Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Si Bekicot Botak


__ADS_3

Di apartemen.


Kinar memencet bel berkali-kali, tapi tetap tak ada yang membuka pintu. Ia makin resah dan gelisah apalagi setelah menghubungi Arjun by phone, dan tetap tak ada respon. Kinar panik, takut kalau terjadi apa-apa pada lelaki pujaan hatinya itu.


"Baiklah, aku bertujuan baik." Kinar berucap pelan lantas menekan tombol di layar door lock dan memasukkan password. Selesai, pintu terbuka dengan sendirinya.


Hanya saja gelap. Netra Kinar tak bisa melihat apa pun di dalam sana. Pikiran buruk tentu saja makin menggerogoti. Kinar melajukan langkah menuju cahaya dari kamar yang pintu nya setengah tertutup. Ia sungguh takut kalau Arjun kenapa-napa. Benar saja, saat membuka pintu, matanya membola sempurna. Cepat-cepat ia hampiri Arjun yeng terlentang dengan tangan membentang sedangkan kaki masih terjuntai di sisi ranjang.


"Arjun," panggil Kinar dengan suara bergetar. Ia goyang pundak Arjun yang masih menggunakan pakaian tadi sore. Noda darah bahkan masih menempel di jaket serta tangan.


Tak ada respon. Kinar goyang makin kencang. "Arjun! Bangun ...."


"Kok gak begerak. Apa jangan-jangan dia mokat?" Kinar pucat. Ia tepuk pipinya sendiri berusaha mengusir pikiran buruk. Jarinya yang bergetar didekatkannya ke hidung Arjun. Beruntung, pria minim ekspresi itu masih bernapas.


"Syukurlah."


Menghela napas lega, Kinar letakkan tas tangan serta kunci mobil di nakas lantas kembali mendekati Arjun. Ia betulkan posisi tidur lelaki itu dengan susah payah. Finish. Arjun tidur dengan posisi pas dan jaket pun sudah terlepas.


Lagi, Kinar menghela napas panjang, ia usap peluhnya yang sudah bercucuran seraya menikmati wajah tampan Arjun yang tengah terpejam, manatapnya tanpa berkedip.


Kinar berjongkok. "Kamu tampan, Arjun. Aku benar-benar terhipnotis sama kamu."


Mendadak ingatan ketika di bioskop membayang lagi. Kinar tersenyum kecut. "Aku akan tegar. Aku bisa melewati ini semua. Sebenarnya aku takut. Aku takut membongkar rahasiaku, Arjun. Bertahun-tahun kusimpan ini semua. Tapi setelah liat kamu berusaha buat ngelindungin aku, aku jadi sadar, kalau dengan diam dan lari, semua masalah dan beban ini gak bakalan selesai. Aku bakalan bilang sama papa. Aku akan buat laki-laki jahat itu masuk dalam penjara.Terima kasih karena udah belain aku."


Kinar tersenyum lega. Matanya masih memindai wajah Arjun. Dari dahi, hidung hingga bibir, semuanya sempurna.


Akan tetapi suara igauan Arjun membuatnya tersentak. Ia dekatkan kupingnya.


"Mel ... Meli ...."


Mata Kinar langsung menyipit, ia jauhkan wajahnya seraya menatap nyalang wajah Arjun. Sumpah, dadanya mulai bergemuruh, seakan-akan ada petir bersahut-sahutan di dalam sana.


"Meli ...." Nama itu mengudara lagi. Kinar yang gemas langsung memencet hidung pria itu dengan kuat. Namun, sedetik kemudian wajah kesalnya berubah haluan menjadi panik. Tangannya serasa terbakar setelah menyentuh hidung Arjun.


"Arjun!" panggilnya, "astaga panas banget." Kinar tepuk lagi pipi pria itu. Pikirannya kembali berkecamuk.


"Arjun. Arjun. Arjun. Bangun!" serunya seraya menepuk dan terus saja menepuk pipi Arjun dengan keras, berharap pria itu sadar. Beruntung, mata itu mulai mengerjap lalu tersenyum kearahnya.

__ADS_1


"Kinar, ngapain kamu ke sini?" Suara parau Arjun membuat perasaaan Kinar lega, bahkan lupa bahwa beberapa detik sebelumnya sempat merasa kesal.


"Syukurlah, kamu sudah sadar." Kinar berucap seraya tersenyum lega.


"Apa maksudmu?" Mencoba bangun, Arjun tatap wajah Kinar dengan lekat. "Kamu bagaimana bisa masuk ke sini?"


Kinar tak menyahut. Ia alas punggung Arjun dengan bantal agar bisa sedikit tegak.


"Jangan banyak tanya. Kamu demam. Kita ke rumah sakit, ya?"


Arjun menggeleng. "Gak perlu. Aku cuma kelelahan. Istirahat sebentar pasti sembuh."


"Gak bisa. Kamu harus dirawat. Kita ke rumah sakit, ya?"


"Gak perlu. Mending kamu pulang aja."


"Nggak bisa, Arjun. Kamu sakit bagaimana bisa aku ninggalin kamu, sedangkan kondisi kamu parah kayak begini?"


"Aku baik-baik aja. Jangan khawatir." Arjun tersenyum sedikit. "Aku beneran baik-baik aja."


Kinar tatap wajah pucat Arjun yang bersikeras tak mau ke rumah sakit. "Oke, kalau gak mau ke rumah sakit paling gak minum obat."


Mata Kinar melotot tajam hingga Arjun tanpa sadar mengangguk setuju.


"Di mana kotak obatnya?" tanya Kinar seraya berdiri dari sisi ranjang. Matanya memindai kamar yang lumayan luas.


"Di dapur. Di laci urutan ketiga paling pojok."


Kinar pun bergegas keluar dan tak berapa lama tibalah ia dengan nampan berisi air putih dan juga obat. Arjun tetap menolak, ia terus saja mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Akan tetapi, Kinar terus saja mendesak dan setelah acara sahut-sahutan yang lumayan lama dan sengit, Arjun pun berakhir meminum obat dan matanya kembali terpejam.


Bak perawat profesional, Kinar merawat Arjun begitu teliti. Dari menyeka darah—yang sudah mengering—dari buku jari Arjun hingga mengelap keringat dingin yang keluar dari pori-pori pria itu. Kinar lakukan tengan telaten. Bahkan termometer selalu ada dalam genggaman.


Pagi harinya.


Mengerjapkan mata berkali-kali, Arjun merasa kebas di pergelangan tangan. Alangkah terkejutnya ia saat mendapati rambut berwarna abu-abu Kinar langsung menghunjam mata. Arjun tersentak sedetik, sebelum akhirnya tersenyum lucu.


"Aku kira tadi rambutnya Mak Lampir. Astaga ...."

__ADS_1


Arjun terkekeh pelan. Tanpa ia sadari gerakan halus membuat Kinar yang terduduk dan menjadikan punggung tangannya sebagai bantal sadar dan mengangkat kepala. Arjun kikuk dan mendadak kembali menutup rapat matanya.


Masih mengerjapkan mata, Kinar lihat jam di nakas seraya meregangkan otot tubuh yang serasa remuk. Tak lupa pula mulut mangap disertai desahan panjang. "Ternyata sudah jam enam pagi."


Kinar tatap mata terpejam Arjun lalu mendaratkan tangannya di kening pria itu. Senyumnya terukir jelas. "Syukurlah demamnya sudah turun. Lebih baik kubuatkan dia bubur. Dia pasti kelaperan karena semalam gak makan."


Beranjak dari kursi, Kinar lantas berniat melangkah. Akan tetapi samar-samar terdengar getaran dari jaket Arjun. Rasa kepo pun mulai menyerang. Ia tatap lagi wajah terpejam Arjun lalu tersenyum centil.


"Arjun, aku buka hape kamu, ya?" ucap Kinar dengan suara lirih.


"Iya, buka aja, gak apa-apa, kok. Aku kan sayang kamu," sahutnya juga dengan suara dibuat-buat berat. Seolah dirinya adalah Arjun.


Gila. Arjun membatin dengan mata terpejam. Sementara bibir susah payah ia tahan agar tak tersenyum.


Sementara itu Kinar yang makin penasaran merogoh saku jaket dan mendapati nama Meli di layar ponsel. Dahinya mengernyit lantas menatap tajam ke arah Arjun.


"Kamu masih berhubungan dengan mantan kamu?" geramnya. Panggilan telepon dari Meli berhenti dan tampak jelas kalau wanita itu telah menghubungi Arjun sudah yang ke 36 kali. Hati Kinar serasa teriris apalagi setelah mengingat igauan Arjun semalam.


"Apa kamu masih sayang sama dia? Apa kamu bakalan balikan sama dia?" senyum Kinar terlihat getir.


Akan tetapi, tak lama setelah mengembuskan napas kesal, masuklah sebuah pesan ke ponsel itu. Kinar yang sudah kepalang lancang men-scroll layarnya. Terpampang jelas begitu banyak pesan dari Meli. Ada 30 pesan yang belum terbaca. Beruntung Arjun tak pernah membukanya, kenyataan yang sedikit membuat hatinya merasa lega.


"Perempuan itu bener-bener gila," gumam Kinar pelan. Ia buka pesan terbaru yang masuk hari ini. Ada 6 pesan.


[Arjun, aku ada di Jakarta. Kita ketemuan ya. Aku mau ngomong sama kamu]


"Ketemuan? Hah! Sialan. Perempuan ini bener-bener nyebelin. Dasar bekicot botak!" Kinar mendesis kesal, hatinya mendadak panas tapi jari laknatnya masih saja men-scroll ke bawah.


[Arjun, bales dong. Masa kamu cepet banget lupain aku]


[Aku masih sayang sama kamu, Arjun]


[Apa nggak bisa kita mulai dari awal lagi?]


[Kenapa kamu cuekin aku, sih. Apa karena bule gila itu? Apa bagusnya dia coba? Bagusan aku ke mana-mana. Apa kamu enggak malu jalan bareng dia?]


[Arjuuuuun. Bales dong!]

__ADS_1


***


holla malam. ini aku bakalan up 3 bab. tpi Klian jgn lupa like. hehehe.


__ADS_2