri dengan kedua belah tangan masuk ke dalam saku celana. Sementara tatapan matanya sungguh sangat ambigu.
Benar kata Kevin. Tatapan tu orang benar-benar meresahkan, batinnya.
"Maaf, Pak. Ini, kenalin temen saya namanya Kevin," ujar Fia setelah tiba di depan Dafin.
Kevin mengulurkan tangan. "Saya Kevin, temen baik Fia," ujar Kevin penuh penekanan.
Dafin menjabat tangan terulur Kevin. "Saya Dafin, saya bosnya Fia. Saya orang yang mendapat janji setia darinya."
Fia melotot begitu juga Della, sedangkan Kevin, rahang pria berbulu halus itu mengetat. Dalam jabatan tangan ia genggam kuat tangan Dafin sebelum akhirnya terlepas.
"Saya yakin janji itu dibuat karena alasan pekerjaan," balas Kevin bernada datar.
"Oh no no no." Dafin menggeleng seraya melibaskan tangan. Nada bicara dan intonasi sangat-sangat membuat Kevin kesal. "Menurut saya itu bukan hanya janji sekertaris, mainkan ada ketulusan seorang perempuan di sana. Iya, kan, Fia?" lanjut Dafin seraya mengedip ke arah Fia.
Perasaan Fia jangan di tanya lagi. Rasanya dalam dada ada yang berapi-api tapi jelas bukan gunung, apalagi gunung berapi di negara api. Melainkan hanya emosi yang sudah hampir puncak. Ia menatap kesal ke arah Dafin.
"Bagaimana, Fia. Sumpah dan janjimu dulu tulus, 'kan?" lanjut Dafin yang seperti mancing-mancing.
"Nah, kamu lihat sendiri kan Tuan Kevin. Saya yakin kamu tau betul kalau Fia itu memang gadis cerdas dan jenius. Saya penasaran, siapa jodohnya nanti. Pria itu pasti beruntung punya istri seperti dia ini," lanjutnya seraya menepuk bahu Fia.
Atmosfer mendadak berbeda, tatapan Dafin dan Kevin sangar sengit. Mereka seperti bertengkar hebat tanpa ada seorang pun ada yang mendengar hingga Della yang tak tahan mulai berdeham.
"Daripada kita ngobrol di sini, kenapa enggak masuk ke rumahnya Kevin aja?" ujar Della.
Fia langsung menggeleng, tangannya melibas dua kali. "Enggak, nggak perlu, Del. Kapan-kapan aja. Sekarang juga udah malem. Tadi kami ceritanya cuman mau jalan-jalan doang, eh taunya malah sampe di sini."
Fia nyengir, sungguh merasa sangat canggung. Bagaimanapun ia harus bisa menghindari situasi agar tak semakin rumit. Penolakan Kevin barusan dan kedekatan antara Kevin dan Della tak bisa ia toleransi untuk sekarang. Ia takut akan kehilangan kendali dan berakhir mempermalukan diri sendiri. Cara satu-satunya adalah berbohong dan pergi.
Sementara Dafin, bibirnya tertarik sebelah. Kamu pembohong yang buruk Fia, batinnya.
"Gimana, Pak? Bukannya tadi Bapak bilang mau istirahat?" tanya Fia seraya memperlihatkan deretan gigi dengan bibir yang sedikit bergerak—kode keras agar Dafin mengiyakan permintaannya barusan.
Dafin berdeham. Ia sentuh hidungnya saat melihat ekspresi aneh Fia. "Iya, maafkan kami. Mungkin lain kali kami mampir. Lagian sekarang udaranya sudah terasa agak berbeda, saya yakin sebentar lagi akan hujan."
Della manggut-manggut, tapi tidak Kevin. Ia masih melemparkan tatapan menghunjam pada Dafin.
"Ya sudah, kami pamit dulu ya, Fia, Pak Davin. Saya mau nyapa orang tua Kevin lebih dulu," ujar Della lalu menarik lengan Kevin. Keduanya kembali masuk ke dalam mobil.
"Ngomong-ngomong, apa yang kamu obrolin sama Kevin tadi?" tanya Dafin saat mobil Ferrari Kevin sudah ditelan pagar.
Akan tetapi Fia yang kesal melongos pergi dan sengaja mengabaikan pertanyaan Dafin. Tak habis pikir bagaimana Dafin bisa membahas soal janji setia padahal mereka tidak ada hubungan apa-apa selain pekerjaan saja.
Apa perlu ungkit-ungkit soal janji padahal dia tau aku suka Kevin. Dasar nyebelin. Fia bermonolog dalam langkah. Ia sengaja berjalan dengan cepat. Malas berdebat dengan Dafin.
"Fia! Jawab saya. Kalau kamu gak berhenti, saya pecat!"
Kesal, Fia putar tumit dan melayangkan sinar kebencian dari mata. Bahkan tanpa ragu tangan nya sudah berkacak pinggang.
"Bapak ini zolim banget sih. Dikit-dikit pecat," sungut Fia. Matanya menyipit tajam.
__ADS_1
"Habisnya kamu gak mau berhenti," balas Dafin tanpa rasa bersalah. Ia dekati Fia dan tanpa beban mengacak rambut gadis itu.
Entah kenapa melihat wajah masam Fia serasa melihat pertunjukan lawak. "Tadi apa yang kalian omongin?" lanjut Dafin lagi.
"Jawab dulu, tadi Bapak mendadak amnesia atau apa? Kenapa jadi bawa-bawa sumpah setia?" Fia tergelak miris, "kapan saya berjanji setia. Kita nggak ada hubungan apa-apa, Pak Dafin. Ingat, Pak, ingat tunangan yang ada di Jakarta. Apa perlu saya telpon dan ngomong langsung sama Mbak Sisi kalau Pak Dafin lagi nyoba menggoda saya?" lanjut Fia dengan tatapan penuh keseriusan.
Seketika gelak tawa Dafin menggema. Ia lewati Fia yang tengah kesal. Sekarang berbalik dia yang memimpin jalan dengan tawa yang masih saja terdengar menyebalkan di telinga Fia.
"Pak Dafin! Jawab dulu!" seru Fia seraya mengejar dan akhirnya bisa mensejajari langkah lebar Dafin.
"Laki-laki memang perlu di gitu kan Fia. Kasih dia sedikit injeksi dan senam jantung dadakan. Apa kamu gak lihat tadi wajahnya. Dia marah loh. Wajahnya merah, dia bahkan menggenggam kuat tangan saya. Itu menunjukkan kalau dia cemburu."
Fia berdecak, ia mengerling malas. "Bapak jangan ngada-ngada, jangan ngarang."
"Ye gak percayaan benget sih jadi sekertaris. kamu aja yang nggak ngeliat ekspresi Kevin. Laki-laki itu bisa melihat isi hati laki-laki lain hanya dengan melihat ekspresi. Lagian saya gak bohong. Bukankah sebelum menandatangani kontrak kamu sudah berjanji setia sama saya. Jadi saya gak salah, dong."
Fia mendesis sebal karena masih tak percaya, terngiang jelas di telinga bahwa Kevin mengatakan kalau mereka hanya berteman biasa. Mengingat itu hatinya kembali mengerut. "Sudahlah, Pak. Jangan bahas lagi soal Kevin. Dia sudah nolak saya mentah-mentah tanpa saya mengungkapkan perasaan."
"Loh, kok bisa?" Saking terkejutnya langkah Dafin langsung berhenti. Fia tentu saja ikutan diam.
"Ya, bisalah, Pak. Dia sendiri kok yang bilang kalau kami hanya temenan, udah itu doang tanpa ada embel-embel kata mesra kek lagunya Maya."
Dafin berdecak, tapi tak lama kemudian terkekeh jenaka. Fia yang masih kesal melirik tajam seraya membatin, seneng banget tertawa di atas penderita orang lain. Sekalinya dia yang diketawain langsung ngancem. Dasar.
"Malang sekali nasibmu, Fia. Sebelum ke sini tadi kamu udah mandi apa belum?" ujarnya seraya menggeleng geleng. Fia makin kesal, tangannya bahkan sudah terkepal. Namun sebisa mungkin ia tahan agar tidak berakhir melayangkan pukulan.
"Sudahlah, Pak. Jangan bahas ini lagi. Saya malas." Fia menoleh sekilas wajah Dafin. Sungguh kekesalannya makin menumpuk.
Nih orang pintar banget, ya. Tadi perasaan berkoar-koar mendukung dan menyemangati. Sekarang malah menyudutkan, memang dasar bos labil, kesal Fia dalam hati. Ia tetap melangkah hingga suara dehaman Dafin terdengar dari arah belakang.
"Ya sudah kalau begitu bagus. Sekarang kamu sudah tahu perasaan dia. Lagian kamu juga nggak bakalan menang. Liat tuh body mantannya, lekukan tubuh Della itu udah kayak gitar Spanyol. Wajahnya cantik mirip Miss Universe. Tutur katanya sangat sangat sopan kayak putri bangsawan. Berbeda jauh dengan seseorang yang saya kenal." Celetukan Dafin sukses membuat Fia berdengkus. Gadis itu tau siapa yang Dafin maksud kalau bukan dirinya sendiri.
"Fokus saja kerja sama saya. Saya jamin rekening kamu nggak bakalan kosong. Saya jamin adik-adik kamu bisa mendapat pendidikan yang layak. Dan saya harap dengan kesetiaan kamu ini bisa membuat orang tua kamu berhenti bekerja keras. Bukankah itu yang kamu inginkan?"
Perkataan Dafin barusan kembali sukses membuat langkah Fia berhenti. "Oh, jadi malam kemarin yang mengaku-ngaku kucing itu Bapak?"
Dafin diam dan berusaha menekan rasa grogi. Ia urut tengkuknya. "Kucing? Kucing apa maksud kamu?"
"Ayo ngaku, Bapak semalam nguping, kan?" cecar Fia.
Akan tetapi Dafin menulikan telinga. Langkahnya lebar meninggalkan gadis itu.
Ih dasar bos rese, awas aja dia, aku doain kena azab. Batin Fia dongkol.
***
Sementara itu di jam yang sama tapi berbeda kota dan pulau, ada Anya yang sedang duduk di sebuah restoran. Gadis remaja itu tengah berhadapan dengan seorang pria dan wanita. Dadanya berdebar luar biasa, ia melihat dengan tajam sepasang sejoli yang sangat ia kenal.
"Jadi, sejak kapan kalian main di belakangku?" Anya bertanya dengan menahan geram. Giginya bahkan bergemeletuk.Tatapannya jangan ditanya. Seperti ada laser yang bisa dengan mudah membelah batu. Sungguh, situasi yang sangat berbahaya.
"Jawab Jimi!"
Anya menggebrak meja. Orang-orang bahkan melihat mereka dengan tatapan yang ... entahlah, Anya tak bisa menjabarkan. Gadis itu sibuk menenangkan diri sendiri agar tak berakhir mengamuk. Bagaimanapun ia sangat kesal sang pacar berselingkuh dengan teman baiknya sendiri.
"Ayo jawab! Sejak kapan kalian pacaran?"
"Sudah sebulan. Kami pacaran selama itu. Kenapa? Kamu mau marah?" Jimi terlihat meremehkan. Bibirnya menampakkan sebuah smirk yang semakin menggali kemarahan Anya. Gadis berkulit putih itu sudah mengepalkan tinju.
"Kenapa? Kenapa kamu bilang?" ulang Anya. Rasanya asap sudah mengepul di atas kepala.
"Iya, kenapa? Kamu keberatan kalau aku selingkuh? Kamu marah?" Jimi lagi-lagi tergelak sinis. "Sudahlah, Nya. Aku bosen sama kamu. Kamu menyebalkan dan suka seenaknya sendiri. Aku malas berhubungan sama perempuan setengah jadi kek kamu. Lebih baik kita putus."
"Apa?"
Sedetik
Dua detik
Tiga detik.
__ADS_1
Bersambung ....