
Warning. Agak hot. Yang bawah umur, menepi!
Menarik napas, Litania jelas tampak terengah. Pagutan itu lumayan lama hingga ia hampir kehabisan oksigen. "Please. Jangan sekarang, ya?"
Litania tampak mengiba. Ia hapus jejak air matanya dan menatap manik Chandra yang sudah berubah. Tak ada lagi keteduhan di sana. Melainkan tatapan penuh gairah. Bergejolak luar biasa. Menebalkan rasa takut di diri gadis itu. "Aku belum siap hamil."
"Emang kenapa kalo hamil?" Wajah Chandra berubah. Ia embuskan napas dengan kasar dan mengubah posisinya—membelakangi Litania. Tak dipungkiri ada rasa kesal atas penolakan yang Litania lontarkan.
"Ya ... aku belum siap aja. Aku gak mau punya anak. Aku masih muda. Baru delapan belas taun. Aku masih mau seneng-seneng. Aku gak mau repot ngurusin bayi. Nanti badan aku melar lagi."
Berdengkus, Chandra mulai tak bisa menyembunyikan kekesalan. "Lalu kamu siapnya kapan?"
Terdengar nada bentakan dalam suara Chandra, yang secara tak langsung menyakiti perasaan Litania. Gadis itu pun kembali terisak. Membenamkan wajah dalam selimut tebal.
Ya Tuhan. Emosi Chandra makin tak terbendung. Ia usap wajahnya dengan sebelah tangan. Meredam perasaan gusar akibat tingkah Litania. "Kamu kenapa nangis, sih."
"Abang jahat." Litania bersungut dalam kain tebal itu. Membekap mulut berharap suara tangisnya tidak terdengar.
"Jahat dari mana?" Pria bersurai tipis itu menggeram, ia tarik selimut yang menutup wajah Litania. "Ayo jelasin. Jahatnya di mana? Aku cuma minta hak, Litan. Bukan ke istri orang. Tapi istri sendiri. Aku pengen punya anak dari kamu. Masak iya dibilang jahat. Yang jahat itu kamu. Kamu yang udah nyiksa aku. Kamu bikin aku gila."
"Aku ... jahat? Nyiksa?" Litania tidak paham akan tudingan Chandra. Ia lap air matanya. Menatap fokus mata Chandra dan menunggu jawaban.
Mengembuskan napas kasar. Chandra pegang kedua bahu Litania seraya melihat ke bawah dua gundukan yang menonjol di dada gadis itu. Gundukan kecil yang tampak jelas pucuknya, karena memang hanya terbalut langerie tipis berwarna merah muda. Tak hanya itu. Belahan dadanya pun tampak jelas. Membuat Chandra berkali-kali menelan ludah.
"Itu. Kamu selalu ngasih liat itu. Kamu itu udah nyiksa batin dan lahir aku tau gak. Itu dosa. Giliran diminta pertanggungjawaban malah mewek. Gimana sih." Chandra melepas tangannya dari bahu Litania, kemudian kembali memunggungi gadis itu. "Aku ini laki-laki normal, Litan. Bukan robot. Jadi butuh pelampiasan. Gak bisa ditahan terus."
__ADS_1
Hening. Suasana mendadak sunyi. Chandra diam setelah mengeluarkan unek-uneknya selama ini. Ia tarik rambut kebelakang dan menopang kepalanya yang berat dengan siku yang bertumpu pada lutut.
Sementara Litania, bungkam. Gadis itu tak menyangka. Kebiasaannya yang suka melepas bra sebelum tidur ternyata membawa pengaruh besar buat Chandra. Ia baru sadar ternyata aktor terjahat dalam rumah tangga yang baru sebulan lebih mereka bina adalah dirinya sendiri. Namun miris, ia tak tau dan malah selalu beranggapan kalau suaminya itu yang bersalah.
Apa aku harus percaya? Apa aku harus masrahin diri buat diperawanin? Tapi ... kalau aku tolak terus ... nanti dia selingkuh. Aku gak mau ada perempuan lain ngelahirin anaknya. Astaga. Aku bisa gila. Aku belum siap hamil. Tapi dia sama keluarganya malah minta aku agar cepetan hamil.
Litania memejamkan mata sekejap. Ia tatap punggung melengkung suaminya itu. Oke, aku lakuin. Ini haknya dan kewajibanku.
Beringsut, Litania mendekati Chandra. Mencoba membujuk suaminya yang tengah merajuk. "Bang, maafin aku, ya."
Bergeming, Chandra tak manyahut ataupun bergerak. Pria itu masih setia memunggungi Litania. Kekesalan masih mendominasi pikiran. Ia bahkan mengabaikan tangan Litania yang beberapa kali menepuk bahunya.
Tak patah arang, Litania melancarkan jalan ninja. Ia peluk tubuh kekar Chandra dari belakang. "Maafin aku. Aku gak tau. Kamu jangan marah atau ninggalin aku, ya. Aku takut percaya terus kamu tinggalin lagi. Aku itu ragu sama kamu."
Membalik diri, Chandra menatap mata sembab Litania. "Ragu kenapa?" tanyanya dengan nada masih sedikit galak.
Menghela napas, Chandra pun menggeleng dengan cepat. Ia pegang pundak Litania. "Aku gak bakalan ninggalin kamu, Litan. Apa perlu kita bikin surat perjanjian? Biar kamu yakin."
Litania menunduk. Meremas kain tebal yang ada di pangkuan. Memantapkan keberanian untuk melakukan kewajiban sebagai seorang istri.
"Kamu jangan khawatir. Setelah melahirkan pun aku gak bakalan ngekang kamu. Terserah kamu mau ke mana aja, terus berteman sama siapa aja. Aku gak bakal ngelarang. Yang penting kamu tau aturan kalau sudah jadi seorang istri. Masalah anak, nanti kita bisa sewa baby sitter buat bantuin kamu. Masalah gemuk, kamu bisa diet. Atau, sedot lemak kalau mau."
"Ya udah, deh. Aku siap."
"Siap apa?" tanya Chandra pura-pura tidak tau.
__ADS_1
Merona, pipi Litania langsung tegang. "Ya siap buat malam pertama." Litania berucap dengan bibir bergetar. Saking gugupnya. ia gigit ujung bibir bawahnya. Menekan kegugupan yang menjalar memenuhi setiap pori-pori kulit. "Ayo, kita belah durennya sekarang."
"Idih ngebet." Chandra tergelak. Ia tak bisa menahan tawa setelah melihat ekspresi Litania yang jelas takut tapi pura-pura berani.
Namun tak lama, suara kekehan Chandra langsung redam.
"Kalo gak sekarang, aku takut besok jadi berubah pikiran," bisik Litania. Wajahnya memerah, begitu juga Chandra.
Chandra yang mendapat lampu hijau tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan. Hasrat yang menggunung serta sambutan Litania membuatnya sangat senang.
"Kamu yakin untuk ini?" tanya Chandra ragu.
"Iya aku yakin. Aku siap sekarang."
Tersenyum sumringah, Chandra mulai merebahkan Litania di ranjang. "Baiklah. Kita mulai malam panas kita, Litania."
Berdebar, dada Litania bertalu cepat. Sungguh. Litania gugup. Ia mematung, menahan napas seraya memejamkan mata. Berpasrah dengan tangan menggenggam ujung bantal.
Merasa tak ada perlawanan dan balasan, Chandra pun mengangkat kepala. Melihat kegugupan Litania menyisakan rasa bersalah juga di dirinya. "Kita tunda saja dulu." Ia angkat dari tubuh Litania dan kembali memunggunginya. "Kamu sepertinya belum siap."
Entah setan apa yang merasuki. Litania menjadi panik. "Lakukan sekarang. Aku takut kalau besok aku akan berubah pikiran."
Litania pun memberanikan diri untuk memulai. "Ayo. Aku siap," bisik Litania sensual.
Pergulatan yang sempat tertunda akhirnya kembali berlanjut.
__ADS_1
Chandra ambruk. Ia kecup pelan dahi Litania yang telah bermandikan peluh. "Maaf, dan terima kasih. I love you, Litania."
maaf. aku skip bagian hiya2. takut dosa. wkwkkw