
Ariska terdiam, matanya membulat dengan mulut sedikit menganga. Tawaran Kinar benar-benar diluar pikiraan. Tak pernah sekali pun ia berpikir bisa keluar negeri apalagi menetap di sana.
"Kak Kinar ...."
Ariska kembali terdiam, mata sudah berkaca-kaca. Ia sudah menduga kalau Kinar bukan orang biasa. Hanya saja tetap susah percaya karena memang tak ada hubungan keluarga di antara mereka.
"Tapi, Kak, aku punya nenek, aku punya orang tua di sini. Walaupun mereka sudah bercerai dan menikah lagi. Tapi tetap saja rasanya aneh. Kalau ke luar negeri, kayaknya aku gak bisa, Kak."
"Kamu pikirin baik-baik dulu, Ariska. Kakak yakin kondisi seperti ini nggak nyaman buat kamu. Kalau kamu mau, kamu juga bisa bawa nenek kamu dan tinggal dengan nyaman di sana. Di sana gak akan ada yang usik kamu lagi. Kakak bakalan minta tolong sama keluarga Kakak buat jagain kalian. Jadi kamu jangan khawatirkan apa pun. Cukup fokus belajar biar pintar."
Ariska terdiam sebentar, ia remas jemari tangan dengan kuat. Jujur ... rasanya tak nyaman dengan kondisi sekarang. Media selalu mengejarnya, ingin meminta penjelasan lagi dan lagi. Padahal waktu itu sudah ia beberkan segalanya pada polisi. Ada yang prihatin tapi ada juga netizen yang julid. Selalu menyalahkan padahal tak tahu apa pun.
Kinar raih tangan Ariska lantas menatap wajah ragu-ragu gadis kecil itu. "Pikirin aja dulu. Nanti Kakak hubungin lagi."
Ariska masih terdiam. Begitu banyak pertimbangan memenuhi sudut kepalanya.
"Kalau gitu Kakak pamit," ucap Kinar seraya angkat dari kursi dan diikuti oleh Litania.
Akan tetapi, Litania berhenti dan menarik tangan Kinar saat Kinar hendak membuka pintu. "Katanya tadi kebelet."
Kinar nyengir, ia garuk tengkuknya yang tak gatal. "Sebenernya aku bohong," ucapnya yang langsung direspon Litania dengan cubitan di perut.
"Dasar gila! Ya udah, ayo kita pulang."
Namun, tak seberapa jauh melangkahkan kaki, sebuah mobil mewah berhenti di dekat mobil Litania. Tampak dua orang pria berstelan hitam menghampiri mereka. Kinar dan Litania saling adu pandang sekilas. Begitu pun juga Ariska yang tampak keheranan mengintip dari balik tirai rumahnya.
"Kalian siapa?" tanya Litania. "Mau apa kalian kemari?"
Litania sudah memasang kuda-kuda. Ia yang berpenampilan anggun mendadak berubah sangar. Gaun selutut berwarna cream tak bisa menyembunyikan kebiasaannya yang selalu siap siaga bila berhadapan dengan pria yang tampak mencurigakan.
Kinar tersenyum melihat keheroikan Litania. Ia selalu saja bersyukur mempunya teman se-keren Litania. Gadis tangguh itu selalu bisa diandalkan kapan pun dan dalam disituasi apa pun.
"Aku kenal mereka, Litan. Mereka ini orang-orangnya papa," ucap Kinar.
Kepalan tinju Litania terturun. Kebingungannya dibalas Kinar dengan senyuman.
__ADS_1
"Jadi kamu bakalan balik lagi ke Inggris?" tanya Litania.
Kinar tersenyum kecut. Tak tahu nasib apa yang menantinya setelah ini. Namun satu yang pasti. Ayahnya tak mungkin membiarkannya berhenti kuliah dan menikah.
"Entahlah, Litan. Aku gak tau. Nasibku ada dalam doamu. Doakan aku ya Sayang. Biar bisa ngeyakinin papa aku." Kinar kembali tersenyum lantas mengedipkan mata kirinya.
Litania berdengkus kesal. Bisa-bisanya Kinar bercanda di saat yang genting
"Kalau gitu aku pamit. kamu baik-baik ya. Nanti aku hubungin lagi." Kinar tersenyum, kemudian melangkahkan kaki mengikuti dua orang pria suruhan Frans—ayah Kinar.
"Kinar ... aku cuma berharap yang terbaik buat kamu," gumam Litania pelan disusul desahan napas panjang. Ia lihat terus punggung Kinar yang terbalut mantel bercorak harimau hingga wanita eksentrik itu hilang ditelan mobil Lamborghini yang beberapa detik sebelumnya terparkir tak jauh dari mobilnya.
****
Semarang.
Di sebuah kafe, Chandra berencana bertemu dengan temannya—Irwan. Akan tetapi sudah menunggu hampir setengah jam, pria yang dulunya seorang dokter itu tak juga datang.
Chandra hampir frustrasi. Ia sugar rambutnya ke belakang seraya kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling. Suasana tenang dan nyaman dengan lantunan melodi saksofon memenuhi sudut kafe. Namun tetap saja tak berefek padanya. Pria berpakaian kasual itu masih gelisah. Sementara sang asisten, memilih diam dengan mata tetap tertuju pada si pemberi gaji. Ia terus saja memandang Chandra dari pojokan. Takut kalau sampai Chandra hilang maupun cedera.
Tak berapa lama, tibalah orang yang ditungu-tunggu.
"Sorry, ya, telat. Soalnya tadi ada wawancara, utusan majalah dari dari Korea," ucap Irwan seraya merebahkan diri di kursi lalu meletakkan sebuah bag paper bertuliskan Kinara Group di atas meja.
"Ini barangnya?" Chandra langsung buka tas kertas itu dengan penuh semangat. Mengabaikan permintaan maaf Irwan maupun alasannya.
"Napsu amat. Tenang aja ngapa. Ini udah gue pesenin langsung dari Jepang. Jadi gak usah grasak grusuk begitu. Bikin malu aja," cibir Irwan seraya mengangkat tangan, hendak memesan minuman pada pelayan.
Tak berapa lama, pelayan tiba dengan mata yang sedikit berbeda. Karyawan perempuan yang menggunakan rompi batik itu berbinar melihat apa yang ada di atas meja. Tampak tiga kotak perhiasan—dua cincin berlian dan satu gelang kaki anak kecil—terbuka di depan matanya.
"Ekhem!"
Irwan sengaja berdeham, membuyarkan tatapan minat karyawan wanita itu. "Saya pesen coffe latte tanpa cream di atasnya."
Si karyawan mengangguk dengan tangan mencatat dengan cepat. "Tunggu sebentar ya, Pak." Lalu tersenyum dan memutar tumit pergi. Namun sebelum menjauh, ia sempatkan kembali menoleh ke belakang. Perhiasan cantik yang ada di meja membuatnya berkali-kali menelan ludah.
__ADS_1
Mereka pasti orang kaya. Beruntungnya yang dapat perhiasan itu.
Setelah melihat isinya dengan seksama, Chandra kembali memasukkan perhiasan itu dalam tas lantas tersenyum senang ke arah Irwan. "Makasih banyak, ya. Elo emang sahabat gue."
"Gak masalah, sekarang orang yang kita sayang emang harus kita jaga bener-bener. Penjahat di dunia ini banyak ragamnya. Gue gak mau Reka ataupun Irka menjadi korban. Over protective dengan keluarga sendiri gak masalah, 'kan? Demi kebaikan ini."
Chandra mengangguk setuju. Perkataan Irwan memang ada benarnya. Terlebih lagi setelah melihat kasus yang menimpa Kinar. Waspada demi keselamatan tak ada salahnya.
"Makanya gue minta khusus sama pihak Jepang untuk bikinin Reka cincin yang bisa di lacak. Nah, kebetulan gue inget elo. Jadi sekalian aja. Satu buat Chandira dan dua buat istri-istri lo."
Melayangkan tatapan menghunjam, Chandra lempar Irwan dengan sarbet yang ada di atas meja. "Enak aja kalo ngomong. Istri gue cuma satu."
"Iya, iya, gue tau." Irwan mengangguk. Bibirnya berkedut, kesusahan menahan tawa. "Tapi ibu dari anak-anak lo ada dua," lanjutnya yang disusul gelak tawa. Sebuah ledekan yang membuat Chandra sedikit kesal dan kembali melemparkan potongan tisu.
Sementara itu, Arjun yang mengawasi dari kejauhan hanya bisa tersenyum. Mantan bos dan bos-nya sekarang sedang asyik bercengkrama hingga sebuah notifikasi pesan chat membuyarkan tatapannya.
Tampak sang mantan yang mengirim pesan.
[Arjun, kamu sekarang tinggal di mana? Aku ke alamat kontrakan yang di kasih Vika, tapi kata pemilik kontrakan kamu udah pindah. Kamu pindah ke mana?]
Arjun mendesah panjang lalu hendak memasukkan ponselnya ke saku celana. Akan tetapi notif pesan kembali berbunyi. Terpampang nama 'perempuan jejadian' di layar ponselnya.
[Arjun, gimana perjalanannya? Kamu kapan pulang. Aku kangen. Besok kita ke penghulu, ya?] Ada emot hati di ujung pesan itu. Tak hanya satu, tapi banyak. Gambar hati berwarna merah hampir memenuhi layar ponselnya.
"Dasar perempuan gila."
Arjun tak bisa menahan senyum. Mengingat Kinar, seketika wajahnya berseri bak mentari. Kekonyolan dan keras kepala gadis itu membuatnya terhibur dan mendadak merindu.
[Besok pagi. Kami besok balik ke Jakarta. Sekarang udah malam, mendingan kamu tidur, gak baik tidur terlalu larut.] send.
Tak berapa lama masuk lagi balasan dari Kinar.
[Aku gabisa tidur. Baik merem mau pun melek, yang terbayang cuma wajah kamu seorang] Lagi, emot hati memenuhi layar ponsel.
Arjun ingin membalas. Namun pesan kinar kembali masuk. [Arjun, kita nikah, yuk. Lamar aku pake bismillah aja deh. Yang penting sah biar kita bisa ah ah ah ah.]
__ADS_1
"Dasar mesum!"