Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Monyet barbar makan pisang.


__ADS_3

Pagi harinya di kediaman Litania dan Chandra.


Semua anggota keluarga telah berkumpul di meja makan. Litania tampak anggun dengan midi dress warna hijau bermotif bunga. Ia tengah menatap Dafan dan Dafin secara bergantian. Hari ini lengkap kebahagiaannya sebagai orang tua. Sang anak sulung telah menyelesaikan pendidikan dengan nilai sempurna dan Dafin tengah belajar untuk mengemban tanggung jawab. Ia merasa terharu, usahanya untuk mendidik anak-anak tak sia-sia. Namun, helaan napas resah keluar saat mata melihat kursi yang biasa Anya duduki. Anak gadisnya itu masih di kamar dan tak mau turun.


"Jadi bagaimana, Fan? Rumah sakit mana yang kamu pilih? Kata kamu kemaren kamu dapat tawaran tiga rumah sakit, 'kan?" tanya Chandra setelah menenggak habis air putih dalam gelas.


"Aku pilih rumah sakit yang ada di dekat kantor saja, Yah. Aku dengar di sana alat medisnya lengkap," balas Dafan setelah menelan nasi goreng. Ia begitu merindukan masakan Litania. Dikunyahnya lagi lagi nasi itu setelah menjawab pertanyaan sang ayah .


Chandra manggut-manggut. Sudah diprediksi, Dafan memang mempunyai antusias yang tinggi soal pekerjaan. Ia tatap lekat wajah tampan anak-anaknya yang duduk bersebelahan secara bergantian. Sekilas, ah tidak! Hampir semuanya, mau fisik ataupun kemampuan Dafan dan Dafin turun darinya. Mereka tampan, tinggi, berahang tegas, serta mempunyai jiwa kompetitif yang tinggi.


Akan tetapi, semua itu semua karena ada andil Litania. Istrinya itu berusaha keras untuk bisa membentuk anak-anak mereka hingga menjadi seperti ini.


Dafan, si anak sulung memiliki sikap dan kecerdasan miliknya. Dafan juga anak yang cenderung teratur, ramah, penurut, tapi tetap ambisius. Tak pernah sekali pun membangkang terkecuali menyangkut masa depan dan profesi. Anak sulungnya itu kekeh ingin menjadi dokter ketimbang pengusaha.


Sementara Dafin—si anak tengah—cenderung asal dan semaunya sendiri, tidak suka diatur tapi tetap patuh sama perintah Litania. Terbukti saat diminta melepaskan hobi menggambar dan mengambil kuliah jurusan management. Jika di telaah, Dafin ini perpaduan antara gen barbar Litania dan gen bucin darinya, heum ....


Kini mata Chandra beralih ke kursi kosong sebelah Dafin. Anya, si anak bungsu yang lagi memasuki masa-masa pencarian jati diri. Ia elus dada, helaan napas terembus lirih. Agak disesalkan perihal Anya ini, kenapa anaknya itu lebih memilih mengambil gen tomboi yang melekat pada Litania. Semua sikap ceroboh dan semena-mena melekat kuat di diri anak bungsunya itu. Tidak sedikit, bahkan bisa dikatakan hampir keseluruhan sikap minus Litania diambilnya. Chandra melihat Anya seperti melihat Litania waktu seusia itu.


Apa ini yang dinamakan anak cerminan orang tua?


Chandra melihat Dafin yang tengah menikmati roti isi. Ia juga sedikit rawan dengan sikap santai anaknya itu mengingat ada 191 anak cabang yang nanti akan ia emban. Apakah anak ini mampu? Pikirnya.


"Dafin ...."


"Iya, Yah." Dafin menatap Chandra, serius.


"Bagaiman permasalahan airbag? Apa sudah ditangani dengan baik?" tanya Chandra.


"Sudah, Yah. Semua mobil yang terindikasi bermasalah sudah di recall. Dan juga, sudah banyak mobil yang diperbaiki di bengkel resmi kita. Dafin pikir semuanya akan kembali terkendali," papar Dafin mantap. Masalah inflator airbag lumayan mengguncang perusahaan yang awalnya tenang. Perusahaan yang bertanggung jawab—Takano Group—telah mengajukan perlindungan kebangkrutan perihal airbag ini. Tak tanggung-tanggung, nyawa menjadi taruhan. Karena kecacatan airbag ini banyak yang celaka dan Chandra tak mau hal itu. Ia tak ingin ada korban lain yang tentunya akan memengaruhi perusahaan.


Chandra mengangguk dua kali. Tatapan matanya tetap teduh. "Syukurlah, Ayah harap kejadian ini untuk pertama dan terakhir kali kita alami. Dan Ayah harap ini jadi pembelajaran buat kamu. Kamu jangan seperti Takano Grup. Lakukan segalanya dengan matang biar tidak ada penyesalan apalagi korban."


Dafan dan Dafin mengangguk serentak. Mereka tahu betapa khawatirnya ayah mereka saat menghadapi masalah itu. Walaupun bukan kesalahan perusahaan mereka, tapi tetap saja imbasnya tetap terasa.


"Oh iya Dafin. Ulang tahun perusahaan kita dua minggu lagi. Tolong persiapkan segalanya dengan sebaik mungkin. Ayah ingin ulang tahun ini menjadi syukuran sekalian perpisahan Ayah sebagai pemimpin."


Serentak anak-anaknya terhenyak. Mereka saling pandang. Ada sorot kesedihan di mata keduanya, khususnya Dafin. Sudah lama ayahnya itu mengatakan akan pensiun, tapi tetap saja rasanya ada yang mengganjal. Dafin merasa belum siap memimpin perusahaan sebesar itu sendirian di usia yang masih terbilang muda.


"Kenapa mendadak, Yah. Aku rasanya belum siap gantiin Ayah," lirih Dafin. Kepercayaan diri melempem mengingat baru saja diangkat menjadi wakil direktur beberapa bulan yang lalu.


"Ini bukan mendadak Dafin. Ini kenyataan. Hadapilah. Ayah sudah tua. Ayah percayakan perusahaan sama kamu. Ayah percaya, kamu pasti bisa."


"Tapi, Yah—"

__ADS_1


"Ayah ingin menghabiskan masa tua bersama bunda kamu. Ayah ingin menebus kesepian bunda kamu selama ini," sela Chandra, sengaja. Ia tatap lagi wajah gelisah Dafin. "Apa kamu keberatan?"


Sekonyong-konyong ekspresi Dafin berubah drastis. Tadinya yang murung kini ada sedikit senyuman. Setidaknya pensiunnya sang ayah adalah demi kebahagiaan keluarga mereka sendiri, terutama sang bunda yang ia tahu sering sendirian.


"Baik, Yah. Dafin akan lakuin yang terbaik untuk perusahaan."


Mendengar jawaban Dafin, Chandra tersenyum tipis. Tak banyak yang bisa dilakukan mengingat usianya sudah hampir 60 tahun. Sudah waktunya menghabiskan waktu berdua bersama istri tercinta dan membiarkan anak-anak mengambil alih perusahaan. Ia tatap Litania yang masih cantik, rambut tersanggul dengan senyum yang tak luntur. Makin terlihat cantik dari hari ke hari.


"Oh iya, Bun, Anya ke mana? Dia gak sarapan?" tanya Dafan. Sebenarnya ia dari tadi menunggu si biang rusuh turun. Ia ingin sekali melihat adik kecilnya yang sudah 2 tahun tidak bertemu. Semenjak menempuh pendidikan di luar negeri ia sendirilah yang membatasi kunjungan orang tua maupun keluarga yang lain. Takut akan mengganggu konsentrasi selama di sana.


"Apa Anya sarapan di kamar?" lanjut Dafan lagi.


Litania menggeleng lantas mengembuskan napas panjang. "Dia mogok makan dari semalam, Fan. Tadi Bunda udah nyuruh dia buat turun, tapi dianya nggak mau. Kemungkinan masih ngambek sama Bunda."


"Sudahlah, biarkan saja dia. Dia butuh waktu untuk bercermin. Kesalahannya fatal," sela Chandra yang jelas terlihat sedikit kecewa. Anya diskors gara-gara berkelahi dengan teman sekelas hingga masuk rumah sakit. Ada yang patah gigi dan ada yang harus mencukur sebagian rambut karena ada luka di bagian kepala.


Namun, tanpa mereka duga turunlah seorang gadis berambut lurus terkucir ke belakang. Ia turun dengan wajah masam. Sementara kaki, sengaja dihentak-hentak, seolah mengatakan kalau dirinya tengah marah. Anya, ya dia Anya.


"Bunda," panggilnya.


Semua orang langsung menoleh. Mereka mengerjap melihat penampilan Anya yang diluar dugaan. Agak aneh menurut mereka dan diluar dugaan tentunya. Mereka kira gadis itu tengah merenungi kesalahan. Nangis kejer atau apalah. Namun yang ada malah masker berwarna hitam menyelimuti wajah. Perawatan tetap dilakukan meski pikiran tengah tak karuan.


"Anya!" seru Dafin. Ia yang memang usil sengaja berdiri dan mengelilingi tubuh adiknya. Melihat dari atas hingga kaki, lantas menyentuh masker Anya. Ia pun tertawa terbahak hingga Anya menatap sinis.


"Eh, aku gak resek, ya. Aku cuma heran. Kamu ini dari mana dan habis ngapain? Kamu habis berenang di got?" tanya Dafin lagi, gelak tawanya kembali mengusik Anya.


Anya berdengkus. Ia layangkan pukulan ke bahu saudaranya itu. "Jangan usil. Atau aku kasih air got beneran, mau?" ucapnya galak. Sebuah perkataan yang sontak saja membuat Chandra dan Litania menyebut namanya serentak—membentak.


"Heran, gak ada sopan-sopannya pada saudara sendiri. Kamu itu adik dan Dafin itu abang kamu," ucap Chandra penuh penekanan. Suaranya terdengar dalam hingga Anya hanya bisa terdiam.


"Nah, loh. Dimarah Ayah, 'kan?" goda Dafin lagi. Wajah kusut dan sungutan sang adik membuatnya terhibur. Anya memang badung, tapi jika Chandra sudah bersuara, gadis itu langsung mati kata.


"Diem kagak!" Anya membalas Dafin dengan tatapan elang. Ia memang tak suka dengan abangnya yang satu itu. Resek menurutnya.


"Sudah-sudah." Litania menengahi. Ia berdiri dan menghampiri. "Anya mau makan?" tanyanya penuh perhatian.


"Gak. Aku nggak mau sarapan. Aku mau hp aku balik," ucap Anya bersungut-sungut. Bibir bahkan maju dua sentimeter. "Kembalikan dong, Bun. Aku mau pake."


Wajah Litania sontak berubah, gelengan kepala menjadi akhirnya.


"Gak bisa, ponsel kamu tetap Bunda sita sampai masa skorsing selesai. Bunda mau kamu pikirin dan renungin apa yang udah Bunda katakan kemarin," ucap Litania. Penuh penegasan dalam kalimatnya.


"Tapi aku nggak salah, Bun. Mereka yang salah. Mereka malakin temen sekelas Anya."

__ADS_1


"Iya, Bunda tau. Walaupun mereka salah, kamu nggak berhak main tangan. Apa gunanya hukum dan guru di sekolah kalau kamu masih berperilaku seperti itu?"


"Hukum kelamaan, Bunda. Aku nggak sabar ngasih mereka hukuman. Itu hal yang pantas mereka bayar. Mereka jahat, semena-mena karena ayah mereka orang berpengaruh di sekolah. Aku kesel, Bun."


Litania tersentak. Ia benar-benar melihat diri sendiri dalam diri Anya. Dari tatapan mata, intonasi bicara, serta keyakinan benar-benar membuatnya melihat diri sendiri kala muda dulu. Ia juga pernah menghajar orang. Bahkan tidak hanya satu orang. Masa muda yang terlalu menakutkan untuk dikenang.


"Bunda sendiri pernah bilang, kita gak boleh membiarkan hal yang gak adil. Kita harus membela sesuatu yang benar. Kita gak boleh tutup mata jika ada yang butuh pertolongan. Jadi aku gak salah, dong, Bun."


Seketika helaan napas Litania keluar lagi. Ia mati kata. Perkataan Anya memang benar. Ia merasa gagal mendidik Anya.


"Tapi gak harus sampe babak belur juga, Anya." Dafan angkat suara. "Inget, kamu itu perempuan. Anak pengusaha. Paling gak jagalah image baik orang tua kita. Kasihan Ayah sama Bunda yang beresin masalah kamu. Kamu gak mikir ke situ? Kalau bukan karena kepsek kamu itu kenalan Ayah, mungkin kamu udah dikeluarin dari sekolah."


Anya tertunduk. Perkataan Dafan benar-benar menusuk. Ia tatap wajah teduh ibunya. "Anya minta maaf, Bun."


Litania mengulas bibir. Ia peluk Anya tanpa memedulikan masker yang belepotan mengenai bajunya. "Jangan ulangi lagi, ya?"


Anya mengangguk setuju hingga decakan Dafin mengacaukan segalanya. Ia tatap sang abang yang tengah duduk di kursi.


"Jangan percaya, Bun. Anya itu pembohong ulung. Inget gak waktu dia bilang gak bakalan bolos. Kan dia juga minta maaf sama bunda. Ee tau-tau besoknya diulang lagi, 'kan? Malah ketahuan lompatin pagar," celetuk Dafin.


Sebuah nyinyiran yang membuat Anya menggeram. Kepalan tangan sudah terbentuk. Nyalang ia tatap abangnya itu.


Sementara itu, Litania yang menyadari tatapan menghunjam Anya mencoba menegur Dafin dengan berdeham. Sayangnya Dafin masih saja berceloteh tanpa mengindahkan tatapan adiknya.


"Lagian, ya, Bun. Anya itu gak bisa di sekolahin di kota. Dia itu cocoknya di sekolahin di hutan. Biar temenan sama monyet. Anak gadis kok kelakuan barbar begitu. Bikin malu," lanjutnya.


Sumpah, Anya yang sedari tadi menahan geram tak bisa menolerir lagi. Apalagi saat melihat Dafin menirukan suara monyet. Ia dekati Dafin yang tengah duduk di kursi lantas menarik kepalanya. Kedua tangan menangkup kuping pria itu.


"Heh, kamu mau ngapain?" tanya Dafin panik. Wajahnya mendongak karena sang adik menarik dari belakang. Senyum smirk tampak jelas di wajah ayu adiknya itu. "Kamu mau ngapain?"


"Aku mau nunjukin gaya monyet barbar makan pisang. Mau liat gak?" tanyanya ambigu.


"Heh Anya. Apa maksudmu? Kamu mau ngapain, sih, sebenernya? Jangan macem-ma—"


Belum selesai lisan Dafin, Anya telah melayangkan serangan. Ia gigit keras telinga Dafin. Ia gigit terus tanpa mengindahkan teriakan hingga semua orang di sana melerainya.


Gigitan terlepas, tapi erangan Dafin masih terdengar jelas. Dafin tatap tajam adiknya itu.


"Kamu gila, Nya!" serunya kesal.


Akan tetapi Anya malah terkekeh. Ia berkacak pinggang. "Iya, aku gila kalau berhadapan sama kang nyinyir kek Bang Dafin. Dasar nyebelin!" teriaknya tak kalah histeris lantas pergi menuju kamar.


"Hiaaaa! Adik durhaka! Awas kamu!"

__ADS_1


__ADS_2